Japan Trip 2016 [Tokyo] – Under The Pouring Rain

img_2126

Never underestimate weather forecast.

Leason learned di hari Senin pagi (17/10) saat hujan ternyata turun deras banget. Sedari hari Sabtu memang hujan yang diprediksi mengguyur seluruh wilayah Tokyo juga Kawaguchi lah yang menjadi kekhawatiran kami karena jadwal untuk mengunjungi Kawaguchi dan melihat gagahnya Gunung Fuji sudah di rencanakan pada hari tersebut. Tadinya kami akan nekat berangkat meskipun hujan, bagaimanapun juga cuaca tidak boleh merusak itinerary yang sudah tersusun rapi. Namun baru saja kami berjalan sepuluh meter dari penginapan dengan berteduhkan payung, tidak ada tanda-tanda akan meredanya hujan. Maka kami memutuskan untuk menukar rencana hari Selasa ke hari Senin, begitu juga sebaliknya. Tell you what, it was worthly paid off.

Selama berada di Jepang dari Osaka ke Kyoto dan bolak-balik Tokyo-Utsonomiya, gue nggak pernah berhenti memuji keteraturan dari sistem transportasi yang mereka jalankan. Nggak ada tuh yang namanya berdesakan sampe dorong-dorongan untuk masuk gerbong kereta. Sampai gue berada di hari Senin, jam 9 pagi, dan hujan. Saat itu kami hendak naik kereta ke Shinjuku melalui stasiun Asakusabashi dengan menggunakan kereta yang dioperasikan oleh JR. Begitu sampai di peron, kami hanya bisa bengong menyaksikan kepadatan yang terjadi. Para pekerja – tua dan muda – saling dorong untuk bisa masuk ke gerbong seolah jika mereka tidak naik saat itu juga mereka akan terlambat. Persis seperti apa yang terjadi di stasiun-stasiun Jakarta saat jam sibuk, even worse! Kami melewatkan sekitar lima rangkaian kereta yang suasananya tidak jauh beda sampai kami memutuskan untuk naik 30 menit kemudian saat penumpang sudah mulai agak berkurang.

Sesampainya di Shinjuku, which is one of the biggest station in Tokyo, kami berputar-putar mencari tempat yang akan kami tuju. Sebenarnya sih kami di sana hanya untuk membeli tiket bus ke Kawaguchi untuk keesokan harinya di Odakyu Sightseeing Service. We had nothing to visit in Shinjuku. Hanya kalo denger namanya, yang gue inget adalah film Jackie Chan yang judulnya ngambil dari kota tersebut.

Tujuan selanjutnya adalah Harajuku yang kata orang-orang adalah pusat mode dan fashion Jepang. Tempatnya sendiri tidak jauh dari Stasiun Harajuku. Tinggal berjalan kaki beberapa menit, sudah sampai di jalan berukuran dua meter yang di tepiannya dipenuhi oleh toko-toko fashion, makanan, sampai convenient stores. Ngomongin Harajuku, biasanya banyak dedek-dedek yang cosplay di sepanjang jalannya. Berhubung hari itu hari Senin dan hujan pula, nggak ada banget yang cosplay. Tapi kami sempat berbelanja di Daiso (toko murmer buat belanja oleh-oleh) dan lunch Kebab di lantai dua foodcourt yang entah namanya apa. Kinda hard to remember names in Japanese especially if it is written in Japanese as well. :/

Setelah mengunjungi Harajuku dengan segala ke hipsteran dan modern-nya, kami menyebrang ke sisi lain dari Stasiun Harajuku. Yang kami temukan adalah hutan belantara. Jadi kayak di teleportasi gitu, dari hiruk pikuk keramaian Harajuku dengan ‘kota’-nya langsung pindah ke nuansa adem dan tenang. Hutan ini merupakan bagian dari tempat ibadah yang namanya Meiji Shrine. Don’t ask kenapa namanya itu, yang jelas kami bahagia berfoto di gerbang tori yang segede gaban itu karena tahun lalu Dani Pedrosa juga melakukan hal yang sama.

