The Script Freedom Child Tour Jakarta 2018

Image result for the script freedom child tour jakarta poster

An intimate and special sing along party with a great fan service.

Tahun lalu The Script merilis album baru mereka yang bertajuk Freedom Child. Seperti roda berputar untuk sebuah Band ketika mereka melakukan hal itu pasti jadwal-jadwal tur pun mulai dirilis tidak terkecuali jadwal tur di Asia. Indonesia menjadi negara pertama yang disambangi band asal Irlandia tersebut walaupun Jakarta menjadi tanggal terakhir yang diumumkan. Konser dijadwalkan pada hari Selasa, 10 April 2018. Seketika seantero lingkaran Sosial Media gue geger. Gue yang memang sudah mulai mendengarkan lagi-lagu mereka dari jaman kuliah (cukup telat emang, but better late than never, eh?) mulai bergerilya mencari teman untuk berbagi kegalauan bareng Danny O’Donoghue dan kawan-kawan di satu tempat. Ada Rissa, teman yang lima tahun lalu bertemu di konser One Republic dan belum ketemu-ketemu lagi setelah itu yang akhirnya menjadi parter nonton gue kali ini.

Rentetan drama kerap membuat kami sebel dan was-was. Dari mulai ticketing sistemnya yang ngga konsisten ketika tiket Presale dan Normal dijual di hari yang sama padahal harusnya hari itu hanya presale yang diumumkan mulai dijual. Lalu antrian penukaran tiketnya yang semerawut di hari H karena banyak miskomunikasi antara panitia venue dan konser. Yang paling parah tentunya antrian dari front gate sampai sebelum panggung yang kesannya nggak ada yang ngatur sama sekali.

 

The Kasablanka Hall yang menjadi venue konser The Script malam itu hanya punya satu pintu. Cuma satu pintu masuk utama untuk ribuan orang itu BENCANA! Tidak ada pengumuman apapun di mana tempat untuk mengantri yang benar. Panitia venue tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti, dan panitia dari promotor konser yang dipegang Full Color Party tidak ada yang stand by untuk diajukan pertanyaan. Pada akhirnya berdesak-desakan dan saling dorong pun nggak bisa dihindari. Pihak keamanan dan panitia sampai kewalahan menahan antusiasme penonton yang barbarnya ngalahin bangsa paling primitif. We tried to enjoy the art of going to a big event with thousand people on our way, but that didn’t give away the fact that we were scared of getting hurt because of it. Sedih sebenernya kalo diinget mah, tapi ya memang begitu adanya. Pengaturan penontonnya jauh sekali dari apa yang pernah gue lihat dan rasakan di event One Republic dan Coldplay. Padahal yang pertama di sebut juga diadakannya di Jakarta.

Anyway, enough complaining! Let’s talk about the most important thing that night, which is the concert. Gue dan Rissa yang cukup beruntung berada di deret antrian paling depan memilih sisi panggung sebelah kiri yang front row-nya masih kosong ketika gate dibuka sementara bagian tengah sudah terbentuk sekitar lima row ke belakang. Tidak masalah kebagian di pinggir, yang terpenting adalah berada dekat dengan panggung dan bisa melihat band langsung tanpa halangan kepala orang-orang. Maklum kami tidak setinggi Gigi Hadid atau Cara Delevigne. Di sana kami masih harus berdiri dan menunggu selama 90 menit sebelum konser di mulai. Banyak orang asing yang berpotensi menjadi teman, dan kami berkenalan dengan gadis berbaju dan jilbab pink yang tadinya berada di belakang gue. Namanya Dini, dan dia datang sendiri dari Bekasi. Kami sempat berbagi cerita beberapa menit sebelum dimulai.

Jadwal mulai konser seharusnya jam 20:10, tapi setelah pre-show video selesai diputar Danny, Mark Sheehan, dan Glen Power belum juga muncul di panggung. Ngaret lah ini. Setelah 10 menit lampu panggung tiba-tiba mati dan layar utama tampil video montage dari para fans yang berbicara tentang kebebasan (Freedom) dari berbagai konteks. Pesan-pesan tersebut sejalan dengan tajuk album dan tur mereka kali ini. Satu persatu personil tambahan band keluar diikuti ketiganya, Danny dengan pakaian serba hitamnya (doi pake blazer btw), Glen yang pake kaos sleeveless, dan Mark yang pake kaos ditambah rompi kemeja flanel kota-kotak. Penonton langsung riuh dan jerit-jerit. Berbarengan dengan itu suara alunan piano untuk intro dari lagu Superhero menggema dan segera disambut oleh instrumen lain dan nyanyian Danny juga penonton.

