Bangkok Trip 2017 – Jim Thompson House

 

 

IMG_4200

Motivasi kami sesungguhnya ke Bangkok memang untuk menonton Konser Coldplay, tapi kami juga mesti menjadi turis dengan memanfaatkan slot waktu kosong dengan sebaik-baiknya meski menonton konser dengan segala keribetannya saja sudah lumayan makan waktu kurang lebih seharian. Di hari H pun kami yang tidak akan buru-buru ke stadion karena tiket kamipun toh tribun memutuskan untuk berkunjung ke Jim Thompson’s House.

Menuju sana ternyata gampang saja karena kami hanya perlu naik BTS di Silom line menuju National Stadium dan turun di stasiun terakhir which is Stasiun National Stadium. Dari situ hanya perlu berjalan kaki sekitar 500 meter. Sebelum ketemu museumnya, kami juga sempat menemukan Jim Thompson Restaurant yang ternyata terletak sebelahnya.

Masuk ke gerbang utama rumahnya, kami disambut oleh ticket box. Awalnya gue pikir boleh kalo cuma mengeksplor dan foto-foto sendiri saja, tapi ternyata harus ikut tur yang dibekali dengan guide berbahasa sesuai dengan yang kami minta. Wouldn’t ask for a Thai, Japanese, Korean, or Chinese speaking guide, obviously. Biaya tur dan masuknya 150B/orang dan turnya dimulai jam 10 sementara saat itu masih jam 9.45 pagi. Kamipun dipersilakan untuk mengelilingi halaman rumahnya yang lebih menyerupai hutan mini daripada halaman rumah.

Awalnya kan gue nggak tau ada apa di Jim Thompson House karena semua ini idenya Dy dan dia yang menyarankan untuk mengunjungi tempat tersebut. Gue pribadi hanya ikut-ikutan saja karena nggak tau lagi mesti ke mana. Menurut guide yang nggak gue hafal namanya itu, Jim Thompson House merupakan rumah yang dijadikan museum dan dibuat untuk mengenang sang pemilik rumah, Jim Thompson, orang Amerika yang sempat tinggal lama di Bangkok dan membudidayakan sutra Thailand untuk kemudian mengimpornya ke luar negeri. Konon Jim Thompson ini hilang pas ekspedisi ke hutan sendirian pas umurnya 61 tahun dan nggak ada yang tau apa yang terjadi sama beliau sampe akhirnya rumahnya dibikin museum.

Isi dari rumah panggung itu menurut gue cukup menarik dan unik karena hampir semua pernak-perniknya terbuat dari kayu, batu, atau keramik. Banyak koleksi patung Budha yang rusak terpajang di seluruh sudut rumah. Kata guide-nya sih dalam ajaran Budha itu pamali kalo mereka mengkoleksi patung Budha yang rusak karena bisa membawa kesialan. Oleh karena itu patung-patung rusak tersebut mesti dikembalikan ke kuil. Kalo dihubung-hubungkan sama superstitious sih katanya hal itu yang menyebabkan Jim Thompson nggak punya istri dan anak selama beliau tinggal di Bangkok.

Banyak bagian-bagian dari rumah yang unik, menarik, dan membuat para peserta tur mengangguk-angguk saat mendengar penjelasannya dari mbak guide. Salah satunya adalah lubang pintu yang di bawahnya dibuat menjadi sangat tinggi. Kalo nggak diperhatiin dengan baik, mungkin bentukannya menyerupai cermin yang terpajang di dinding. Itu juga yang gue rasakan ketika keluar-masuk dari pintu tersebut. Berasa keluar masuk cermin dua dimensi. Sayangnya nggak boleh foto di dalam rumah dengan ornamen-ornamennya dengan alasan menjaga kelestarian barang-barang yang ada di dalam.

I personally enjoyed the tour that lasted not more than 45 minutes. Hitung-hitung menambah pengetahuan buat diceritakan pada anak cucu kelak. Ditambah mbak-mbak guide-nya seneng becanda di sela-sela tur. Ya walau kadang krik-krik karena hanya sebagian dari kami yang paham dan tertawa. Kamipun diperbolehkan meneruskan berfoto di sekitar rumah yang asri tersebut setelah tur selesai.

