Bangkok Trip 2017 – The Grand Palace

 

 

IMG_4086

Dalam hal jalan-jalan, gue selalu punya satu prinsip yang gue pengang teguh sampe sekarang yakni berkunjung ke suatu negara hanya jika ada event besar yang memang menarik buat gue. Sejauh ini alasan tersebut selalu ada pada balapan MotoGP, sepakbola (Manchester United sih), atau semua yang berkaitan dengannya. Prinsip ini juga yang mencegah gue untuk tidak hedon karena sering jalan-jalan ke luar negeri, and it works so far.  

Bangkok sebenernya nggak pernah ada di list negara yang harus banget gue kunjungi tahun ini karena mereka tidak mengadakan even balap atau sepakbola apapun, tapi memang rasa ingin berkunjung tetep ada. Ternyata Tuhan ngasih jalan gue buat berkunjung ke Bangkok melalui konser Coldplay. Meski semuanya terkesan buru-buru dan cenderung grasak-grusuk (gue baru bilang orang tua seminggu sebelum berangkat :p), akhirnya gue sampai juga di negeri yang terkenal akan Gajah dan kecintaan penduduknya terhadap Raja mereka.

20170406_102037

Dy, The Travel Mate

Perjalanan di Bangkok kali ini gue ditemani oleh Nadia, atau yang gue lebih nyaman memanggilnya dengan Dy from her pen name, Dy Lunaly. She is a big time writer dan sudah menelurkan beberapa buku yang di antaranya adalah My Wedding Dress, Lost and Found, dan yang paling terakhir adalah A Table for Two. I am honoured to have a chance travelling with her. Nyolong-nyolong ilmu nulis dikit boleh lah. xD

Meski motivasi gue sepenuhnya untuk menonton konser Coldplay, gue dan Dy tetap punya daftar tempat yang harus kami kunjungi di Bangkok untuk mengisi waktu. Tempat-tempat yang kami kunjungi tersebut diantaranya The Grand Palace, Jim Thompson House and Museum, dan Chatuchak Weekend Market. Untuk hari pertama kami bangun pagi di Bangkok, kami sudah memutuskan bahwa pagi ini kami akan berkunjung ke The Grand Palace terlebih dahulu.

Tempat kami menginap di Glur Bangkok Hostel and Cafe kebetulan letaknya sangat dekat dengan Stasiun BTS (Bangkok’s very own Skytrain) Saphan Taksin dan pemberhentian Tourist Boat, Sathon Pier. Menuju ke Grand Palace sendiri bisa ditempuh dengan menaiki Taxi atau Tourist Boat. Karena ternyata banyak orang Indonesia yang menginap di sana, kamipun berangkat berbarengan dengan empat orang lainnya. I can’t recall their names, thou. Yang gue inget cuma Dini, si Jangkung yang pagi itu memakai overall warna pink yang mempertegas betapa panjang kakinya dan dia membawa satu temannya. Ada juga ibu-ibu seumuran Nyokap gue yang sedang solo travelling keliling negara-negara ASEAN. She’s a badass. Satu lagi kakak-kakak cantik dari Palembang yang cek out di hari yang sama.

IMG_4057

When strangers became friends

Kami berenam memutuskan buat naik Tourist Boat karena Taxi Boat mematok tarif 100B buat kami sementara Tourist Boat hanya 40B sampai tujuan kami. Kamipun mulai membelah Sungai Chao Praya, sungai besar yang jadi salah satu alternatif transportasi di Bangkok. Enaknya naik Tourist Boat ini sih mereka juga menyediakan rekaman guide yang menjelaskan apa yang ada di kanan-kiri kami sampai akhirnya kami turun di Tha Chang Pier, pemberhentian terdekat ke The Grand Palace. Dari situ kami masih harus jalan sekitar 500-700 meter buat sampai di salah satu pintu masuknya.

The Grand Palace ini sebenernya tempat tinggal Raja Thailand dan keluarganya. Beberapa bangunan di dalamnya kebanyakan sih kelihatannya dipakai buat tempat beribadah. Kalo dilihat dari peta yang didapat pas kami masuk, The Grand Palace ini kawasannya luas banget kalo mau beneran dijelajahi, namun karena saat itu waktu kami terbatas jadi kami hanya sempat mengunjungi Central Court dari Grand Palace dan Temple of Emerald Budha, patung Budha Berbaring yang terkenal itu. Hanya kawasan ini yang dikenai HTM, sisanya bisa dieksplor dengan gratis.

