Japan Trip 2016 [Tokyo] – Konichiwa, Fujisan!

img_2613

Mount Fuji and Kawaguchiko Lake

I, Wiwin, hereby declared  this particular Tuesday (18/10) as the day of ALMOST.

Di hari sebelumnya di mana kami memesan bus ke Kawaguchi, jadwalnya adalah untuk keberangkatan jam 8.40 pagi dan kami baru keluar penginapan jam 8! Dengan waktu tempuh Asakusabashi – Shinjuku yang memerlukan waktu sekitar 20-25 menit menggunakan kereta yang sama yang membuat gue sama temen-temen gue terbengong-bengong sambil menatap horor di hari sebelumnya, dan sekitar 10 menit untuk mencari busnya, otomatis kami ketar-ketir. Kami berkali-kali saling tatap dan ketakutan akan ketinggalan bus pun menyeruak.

Untungnya petunjuk yang diberikan mengenai di mana dan kemana kami harus mencari busnya sangat jelas. Saat kami keluar dari stasiun Shinjuku melalui pintu keluar Selatan, terminal bus pun langsung terlihat berada di sebrangnya. Kami langsung bergegas ke lantai empat (yes, lantai empat!) dan sampai di sana exactly one minute before the driver started the engine and fled. Selamatlah kami pagi itu dan kami tidak berniat untuk mengulangi hal yang sama lagi karena hal tersebut tidak baik untuk kesehatan jantung. :/

Dua jam adalah waktu tempuh dari Shinjuku ke Stasiun Kawaguchiko yang kami lewati dengan~ tidur. Enggak sepenuhnya sih, hanya satu jam pertama. Pemandangan sepanjang jalannya bikin melek dan sayang untuk dilewatkan. Ada Fujikyu Highland yang kami lewati juga. Roller coaster-nya panjang dan sangat bikin ngiler. Sayang waktu itu tempatnya ditutup untuk maintenance. Kalaupun dibuka nggak akan berani ngabisin uang di sana sih. Nggak bisa makan nanti. XD

img_2328

Mount Fuji from Kawaguchiko Station

Sesampainya di stasiun, kami berkeliling terlebih dahulu untuk mencari info tentang shuttle bus yang bisa membawa kami berkeliling danau dan berhenti di tujuan kami. Jika kalian hendak berkeliling seharian selama 24 jam di kawasan Gunung Fuji, sebaiknya beli One Day Pass karena ternyata kalau ngeteng ongkos dari satu tempat ke tempat yang lainnya lumayan mahal banget. And FYI, air di toiletnya dingin pake banget. Padahal cuaca lumayan panas saat itu. Ya namanya juga lereng gunung.

Tujuan pertama kami adalah ke Kachi Kachi Yama Ropeway yang merupakan kereta gantung yang akan membawa kami dari dataran rendah ke dataran yang permukaannya tinggi. Tujuannya apalagi selain melihat Gunung Fuji tanpa halangan apapun atau melihat luasnya Danau Kawaguchiko. Sebenernya kalo niat banget, bisa juga jalan kaki naik ke tempat tersebut, hanya berhubung dari kami berempat nggak ada yang bakat anak gunung dan daripada nyampe atas justru pingsan kehabisan napas, mending naik kereta gantung ini. Meski awalnya agak kecewa karena treknya pendek sekali. Nggak lebih dari dua menit kami dibawa naik. Gue pikir akan seperti yang ada di Genting Highland.

Pemandangan dari atas kayak gimana? Majestic! Gunung Fuji yang langsung berada di arah timur hanya terhalang oleh beberapa gumpalan awan menjulang gagah memamerkan kaki-kakinya yang hijau dan puncaknya yang (to be honest) mirip gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa. Penyebabnya memang karena ketiadaan salju yang menutupinya seperti yang ada di wallpaper standar komputer. Entah kami yang memang datang kesiangan atau memang salju tidak seharusnya ada di bulan Oktober. Mungkin lain kali kalau berkunjung dan ingin melihat salju di puncak Gunung Fuji, sebaiknya menginap barang satu malam.

Entah berapa ratus foto dalam berapa jam kami habiskan di puncak sana. sampe bingung mau berpose seperti apa lagi. Di sana, lagi-lagi kami bertemu dengan beberapa orang dari Indonesia dan Malaysia. Saling bertukar pembicaraan dan informasi, bahkan saling bantu untuk berfoto ramai-ramai. Feeling like finding long lost relatives.

