Japan Trip 2016 [Kawasaki] – Walk Down The Memory Lane

img_2825

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Ingin ini, ingin itu, banyak sekali

Semua semua semua dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib

 

I bet you read that by humming the song in your head.

Who doesn’t remember that song? Generasi 90an pasti familiar dengan acara yang mereka (kami) tonton hari Minggu pagi di salah satu stasiun lokal Indonesia. Yep, Doraemon. Kisah kucing ajaib yang bisa ngomong dan sahabatnya Nobita kerap menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu saat gue masih kecil. Sekarang sih sudah nggak pernah nonton lagi dan cenderung kehilangan minat buat berusaha meluangkan waktu menonton kartun yang dulunya merupakan salah satu kegemaran gue (sudah teracuni The Flash, Arrow, dkk :p). However, ketika Kak Difa mengagendakan kunjungan ke Museum Fujiko F. Fujio yang lebih dikenal dengan museum Doraemon, gue tidak menolak. God knew what memories would hit me by the time I got there.

img_2715

Tiketnya berbahasa Jepang. Mata langsung jereng.

Keribetan sempat terjadi ketika kami membeli tiket di Lawson Bandara Haneda. The friggin vending machine didn’t do English. Semua menunya dalam bahasa Jepang dan nggak ada dari kami yang paham. Akhirnya kak Difa meminta tolong dari kasir dan salah satu dari mereka mau berbaik hati menolong kami. Meski sudah ditolong, tetap saja prosesnya lama. Kepala gue sampe pusing ngelihatnya. Tapi akhirnya empat tiket berhasil kami dapatkan untuk kunjungan hari Rabu minggu berikutnya.

FYI, itinerary awal yang dibuat kak Difa menjadwalkan kalau kami akan mengunjungi museum di hari Selasa, tetapi ternyata hari Selasa itu museum tutup untuk weekly maintenance. Terpaksa kami menukar-nukar kegiatan yang sudah kak Difa rencanakan sedemikian rupa.

Museum Fujiko F. Fujio terletak di kota Kawasaki. Kami sengaja berangkat agak siang karena memang hari itu agenda tidak terlalu padat meski jarak Tokyo ke Kawasaki bisa memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sepertinya kami sudah lumayan lelah dengan bangun pagi dan dikejar-kejar waktu, jadi kami memilih untuk santai hari itu. Perubahan juga terjadi pada tujuan stasiun kami turun. Dikarenakan kami tidak rela menghabiskan 250 Yen hanya untuk bus jika kami turun di stasiun Noborito, maka kami memutuskan untuk turun di stasiun Mukougaoka Yuen dan memilih untuk berjalan kaki. Dilihat dari Google Map, jaraknya hanya sekitar 1 km.

Sampai di Stasiun, ada peta yang memudahkan kami menuju ke sana ternyata. Jangan tanya gue untuk detailnya karena tanpa peta gue nggak akan ingat meski gue yang bertugas menjadi navigator hari itu. Nyatanya berjalan kaki 1 km tidak terlalu melelahkan karena udara kota Kawasaki yang sejuk dan pemandangan yang kami lewati ternyata asyik sekali. Ada bagian dimana kanan-kiri jalan yang kami lewati ditumbuhi mawar yang berwarna-warni. Jika saja tidak dikejar waktu ke museum, kami akan berhenti dan ngaso sambil menikmati warna-warni mawar.

Setelah sekitar 15-20 menit berjalan kaki, akhirnya kami menemukan museumnya. Kami ditanya perihal tiket dan kami langsung dipersilakan untuk mengekor di antrian. Museum sendiri ternyata baru dibuka tepat jam 12 siang. And don’t expect any English from the guides because they were all using Japanese! Hanya setelah kami menukar tiket dengan tiket nonton, berbagai voucher discount, dan bantuan Audio guide lah kami bisa mendengar penjelasan tentang setiap display di museum dengan bahasa Inggris. Feel free to choose other languages for your audio guide that is if you understand Mandarin, Japanese, or Korean. :p

Lantai pertama museum terdapat beberapa karya asli dari sang maestro Fujiko F. Fujio. Tidak hanya sketsa Doraemon, banyak juga tokoh lain dari cerita selain Doraemon seperti P-Man, dll. Honestly, gue hanya mengenali cerita-cerita dari dua karakter tersebut, sisanya gue nggak paham. Enaknya di museum ini, audio guide yang diberikan selepas kami menukarkan tiket itu sudah bisa mulai dipakai di lantai pertama ini. Gue tinggal lihat nomor yang tertera di atas pajangan, memasukan nomornya ke audio guide dan gue bisa mendengar keterangan dari display tersebut. It would be more convenient if you brought handsfree karena nggak harus pegang audio guide-nya dekat-dekat telinga terus. Oh iya, di lantai satu ini juga tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Gue baru paham edukasi nggak boleh ngambil gambar di museum dan kenapa pencahayaan di museum selalu buram dan temaram dari apa yang gue dengarkan di audio guide ini. Ternyata tujuannya untuk menjaga agar pajangannya tidak mudah pudar dari segi warna maupun gambar apalagi ketika naskah atau sketsanya asli. Alasan tidak diperbolehkannya mengambil gambar menggunakan kamera flash juga berkaitan dengan hal tersebut.

