Lombok Trip 2018 – Gili Trawangan [Part 1]

 

20180227_133747

Life is a series of chances that are meant to be explored in order to create experience – Wiwin Winingsih (22 April 2018 – Starbucks Grand Indonesia)

One hell of a quote, innit?

Keputusan untuk berlibur ke Bali dan Lombok adalah hal krusial dan jenius yang pernah gue ambil. Kedua pulau besar yang disebutkan memiliki keindahan yang berbeda dengan yang biasa gue temui di pantai-pantai dekat rumah maupun di tempat-tempat yang gue kunjungi. Namun highlight perjalanan gue selama delapan hari tersebut adalah kunjungan ke Gili Trawangan. Damn! This island is in a whole other level compared to those two.

IMG_7769

Gue dan Asa sampai di Gili Trawangan hampir tengah hari dengan jasa Fast Boat dari Bali. Selain amazed karena melihat keindahan pulau, kami juga nyaris kejang-kejang karena begitu banyaknya bule-bule ganteng bertebaran. Bahkan pengunjung pulau sepertinya 70% berasal dari mancanegara. Selain itu, kami juga disambut beberapa guide lokal yang menawarkan wisata snorkling tiga Gili termasuk Gili Meno dan Gili Air. Kami sih cuek saja karena kami pikir nanti juga bisa booking. Banyak juga yang menawarkan Cidomo, satu-satunya kendaraan umum mirip Andong yang ada di pulau karena pulau tersebut steril dari kendaraan bermotor. Karena kami pelit mau berhemat, jadi kami putuskan untuk berjalan kaki sambil geret koper dan barang segambreng dari tempat kapal bersandar ke hostel. Lagipula menurut Google Maps jaraknya hanya sekitar 300m.

IMG_7922

Cidomo

Setelah sempat kesasar sembari panas-panasan karena petunjuknya kurang jelas, akhirnya kami sampai di hostelnya setelah bertanya pada penduduk sekitar. Nama hostelnya Flush Bungalow. Tempatnya asoy karena langsung menghadap ke pantai. Lalu yang jaga hampir semuanya mamang-mamang muda lokal dan hanya satu ibu-ibu yang tugasnya memasak. The welcome drink, thou, tasted like paradise! Memang hanya jus jeruk biasa, tapi bayangin lo abis panas-panasan capek geret koper lalu dikasih minuman surga macam begitu. Langsung seger sampe ke ubun-ubun.

20180227_120704

Welcome drink featuring Asa enjoying the taste of heaven.

Kami memilih rumah panggung yang paling murah dengan disain minimalis di sana, tapi kamar mandinya super luas dan mengusung konsep alami which means tidak beratap. XD Untungnya sih bangunan terdekatnya bertembok tinggi, jadi gue sama Asa nggak terlalu khawatir meski tetep parno juga. Gue rasa itu tempat gedean kamar mandinya dari pada kamar yang ada tempat tidurnya. Ada balkon yang terdapat kursi juga yang bisa digunakan untuk bersantai. Kebiasaan gue kalo udah hectic lupa ambil gambar penginapan. Bisa cek link hostelnya di sini.

Waktu dzuhur tiba, kami sholat terlebih dahulu sebelum memulai petualangan kami di Gili Trawangan. Lantas kami keluar mencari makan siang. Di sana banyak cafe-cafe yang menyediakan banyak jenis makanan, namun kami memilih membungkus makanan di warung sederhana tepat di samping Masjid Besar Gili yang kami jumpai ketika mencari hostel. Harganya mirip-mirip harga kalo belanja makanan di warteg. Lalu kami membawa makanannya ke pinggir pantai dan makan di sana. Suasana yang tenang dan hamparan air warna biru membuat kami betah di sana walau cuaca sedang panas.

IMG_7767

Asa ngadem

IMG_7765

This is how clear the water is.

Seperti agenda yang sudah Asa dan gue susun, kami menutuskan untuk ber-snorkeling. Setelah ganti baju, kami mulai bergerilya mencari-cari tour guide untuk wisata tersebut. Ternyata eh ternyata kami tertinggal rombongan yang berangkat jam 2 sore. Untuk kami yang baru ke sana, jadwal snorkeling ternyata hanya terdapat pada pagi hari di jam 9 dan sore hari sekitar jam 2. Kami sempat menyerah dan menunggu esok hari saja walaupun besok bakal repot karena kami juga harus cek-out dan sebagainya. Namun penjaga hostel menawarkan alternatif untuk pivate snorkeling. Guide yang juga teman penjaga hostel tersebut menawarkan dengan harga Rp400.000 awalnya yang tentu saja kami tolak. Tawar menawar pun terjadi karena mereka tau kami butuh dan kami tau mereka juga mau. Akhirnya kesepakatan tercapai dengan harga Rp250.000 dan dengan fasilitas alat snorkeling, life vest buat gue, kaki katak buat Asa, satu perahu motor besar, dua orang pemandu, dan satu awak kapal. Berangkatlah kami menuju ke tiga Gili yang mereka janjikan.

