MotoGP 2017 – Valencia GP Review

The MotoGP World Champion 2017, Marc Marquez – Credit to Twitter @motogp

Fortune Favours The Brave

Sungguh istilah tersebut bisa menjadi tagline pasca balapan MotoGP 2017 seri terakhir di Valencia rampung. Seri yang sekali lagi menjadi panggung penting dalam perebutan gelar Juara Dunia berhasil menyuguhkan permainan keberuntungan yang tidak semua orang menginginkan hal tersebut terjadi. Perlu diakui bahwa jauh sebelum balapan berlangsung Marc Marquez dan Andrea Dovizioso selaku pelakon vital di musim ini mempunyai kesempatan yang berat sebelah. Marquez datang dengan keunggulan 21 poin sementara Dovi tiba hanya dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah kemenangannya di Sepang, Malaysia dua pekan lalu. Marquez hanya perlu menyelesaikan balapan setidaknya diposisi 11 dan Dovi tidak punya pilihan lain selain menang untuk mengunci gelar. Mengingat apa yang terjadi di balapan sebelumnya, para penggemar sangat mengharapkan pertarungan sengit antara keduanya sebagai penentuan gelar seperti apa yang terjadi pada seri-seri sebelumnya. Namun apa yang terjadi pada hari Minggu ternyata sepenuhnya bergantung pada keberuntungan.

Keberuntungan mulai bermain pada sesi kualifikasi di mana kesenjangan kesempatan mulai terlihat antara Marquez dan Dovi ketika sang pemimpin klasemen berhasil meraih Pole Position sementara sang penantang harus puas memulai balapan di posisi ke 9. Kemudian di hari balapan start sempurna Marquez makin membuka lebar jalannya ke arah juara dunia. Dovi sendiri terus berada di grup yang sama dengan terus membuntuti Jorge Lorenzo sementara Marquez mendapat ‘perlindungan’ dari rekan setimnya, Dani Pedrosa. Sepanjang dua lap, Pedrosa berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik sampai Johann Zarco menganggu keduanya dan memimpin balapan.

Selama separuh jarak balapan, Marquez menjadi sangat hati-hati terhadap dirinya dan sekitarnya. Dia terlihat sudah akan senang dengan posisi dua yang dimilikinya saat itu. Namun godaan untuk menjadi agresif langsung muncul ketika Zarco bukannya menjauh tapi malah semakin mendekat dengan jarak overtake yang memungkinkan. Kekaleman Marquez pun hilang saat dirinya mulai mencoba menyalip pembalap di depannya. Satu dua kali percobaan berhasil membuatnya mempimpin balapan sekali lagi.

Near disastrous experience nyaris menimpa pembalap Repsol Honda tersebut saat di tingkungan pertama lap ke 23 dirinya kehilangan cengkraman ban depan dan harus bersusah payah menyeimbangkan motornya menggunakan lutut dan sikunya. Keberuntungan juga masih menggantung di bahu Marquez saat dirinya juga masih bisa melaju dengan sempurna di gravel trap lantas melanjutkan balapan di posisi ke lima. I bet everyone’s heart skipped a bit just as mine did. Marquez sekali lagi membuktikan jika dirinya memang ahli dalam menghindari kecelakaan. 27 crashes this season, and it would’ve been more if it hadn’t been for his incredible saving skills (and also a bot of fortune). Kesempatan juara dunia Marquez masih selamat.

The Lord of Saves! – Credit to Twitter @MotoRaceFeed

Sementara di kubu Ducati, Lorenzo yang berada di depan Dovizioso sepanjang separuh balapan tidak bergeming ketika pesan di dashboard-nya bertuliskan Suggested Mapping 8. Sudah menjadi rahasia umum jika kode tersebut adalah cara Ducati memberi tahu Lorenzo untuk bertukar posisi dengan rekan satu timnya. Cara yang sama pernah mereka pakai di Malaysia. Saat itu mereka sedang beruntung karena Lorenzo masih waras dan membiarkan Dovizioso mengunggulinya meski semua terjadi dengan tidak sengaja. Di Valencia ini terlihat sekali Lorenzo ingin tetap berada di depan Dovi. Terhitung empat kali pesan tersebut muncul di dashboard-nya dan dua kali di pitboard sampai-sampai para kru Lorenzo kebingungan. To be fair, terlalu banyak kemungkinan yang akan terjadi jika Lorenzo membiarkan Dovi menyalipnya baik itu yang ke arah positif yang mana Dovi bisa mengejar barisan depan dan memenangkan balapan, maupun negatif dalam artian Dovi tetap tidak bisa mengejar Marquez.