2018-04-13 (3)

THE BAND!!

Selepas lagu pembuka, mereka menyapa semua orang yang hadir di sana dan disambut dengan meriah. Dua lagu yang mengikutinya adalah Rock the World (Freedom Child) dan Paint the Town Green (No Sound Without Silence). Gue hanya bisa nyanyi bagian reff-nya saja karena belum hafal. Di lagu Paint the Town Green ini kerasa banget Irish-nya baik itu dari musik dan lirik. Lagunya juga menceritakan tentang homesick yang mana cocok dengan keadaan band yang sering keliling dunia untuk manggung. Relatable  juga untuk gue sebagai perantau juga sih meski harus ada penyesuaian di liriknya. : p

Sebagian orang yang nonton The Script malam itu pasti kepingin ngerasain galau massal secara langsung sama band yang kebanyakan lagunya nge-halu tentang mantan (Album Science and Faith bangke emang X D) atau ngomongin cinta tanpa harus terlihat lemah dan menye-menye. Guepun begitu dan mereka sadar akan hal itu. Lagu ke empat langsung diajak nostalgia ke track yang mempopulerkan mereka dari album pertama, The Man Who Can’t Be Moved. Pas bagian ‘I’m not moving’ keknya jomblo-jomblo di sana menghayati banget sambil nahan pedih di hati, me included. : ‘ (

Wonders dari album baru menyambung dan membuyarkan kegalauan dari lagu sebelumnya. Lagu ini tuh semacem memotivasi semua jiwa yang ada di situ seolah bilang ‘jangan cuma bisanya mimpi doang, go out there and turn them into memories’. Makjleb abis sih buat pemimpi kurang motivasi dan usaha macem gue. Disclaimer, ini gue yang sok tahu ya. Mungkin bagi orang lain maknanya beda lagi.

Konser diteruskan oleh Arms Open, hits single mereka yang ke dua dari album Freedom Child. Sebelum mereka membawakan lagunya mereka bilang bahwa jika di dunia ini sudah terlalu banyak kesedihan dan derita yang ditimbulkan oleh salah satunya peperangan. Mereka juga berpesan bahwa kebebasan (freedom) yang menjadi highlight dari konser kali ini sudah seharusnya menjadi milik semua orang. Penonton (gue) terharu dan langsung sing along begitu Danny mulai lagunya.

Setelah dua lagu tersebut kelar, kami diajak galau lagi lewat lagu Nothing. Haluin mantan lagi kami. Kami yang ada di sisi kiri panggung terhibur banget sama Mark yang sering mendekat dan teasing penonton. Like, you’re so close yet so far gitu. Rada kesel juga emang, tapi tatapan dan senyumannya Mark bikin meleleh pas bagian verse ke dua lagu. He literally stared at me with his mesmerizing eyes. I was so smitten. Apalagi doi sambil nyanyi dan main gitar juga. Bawa aku pulang ke Irlandia mas, BAWA!! : ‘ (

2018-04-13 (11)

Meski hanya sekilas, tapi berbekas di hati :’) (video credits – Dini)

Porsi galau dan hura-hura di konser ini emang pas. Mereka bisa banget ngaturnya. Lagu No Man is an Island langsung naikin semangat penonton lagi (yah walaupun lagunya ngomongin loneliness juga kalo diperhatiin mah). Malah Danny sempet ngasih instruksi ke penonton untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu. Dia menyebutnya dengan Crowd Control di mana para penonton saling merangkul bahu dan berloncat-loncat ke kanan dan kiri masing-masing delapan kali. Hal tersebut berlangsung kurang lebih dua menit dan gue langsung banjir keringat.

