Yogyakarta Trip 2017 [Day 1] – Mendaki Gunung Lewati Lembah

IT HAS BEEN FOUR YEARS.

Terakhir kali gue ke Yogyakarta itu di tahun 2013 saat gue dan teman-teman satu kelas dari kampus memutuskan untuk ‘ngabur’ setelah kami menyelesaikan tiga bulan penuh stres menjadi guru magang di sekolah-sekolah pilihan kami. Kunjungan pertama gue ke Yogya sebenarnya tahun 2005 ketika Karya Wisata SMP. Terhitung sudah dua kali mengunjungi Kota Pelajar dan tahun ini merupakan ketiga kalinya. Bosen? Nah. There are always reasons to go to Yogyakarta.

 

Kali ini gue pergi sama Dita dan Asa, my two best buddies from office. Alasannya sederhana, we’ve been friends for more than a year, but we’d never had a chance to go on a trip together. When I mean together, I mean the three of us karena selama nge-trip kalo nggak gue-Asa, gue-Dita, atau Asa-Dita. Yogya dipilih karena di tanggal yang sama Dita hendak main ke sana dan dia mengiyakan proposal gue dan Asa untuk ikut. We set the date, we bought the tickets, we waited for two months when we finally arrived on D-Day. But like people always say, nothing worth having comes easy. Let me take you a while back.

 

IMG_5612

The Three Amigos on a Trip – Myself, Dita, and Asa

FLASHBACK

Forget all pre-trip drama, the most stressful time came three hours before we were on board the train. Tempat tinggal gue lumayan jauh dari Stasiun Senen sementara Dita dan Asa deket. Meskipun Dita mesti harus kerja sampe jam 8 malam masih akan terkejar kereta jam 10 karena dia kerja di Matraman. Rencana gue berangkat jam 8 malam batal lantaran hujan deras turun dan nggak ada satu driver aplikasi manapun yang mau ambil gue. Ketika sudah dapatpun letak mereka jauh dan nggak bakal keburu untuk menuju tempat gue dan Stasiun Senen.

Saat sudah mulai putus asa, gue dengan segala keberanian (atau keengganan menghabiskan uang lebih untuk tiket pesawat) meminta pada siapapun yang ada di ojek pangkalan buat nganter. Syukurnya ada satu abang ojek yang mau. Biarlah kehujanan dari pada ketinggalan kereta. Di perjalanan sebenernya gue pengen nangis. Entah sedih aja gitu. Mau liburan gini amat. 😥 Tapi akhirnya gue sampe 20 menit sebelum kereta berangkat. The rest is history.

Dari awal kami merencanakan kunjungan ke Yogya, itinerary dan sebagainya kami serahkan ke Dita karena dia lebih tau jalan, jarak tempuh, dan asyik-enggaknya tempat wisata tersebut.Terlebih, ada agenda kunjungan ke rumah Dita juga selepas kami sampai di Kutoarjo.

IMG_1672

With Dita’s Family

Just FYI thou, she has a huge house, and her parents are two of the nicest people in the world. Not just because they provided us breakfast and food for the trip and shelter for the morning, but because they are genuinely kind and polite, and it made me and Asa feel like home. If time had allowed us, we’d have actually stayed at least for a day in their peaceful house. She was also in charge of finding us a car and a driver for our first day trip because we were going places. And for the first day of our holiday, we decided to visit Hutan Magroove Pantai Kadilangu, Hutan Pinus Mangunan, dan Pantai Wediombo. Here are the breakdown.

HUTAN MAGROOVE PANTAI KADILANGU

IMG_5346

Awalnya Asa dan gue kurang setuju untuk berkunjung ke hutan magroove karena menurut kami tempatnya hanya begitu-begitu saja dan kami bisa menjumpainya dengan mudah tanpa harus jauh-jauh ke Yogya. Moreover, I had never visited mangroove forest before that day and I didn’t know what to expect. However, kunjungan kami ke hutan mangroove ini ternyata nggak setidak-menarik yang gue pikir. It was actually quite fun.

Unlike the traditional magroove forest I saw on Google for the one in Pantai Indah Kapuk, Hutan Magroove Pantai Kadilangu sudah didekorasi sedemikan rupa dengan rangkaian bambu menyerupai berbagai bentuk dan beberapa hiasan yang cukup mainstream di setiap sudutnya. Jembatan di seberang sini, rumah panggung di sebelah sana, “Menara Eiffel” di seberang, dan berbagai ornamen lain yang menjadi objek foto kami. Selain itu, satu sudut hutan ada jalan setapak yang buntu bernama ‘Lupakan Mantan” as if we could just dump every thing about our ex(es) there.

