Sehari Berkeliling Banjarharjo

Blog - IMG_4829

Sebagai penduduk kelahiran asli Brebes tidak banyak tempat wisata yang gue kenal dan kunjungi di tanah kelahiran gue tersebut lantaran hanya bisa pulang seminggu dalam setahun semenjak 2006 lalu. Boro-boro ke  Guci, Baturaden, atau Pantai Alam Indah, ke Pangebonan yang kata orang-orang lumayan deket aja gue belum sampai. Maklum desa kelahiran gue, Tiwulandu, yang ada di Kecamatan Banjarharjo terletak sekitar 50 KM dari pusat Kabupaten Brebes. Tidak banyak tempat wisata alam di sana karena wilayahnya kebanyakan dataran rendah. Namun ternyata belakangan daerah di sekitaran Banjarharjo pun mulai banyak tempat wisata baik itu berbentuk wisata alam maupun buatan manusia. Tiga hari setelah lebaran, gue berkesempatan mengunjungi tempat-tempat keren yang sebelumnya nggak pernah bisa gue jangkau yakni Jumbleng View, Waduk Malahayu, dan Cawiri. Berikut adalah ulasan dari beberapa tempat tersebut.

Jumbleng View

Blog - IMG_4714

Sebenarnya gue dan pengunjung lebih mengenal tempat ini dengan sebutan Pangebonan. Untuk menuju ke sana dari Banjarharjo hanya tinggal mengikuti jalan menuju selatan ke arah Desa Bandungsari. Gue dan teman gue harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan motor. Enggak rugi juga sih berlama-lama di jalan karena pemandangan sepanjang perjalanannya bikin gue tercengang. I felt so so happy I could cry.

Hamparan sawah dan hutan di kanan-kiri mendominasi sementara kami berkendara menuju bukit yang terbentang dari timur ke barat (I think). Untungnya permukaan jalan sudah diaspal dan dicor, jadi jalan berbelok-belok sekalipun tetap nyaman membawa motor.

Setelah melewati keindahan tersebut, kami berbelok ke jalan yang lebih kecil di samping sebuah bangunan Sekolah Dasar yang gue nggak sempet liat itu SD apaan. Don’t worry about missing it out karena pengelola juga memasang banner yang bisa terlihat dari jalan. Beberapa ratus meter ke dalam, kami menemukan gerbang utama di mana pengelola meminta uang retribusi sejumlah masing-masing Rp.5000,-/orang dan uang masuk serta parkir motor Rp.3000,-.

Blog - IMG_4820

Tantangan muncul setelah melewati gerbangnya. Kami harus melalui jalan sempit dan menanjak dengan sudut kemiringan yang luar biasa curam. Gue sempet parno temen gue nggak bisa bawa gue nanjak karena keberatan bawa gue, but he turned out to be an excellent rider. Bahkan kami sempet nyasar ke puncak dan bertemu dengan penduduk karena nggak tau letak tempat wisata persisnya di mana. Nanjak-turunnya Pe-eR banget. Bikin jantungan buat orang yang nggak biasa kayak gue mah. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di salah satu spot yang terdapat aliran sungainya.

Didn’t I tell you I love playing with water? This is just the right place for me. Begitu melihat air segar mengalir gue nggak pake mikir langsung lepas sepatu dan mengangkat celana sampai betis lalu menceburkan kaki. ADEM BANGET! Berasa berendam di air es. Lalu seketika gue pengen mandi. Kalo dateng bareng keluarga sih langsung nyebur pasti.

I couldn’t get off the water sampe akhirnya gue menuntaskan foto-foto dan temen gue ngajak udahan. Tell you what, I could spend a day just to be there playing with water.

Lalu kami juga sempat duduk di salah satu bangku kios yang terbuat dari bambu sembari berbagi cerita. Suasana yang adem karena kami dikelilingi pohon juga gemercik air sungai membuat kami rileks. Kurang Cappucino anget sama Cinnamon Roll-nya Starbucks aja tuh. Oh iya, gue sebagai pengguna XL tidak menemukan setitikpun signal di sana. Emergency calls only, man, emergency calls only. Entahlah provider yang lain. Gue yakin spot di Jumbleng View nggak cuma yang gue kunjungi karena tempat itu tuh luas banget. Ada banyak entry points ke sungai yang bisa dipake dengan berbagai tantangan tersendiri. Yang gue lewatin tersebut kebetulan jalan utama yang sudah di aspal.

 

Waduk Malahayu

blog - IMG_4847

Well, well, isn’t it a place with lots of memories of my junior high school time also my ex-boyfriend. This is basically a place I visit every lebaran holiday just because it’s closer than other touristy places. Ditambah kadang teman SMP memilih Waduk Malahayu untuk tempat reuni karena salah satu guru kami berdagang di sekitar area danau. Banyak kenangan yang terpatri di setiap sudut tempat ini. Anyway, I’m not going to talk about those memories of course.

Letak Waduk Malahayu dari pusat kecamatan Banjarharjo lebih dekat dari pada ke Pangebonan. Tiap tahun tempat ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat di sekitar maupun dari luar area kecamatan. Entah apa daya tarik Waduk Malahayu sampai orang berbondong-bondong datang ke tempat yang menurut gue tidak istimewa-istimewa amat. Retribusinya tahun ini bahkan naik menjadi Rp.10.000,- per orang! Belum lagi parkir kendaraan di mana motor dikenakan Rp.3000,- dan letak parkirnya masih jauh dari bibir danau. Berjalan kaki pun mau tidak mau harus dilakukan.