Memasuki hutannya yang diselimuti kabut karena saat itu hujan baru reda, kesan mistis langsung menyeruak ke permukaan. Not that it scared us, hanya saja gadis-gadis ini sudah bahagia saat mulut mengeluarkan asap ketika kami bernapas ataupun berbicara. Hehehehe Norak abis. Saat itu nggak inget suhunya berapa, but it took me a long t-shirt, a sweater, and a jacket to wrap my body and keep me warm.

Berjalan menelusuri hutannya sambil sesekali berhenti dan berfoto (boong deng, berhentinya banyak dan lama :p), kami akhirnya menemukan kuilnya. Tempatnya sendiri nggak jauh beda sama kuil-kuil yang pernah kami kunjungi apart from halamannya yang super luas. Dan karena nggak niat buat ngeluarin uang di situ hanya untuk menulis harapan di sekotak balok dan menggantungnya supaya orang-orang bisa baca, lagi-lagi kamu cuma foto-foto dan baca-baca harapannya saja.

Reading, taking pictures, judging, judging, judging, dan nemu satu harapan yang menurut gue cocok sekali buat kita-kita para single dan belum menemukan pasangan.

img_2182

Amin to this.

Setelah puas melakukan apapun di sana, kami memutuskan untuk pindah tempat ke Shibuya. Tinggal naik kereta di Harajuku dan berhenti di Stasiun Shibuya yang nggak kalah gede dari Stasiun Shinjuku. Begitu keluar dari stasiun, langsung lah ke patung Hachiko. Tau lah sejarahnya patung ini, The Most Loyal Dog of all. Tapi karena masih rame, kami memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lain terlebih dahulu. Dan yak, sudah bisa ditebak. Foto-foto di Shibuya Crossing. Yippi!

Lucu sebenernya gimana penyebrangan ini bisa terkenal banget. Padahal Cuma zebra cross biasa yang dilewati banyak orang. Udah. Tapi apa yang membuat Shibuya Crossing terkenal barang kali karena pertokoan terkenal yang mengelilinginya. Highend semua! Tadinya mau nongkrong di Starbucks juga buat liat orang-orang nyebrang jalan (now that sounds hillarious XD), tapi ya penuh gitu spot pemandangan ke jalannya. Urung deh. Mau coba dari dalam Tokyo Metro, eh malah kesasar dan nggak ketemu jendela kacanya. Akhirnya balik lagi turun dan nyebrang entah berapa kali balik buat foto-foto yang ‘natural’ dan cakep.

Kelar urusan nyebrang-nyebrangan, kami pindah ke patung Hachiko yang masih aja rame orang foto-foto di sana. Sempet juga sih foto satu-satu berkali-kali. Sekalinya minta fotoin orang buat foto berempat, eh fotonya nggak bener. Ya sudahlah ya. Ditolongin aja udah syukur. Nggak sampe 15 menit sih di sana karena suasana udah mulai gelap juga. Oh iya, kami juga lagi-lagi ketemu fellow traveler yang ketemu juga di Kyoto.

Malem abis Magrib gitu, kami sebenernya udah capek karena udah jalan dari pagi. Kaki gue juga udah sakit nggak karuan karena pake wedged sneakers. Nggak lagi-lagi deh jalan jauh pake sepatu tinggi, walau sebenernya jadi keren kalo di foto. Anyway, kami, well, sebenernya gue sih yang masih punya tujuan selanjutnya yakni ke Akihabara. Ngapain di sana? Yes, cuma foto-foto di depan AKB48 Cafe and Shop abis itu balik. Hahahaha..

Nggak sih. Kami juga berjalan sedikit ke Light City di mana pusat mainan ada di sana semua, setelah itu makan kebab (lagi), lalu pulang.

Kesimpulan hari itu, Tokyo didn’t look bad at all in gloomy weather. Malah kesan Jepangnya sangat terasa karena penduduk yang berbaur sama kami memakai payung transparan yang memang sudah tersohor itu. Despite diawali kejadian tidak mengenakkan yang di pagi harinya sebelum kami berangkat (yes, that 10.000 Yen belonged to kak Difa yang hilang begitu saja tanpa jejak dan menjadi mistery of the day), kami bersenang-senang dan menceriakan suasana yang memang dari sananya sudah sendu.

Onto the next day we went!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s