I’m not exactly an adrenaline junkie, tapi gue selalu punya keinginan untuk melihat suatu tempat dari ketinggian. I have no idea why. Terhitung gue menaiki tiga tempat tinggi di sana, yakni dua rumah panggung dan Menara Eiffel jadi-jadian itu. It was absolutely gorgeous up there. I could see the place from different perspective. Kabar baiknya walaupun tengah hari, cuaca di sana nggak terlalu panas dan menyengat kayak di Jakarta. Walau mungkin tetep kena sunburn sih.

Sebenarnya banyak hiasan lagi di hutan magroove yang terbentang sepanjang pantai dangkal, namun kami kesulitan menemukan akses penyambung antara tempat satu dan yang lainnya. Dita bilang sih itu karena pengelolanya beda-beda, jadi tempat pemberhentiannya juga beda-beda. Satu atau dua jam sudah cukup bagi kami menjelajah tempat tersebut dengan oleh-oleh foto-foto kece.

Satu-satunya transportasi dari dan menuju hutannya  hanya disediakan penyebrangan dengan perahu motor yang dikelola oleh nelayan setempat. Bagi gue sendiri butuh keberanian karena gue nggak bisa berenang dan tidak tersedia jaket pelampung despite the fact it is only Rp.10.000,- for a round trip which is quite cheap. Kekhawatiran akan tenggelam sedikit teralihkan oleh sejuknya angin pantai dan pemandangan asyik selama 5-10 menit perjalanan.

 

HUTAN PINUS MANGUNAN

20170921_131821

I have to admit, semakin ke sini semakin orang-orang kreatif dalam menciptakan tempat wisata. Lima atau empat tahun yang lalu, berwisata ke hutan hanya dilakukan oleh mereka yang hobinya mendaki gunung. Namun beberapa tahun belakangan wisata hutan, terutama hutan pinus menjadi favorit mengunjung. Normally, Lembang is the most popular choice for this kinda travelling, but recently Yogya has discovered its own pine forest which is now as equally popular as the one in Lembang.

Hutan Pinus Mangunan sendiri terletak di perbukitan di mana terdapat beberapa spot wisata yang berguna untuk memecah konsentrasi massa. Semakin naik, semakin sedikit pula wisatawan yang dijumpai. Setelah melewati tanjakan-tanjakan ekstrim dengan jalan nan sempit, kami memutuskan untuk berhenti di salah satu tempat yang disebut Bukit Lintang Sewu which I guess the meaning is A Thousand Stars Hill.

Retribusi ke tempat tersebut sebesar Rp.2000,-, tapi kadang pengelolanya jahil dan bilang Rp.5000,- untuk dua orang. Entah karena memang biayanya sudah naik atau bagaimana we never really knew. Sebenarnya tidak banyak pohon pinus tumbuh di tempat tersebut which is weird considering it’s a pine forest. Bahkan havoc yang kekinian pun hanya beberapa yang menggantung di pohon dan semuanya sudah ditempati orang. When I thought that place was gonna be boring, we found a spot that is beyond amazing!

IMG_5490

Ternyata atraksi utama dari Lintang Sewu ini terdapat setelah kami berjalan ke dalam dan bertemu dengan ujung bukit dengan pemandangan hutan tropis yang membentang sepanjang mata memandang. Dita dan gue langsung menuju satu spot foto dengan di mana semua pemadangan terlihat sementara Asa tetap menjauh dari pinggir bukit karena takut ketinggian. Dita sebenarnya juga setengah ngeri begitu naik jalan setapak dengan ujung ornamen berbentuk setapak kaki, namun gue berhasil meyakinkannya buat berfoto di ujung. Kalo dapat pemandangan seperti ini sih kunjungan ke Kalibiru nggak jadi juga terbayar.

Kami menyempatkan diri hanya untuk duduk dan menempati pemandangan indah yang ada di depan kami sembari bersyukur masih bisa menikmati hidup. Pemandangan di bawah sebenarnya agak gersang karena pengaruh kemarau. Banyangkan betapa makin indahnya di bawah sana jika pepohonan sedang hijau. Setelah itu kami lanjut menyusuri sepanjang pinggir bukit yang ternyata banyak tempat untuk berfoto. Salah satunya di ornamen bintang raksasa yang bisa dinaiki dan rumah-rumahan yang terbuat dari ranting pohon. Kami bisa saja mengabiskan waktu di sana, tapi kami punya satu lagi agenda kunjungan sebelum malam tiba.