Saat kami turun, gue melihat satu spot yang dipenuhi ledakan warna merah dari pepohonannya di pinggir danau. Tanpa ragu gue menunjuk itu adalah tujuan kami selanjutnya. Setelah sebelumnya mendekat terlebih dahulu ke pinggir danau untuk merasakan sejuknya air dari danau, kami akhirnya mendekati sembari mengagumi daun maple (kayaknya sih) yang dibeberapa bagiannya sudah mulai berubah wana. Entah kenapa, tapi kami bahagia banget liatnya. Foto-foto lagi.

Asyiknya di sana sih konsentrasi masa kayak kesebar di tempat wisata sekeliling danau. Jadi nggak ada yang namanya orang-orang ramai ngumpul di satu tempat sampe terasa sesak dan gerah. Alasan kami bisa mengambil foto berkali-kalipun karena tempatnya sepi.

Selanjutnya kami ke Momiji Kairo, hanya beberapa pemberhentian dari Kachi Kachi Ropeway tadi tapi ongkos busnya mahal sekali yakni 260 Yen. Sebenernya kami sudah diperingatkan oleh Ibu dari pusat informasi kalau Momiji spot itu belum siap karena musim gugur belum mencapai puncaknya, but we went there anyway for the sake of curiousity. Karena daun di pepohonannya masih hijau, spot tersebut tak ubahnya spot pinggir jalan biasa yang sepanjang jalan tadi sudah kami lewati. Sayang kami datang terlalu awal.

Tidak menghabiskan waktu banyak di sana, kami akhirnya berjalan kaki untuk mencari spot berfoto yang lain karena jika kembali ke stasiun pun waktu kami masih banyak. Maka kami berhenti di sebuah tempat di pinggir danau di mana terdapat caravan yang memutarkan radio dengan lagu-lagu lawas yang sedang berkumandang. Air danau yang tenang, cahaya hangat matahari sore, pemandangan Gunung Fuji di kejauhan, alunan musik lawas, kayaknya bakal awet muda kalo punya rumah di sekitaran danau Kawaguchi. Beberapa menit di sana kami habiskan hanya duduk di bebatuan dan menatap ke kejauhan sambil sesekali ngemil karena kelaparan. Tentram. Nyaman. Kemudian di lanjut oleh foto-foto. Kami juga menyempatkan untuk sholat di pinggir danau. Not to brag, but how many times did you actually pray by the lake? Exactly!

Masih ingat cerita pagi gue dan teman-teman yang nyaris ketinggalan bus tadi pagi? Nah, kejadian lagi pas sorenya. It’s like one heart-pumping experience wasn’t enough. Kelewat nyantai dn terlalu menikmati suasana pinggir danau, nggak kerasa waktu menunjukan pukul 4 sore dan bus kami dijadwalkan berangkat jam 4.40! Ketar-ketir nggak tuh? Bukannya apa-apa, shuttle bus yang berkeliling danau itu nggak tentu kedatangannya meski di jadwal ada setiap 15 menit which we didn’t know when the last bus was passing. Jalan buru-buru ke bus stop terdekat sambil uring-uringan membayangkan gimana kalo ketinggalan bus dan mesti nginep di mana. Ngeri!

Entah gue doank yang panik kayaknya. Kak Difa kalem banget. Malia dan Tristan bahkan masih sempet foto-foto. Bingung juga sih sama mereka. Optimismenya luar biasa. Cuma memang kayaknya itu yang menolong kami. Bus akhirnya datang di 20 menit sebelum jam keberangkatan bus. Tau nggak perasaan kalo lo lagi buru-buru banget dan semuanya terasa bergerak super lambat dan menghambat? Dari penumpang yang naik turun sampe lampu merah pun rasanya pengen gue buru-buruin. KZL! But we made it eventually. Sama kayak tadi pagi, split second saja kami telat, bye-bye Shinjuku sampe ketemu besok. Untungnya itu tidak terjadi dan kamipun selamat sampai Shinjuku lagi sekitar jam 7 malam.

Advertisements

13 thoughts on “Japan Trip 2016 [Tokyo] – Konichiwa, Fujisan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s