Selesai lagu tersebut, mereka membawakan If You Could See Me Now, lagu yang menurut gue juga punya personal attachment baik itu terhadap personil band maupun khalayak ramai. Sayang gue hanya hapal reff-nya saja. Ku tak bisa mengikuti bagian rap-nya. Lanjutan lagu tersebut balik lagi ke suasana galau karena For the First Time dibawain. Sekali lagi penonton dibawa nostalgia dengan lagu klasik yang bikin kami mulai menyukai musik mereka. Di bagian lirik paling akhir lagu tersebut penonton tetap diminta menyanyi sementara mereka grasak-grusuk dan ngilang ke belakang panggung. Kamera yang tersambung ke dua layar besar pun dimatikan membuat kami semua yang ada di depan bertanya-tanya.

Tidak lama tiba-tiba di bagian penonton Festival yang jaraknya sekitar 100 meter di belakang kami riuh dan kamera ke layar dinyalakan lagi. Ternyata mereka bikin stage ala-ala di tengah-tengah penonton. Asyiknya yang kebagian di sana. Danny sudah ganti baju pakai batik (makin ganteng bok! udah tinggal digandeng dan dibawa buat kondangan). Mereka ternyata mengundang beatboxer lokal yang mereka kenal lewat postingannya di Instagram untuk mengiringi mereka menyanyikan lagu We Cry. Danny bilang sih lagu ini tentang keadaan di negaranya.

 

Mereka membawakan satu lagi lagu di panggung belakang, Never Seen Anything Quite Like You yang bikin Rissa mencak-mencak karena mereka nggak nyanyiin itu di panggung utama. Lagunya romantis. Cocok buat pasangan untuk saling memuji. Gue juga suka lagunya dan nunggu ada orang yang mau nyanyiin gue aja. Niscaya gue langsung meleleh dan takluk (mureh amat ya Allah). I’m pretty sure I shouted Kawinin Aku Mas Danny in the middle of the song. Someone must have recorded it. Oh wait, I did. XD

Kalau menurut kalian tampil di panggung kecil di bagian tengah penonton udah heboh, you ain’t read nothin’ yet. DANNY DATENGIN PENONTON DI BANGKU DIAMOND AMPE DEKET BANGEEEEETTTTTTT! Sementara Mark sama Glen udah balik ke panggung utama karena mesti mainin alat musik buat lagu The Energy Never Dies. Danny di sana bolak-balik dari satu ujung ke ujung lain di kelas Diamond selama satu lagu. Money never lies, indeed. Kelas paling mahal pasti servisnya juga kece. Kami yang di kelas Golden Priority hanya bisa menatap layar nanar.

Setelah Danny balik ke panggung utama, mereka membawakan Rain. Lagu galau yang satu ini bisa banget buat dibikin ngebeat dan buat orang nggak sadar kalau lagu ini ya halu tentang mantan juga. Suara penonton nggak pernah berhenti mengiringi nyanyian Danny. Penonton malam itu sepertinya didominasi oleh kaum hawa karena pas nyanyi yang dominan malah suara dengan nada tinggi. Mati lah awak yang ikutan nyanyi dengan nada setinggi itu. Baru empat lagu kelar tenggorokan udah berasa dicekik. Akhirnya kadang mengalah dan pakai suara rendah walau nggak kedengeran.

Seperti prediksi di setlist yang sudah tersebar di Google sampai Sportify, mereka pamit setelah selesai membawakan lagu Rain. Meskipun sudah tahu bahwa pamitannya mereka hanya gimmick, tentu penonton tetap tidak terima dan mulai berulah dengan berteriak “We Want More” like a dozen times which meant an encore session was upon us. Tak lama setelah itu mereka balik dan membawakan No Good in Goodbye yang disambut choir penonton. Indeed, emang perpisahan itu nggak menyenangkan dan lagu ini menjabarkannya dengan baik.

