Bangkok Trip 2017 – Coldplay Pre-Show

20170406_222541

Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian

It wasn’t always easy getting to the point where we wanted. Untuk ukuran konser skala internasional pertama yang gue hadiri di negeri orang, proses kesana-kemarinya ternyata cukup rumit, memakan waktu, juga penuh drama. Mulai dari drama nggak kebagian tiket di Singapore, kebeli tiket dua buat show di Bangkok, sampe antri panjang buat penukaran tiket ke tiket fisik mewarnai petualangan gue buat sampai di Rajamangala Stadium di hari Jum’at, 7 April 2017.

download

Semenjak Coldplay mengumumkan bahwa mereka akan memboyong tur mereka ke Asia setelah merampungkan petualangan di Australia, gue sudah mewanti-wanti dan memang punya niat untuk menonton konser mereka di negara Asia Tenggara manapun yang didatangi. Ketika tanggal konser diliris, semua mata orang-orang Asean kayaknya tertuju ke show di Singapore termasuk gue. Alasannya sih karena paling dekat dari Jakarta dan gue pernah mengunjungi tempatnya, jadi tau lah. Alas, the tickets were really hard to be purchased due to high demand and (I think) the system of the website that sold the tickets. They were soldout in a matter of hours! Some were happy, some were not. Yang lebih sedih sebenernya banyak orang-orang yang mendadak jadi calo ketika mereka bisa beli tiket. Dijualnya nggak tanggung-tanggung, bisa berkali-kali lipat.

Melihat antusiasme besar yang ditunjukan para penduduk Asia, Coldplay memutuskan untuk menambah satu slot show di tanggal sebelum tanggal asli. Tapi ya sial mah tetep aja gue nggak dapet tiket bahkan buat show hari kedua. Udah mau nangis dan mulai memantapkan niat buat ke Manila, ternyata mereka menambah satu kota lagi buat dikunjungi yakni Bangkok, Thailand.

Belajar dari apa yang terjadi di Singapore, gue bergerak cepat buat minta tolong literally semua orang buat beliin gue tiket di Bangkok. Akhirnya gue ketemu dua orang baik yang mau nolong gue buat beli tiket. Tika, teman Dita (a colleague/friend), yang tinggal di Chiang Mai bisa langsung beliin tiketnya dari konter Thai Ticket Major (promotor konser di Bangkok), dan Melvin, a kind stranger yang suka nolong orang lain buat titip beli tiket Coldplay di show manapun selama masih ada yang kosong. Tadinya sih gue mau lihat siapa cepat dia dapat aja, eh ternyata dua-duanya dapat di waktu dan hari yang sama. I was up from zero ticket to two. Pusingnya jadi nggak kelar-kelar.

Karena nggak mungkin gue pake dua tiket buat gue doank (lagian maruk amat), gue tawarin ke temen-temen gue yang sekiranya suka Coldplay. Nyaris putus asa karena nggak ada yang mau sampai gue inget pernah ngobrol dengan salah satu murid gue di tempat gue kerja kalau dia juga kepengen banget nonton Coldplay. A contact was made, dan gayung pun bersambut. Dy was going to be my parter trip this time. Later on, I figured out that she decided to go because I said I’d go by myself. I guess we meant to go on a trip together.

20170407_152606

No drama whatsoever sampe kami akhirnya mendarat di Bangkok Rabu malam, dua malam sebelum malam konser. Gue sudah paham bahwa tiket yang kami beli memang harus ditukar dengan tiket fisik, tapi yang gue tidak paham adalah semua penukaran tiket dipusatkan di satu tempat seminggu sebelum D-Day di Show DC mal. Lantaran kebanyakan yang nonton datang dari luar Bangkok, mereka sengaja datang H-1 seperti yang kami lakukan. Kami tadinya bakal nukerin tiket pas hari H saja di venue langsung, namun seorang teman dari Malaysia, Atiqa, yang kami temui di Grand Palace bilang bahwa keramaian pasti nggak akan bisa dihindari kalo nuker tiket di hari H. Maka kami putuskan untuk menukar tiket hari Kamis, satu hari sebelum konser.

I thought it was gonna be an easy task on a quite easy day, and turned out it wasn’t. Saat kami sampai di Show DC mal sekitar jam 12.45 siang dan menemukan jalan ke Tourism Center tempat kami akan menukar tiket, antrian penukaran ternyata sudah mengular sekitar 200 m. Pergerakan antrian yang cepat masih membuat gue senang sampai gue disadarkan oleh Dy bahwa antrian ini hanya untuk mengambil nomor antrian sesungguhnya. Dari situ langsung lemes. Apalagi kami dapat nomor 956 (masih inget gila) di batch ke dua sementara saat kami mengambil antrian nomor pemanggilan baru ada di angka 444 di batch pertama! Coba tanya ke salah satu usher tentang nomor antrian dan dia bilang nomor kami baru akan dipanggil setelah tiga atau empat jam kemudian. Nunggu empat jam di mall? Astaga, mau ngapain? 😥

