Japan Trip 2016 [Tokyo] – Stopping by Sensoji Temple

img_2040

Lapar. Hanya itu yang kami ingat selepas 2,5 jam berdiri di bus dan bemacet-macetan sepulang dari sirkuit. Untungnya nggak terlalu berasa capek karena di bus kami bertemu kembali dengan Angga, David, dan teman-temannya dan kami mengobrol ngalor-ngidur bercerita tentang satu sama lain sampai akhirnya berpisah di Stasiun Utsonomiya. Di Shinkansen juga kami sempat beristirahat dan tidur karena perjalanan lumayan lama, namun namanya lapar tetap belum terobati sebelum makan makanan berat.

Kak Difa tau satu tempat yang menjual ramen halal di area Kuil Sensoji, Asakusa. Lumayan dekat juga dari penginapan di mana kami tinggal mengambil koper dan berpindah ke penginapan yang lain. Tempat makannya sendiri lumayan sulit ditemukan, padahal kondisi pertokoan di sekitar kuil Sensoji sudah sepi dan tutup. Kami hampir putus asa, tapi akhirnya kami menemukannya, Naritaya Ramen Asakusa. Tempatnya ternyata terselip-selip di antara bagian pertokoan yang belum sempat kami jelajahi. Kami disambut oleh dua warga Timur Tengah yang menjadi pegawai restauran. Di sana kami memesan ramen yang rasanya kurang lebih sama dengan ramen yang kami makan di Naritaya cabang Kyoto (meski kami nggak yakin owner-nya sama) namun dengan porsi yang lebih kecil. Semangkuk ramen untuk meredakan amarah yang dari tadi meledak-ledak karena kelaparan. Banyak pengunjung dari Indonesia yang berkunjung juga ternyata, namun kami tidak saling sapa.

Urusan perut selesai dan energi kembali pulih, kami memutuskan untuk menjelajah Kuil Sensoji. Harusnya Kuil Sensoji ini ada di daftar kunjungan kami untuk hari Selasa which was dua hari kemudian, namun karena kami sudah kadung ke sana kenapa nggak sekalian saja. Sebenarnya enak juga mengunjungi Kuil Sensoji selagi malam. Selain sepi dan nyaman untuk befoto karena jarang orang berlalu lalang, gue juga bisa mengeksplor settingan kamera gue untuk malam hari. Hitung-hitung latihan fotografi lah. Ditambah pemandangan modern Tokyo Skytree yang menjulang dan terlihat dari kuil yang semakin mencerahkan langit Tokyo Malam itu.

img_2059

Kekurangan mengunjungi Kuil Sensoji pada malam hari mungkin terletak di jajaran pertokoan yang sudah tutup. Kami tidak bisa membeli suvenir yang bisa kami jadikan oleh-oleh walau mungkin pernak-perniknya hampir sama dari yang kami temui di Osaka atau Kyoto. That place must be packed by people in a daylight. Namun percaya atau tidak, berfoto di lorong pertokoan Kuil Sensoji pada malam hari ternyata menarik. Dengan ornamen hiasan momiji palsu yang menggantung di setiap atap toko, pemandangan tersebut menjadi background yang unik untuk berfoto. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sana karena kami harus sudah mengambil koper dan keluar hostel sebelum jam 9 malam.

Sebenarnya ada keinginan untuk mengunjungi Kuil Sensoji pada siang hari di hari-hari kemudian, namun mengingat masih banyak tempat yang harus dikunjungi di Tokyo jadi kami mengurungkan niat tersebut. Cukuplah sesingkat itu mengunjungi kuilnya, yang penting sudah menginjakan kaki di depan kuil tersebut.

Semalam itu kami yang harus menyeret koper kesana-kemari berpindah dari satu hostel ke hostel lainnya. Tempat kami menginap sampai hari terakhir adalah Anne Hostel. Kami langsung menuju stasiun terdekat, menaiki subway, dan turun di stasiun Asakusabashi. Penyiksaan malam-malam pun dimulai. Dikarenakan tidak ada lift atau eskalator di stasiun subway tersebut, maka kami harus mengangkat koper ke permukaan. Tangga demi tangga kami naiki dengan membawa koper segede gaban berharap jalanan segera terlihat, namun semakin lama kami naik rasanya semakin menjauh saja permukaan itu. Banyak banget anak tangga yang mesti kami naiki untuk sampai ke permukaan. Kami sampai tertawa terpingkal-pingkal saking sudah tidak bisa menangis. It was one hell of an experience though. I still hoped I had the video, tapi gue merekamnya di Instagram Stories dan luput untuk menyimpannya. Hilanglah bahan tertawaan.

img_2106

Salah satu spot yang kami lewati ketika singgah dari Khaosan Tokyo Original ke Anne Hostel

Anne Hostel sendiri tidak terlalu sulit untuk ditemukan berkat catatan petunjuk Kak Difa yang begitu mendetail. Tempatnya sendiri nyaman untuk menginap meski tidak senyaman di Kyoto Piece Hostel, tapi bener deh Anne Hostel ini ada diurutan ke dua setelah Piece Hostel dalam hal kenyamanan. Rate permalamnya untuk 10 Female Dormitory adalah 2900 Yen plus sarapan. Yah, walau sarapannya hanya roti dan alakadarnya, tapi lebih baik dapat makan daripada tidak sama sekali. Penginapan empat lantai ini juga nggak menyusahkan banget karena terdapat lift menuju ke lantai atas. Jadi tidak usah repot-repot ngangkat-ngangkat koper ke kamar. Kami pun langsung tewas di kasur masing-masing sesampainya kami di penginapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s