Blog - IMG_4841

Ada yang beda dari Waduk Malahayu tahun ini. Suasananya terlihat lebih segar dan lebih hijau dibanding terakhir kali gue mengunjunginya dua tahun dulu. Tentu masih ada tempat untuk bermain becak air di satu sudut, sebuah lapangan luas yang di ujungnya terdapat panggung yang biasa digunakan untuk pentas dangdut dengan artis dan musisi lokal, tak ketinggalan para pedagang dengan berbagai jenis dangangan berjejer di sepanjang jalan menuju danau. Just like old times.

Blog - IMG_4842

Saat kami sampai di bibir danau pun tidak banyak perubahan kecuali permukaan airnya sedang surut. Orang-orang silih berganti untuk befoto di samping pagar. Sayang spot cantiknya sudah dimonopoli sama fotografer keliling. Honestly thou, masih ada ya fotografer yang hasilnya langsung bisa dicetak kayak gitu? I thought they have been extinct ever since phones with good camera become something a person cannot miss.

Blog - IMG_4861

Kalau niat mau berlama-lama di sana sebenernya banyak sudut yang bisa dieksplor. Dari sudut rindang danau yang biasa dipakai untuk berjualan ikan hasil tangkapan nelayan, sampai sudut yang menampilkan hutan jati yang sedikit gersang tapi lumayan adem. Kami sih nggak berlama-lama di atas karena saat itu matahari sedang panas-panasnya.

Blog - IMG_4869

Kami menjauh dari danau dengan menuruni ratusan tangga dari sudut lain dengan suguhan pemandangan hutan dan gunung serta gemercik air dari irigasi yang alirannya dipakai berenang oleh pengunjung. Niat untuk nyebur tadinya ada, tapi setelah melihat keadaan sungai yang ramai dan bau amis yang menyengat membuat kami mengurungkannya. It’s really worse than the last time I was there. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang dan menyudahi perjalanan kami di Malahayu.

 

Cawiri

Blog - IMG_4891

Tempat ini salah satu yang direkomendasikan teman seperjalanan gue. Gue nggak tau tempatnya seperti apa dan belum pernah mendengar dari orang-orang, but I’m always up for great scenery. Jalan menuju ke sana tidak semewah jalanan menuju Malahayu atau pengebonan. Permukaannya masih berupa kerikil dan batuan kapur bercampur dengan tanah liat yang gue rasa bakal licin jika hujan. Ternyata hutan di Cawiri ini termasuk ke Hutan Lindung milik pemerintah daerah dan baru setahun yang lalu tempat ini dibuka untuk tempat wisata umum. Tiket masuk ke tempat ini sama dengan tiket masuk ke Pangebonan berikut dengan biaya parkir motor yang dikelola oleh penduduk sekitar.

Beberapa meter setelah melewati entry point, gue mulai melihat banyak rumah-rumah panggung di pinggir jalan yang menjulang beberapa meter di atas tanah. Semakin ke dalam semakin banyak lah rumah-rumah panggung tersebut. Asyiknya di sana sih kami bebas untuk memilih untuk duduk di rumah yang mana selama tempatnya kosong. Tidak ada biaya tambahan untuk menyewa rumah whatsoever, cuma kesadaran dari pegunjung saja untuk membeli dagangan yang di jajakan di sekitar sana.

How is the view from above? A-MA-ZING! Hamparan hutan jati disambung dengan danau dan perbukitan yang membatasinya membuat eyegasm. Dan gue baru sadar kalau Cawiri ini adalah salah satu sisi dari Waduk Malahayu. Hanya perairannya lebih landai karena menyambung langsung dengan tanah. One thing for sure, this place is so much better than Waduk Malahayu itself.

Blog - IMG_4882

Melihat ke bawah, banyak orang yang befoto di bukitnya dari kejauhan. Katanya sih bukit itu diberinama Bukit Galau. God knows why they named it that way. Gue nggak sempat turun ke bawah dan berfoto karena sudah terlanjur nyaman bersantai di rumah panggung. Fair warning thou, pastikan pilih rumah panggung yang kokoh dan tidak ada paku yang menyembul dari kayu atau bambunya. Gue dan teman gue udah jadi korban tragedi bolongnya baju kami karena terkait dua atau tiga paku/kawat yang menyembul.

Seharian itu udah lumayan terpuaskan dengan pemandangan epic yang menurut orang sana mungkin biasa aja. Puas juga foto-foto diri dan pemandangannya. Stok buat upload foto pemandangan di Instagram cukup lah buat setahun kedepan, LOL. Dua tempat baru juga udah terlaksana buat dikunjungin. Tahun depan saatnya cari destinasi baru. 😉

 

PS: Makasih buat Usman yang udah mau nganterin dan repot ke sana-ke sini. Foto-fotonya juga bagus, tapi lain kali fotonya simetris ya. Jangan miring-miring kayak yang pertama. Takut yang liat ikutan jereng. :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s