Yogyakarta Trip 2017 [Day 2] – Hanging Out with Insanity

Dalam sejarah berpergian, gue cenderung sering bergonta-ganti partner. Konsep ‘yang penting ada temen’ menjadi pertimbangan buat jalan-jalan walaupun kenalnya belum begitu lama. Masing-masing dari mereka mempunyai alasan tersendiri kenapa gue menikmati perjalanan bersama, tidak terkecuali sama Dita dan Asa. Selain karena kami sobat kental yang sering hangout bareng, ada hal-hal yang gue nggak bisa dapat ketika gue jalan dengan teman-teman selain mereka yakni kegilaan kami ketika berpapasan dengan pria-pria ganteng.

Take one as an example when we came across one of the staff of Puri Pangeran Hotel where we stayed for three nights. Malam pertama kami sampai di Hotel disambut oleh pria berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi, ganteng juga biasa aja, but he looks cute. Tipe-tipe wajah yang seharusnya biasa ditemui dijalanan kota Meksiko daripada di meja resepsionis salah satu hotel di kota Yogyakarta. Tentunya pas kami berinteraksi untuk mengurus pemberkasan hotel gue sama Asa yang sama-sama berada di meja resepsionis hanya bisa saling tatap dan membaca respon masing-masing. Kekaleman kami di depan Mas resepsionis itu langsung buyar tatkala kami keluar menuju kamar kami (area resepsionis dan kamar-kamar memang terpisah).

Hal ini berlanjut sampai pagi dan dua hari kedepan selama sisa liburan kami. Bukan hanya terhadap Mas Aris Sang Resepsionis itu (wait a minute, that rhymes), tapi juga kepada bule-bule ganteng yang gue dan Asa temui ketika sarapan pagi. And more men that crossed our paths during the holiday received the same treatment. Lucunya sih sebenernya itu hanya bercandaan saja karena kami hanya sebatas memilih, nge-dib dan berkomentar tanpa berani menyapa atau mengobrol. We’d probably run away when some random strangers actually did try talking to us. X’D That’s just the way we are thou. Can’t help it even when we’re not on holiday.

IMG_1854

Before we set on a road trip

ANYWAY, what was going on our second day in Yogyakarta? Bisa dibilang hari Jum’at itu kami mengunjungi tempat yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota, kayak Candi Prambanan dan Bukit Breksi. Jangan tanya kenapa kami hanya berhasil mengunjungi dua tempat, lha wong bangun tidur aja sengaja siang-siang. XD Sedari kemarin kami sudah mewanti-wanti kalau transportasi di Yogyakarta tidak segampang di Jakarta yang semua-muanya terintegrasi. Maka kami putuskan untuk menyewa dua motor dari hotel yang ternyata juga menyediakan jasanya seharga Rp.70.000,- per hari. Konon kabarnya sih lebih dipermudah kalo minjem di hotel ketimbang penyewaan kendaraan resmi yang katanya hanya menerima peminjaman oleh turis asing. So this was how our Friday went.

CANDI PRAMBANAN

20170922_123422

Salah satu kengototan gue mengunjungi Yogya untuk ketiga kalinya lantaran tempat mainstream yang satu ini belum pernah gue kunjungi sekalipun. In the name of curiousity, kami memasukan Candi Prambanan sebagai salah satu tujuan kami. Dari tempat kami menginap  di daerah Pakualaman yang jaraknya tidak jauh dari pusat keramaian kota, Candi Prambanan bisa ditempuh sekitar 45 menit. Dita bilang sih jika sudah di Jalan Ring Road tinggal ikuti papan petunjuk arah ke kota Solo aja, terus nanti ketemu sendiri gerbang candinya.

Heads up. Kalo nggak kuat panas-panasan coba kunjungi candinya pas pagi sekali atau sorean. Kalopun terpaksa hanya bisa kunjungan siang kayak kami ini, bawa payung dan sunglasses, atau topi lah seenggaknya. Jarak dari parkiran motor ke loket tiketnya lumayan jauh dan bikin kulit gosong. Harga tiket masuknya sebesar Rp.40.000,-, termahal dibandingkan tempat-tempat wisata lain yang kami kunjungi.

Berbeda dengan Candi Borobudur yang membutuhkan jumlah langkah kaki yang banyak untuk mencapai kompleks candinya, Candi Prambanan sudah terlihat menjulang semenjak kami melewati gerbang pemeriksaan tiket. Kami juga disambut oleh sebuah pohon Beringin yang super tinggi dan super rindang di mana terdapat orang-orang berlindung dari sengatan cahaya matahari. Terdapat juga tulisan PRAMBANAN yang bisa dipakai untuk berfoto dengan background candinya. Saat mememasuki kompleks candinya sih gue hanya inget Amazing Race Asia Season 5 yang sempat syuting satu episode di sana.