Tempat pertama yang kami datangi adalah perairan dangkal dekat Gili Meno. Jangan tanya tepatnya di mana karena gue buta arah di sana. XD For starter, y’all know I tak bisa berenang, lalu gue belum pernah sekalipun ber-snorkeling dan pengalaman terakhir gue dengan life vest dan nyebur ke air sangatlah tidak indah (nyaris tenggelam di Green Canyon Pangandaran karena life vest kekecilan). Semua keberanian dan antusias yang telah gue kumpulkan sebelum hari itu buyar ketika gue duduk di pinggiran kapal dan hendak loncat. Dang! I was so scared I couldn’t let go off my hand from the boat. XD Tambah kesel dan takut karena diburu-buru pemandunya sampe tangan gue dilepas-lepasin dari pegangan kapal. XD Apalagi ngeliat Asa udah asyik berenang-renang ngambang dengan kaki kataknya. Gue hampir nyerah dan mundur aja and thinking I made a very big mistake with this snorkeling trip. Akhirnya dengan sisa keberanian gue berhasil loncat dan nggak panik pas di dalam. Air 1 – 1 Wiwin.

Sepanjang ber-snorkeling itu, gue terus dituntun oleh bapak pemandu yang tau spot-spot cantik di sana. Meski napas aja pake mikir karena takut air masuk mulut, gue tetap bisa menikmati keindahan bawah laut yang baru pertama kali gue jumpai seumur hidup. Gue terus bergumam di tempat yang semenakutkan itu bagi gue, gue masih bisa mensyukuri pemandangannya. Apalagi ketika cahaya matahari berusaha menembus kegelapan bawah laut, bagus banget! Sembari terus memegangi tangan atau jari bapak pemandu (I admit it was kinda romantic should the guide be a young and handsome fella), kami bergerak ke sana-ke mari. Sesekali kami istirahat di gundukan karang yang masih terjangkau oleh kaki. Tell you what thou, karena googles-nya (atau airnya?) bikin pandangan benda terasa lebih dekat gue kesulitan banget buat mencapai karangnya. Bapaknya ampe putus asa nyuruh gue berdiri di sana. XD

20180227_154651

In between spots

Tidak sampai lima belas menit kami berpindah tempat ke dekat Gili Air. Kedua kalinya gue nyebur gue tak lagi dihantui ketakutan. Di spot tersebut ikannya lebih banyak dari yang pertama tadi. Kami menjumpai beberapa ikan yang warna dan bentuknya mirip Dori dari film Finding Dori tapi Nemo luput dari kami. Yang gue rasakan ketika ke duakalinya menatap bawah laut sih betapa asing tempat tersebut. Semacam lagi memandangi dunia alien dan penghuni-penghuninya. Terumbu karangnya lebih cantik di spot pertama, tapi kami menghabiskan waktu lebih lama di sini. Berenang tuh emang gila capeknya ya. Gue jujur udah enggap di sana dan hampir nggak sanggup balik ke kapal. Udah mah naik dari air ke kapalnya pun penuh perjuangan karena berat badan hampir nyamain sekarung beras.

20180227_154630

The one photo we took from the boat that showed the bottom.

Spot ke tiga yang paling unik karena terdapat ukiran patung yang memang sengaja ditempatkan di sana untuk wisata bawah laut dan pelestarian biotanya. Namun di spot terakhir ini ternyata rame. Banyak orang mengapung dan berenang di sekitaran patungnya. Ditambah ada fotografer yang sedang membagikan roti untuk ikan sehingga banyak ikan berkumpul di sekitaran kami. It was awesome! Saking ramenya, thou, gue hampir ditabrak mbak-mbak bule berbikini biru yang berenang sambil mengambil video tanpa lihat-lihat sekitarnya kalo saja bapak pemandu tidak segera menarik gue. Ketika menjauh dari situ untuk melihat patung lain, kami juga melihat pipa-pipa yang katanya berisi kabel aliran listrik. Gue langsung bergidik karena membayangkan kombinasi mematikan listrik dan air.

20180227_154732

I was no longer afraid because the trip was awesome!