 

PANTAI WEDIOMBO

IMG_5515

Saat main ke Yogya, Gunung Kidul kini menjadi destinasi yang wajib dengan pantai-pantainya yang tersebunyi serta wisata gua dan air terjunnya yang menarik. Tadinya kami akan mengunjungi dua pantai karena gue pribadi ingin mencoba gondola ekstrim yang terdapat di Pantai Timang sembari diguyur deburan ombak pantai selatan, tapi karena waktu sudah terlalu sore jadi kami ke pantai yang Dita sarankan aja.

Sepanjang perjalanan ke pantai, kami yang kerjanya hanya makan, tidur, ngobrol, dan sesekali karaokean massal disuguhi oleh bukit-bukit yang terdiri dari bebatuan yang menjulang serta hutan Jati. I was actually surprised they can grow any trees or plantations there. Uniknya pantai-pantai di Gunung Kidul tidak akan terlihat dari jalan raya yang kami tempuh. Bagi seseorang yang belum familiar dengan jalanan Gunung Kidul pasti tidak akan menyangka di balik bukit-bukit itu terdapat deretan pantai yang super kece.

Kami akhirnya sampai jam empat di Pantai Wediombo (it looks more like a bay than most of beaches I have visited), satu setengah jam sebelum matahari terbenam. I honestly forgot that we were farther east from Jakarta which meant the sun set was before 6 pm. Sebelum kami bermain di pinggir pantai, kami menyempatkan diri untuk sholat dan menyegarkan tenggorokan dengan seporsi es kelapa muda. And when I say es kelapa muda, it is one piece of coconut that is opened up and serves directly as it is. Yum!

Keadaan pantai waktu  itu sedang surut, jadi kami harus berjalan sedikit menjauhi bibir pantai jika ingin terkena belaian ombak. Bukit menjulang di kanan-kiri kami seolah menyembunyikan keindahan pantainya dari dunia luar, true gorgeousness. Sementara matahari di sebelah barat sedang mempersiapkan diri untuk menujukan keindahan warna jingganya sebelum akhirnya tenggelam. Sunglasses helped us to stare upon the mighty sun to witness its ultimate beauty. I gotta say thou, my sunglasses altered the color of the original sunset which somehow looked more beautiful. Still, nothing better than to witness the sunset with naked eyes.

Semakin turun matahari, semakin naik air laut membuat gue dan Dita menuntaskan foto-foto kami di karang. Akhirnya kami duduk bersama Asa yang sedari tadi sudah standby di pasir. Bertiga, lagi-lagi kami terdiam sembari menatap ke barat. Turunnya matahari terhalang awan yang membuat cahaya matahari menembus seperti lampu senter terhalang suatu objek. Nobody hates sunset. Nobody.

 

Perjalanan panjang kembali menuju kota Yogyakarta dari Gunung Kidul membuat kami sadar betapa jauhnya Kabupaten ini dengan pusat kota. Terlebih pemandangan hutan di kanan-kiri yang cenderung sepi menjelang malam menghiasi setiap lekuk jalan sempit yang kami lewati. What made it worse was because it was Malam Jum’at and Asa wouldn’t stop making scary jokes even though I and Dita warned her about the consequences. She eventually stopped when she fell asleep for the fourth time that day.

Sebenarnya kami masih punya satu tempat untuk dikunjungi lagi dan merencanakan untuk makan malam di sana, di Bukit Bintang. Namun saking jauhnya perjalanan, kami akhirnya memutuskan untuk mampir di masjid yang kebetulan di dekatnya ada warung yang menjulan berbagai makanan. Maka setelah membereskan Isya, instead of continuing the trip, we decided to sit and had some coffee, a few snacks, and dinner eventually. It was worth it because if we hadn’t had dinner there, we would’ve starved for two hours long before we reached Bukit Bintang. In the end, Bukit Bintang hanya jadi mandatory visit saja. Terlebih tempat-tempat hitsnya sudah dipenuhi orang-orang yang berpikiran sama dengan kami, hanya mereka datang lebih dulu. Cuma kami tetap berhenti dan mengunjungi sebuah warung dan memesan jagung bakar. Tidak lebih dari 30 menit kami langsung melanjutkan perjalanan karena takut sampai hotel sudah terlalu malam.

20170921_204837

Last photo of the day – Bukit Bintang

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s