Beranjak ke lantai dua. Di sini lebih fokus ke biografi Fujiko F. Fujio. Dari mulai beliau dilahirkan, bagaimana beliau mempunyai passion untuk membuat komik anak-anak, sampai ke hari-hari terakhir beliau berkarya. Di lantai ini juga terdapat replika dari tempat kerja sang maestro lengkap dengan rak buku dinding vertikalnya yang berhasil membuat semua orang kagum. Lantai dua juga merupakan lantai di mana pengunjung belum boleh menggunakan kamera mereka untuk dokumentasi.

Sampai di lantai tiga, barulah kami bisa bebas untuk mengambil gambar. Tentunya masih tidak diperbolehkan untuk menggunakan flash. Lantai tiga berisi beberapa karya komik original dari Fujiko F. Fujio. Beliau yang menggambar sendiri, membubuhkan dialog sendiri, dan beberapa dari mereka bahkan sudah memiliki warna. There were a lot of original stories being displayed, but only one that caught my attention. It’s a story about Nobita’s Father who was drunk and it worried the family. Doraemon had an idea to go to the past and take Nobita’s Father’s mom (who had passed away many years before) to come with him to the present to talk his son into. Nobita’s father then felt happy again after he met his mom. It was a nice and heart-punching stories, but it also made me realize that in real life, things like that don’t happen. I still got the message though.

wp_20161019_12_29_03_pro

Parts of my favorite story.

Selesai menjelajahi bagian dari sejarah Fujiko F. Fujio dan pembuatan dan perkembangan karya-karyanya, kami beranjak ke lantai selanjutnya yang mereka sebut ruang rekreasi. Di sana barulah kami kembali melihat cahaya dalam jumlah banyak dalam satu ruangan. Terdapat berbagai ornamen ruangan yang tersedia untuk berfoto seperti phonebooth, lukisan-lukisan kartun di dinding, dan tentunya satu tempat yang sudah banyak dilihat di internet, reading booth.

Setelah berfoto, gue mencoba mengambil satu komik P-Man yang terdapat di rak mejanya. Begitu membuka halaman pertama, perasaan sedih langsung menyeruak. Bukannya apa-apa, komiknya ditulis dalam bahasa Jepang. Mau dibolak-balik kayak apa juga tetep nggak paham. :/

Masing-masing dari kami sudah diberi tiket untuk menonton film di teater mini yang terdapat di lantai yang sama. Tanpa pikir panjang, kami mengantri untuk pertunjukan selanjutnya. We didn’t expect anything there, really, karena kami hanya memanfaatkan tiket gratis saja. Saat hendak memasuki ruangan dan ketika sudah di dalam bioskopnya, para pemandu tetap memakai bahasa Jepang untuk memberitahukan tentang peraturan bioskop maupun sinopsis filmnya. Mulai curiga lah filmnya berbahasa Jepang. I mean I could work with that but when the film started, not a single English appeared on screen. Meski awalnya kebingungan, gue tetep bisa ngikutin alur film yang semacem crossover antara tokoh-tokoh kartun yang dibikin Fujio.

Keluar dari teater, kami akhirnya benar-benar di luar. Di atas gedung museum ternyata ada taman untuk foto-foto dan bersantai. Ada tiga pipa beton yang biasa kita lihat di kartunnya sebagai tempat bermain Nobita dan kawan-kawan. Lalu ada replika Pintu Kemana Saja dan dinosaurus yang ditunggangi Doraemon dan Nobita mini. Sebelumnya kami juga membeli Dorayaki, makanan kesukaan Doraemon. Never tasted any dorayaki before, tapi rasanya lumanyan juga dan lumayan untuk mengganjal perut yang sudah lapar karena belum makan siang. Mahal tapi, satu bulatan kecil itu seharga 160 Yen.

Ketika kami di museum, kami melihat beberapa orang berwajah melayu yang kami tebak sih dari Indonesia juga. Kami bahkan sempat mengobrol dengan satu keluarga besar yang kebetulan sedang berlibur bersama. Tell you what, the husband looked like chubbier version of Rio Dewanto. Kami juga disapa oleh orang Indonesia yang sedang menjadi tour guide untuk orang-orang yang sedang menikmati hari mereka di Tokyo Disney Land.

Selanjutnya gue akan menceritakan another proof of the kindness of Japanese. Setelah puas mengelilingi museum, kami sadar bahwa hari sudah siang menjelang sore dan kami belum sholat dzuhur. Kamipun bertanya pada staff apakah mereka menyediakan mushola. Gue sangka sih nggak akan ada mushola di sana, tapi ternyata mereka sengaja menyediakan sebuah ruangan yang menurut gue sih ruang meeting staff agar kami bisa beribadah. Mereka mengantar kami ke tempat untuk berwudhu, bahkan ketika kami selesai beribadah sepatu kami yang kami taruh sembarangan di depan pintu saja sudah berjejer rapi. We were amazed by the kindness of them but at the same time I was embarrased because we didn’t manage to organize our shoes. Good habits aren’t really Indonesian thingy.

Selesai sholat dan sebelum benar-benar meninggalkan museum, kami sempat melihat-lihat suvenir yang dijual di toko museum. The price was unbelievable! We couldn’t (wouldn’t) even bother to buy anything there. Tapi Malia kayaknya beli sesuatu untuk dihadiahkan pada muridnya. If I had had more money on my hand that day, I would’ve bought something too. Budget hari terakhir sudah menipis coy. I saved it later for other souvenirs.

PS. Balik ke stasiun, kami sempat berhenti berkali-kali buat motret mawar-mawar terawat di pinggir jalan. It was the most beautiful natural thing that a road could have. These are the pictures. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s