Kalian tau lah cerita terbentuknya Candi Prambanan ini kayak apa. Poor Bandung Bondowoso had to build 1000 temples for his beloved Roro Jonggrang before he could marry her, and she tricked him before he succeeded. Legend has it that the sculptur in the biggest temple in the middle of the complex is the princess herself that was cursed by Bandung Bondowoso. Of course that is only a legend. I’m sure there is a logical explanation to it.

Di samping candi-candi yang masih berdiri dan bisa dinaiki sembari berfoto-foto di dalamnya, di sekelilingnya juga terdapat reruntuhan batu yang sepertinya berasal dari candi-candi serupa yang bentuknya lebih kecil. Jika niat sih bisa dinaiki dan dilihat satu-satu sembari ditemani guide yang bakal menjelaskan asal muasal dari candi-candi ini. Di sana sendiri cuma gue dan Asa yang semangat berkeliling. Dita yang memang pernah berkuliah di Yogya sih udah bolak-balik berkali-kali sampe bosen. Kami tidak menghabiskan banyak waktu di sana karena waktu sudah melewati masa dzuhur dan kami harus melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Sempat berrandom-random dulu sih sebelum akhirnya beneran meninggalkan kompleks candi.

20170922_124648

What a random thing to do. 

 

TEBING BREKSI

IMG_5648

Jadi begini. Saat kami rehat untuk makan siang di Gubug Lestari 88, salah satu restoran hits yang pemandangannya langsung mengarah ke Tebing Breksi, kami (gue) berdoa kalo jalan menanjak dan menyeramkan yang kami lihat itu bukan jalan ke sana. Namun saat bertanya pada salah satu pramusaji restoran, ternyata itu benar jalan satu-satunya ke sana. Asa dan Dita yang memang takut ketinggian langsung gentar dan nggak mau lanjut. Gue yang memang penggagas Tebing Breksi sebagai salah satu destinasi kami terus membujuk mereka untuk tetap lanjut karena gue penasaran. Kepercayaan diri gue untuk lanjut juga ditunjang oleh motor yang performanya menurut gue oke dan memuaskan. Tanjakan segitu mah cetek lah (sombong). Akhirnya kami lanjut dengan banyak-banyak baca Bismillah.

Beberapa meter kami melalui jalanan yang hanya muat dua mobil dengan arah berlawanan kami masih kalem karena belum ketemu tanjakan. Sampai kami berbelok ke arah kiri tanjakannya baru dimulai. Tingkat kecuraman tanjakannya sendiri bervariasi. Ada yang landai, ada juga yang curam, but IMHO it isn’t as extreme as the road going to Sawarna. As long as we’re confident with ourselves and our bikes and carefully ride them, we’ll be fine. That was what I and Dita felt when she led us going up until Asa screamed and refused to continue. They later retreated, leaving me going up on my own. I tried to persuade them to go up when I realized how close it was from their place to the destination which was only 200m more. I did feel sorry for ditching them like that, but I really wanted to see how cool that place was.

Saat tiba di pintu masuk, terlihat tebing yang sepertinya terdiri dari pahatan batu kapur menjulang gagah. Di atasnya terdapat orang-orang yang sedang bertamasya. I was eager to go up and find more of what’s up there. Enaknya di Tebing Breksi ini biaya retribusinya sesuka hati di samping biaya parkir motor sebesar Rp.3000,-. Gue sendiri ngasih Rp.15.000,- sudah berikut parkir. Agak gugup juga karena gue dateng sendirian sementara yang lain paling enggak sama teman atau rombongan. I missed my girls already.

Dari dekat tempat parkir motor terdapat semacam area untuk tempat pertunjukan dengan kursi setengah melingkar. I figured they have somekind of musical show or such every other time. Sepanjang parkiran motor dan mobil juga terdapat warung-warung kecil tempat berjualan makanan dan minuman. If you are planning to stay for a long time, don’t forget to bring your own food and drink to go up because there is no one selling anything up on the cliff.

Masuk ke dalam tebing yang dari luar tadi hanya terlihat pahatan vertikal batu kapur terdapat beberapa pahatan yang lebih kecil dengan berbagai bentuk. Ada pahatan dua wayang, ornamen menyerupai batik, dll. Dari gambar yang gue Google sih terdapat pahatan ular naga yang besar, tapi gue nggak melihatnya di sana. Maybe I looked into wrong direction. Ada juga orang-orang penjual jasa befoto dengan binatang-binatang langka macam burung hantu dan elang yang ternyata banyak peminatnya. Lalu gue mulai menapaki pahatan anak tangga untuk menuju ke puncak tebingnya.

