An Unplanned Visit to Waduk Penjalin

IMG_4662

Dari sebelum lebaran, Bapak sudah menawarkan mau jalan-jalan ke mana ketika lebaran menginjak hari ke dua. Ide gue dan Mamah sih pengen mengunjungi Guci yang ada di Tegal atau Baturaden yang terletak di Purwokerto. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk ke Baturaden. Tadinya kami akan di-guide oleh salah satu sepupu gue, tapi dia membatalkan beberapa jam sebelum berangkat karena satu hal dan yang lainnya. Sementara tanpa sepupu gue, nggak ada yang tahu Baturaden itu jalannya kemana. Akhirnya dengan modal nekat dan Google Maps, kami berangkat jam 9 pagi dari rumah.

IMG_4628

IMG_4632

We should have seen this coming. Baru sampai Brebes kami sudah dihadang macet. Entah karena masih ramai oleh pemudik yang memakai jalur selatan untuk menuju bagian timur Jawa Tengah atau memang pikiran mereka sama dengan kami yang hanya ingin berwisata melepas penat. Macetnya tidak kunjung selesai hingga akhirnya jam 14.30 siang gue bosan dengan macet dan kami memutuskan untuk beristirahat sebelum memutar balik menuju jalan pulang. Di sini awal gue tahu kalau di salah satu sudut Bumiayu terdapat satu tempat wisata dengan nama Waduk Penjalin. Kami langsung belok kanan dan memasuki gapura besi kecil dengan tulisan ‘Selamat Datang di Waduk Penjalin’.

IMG_4633

Mushola sederhana tempat kami beristirahat

Tempatnya sendiri menurut gue strategis. Setelah memasuki gerbang, ada mushola yang bisa kami pakai untuk sholat dan istirahat sembari memarkirkan mobil. Gue sendiri merasa excited ingin buru-buru melihat seperti apa waduk tersebut. Apakah akan seperti Waduk Malahayu yang meski tempatnya gitu-gitu aja tadi selalu rame dikunjungi tiap libur perayaan hari-hari besar, atau adakah sesuatu yang beda. Gue juga sempet google dan melihat beberapa gambar dan ulasan tempat tersebut. Kami juga diberi tahu oleh sesama pengunjung bahwa untuk ke danau tidak usah membawa mobil, melainkan jalan kaki saja. Keuntungannya sih kalo berjalan kaki kami nggak harus membayar retribusi. Yang gue baca dari Google juga, memang tiket masuknya gratis kecuali biaya parkir kendaraan.

Menuju ke sana dengan berjalan kaki tidak melulu harus mengikuti jalan utama. Ada jalan pintas yang bisa digunakan tepat di samping mushola. Tinggal lurus dan melewati empat jalur rel kereta yang ternyata terdapat stasiun kecil di sisinya yakni Stasiun Patuguran, lalu kami akan langsung sampai di depan gerbang utama menuju danau. Jalan ke danaunya sendiri dipenuhi oleh motor yang parkir di sisi kiri dan kanan jalan. Belum lagi pedagang yang nyaris menghabiskan jatah pejalan kaki. Namun yang berdagang di sana relatif sedikit.

IMG_4675

Stasiun Patuguran. It’s quite small.

Tangga menuju danau yang di sengaja di cat warna-warni menyerupai pelangi mulai terlihat saat kerumunan pedagang sudah berada di belakang kami. Tentunya banyak orang berfoto dengan tangga ikonik tersebut berikut dengan plang bertulisan Waduk Penjalin beserta informasi singkat tentang luas danau dan volume airnya. Sayang catnya sudah pudar dan kelihatan tidak terawat. Di sebelah kiri tangga tersebut terdapat komidi putar dengan berbagai wahana sederhana yang orang sana biasa bilang ‘Bacakan’.

Begitu sampai di bibir danau, kekecewaan gue sih cuma satu yaitu keberadaan pedagang yang sengaja membangun kios dadakan dengan kondisi menempel langsung ke pagar pembatas bibir danau. Keasyikan berfoto pun tidak terbangun karena spot-spot cantik sudah dikuasai para pedagang. Padahal jika tidak ada pedangang, keindahan dan kenyamanan menyusuri bibir danau bisa berkali-kali lipat. Jika ingin melintasi atau berkeliling danau, di sana juga terdapat beberapa perahu yang dikelola oleh penduduk lokal untuk ditumpangi para wisatawan. Entah tarifnya berapa karena kami tidak sempat (mau) menaikinya. Don’t worry about the safety, each person is provided by a life vest on board.

IMG_4669

Sementara ketika kami memunggungi danau, terdapat hamparan sawah yang dikelilingi hutan dengan background bukit didominasi warna hijau. Kabut menutupi sebagian bukit yang hanya terlihat kakinya saja. Awan hitam bercampur dengan kabut yang menghalangi pemandangan kami. I bet it looks awesome when the sky is clear. Pengunjung banyak yang duduk di atas rumput yang lumayan miring sejajar dengan tangga. Bahaya sih, but people keep doing that.

IMG_4672

Kami di sana tidak sampai 30 menit karena cuaca tidak memungkinkan dan keburu gerimis. Kami juga ingin mengejar kepulangan ke rumah karena nggak mau kejebak macet seperti tadi lagi. Yah walaupun tidak jadi sampai Baturaden karena ternyata jauh dan macetnya Masya Allah, kekesalan kami sedikit bisa terobati oleh Waduk Penjalin yang tidak sengaja kami temukan itu. Setidaknya kami tetap mengunjungi tempat wisata. :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s