Keberuntungan semakin menjauhi Ducati dan para pembalapnya saat satu persatu dari mereka berceceran di gravel trap. Mulai dari Lorenzo yang kehilangan grip ban depan dan meluncur begitu saja pada awal lap ke 25. Tak berselang lama Dovi melebar dan tidak bisa menyeimbangkan motornya yang melaju kencang di gravel trap sehingga dia terjatuh and that was it. Gelar yang tadinya memang sudah sulit untuk di dapatkan terbang begitu saja dari hadapan Dovi. He got up and joined the race, but he went back to the pit not long after that. The fat lady had already sung 5 laps before the chequered flag was waved. Marquez sudah menjadi juara dunia.

Balapan akhirnya dimenangkan oleh Pedrosa setelah bertarung sengit dengan Zarco selama dua lap terakhir. Zarco sekali lagi belum berhasil meraih kemenangan pertamanya di kelas MotoGP, namun dirinya tetap menjadi rookie paling sensasional di musim ini. Kesempatan masih terbuka lebar baginya untuk memenangkan balapan di kelas paling bergengsi di beberapa musim ke depan. Sementara para pembalap Yamaha Movistar meneruskan performa buruknya di separuh musim terakhir dengan mengakhiri balapan di posisi 5 untuk Valentino Rossi dan ke 12 untuk Maverick Vinales.

Highlight hari itu tentunya tetap tertuju ke Marquez yang merayakan gelar juara dunia ke-4 nya di MotoGP (ke-6 di semua ajang) dengan meriah. Usia Marquez yang terhitung masih muda (he’s 24!) membuat spekulasi bahwa gelar ini hanya awal dari sejarah yang akan dia ukir ke depannya. Gelarnya tahun ini sudah menempatkan dia di jajaran nama-nama besar legenda MotoGP yang di antaranya adalah Eddie Lawson, Mike Hailwood, John Surtees, dan Geoff Duke. Selisih satu gelar ke Mick Doohan, tiga gelar ke Rossi, dan empat gelar ke Giacomo Agostini yang diklaim sebagai para pembalap terhebat sepanjang zaman.

Sementara Dovi tetap di sambut sebagai pahlawan di garasi Ducati atas pencapaian luar biasanya. Semangat bertarungnya yang dia jaga sampai akhir memang patut diapresiasi bukan hanya oleh kru-nya, tapi juga oleh khalayak ramai. Something he deserved the most even though he didn’t deserve this bitter ending to his championship fight. Sepeninggalan Casey Stoner tahun 2009, Ducati memang belum memiliki pembalap yang bisa mendekati prestasinya selain apa yang telah dilakukan Dovizioso musim ini. Jadi wajar jika pabrikan asal Italia tersebut menaruh harapan yang begitu besar di pundaknya. He is still one of the rider whom people respect no matter what. Better luck next time, Dovi.

Dovi was applauded by Ducati team members after retiring in lap 26 – credit to Twitter @motogp

Keberuntungan memang bagaikan takdir yang sudah mengikat dengan hidup seseorang. Tidak akan ada yang tahu Dewi Fortuna akan menaungi nasib siapa di setiap kesempatan. Apa yang terjadi di Valencia merupakan anti klimaks dari pertarungan-pertarungan sengit di seri-seri sebelumnya lantaran keberuntungan berperan sangat besar. Jangan salah mengartikan, Marc Marquez tetap merupakan pembalap sensasional dan pantas mendapatkan gelar juara dunia musim ini. Hanya jika saja mereka bertarung fair and square di lintasan, mau sesengit apapun dan siapapun yang menang dan menjadi juara dunia jika keduanya berhasil melewati garis akhir barulah keadilan dirasa berperan penting di sana. Bahkan Marquez saja setuju akan hal tersebut. But then again, who are we to question fortune?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s