One step, two steps, a few steps later I arrived at the top of the hill and I grinned. It was A-MA-ZING! Berdiri di Tebing Breksi ini seperti menjadi hiasan yang ada di puncak kue penganting di mana di sekelilingnya terdapat hamparan hijau hutan mau pun pedesaan. Ketika menengok ke sebelah kanan ada kaki Gunung Merapi yang diselimuti kabut (plus a glimpse of Candi Prambanan), sementara sebelah kirinya terdapat perbukitan yang ketinggiannya saling susul.

IMG_5649

The Grand Prize

The Grand Prize to this place directly lies before our eyes which is where the sun sets. My God! I had eyegasm! Anybody who loves spending time watching sunset must at least spend once in their lives to visit this place and just stay there until the night falls. The ultimate experience would be to bring best friends or loved one for company. Too bad I didn’t have a chance to witness all the beauty with my girls just like the day before.

There was actually not much to do there except if you’d like to do what I just mentioned. Gue juga tidak berlama-lama di sana dan harus segera turun karena takut Asa dan Dita menunggu gue terlalu lama. The sunset can wait for another time, and I bet night time is as equaly beautiful as day time. So I bid farewell for Tebing Breksi and promised one day I will do what I haven’t done.

 

Petualangan kami sampai situ saja? Oh tentu tidak. Setelah kembali dari Tebing Breksi dengan menembus kemacetan kota Yogya (yang ternyata bandaranya di tengah kota), kami mampir untuk mencicipi Eskrim Batok Kelapa yang Dita rekomendasikan. Kami akhirnya bisa memutuskan varian yang berbeda-beda setelah dipusingkan oleh pilihan toping yang super banyak. Beres dengan urusan eskrim, kami kembali ke hotel untuk berenang.

Yes. Salah satu pertimbangan memilih Puri Pangeran Hotel adalah karena terdapat fasilitas kolam renang. Ditambah biaya menginapnya dapat diskon dari ZenRoom dan ternyata mendapat sarapan juga. Sempat kaget (tapi tetep bersyukur) karena gue dan Asa tidak mengecek kolom ‘breakfast’ saat memesan hotel. Lumayan sih memotong biaya makan meski makanan yang tersedia standar.

Back to the swimming pool, My girls were eager to swim even though the lighting wasn’t really good there. Me? Not so much cos I can’t swim. I came along anyway. Ceritanya main air sih kalo gue, dan malam itu gue yang biasa mem-bully mereka di daratan harus kalah karena gue takut (di)tenggelam(kan). The good thing was we had so much fun and laughter in that pool because of various things. Plus, we owned it since there were only the three of us there.

Lalu setelah selesai dengan berenang dan membuat kamar hotel jadi becek karena mandinya tetap harus ngantri, kami berangkat ke Malioboro untuk melakukan satu-satunya hal yang orang-orang lakukan saat malam di Yogya, nongkrong di Angkringan. Kami saat itu singgah di Angkringan pak Agus dan memesan Nasi Kucing dan beberapa tusuk sate dengan beberapa macam lauk. Tak lupa juga pesan Kopi Susu Joss yang tersohor itu. FYI, jika kalian suka kopi yang sedikit pahit mending request supaya gulanya dikurangi. Kopi gue malam itu manis banget. Nggak kebayang kalo tiap malem minum kopi semanis itu. Bisa-bisa kena diabetes sebulan tinggal di Yogya.

Tadinya kami mau langsung pulang, tapi kayaknya nggak ada yang salah kalo kami lanjut menelusuri Jalan Maliboro. Siapa tau kebagian foto di marka jalannya. Eh, foto dapet enggak belanja iya. Gue dan Asa akhirnya memutuskan untuk membeli oleh-oleh malam itu juga karena kami sudah kadung jalan ke sana. Trotoar Jalan Malioboro memang terkenal dipenuhi oleh pedagang kaki lima di depan ruko-ruko yang sudah tutup. Mereka sebenarnya menjual barang yang sama dan cenderung berdekatan. I guess they believe in ‘Rejeki Nggak Akan Ketuker’ concept. Kami membeli beberapa kaos dengan sablonan unik. Gue juga membeli celana Kulot motif batik titipan Mamah serta aksesoris kalung yang terbuat dari ukiran kayu. Lalu kami memutuskan untuk pulang ketika semua yang dicari sudah ditemukan dan dibeli.

PS: I won’t forget that night you terrorized me on my bed, gaes. You’ll have one coming. >:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s