Di samping museum terdapat Jim Thompson Art Center, yakni tempat penjualan suvenir yang terbuat dari sutra. Those souvenirs were too fancy for us thou. Bayangin aja, dompet kecil banget buat naro receh aja harganya 500B atau sekitar Rp.200.000,-. Niat beliin oleh-oleh buat Mamah di sana pun diurungkan. Selain belanja, kami juga bisa menyaksikan pembuatan sutra dari mereka masih dalam bentuk kepompong. Agak lama memang, makanya kami tidak sempat menyaksikannya dalam versi full. Hanya sempat melihat ‘kepompong-kepompong’ tersebut direbus dan dipisah menjadi benang. Jika merasa lapar dan haus, di seberang toko suvenir juga ada restoran. Nggak tau sih kalo soal harga, ya dikira-kira aja kali ya dengan perbandingan harga suvenirnya.

Sebelum jam 11 kami sudah meninggalkan museum untuk menuju restoran halal letaknya tidak jauh menurut Google Maps. Kami menyusuri sungai dan menuruti apa kata direction dari Google Maps. Ketika lewat sungai itu kami melihat pohon dengan bunga pink menyerupai sakura. Kami terkesima gitu karena keadaan sungai sebenarnya nggak bagus-bagus amat meski dipakai sebagai salah satu sarana transportasi ternyata ada keindahan terdapat di salah satu sudutnya.

Sepajang jalan juga kami ngemil buah karena gue kepingin mangga muda (macam sedang hamil muda saja), dan Dy kepengen semangka buat menyegarkan tenggorokan di siang yang mendung dengan udara yang panas tersebut. Saat beli mangga, ternyata sambelnya itu dikasih semacam bubuk cabai dicampur mecin. Iya, MECIN. Kebayang begitu makan beberapa potong langsung pusing dan IQ turun beberapa digit. That was one thing I regret doing in Bangkok. Damn, how do these people live eating those? :/

Restoran yang di peta kelihatan deket itu ternyata jauh gila. Ada kali kami jalan sekitar 1,5 km buat nyari restoran. Untungnya nggak pake acara nyasar. Kebayang kalo nyasar jalan tengah hari dengan memakain baju hitam dan matahari lagi menunjukan powernya. Namanya Bangdee Night Halal Restaurant, tapi jangan khawatir restonya buka dari siang kok. Menunya macem-macem dan cinta gue buat Milk Tea jatuh di sini. Milk Tea-nya ENAK BANGET! Pastinya makan di sana udah ngerubah prinsip teguh gue yang menganggap tea would never get along with milk. Muehehehe.

IMG_20170407_114116_800

Roasted Chicken by Bangdee 

Kebetulan waktu sudah menunjukan dzuhur dan kami juga harus segera ke stadion, kami memutuskan untuk mencari masjid untuk sholat. Ketemu juga lewat Google Maps meski harus berjalan kaki sekitar 700 m dan nama masjidnya gue lupa. Dari pencarian masjid tersebut, kami sekarang tau kalo mau cari makanan halal tinggal datang ke daerah Petchaburi Road karena sepanjang jalan dipenuhi resto-resto halal. Ada beberapa hostel yang beralamat di situ juga ternyata. I and Dy was being fools when we didn’t remember that day was Friday. Pantesan banyak bapak-bapak di sana karena mereka hendak Jum’atan.

Petualangan kami di Phetcahburi juga ternyata membawa berkah. Saat kami hendak ke stadion, kami bertemu dengan pasangan dari Indonesia yang ternyata sedang kesulitan nyari taksi buat ke stadion juga. Akhirnya kami join forces untuk menghemat anggaran. Bodohnya kami selama di Bangkok, kami nggak pernah menanyakan nama mereka-mereka yang kami temui ketika kami sok akrab dengan mengasaskan simbiosis mutualisme. Ya sudahlah, yang penting sampai dengan selamat dan kantong tidak terlalu kempes mengingat hari itu arah ke stadion lumayan macet.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s