Kami merampungkan perjalanan yang ternyata memakan waktu hampir dua jam itu dan kembali ke pulau tempat kami menginap. Kami membereskan urusan administrasi yang telah disepakati di awal dan menambah Rp50.000,- untuk tips personally because bapak guide had taken care of me for the whole trip which I was grateful about. Kami juga sekalian menyewa sepeda di tempat yang sama karena tinggal di Gili Trawangan kurang lengkap jika belum merasakan bersepeda berkeliling pulau. Sewa sepeda masing-masing Rp60.000,- per-24 jam dan dilengkapi dengan rantai kunci untuk keamanan. Later that day we found out that If we had asked people from the hostel, they can provide us with 40K bike rental. Lesson learned. Sebelum sewa kemana-mana dulu, ada baiknya tanya di tempat menginap.

20180228_150531

We took the picture the day after

Kami yang sudah basah-basahan memutuskan untuk bersepeda keliling pulau saat itu juga karena waktu matahari terbenam masih dua jam. Kami sempat ketemu tempat berenang yang sepi dan asyik. Gue sih seneng-seneng aja main air karena ombaknya memang tenang banget. Di sekeliling pulau tersebut pinggir pantai di dominasi oleh cafe dan restoran dari yang sederhana sampai yang fancy terutama yang di sunset points. Believe it or not, fasilitas di pulau kecil ini lumayan lengkap seperti ATM center yang menyediakan berbagai macam pilihan bank.

20180227_162218

Something I don’t always do when I go to the beach. The waves here are pretty friendly.

Pulau yang jika dilihat di peta itu terlihat kecil ternyata lumayan juga jika ditempuh pakai sepeda. Kami ngos-ngosan ketika jarak baru setengah, namun kami tetap lanjut karena penasaran. Sampai akhirnya kami tiba di seperempat jalan terakhir menuju hotel. Jalanannya pasir semua! Mau mengayuh pun berat, dituntun juga capek. We were cursing ourselves during that time. Ditambah jalanan ternyata makin sempit dan waktu sunset semakin mendekat. Kami panik sekaligus khawatir. We made it through in the end and got back to the hostel with an 90 minutes to spare. We took a bath in turn and did what we thought necessary (makeup included), and rushed ourselves to sunset point.

20180227_183709

Kami memilih satu tempat pemberhentian yang tidak terdapat tukang berjualan, cafe, atau restoran karena kami hanya ingin duduk bersantai menikmati warna oranye langit. Banyak yang mengabadikan moment tersebut di depan kami sementara kami menatap matahari yang mulai turun. Sayangnya awan tidak menghendaki kami untuk melihat matahari turun lebih dalam. Meski kombinasi warna langit tetap ciamik dengan pemandangan perbukitan pulau Lombok, kami tetap bersyukur bisa berada di sana. Di belakang kami ternyata bulan sudah unjuk gigi dengan terangnya seolah bersiap menyambut para wisatawan yang malam tersebut sudah akan dimulai gelaran bulanan yakni Full Moon Party. We got the invitation to one of the bar there, but we wouldn’t dare personally because we can’t dance.

IMG_7795

Sunset color of Gili Trawangan

Menjelang gelapnya langit, kami ditawari oleh penjual jus yang membuka lapak di dekat kami duduk. Daftar harga yang lumayan mahal membuat kami mikir lama. Namun seolah paham, pedangannya menawarkan jus dengan harga yang lebih murah hanya karena kami orang lokal. Kami pun masing-masing membeli jus alpukat dengan harga Rp15.000,-. Seramnya pulau saat malam sih kurangnya penerangan di beberapa titik yang tidak dijadikan cafe atau restoran. Kami yang masih di sana ketika sudah gelap dikagetkan oleh seekor kepiting yang memutuskan untuk menyerempet kaki Asa saat naik dari ke pantai. Kami pun langsung ngacir karena ngeri. Jalanannya pun minim penerangan sehingga kami perlu standby dengan senter dari ponsel di tangan kiri kami dan tangan yang lain berusaha mengendalikan arah sepeda. Kami kembali ke hostel.

Di perjalanan kembali ke hostel ketika kami berkendara, tiba-tiba seseorang bersiul di belakang kami. Ternyata seorang bule yang menggunakan siulan sebagai klakson daripada menggunakan bel. Asa yang jago bersiul langsung membalas. Unexpectedly, HE REPLIED. Wuih gue sama Asa langsung semangat kejar-kejaran sama si Om yang lama-lama melambatkan kayuhannya karena saling berbalas siulan dengan Asa. Padahal doi tadinya ngebut. Si Om bersepeda sendirian pulak! Gue sih bahagia aja ngelihat aksi-reaksi mereka sambil cekikikan sepanjang jalan. XD Saling balas siulan itu terjadi nyaris 300m sampai akhirnya terhenti karena si Om sudah sampai tujuan. He gave us a sweet smile while we were passing by though. Gue sama Asa langsung terbang ke langit ke tujuh. Bo’ong deng. XD

The rest of the night story will be posted in the next one. Stay tuned for it because the night was one of the best in our lives.

20180227_212458

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s