Untuk bisa masuk, biayanya cukup mahal yakni 500B. Jam operasionalnya dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 3.30 sore, tapi pada hari-hari dan acara-acara spesial biasanya mereka tutup lebih siang. Seperti di hari kunjungan kami siang itu dimana petugas ngasih tau kalo Central Court hanya buka sampai jam 2 siang dan Temple of Emerald Budha juga sedang tidak bisa dikunjungi karena akan ada acara keagamaan.

Oh iya, sebelum masuk kalian diwajibkan memakai pakaian yang tertutup. Macam tanktop, shorts, hotpants, miniskirt yang kebuka-kebuka gitu nggak diperbolehkan dipakai untuk ke The Grand Palace karena tempat tersebut juga merupakan tempat ibadah. Kalo udah kepalang atau kelupaan kayaknya ada tempat buat sewa semacam kain gitu dari mereka buat nutupin aurat. Ke sana juga nggak boleh pake sendal jepit kalo nggak pake kaos kaki. Sama kayak aturan kalau orang mau ke masjid, mesti tertutup dan sopan.

Saat kami masuk ke kawasan Central Court, kami kaget setengah mati. Gilak! Rame banget! Tempat segede gitu isinya manusia semua tuh ceritanya gimana? Gue nggak ngerti apakah keadaan pengunjung setiap hari memang begitu atau keramaian itu merupakan dampak dari acara keagamaan tersebut. Yang jelas it was nothing I’d never seen before. Ramenya bikin ngeluh dan nggak nyaman jalan. Apalagi cuaca panas dan nggak ada angin sama sekali. Cahaya matahari kayak nembus langsung ke ubun-ubun sampe bikin pusing. I’d say we got heatstroke. Can you imagine the heat when someone like us got heatstroke? Panasnya Jakarta masih mending. Baiknya sih mereka sedia tempat penampungan air dingin kalo tiba-tiba lagi jalan trus haus.

Bagi orang yang suka memfoto dan berfoto kayak gue, situasi ramai itu bikin gue jengkel karena susah banget buat berfoto karena setiap sudut selalu dipenuhi orang-orang. Akhirnya mau nggak mau berfoto di tengah kerumunan orang. Sebel juga kadang sama orang-orang yang main serobot atau lewat pas mau foto. What could we do? It’s a touristy place after all. Arsitektur tempatnya sih yang bikin kagum juga. Detail dari hiasan bangunan-bangunan di sana keren banget.

Kami akhirnya nemu tempat yang nggak rame-rame amat di salah satu sudut Central Court. Kami beristirahat di salah satu bangku yang disediakan sembari melihat orang berlalu lalang dan berfoto. Banyak orang memakai pakaian hitam duduk di salah satu bagian bangunan juga. Dari yang gue dengar mereka datang dan berpakaian seperti itu karena hendak berdoa untuk raja mereka, acara keagamaan yang gue sebutkan tadi. The people of Thailand and their love for the king has been witnessed at that time by my very own eyes.

Kami memutuskan untuk keluar dari Central Court hanya untuk menemukan beberapa bangunan yang menjadi tempat tinggal Raja dan keluarganya. Tempat ini cenderung lebih sepi dari Central Court. Gue rasa sih karena tempatnya lega banget juga. Lalu gue lihat bangunan yang dulu Bapak gue pernah berfoto di depannya. Yep, my dad was there in 2014, and now his one and only daugther has been there too. I had a sense of pride coming.

Meski ketika masuk ke The Grand Palace kami berpisah dengan rombongan yang bareng berangkat tadi, kami tetap bertemu dengan beberapa orang Indonesia dan sempat saling menolong juga untuk hal berfoto. Keyword andalannya sih tetep tanya ‘Dari Indonesia’ dan ‘Coldplay’, and they’d say yes. Sepanjang menjelajah, kami juga kenalan dengan Atiqa yang berasal dari Malaysia. Ide untuk menukar tiket di Show DC mall juga berasal dari dia sampai cerita di postingan berikutnya ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s