Japan Trip 2016 [Tokyo] – Perfect Strangers and A Visit to Tokyo Tower

Seperti yang sudah gue ceritakan di postingan sebelumnya, ketemu sama orang-orang asing adalah bagian dari seni jalan-jalan tanpa travel agent. Di Osaka kami bertemu dengan Asumi dan Keiichi, di Kyoto kami bertemu dengan beberapa fellow travelers dari Indonesia dan Peggy, lalu di Motegi bertemu Angga, David, dan kawan-kawannya. Tapi pertemuan tersebut tidak ada yang melebihi lucunya pertemuan kami dengan pemuda-pemuda gagah dan tampan dari Uzbekistan di depan gedung Tokyo Metro Government.

img_2621

Long story short, setelah kami kekenyangan menghabiskan ramen di salah satu restoran di dekat stasiun Shijuku (seriously, porsinya gede banget), kami yang tadinya akan bertemu dengan teman SMP gue di Tokyo Tower tetapi akhirnya batal dan pertemuan itu tidak pernah terjadi akhirnya meneruskan perjalanan kami untuk mengunjungi TMG. Kami sadar malam itu masih panjang dan sayang jika hanya dihabiskan untuk tidur di hostel saja.

Sampai di samping gedungnya sekitar jam 8.30an, kami yang bingung mencari-cari entry point ke TMG berjalan-jalan dari pintu samping sampe pintu depan. Saat berjalan di depan pagar TMG, kami nggak sadar bahwa ada yang memperhatikan kami yang kebingungan sedari tadi. Sampai akhirnya salah satu dari tiga pemuda yang sedang duduk di pagar taman TMG mengucapkan salam. Terkejut, kami menoleh dan menghentikan langkah begitu tau yang menyapa adalah para pemuda berparas ganteng.

img_2620

Segera setelah melewati jalan ini, kami bertemu mereka.

Well, kami memang sudah terbiasa ditolong oleh pemuda ganteng Jepang, tapi mereka ini wajahnya sama sekali tidak ada Jepang-Jepangnya. Terlebih lagi mereka mengucapkan salam yang biasa diucapkan kita, orang Indonesia, jika saling bertemu. Kami putuskan untuk bercengkrama sejenak dengan mereka dan berkenalan. Kami juga sempat bertukar nama dan cerita tentang mengapa kami bisa sampai di sana. Ternyata mereka berasal dari Uzbekistan dan sedang menempuh kuliah pascasarjana. Meski hanya salah satu dari mereka saja yang berbicara and his name was Adm (Weird? I noticed) karena mereka tidak terlalu paham bahasa Inggris, percakapan kami cukup intense. Kami bercakap tentang bagaimana bisa sampai sana, bahkan mereka sempat bertanya-tanya tentang Indonesia.

Hingga sampai pada perpisahan, Malia ternyata sudah sedari tadi ngidam foto bareng mulai beraksi melancarkan jurus ‘Do you have Instagram or Facebook?’ seperti yang sudah dia lakukan kebeberapa orang asing yang pernah kami temui dan bertukar cerita. Malia ada di sana untuk melakukan hal yang tidak pernah bisa gue lakukan, sok akrab. Hahahaha.. Tapi gue bersyukur punya dia di sisi gue, karena kalo enggak ada Malia, nggak mungkin gue sama Adm (the most handsome one) bertukar kontak Line. :p

img-20161018-wa0001

Say ‘cheese’!

Karena kami terburu waktu dan masih ingin mengunjungi satu tempat lagi, kami pun berpisah setelah foto bareng. Masih senyum loh gue kalo inget betapa konyolnya tingkah kami berempat di depan mereka. Probably the most memorable strangers we had ever met on our Japan Trip.

Moving on!

Masih jam 9 dan kayaknya masih keburu untuk kunjungan malam selanjutnya. Kekhawatiran akan tidak sempatnya kami mengunjungi Tokyo Tower di hari terakhir kami which was keesokan harinya, kami mengejarnya hari ini. Tinggal naik kereta selama 15 menit langsung sampai ke stasiun terdekat ke Tokyo Tower. Meski masih harus jalan sekitar 500 meter, tapi semuanya kebayar sama kelip-kelip lampu di Tokyo Tower yang menjulang di tengah gedung-gedung tinggi yang mengelilinginya. Berasa lagi liat Eiffel Tower. Ya meski belum pernah lihat Eiffel Tower langsung, but it kinda feel like that.

img_2626

Agak susah ya ngambil foto gedung tinggi kayak gitu, apalagi kalo mau kelihatan glowing. Mesti sambil tidur-tiduran dan megang kameranya harus steady. Kebetulan saat itu gue nggak bawa tripod gabut gue, jadi ya untung-untungan gitu. Tapi gue dan temen-temen berhasil ngambil gambar yang bagus dari puluhan percobaan meski perjuangannya dari tiduran di jalan sampe ketakutan dilindes mobil yang parkir.

Kami nggak masuk dan naik ke atas karena emang nggak niat sih. Selain itu sepertinya last admission tidak lebih dari jam 9 malam. Bayar pulak. Yasudah lah. Itu hari ke-8 dan kami sudah nyaris miskin. Maka kami hanya nongkrong-nongkrong sambil foto-foto saja di sekitaran Tokyo Tower. Awalnya lampu di menara hanya berwarna merah. Ketika kami pikir mereka sengaja mematikan lampu menara karena memang sudah waktunya dimatikan (pengalaman pas berkunjung ke Petronas Twin Tower), ternyata nggak berapa lama mereka mengubah warna lampu menjadi kuning cerah yang membuat langit Tokyo makin bersinar. Tokyo Tower dressed up in yellow was even more beautiful than when it dressed up in red.

Suasana malam itu sendiri cenderung sepi. Entah memang benar sepi atau memang sudut kami mengambil gambar bukan sudut yang biasa orang-orang pakai untuk berfoto. Hanya ada beberapa anak muda yang berfoto-foto seperti kami. Saking sepinya, kami sampe merasa agak parno. Maka setelah kurang lebih 45 menit, kami putuskan untuk kembali pulang ke hostel dan menyudahi perjalanan malam itu. Esok sudah hari terakhir kami menjelajah Jepang, we were sure we made it worth remembering.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s