Begitu selesai, penonton nge-chant Breakeven berkali-kali dan mereka langsung menyanyikan another great song about your story of not being able to move on from your ex. Begitu juga dengan Hall of Fame yang menjadi penutup konser malam itu. Bagian terakhir lagu tersebut sengaja dipanjang-panjangkan yang ternyata memiliki maksud tersembunyi. Danny turun panggung ke samping pagar pembatas dan berlari dari ujung venue ke ujung yang lain sambil mengangkat bendera Merah Putih. Gue yang berada di depan segera bersiap dengan tangan kiri gue untuk memegang bagian tubuhnya yang paling dekat. Turned out jarak dia lari lumayan jauh dari pagar sehingga  gue hanya kebagian keringat basah dibagian tangan blazernya saja. Tapi ya gue yang hanya remah-remah biskuat ini sih udah seneng banget bisa ngerasain basahnya keringat dia yang nempel dari bajunya. If you’d believe me, keringetnya masih berasa di tangan kiri gue sampe saat gue nulis postingan ini. Lantas konser diakhiri dengan para personil band bergandengan tangan dan taking a bow di tengah panggung dengan diiringi tepuk riuh penonton.

20180410_220019.jpg

Sampai mereka pamit, meninggalkan panggung, dan beberapa kru mulai beres-beres kami tetap tinggal di sana sembari mengenang betapa riuh dan serunya konser malam itu. Kepuasan terpancar dengan senyuman dari wajah kami. Satu hal yang kami pertanyakan malam itu, Danny kenapa terus berjalan ke arah kanan (dari sudut penonton) panggung dan jaraaaaaaaaanngg sekali ke arah kiri. Entah apa yang ada di sana. Bagi kami yang ada di sebelah kiri panggung, Mark adalah sosok yang akan selalu kami kenang. Selain sering ke ujung sembari nyanyi dan bawa gitar, doi juga generous banget dalam hal bagi-bagi guitar pick. Terhitung ada tiga kali di mana dia ngasih guitar pick ke penonton setelah lagu selesai macam pedagang ngasih kembalian ke pembeli, arm to arm! Mark juga berkali-kali lemparin benda yang sama setelah konser selesai ke beberapa arah penonton. Rissa seharusnya dapet kalau tangkapannya nggak miss. Hilang pula mental ke mana kali itu guitar pick. Sayang banget.

Screenshot_20180413-003342.png

Mark The Generous

Tak lama kami bertiga ingat sesuatu. Tadi pas lagu If You Could See Me Now ada abang-abang bule super ganteng yang mengalihkan dunia kami dari panggung konser ke sosoknya. Kami yang baru disuntik endorphin sama The Script langsung jelalatan mencari orang yang sama. Setelah hampir mati penasaran, akhirnya dia muncul di sisi panggung yang masih kami tongkrongi. Lalu gue beranikan diri buat memanggilnya hanya dengan modal ‘hey’, and it worked! Langsung gue todong minta foto. Lucunya he was super clueless why he was asked for a picture, dan dengan polosnya gue bilang dese nggak sadar kalo dese itu ganteng. Damn you endorphin! Gue malu kalo inget. :’) Untung orangnya mau foto meski mukanya udah merah dan diketawain temen-temen krunya yang lain. In the end, gue tanya nama dia dan dia jawab ‘Jake’ yang awalnya gue pikir Jack. Cewek-cewek yang sedang bahagia ini langsung mengasosiasikan Jake dengan Jack di film Titanic, lantas kecentilan manggil-manggil namanya terus. Doi masih baik dan mau nengok. :’) Kami hanya bisa pasrah dan giggling.

IMG-20180410-WA0024

Jake and Three Roses (If you know what I mean :p)

To sum everything up about the night, semua perjuangan dari beli tiket dan desak-desakan untuk antri terbayar dengan lunas. Bahkan lebih dari lunas jika mengingat nostalgia, keintiman, kegalauan, dan keseruan yang mereka sajikan. Meski lagu paling favorit gue (Long Gone and Moved On) nggak diputer dan gue gagal beli merchandise saking chaos-nya antrian penonton, kenangan malam itu sudah cukup kuat untuk membuat gue bangun dengan senyuman di hari berikutnya. It definitely goes to the list of my most memorable night of my life next to Coldplay and One Republic concerts, and other memories I can’t mention. At the end of the concert, they made us a promise that they will come back soon to this country. I know they just finished one, but I am so looking forward to their next tour here.

PS:

Thanks for making the night even more fun, ladies! Kapan-kapan kalau ada band favorit manggung kita ngalong lagi ya. See you when I see you. :*

20180410_220236

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s