Selama kami nunggu kami udah milih-milih tumbler sambil ngopi di Starbucks, makan siang di foodcourt-nya sambil ngobrol ngalor-ngidul, mampir ke toko suvenir ala-ala Korea gitu dan beli beberapa barang buat oleh-oleh sampe dua kali balik, nyari-nyari Lotte Mart yang ternyata baru akan buka bulan depan (mal-nya emang masih baru sih), nyoba foto-foto di spot-spot cantiknya, sholat di mushola-nya, sampe duduk-duduk nggak jelas di Longue-nya. Untungnya Show DC ini sih punya Longue yang sifatnya free for everybody baik itu mereka yang belanja maupun enggak. Ada juga semacam buku dan raknya yang dipajang sebagai hiasan dinding. Bahkan gue denger di sana juga mereka sedia shower! Tapi semua fasilitas itu nggak berhasil membunuh kebosanan kami sementara batch 2 baru mulai dipanggil sekitar jam 16.30 dan dimulai di angka 600.

Seolah mengalami kebosanan aja nggak cukup, gue dipusingkan oleh Melvin dan tiket gue yang dipegang dia karena Melvin baru mendarat jam 18.00 sementara nomor antrian sudah habis dan nomor gue sebentar lagi sudah akan dipanggil. Kesempatan buat nunggu Melvin pun sia-sia karena nomor gue keburu dipanggil. Proses penukarannya nggak lebih dari 5 menit, dan menurut gue itu nggak sepadan dengan waktu tunggu yang lamanya bikin kepala mau pecah. Atiqa pun langsung pamit setelah menukar tiket kepunyaannya sementara gue memilih tinggal karena Dy yang tiketnya dipegang Melvin urusannya belum kelar. Gue merasa bertanggung jawab karena dia beli tiketnya dari gue meski saat itu gue pengen banget berkunjung ke Asiatique. Later on kayaknya gue setengah nyesel nggak ke Asiatique malam itu pas tau Chris Martin dkk juga pada main ke sana.

Kelar gue tuker tiket bukannya makin adem justru cerita makin seru. Lantaran gue dan Dy sudah ‘berpengalaman’ dalam hal tukar menukar tiket, banyak yang menanyai kami tentang mekanisme penukaran tiket. Tidak hanya satu dua orang, tapi semua orang Indonesia di sana yang baru pada dateng dan lagi kebingungan. Kami coba menolong mereka dengan memperkenalkan mereka ke orang-orang Indonesia yang sudah punya nomor antrian mengingat nomornya sudah habis. Gue juga nolong ada motif sih biar bisa mengikut sertakan Melvin dengan mereka karena sok kenal dengan sesama orang yang datang dari negeri yang sama adalah mekanisme pertahanan pertama di tengah lingkungan dengan orang-orang berbahasa asing.

Long story short, Melvin dateng (first time I ever met him in a flesh) dan ternyata dia udah di tunggu temennya, Caesar. Sedikit cerita tentang Caesar temennya Melvin ini. Ternyata Caesar ini nama lengkapnya Caesar Gunawan and he works as a presenter in NetTv as well as a respected radio broadcaster of JakFM. Poor thing about me, I had no idea who he was until I asked my friends back home. Langsung berasa jadi remah-remah Biskuat gitu. Rada awkward juga sih pas gue tau dia a little too late. Untungnya he is a nice person and he tried to make a conversation with everybody there. Meski pertanyaannya klise, tapi I appreciate what he did. When he asked me about my job, thou, I felt really stupid about myself for not asking anything else after I aswered his question. I was ashamed of myself for not recognizing him.

20170408_003926

Melvin, gue, Dy, dan Caesar selepas konser hari Jum’at. Agak gelap gimana gitu.

 

Anyway, koalisi orang-orang Indonesia pun mulai kental dan makin banyak pasca Melvin datang. You know what, Indonesians are basically very kind to each other when they are abroad. Perhaps it was because they have the same interest. Akhirnya menjelang jam 22.00 mereka baru kepanggil dan baru bisa tuker tiket. Muka-muka lega mulai terlihat begitu mereka balik dan bawa tiket fisik. Apalagi Melvin yang tukerin tiket serenteng. Gue cuma seneng akhirnya semuanya kelar sebelum hari H, semua hal tunggu-menunggu, komunikasi cuma lewat Whatsapp, sok akrab dengan orang-orang Indonesia yang juga ikut mengantri semuanya terbayar lunas. Walau nggak jadi ke Asiatique, asal semua urusan kelar sekaligus sih nggak masalah. Kamipun masing-masing pulang dengan senyum lebar di bibir kami dan mulai membayangkan akan sebahagia apa keesokan harinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s