Bali Trip 2018 – Tanah Lot

IMG_7358

Pura di Tanah Lot, bonus mas-mas bule. You can tell by the picture who took it, right? :p

Remember how rainy and wet it was when we decided to get back from Pura Ulun Danu Beratan? Well, a few kilometers after we rode away, the asphalt was dry! Nggak ada hujan sama sekali. Gue sama Asa cuma bisa bersyukur kami akhirnya memutuskan untuk pulang. If we hadn’t been brave enough, we would never have left the place.

Sebelum ke tujuan selanjutnya, di tengah perjalanan kami sempat berhenti untuk menyantap Durian di salah satu kios pinggir jalan. Kami yang sudah ngidam dari hari pertama karena terus menerus melihat durian (emang lagi musimnya juga sih) langsung membeli tiga buah. Kami sengaja makan pelan-pelan dan menikmati setiap helai dagingnya. Untuk ukuran buah yang kecil, rasanya cukup manis dan yang terpenting murah. Kami hanya membayar Rp50.000,- saja untuk ketiganya. Sempat tergoda untuk mencampurnya dengan kopi pahit, tapi sadar perut yang baru diisi mie instan ini sudah tak sekuat dahulu.

Selesai makan durian dan sebelum melanjutkan perjalanan, kami mampir sebentar di JOGER which happened to be across the Durian shop aja dong. JOGER yang melabeli diri dengan pabrik kata-kata merupakan sebuah franchise yang menjual oleh-oleh baju dan pernak-pernik khas Bali. Signature mereka merupakan kaos dengan berbagai rangkaian kata-kata lucu yang tersedia untuk berbagai ukuran. Tell you what, thou, they are so overrated! Untuk kaos biasa yang harga standar luar Rp50.000,- dijual dengan harga Rp80.000,-. Akhirnya gue hanya belanja sweater untuk oleh-oleh teman karena tak sanggup dompetku memborong di sana. Lantas kami langsung melanjutkan perjalanan setelah merampungkan pembayaran.

Kami sampai di Tanah Lot kurang lebih jam 18.00, satu jam menjelang matahari terbenam. Setelah membayar biaya retribusi masing sebesar Rp20.000 berikut uang parkir Rp3000,-, kami memasuki wilayah puranya. Beberapa bagian terlihat sedang direnovasi, namun yang paling disayangkan adalah air pasang dari laut sudah membanjiri bagian utama pura. Kami jadi tidak bisa naik ke puranya atau masuk ke gua yang ada di bawahnya. Berfoto pun cari spotnya agak susah karena saat itu sedang ramai orang yang menunggu momen sunset juga.

Di Tanah Lot ada low spot dan high spot buat menikmati sunset. Low spot berada di dekat pura tempat gue dan Asa pertama kali datangi. Saking low-nya kami bisa merasakan cipratan air dari deburan ombak yang menghantam karang-karang di sekitarnya sembari menunggu sunset. Sementara high spot berada di tebing-tebing yang sudah diberi pagar dan dihiasi taman dengan bunga-bunga dan dedaunan cantik. Kami memilih high spot karena sekalian mengeksplor tempatnya.

 

Sesampainya di atas, ternyata sudah banyak orang berderet sepanjang tempat duduk yang sudah tersedia. Kami mencoba menyelip untuk bisa duduk nyaman dan menunggu matahari turun. Beberapa orang tanpa sadar berfoto di depan kami dan menghalangi pemandangan. Asa, the joker, played her card and told the men that our view changed from sunset-orange into the color blue which was the color of their clothing. It worked, and they went away as they were laughing to Asa’s sarcastic jokes.

IMG_7403

 

Perlahan matahari mulai turun dan berubah warna menjadi oranye. Cahayanya mulai menyebar membelai awan-awan yang menggantung di antaranya. Langit berubah jadi indah, dan kami hanya bisa mengaguminya sembari bermain dengan imajinasi masing-masing. It was romantic, beautiful, and melancholy at the same time. Ditambah ada pasangan bule yang berpelukan erat lamaaaaaaaaaaaaaa banget. Lagi-lagi kami cuma bisa dengki. Romansa suasana sunset tersebut berlangsung selama kurang lebih 30 menit hingga sampai pada moment after sunset di mana langit tidak hanya dipenuhi oleh warna oranye saja, tapi juga terlihat pink dari kejauhan. Truly God is the best creator of beauty.

IMG_7414

 

Kami memutuskan untuk pulang setelah langit sepenuhnya diselimuti oleh kegelapan. Di tengah perjalanan ke hotel, kami yang lapar secara random mampir di Pizza Hut entah di daerah mana. Agak lucu sebenarnya sudah jauh-jauh ke Bali makannya masih di tempat yang di Jakarta juga banyak franchise-nya. Selain karena range harganya sudah diketahui, kami juga sudah kelaparan banget secara perjalanan lumayan panjang sepulang dari Tanah Lot. Begitu makan rampung which only took a couple of minutes by the way (rakus abis), kami langsung melanjutkan perjalanan dan menuju hotel.

Normally kalau kami sampai di hotel dan belum ngantuk, kami bakal memutuskan untuk berenang sebelum mandi malam. Sayangnya kolam renang di Sandat Hotel Legian sedang dalam proses renovasi. Nggak ada pencahayaan sama sekali meski masih ada sebagian kolam yang tidak tertutup. Eh tapi ya tetep aja ada mas-mas bule yang diam-diam nyebur. Nggak ngeliat apakah doski cakep atau enggak, tapi gue sama Asa tetep mantengin.

Agenda mandi malam hari semakin terabaikan karena kami tahu bahwa shower di kamar kami tidak dilengkapi oleh pemanas. Alhasil tiap mandi tetep menggigil tak peduli waktu. Di Booking.com tidak dilengkapi keterangan tentang showernya ataupun kolam yang sedang direnovasi. Kadang kami harus tidur dengan AC dimatikan karena selimutnya yang tipis. Kalo nggak inget harga murah, lokasi strategis, dan dapat sarapan sih udah nyesel pasti.

Anyway, that’s our 2nd day done and dusted!

IMG_7435

Hidungnya mancung ya. :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s