Japan Trip 2016 [Tokyo] – A Sweet Farewell from The City Light of Odaiba

 

 

img_2960

Waktu kami di Jepang hanya tinggal belasan jam lagi, dan secara ini malam terakhir maka kami putuskan untuk kembali ke Tokyo dan memanfaatkan momen ini sebaik mungkin dengan mengunjugi Odaiba dan menikmati pertunjukan lampu malam yang dipertontonkan di sekitar teluknya. Ada banyak spot cantik yang mesti dikunjungi di sana dari mulai Robot Gundam yang super gede, mall-mall mainstream-nya, dan Tokyo’s very own Liberty Statue. Akses ke Odaiba sendiri cukup mudah. Kami tinggal berhenti di stasiun Shinjuku dan berpindah ke jalur Monorail dari Stasiun Shiodome lantas berhenti di Stasiun Daiba. Tell you what, dari Monorail saja pemandangan kotanya sudah terlihat spektakuler dan bikin nggak sabar buat turun dan jalan.

img_2954

img_3017

Hal pertama yang kami lakukan sebelum mengeksplor tempat-tempat tersebut adalah makan. Secara seharian cuma makan onigiri dan sebuah dorayaki, maka kami putuskan buat mampir ke salah satu restoran halal yang terdapat di Mall DiverCity. Restorannya bernama Sojibo dan kebanyakan makanan yang disajikan kalo nggak ramen ya soba mie. Gue sendiri mencoba menu yang agak nyeleneh, yakni ramen dengan kuah kari. Not bad, but not so good either. Yang penting kenyang sih prinsipnya. Sementara untuk range harganya masih normal dikisaran 800 Yen lebih.

img_2915

Our dinner that night.

Setelah kenyang makan, kami memutuskan untuk berkeliling mencari oleh-oleh dulu karena gue belum dapat oleh-oleh untuk mamah dan bapak. Meski sejujurnya dompet udah sekarat banget (and for this, gue menyalahkan siapapun yang menghilangkan uang Kak Difa), tetep oleh-oleh buat keluarga wajib. Akhirnya dengan menimbang segala macam kemungkinan, gue beli dua kaos dan sebuah miniatur Tokyo Tower yang jujur mirip banget sama Menara Eiffel. Bokap sampe bingung pas akhirnya liat. I felt really bad when I had to ask whether Kak Difa still had a spare money so I could buy those.

Anyway, keliling dalam mall dan keluar masuk toko kami pun memutuskan saatnya untuk mengekspor indahnya pemandangan dari luar. Yang paling dekat dari mall tentunya Robot Gundam yang ukurannya hampir menyamai mall 6 lantai. It was so big that I felt difficult to capture a perfect picture. Konon skala robot tersebut 1:1 dengan yang ada di versi cerita.

Awalnya Gundam tersebut tidak bergerak, namun ketika ada trailer (yang sepertinya) film baru dari serial kartunnya, figur yang dari tadi diam membuat gerakan dibagian kepala dan tangannya. Ditambah guyuran cahaya yang silih berganti, Gundamnya terlihat gagah sekali. Bayangan gue Gundam tersebut bakal melangkahkan kakinya barang tiga atau lima kali which would have been awesome, tapi ya mana bisa. Saat trailer berhenti, Gundam kembali kebentuk semula. Mengambil foto bersama Gundam sendiri sedikit sulit karena di sekitar area kakinya tidak terdapat penerangan yang cukup. Untung ada beberapa lampu yang mengarah ke atas, maka kami berfoto tepat di depan lampu tersebut agar wajah kami terang.

img_2944

Feeling like one of the Power Rangers. :p

FYI, terakhir gue dengar minggu lalu katanya Robot Gundam yang ini sudah dibongkar untuk nantinya akan diganti oleh seri Robot Gundam yang lain dan katanya yang paling baru. Entah kapan waktu dipajangnya seri baru tersebut. Gue sih menyayangkan mereka yang sudah punya rencana ke Jepang dan jadi nggak dapet foto robotnya, but you can still visit the cafe which is nearby.

Selanjutnya kami berpindah ke tempat di mana terdapat Patung Liberty. Yep, don’t be surprised. USA wasn’t the only country with Lady Liberty. Konon katanya menurut sebuah film yang pernah gue tonton, ada tiga Patung Liberty di dunia. Satu yang paling besar dan yang paling terkenal ada di New York, lalu satu lagi ada di Paris. Could this Tokyo’s Lady Liberty be the 3rd statue the movie talked about? Meski sebenernya film itu bisa aja cuma cerita fiksi, we shouldn’t eliminate the possibility, should we?

img_3015

Another angle of The Lady with the city and the moon as background.

Sebenarnya jalan panjang menuju ke Teluk juga akan terlihat indah kalau saja tidak ada rel MRT membentang di tengahnya. Di sebelah kanan-kiri jalanan juga banyak lampu-lampu hiasan yang cantik. Sampai di depan Lady Liberty, perkara berfoto terang dalam gelap muncul lagi. Di sana lebih minim cahaya dibandingkan di depan Gundam. Mensetting kameranya butuh berkali-kali sebelum mendapat hasil yang bagus. Di tambah banyak orang yang lewat dan jembatan kerap bergoyang yang bikin kamera dengan shutter speed 0,5” atau 1” hasil gambarnya shaky. Dari puluhan trial, kami berhasil mendapatkan beberapa yang layak dipublish ke publik. Di depan Lady Liberty kami lagi-lagi bertemu fellow traveler dari Indonesia yang sedang menghabiskan waktunya di sana sebelum terbang kembali ke Jakarta. Kami pun bertukar obrolan dan saling bantu untuk berfoto.

Kami berpindah ke spot lain untuk melihat Rainbow Bridge yang mirip dengan Golden Gate punya San Fransisco (jadi ini di Jepang atau di Amerika sih?) Tapi bener deh, Odaiba itu sudut kota Tokyo yang modernnya nggak nanggung-nanggung dan bikin kita berasa udah nggak di Tokyo lagi. Selama berfoto di sudut lain, kami melihat beberapa pasangan yang sedang duduk dan mengobrol. I mean, it wasn’t even Saturday night! Jadi galau weh yeuh para jomblo euy.

img_3011

Sadar nanti malam mesti packing buat pulang dan besoknya mesti bangun pagi mengejar flight balik ke Bandara yang berangkat jam 10, kami memutuskan untuk pulang meski jam masih menunjuk ke angka 9. Sayang sekali memang kami tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan Odaiba yang bermandikan cahaya lampu. We wished we could’ve stayed longer there.

img_3044

img_3034

 

So, at that particular Wednesday Odaiba sent a beautiful farewell for us which marked the end of our adventure in Japan. For the last 9 days, we had experienced things we wouldn’t have even imagined before. The weather, the places, the people, Japan is beyond awesome. Despite a few setbacks that almost ruined our trip (which I think the art of every trip), I enjoyed most of our time visiting its big cities. And of course, Twin Ring Motegi became the second circuit I have visited in MotoGP yearly calendar after Sepang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s