Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Another Historical Race Day

 

img_1912

Achievement unlocked!

Selama tiga tahun berturut-turut selalu mengunjungi sirkuit untuk menonton live race, selain euforia dan Dani Pedrosa yang dicari gue tidak mengharapkan apa-apa lagi. Bisa berada di tengah-tengah sesama penggemar balapan saja sudah bahagia, apalagi ketika pembalap kesayangan menang atau naik podium. Namun setiap menunjungi sirkuit ternyata ada saja yang terjadi out of the ordinary. Tahun lalu ketika ke Sepang, Marc Marquez dan Valentino Rossi berseteru gara-gara tabrakan yang bersejarah itu. Tahun ini ada kemungkinan sejarah lain terukir meski terdengar sangat sulit dan sangat bergantung pada takdir, tapi Minggu pagi itu kami berangkat ke sirkuit dengan keyakinan akan disuguhi balapan seru. 

Pagi buta kami sudah di stasiun untuk mengejar kereta paling pagi untuk ke Utsonomiya. We couldn’t afford running around like Saturday mengingat race day selalu lebih ramai daripada Sabtu. Kami pun berhasil menemukan bus yang semalam kami tumpangi, JR Bus Kanto. Ternyata busnya nongkrong di salah satu spot tempat pemberhentian bus dan tepat di depan Lawson. Kami juga menyempatkan diri untuk membeli perbekalan. Ramainya pengunjung bus di hari Minggu bisa dilihat dari kerelaan orang-orang untuk berdiri demi menuju sirkuit dengan cara tercepat. Kemacetan pun lebih terasa di hari kedua ini. Jika kemarin kami hanya butuh 1,5 jam sampai di sirkuit, hari itu kami menempuhnya dalam waktu dua jam.

Sampai di sirkuit, kami tak langsung masuk melainkan berfoto terlebih dahulu di depan gerbang utama sirkuit mengingat Sabtu kemarin kami tidak sempat melakukannya. Kami juga sempat disapa oleh orang Malaysia yang ternyata banyak berkunjung ke Motegi juga di hari Minggu ini. Lalu karena Sabtu kemarin kami tidak sempat mengunjungi Honda Collection Hall, maka pagi itu adalah satu-satunya waktu luang yang bisa kami manfaatkan. Ulasan kunjungan gue ke sana ada di link ini.

Balapan Moto3 sudah dimulai ketika gue dan Kak Difa kembali ke sirkuit dan menemukan Malia untuk kemudian mencari tempat terbaik untuk menonton balapan. Kami memilih untuk kembali ke tempat yang kami tempati di hari Sabtu, namun ternyata tempat yang terdapat semennya sudah dipenuhi oleh penonton lain. Kami terpaksa berimprovisasi dan mengikuti apa yang dilakukan orang lain yakni menaiki bukitnya dan duduk di tengah rumput. It might have looked and sounded difficult and inconvenient, but it was surprisingly cozy. Pandangan kami menjelajah ke hampir seluruh bagian sirkuit bahkan sampai ke tingkungan 10 dan Downhill Straight yang berada di belakang kami. Who needed a screen when you could spot every corner of the circuit? That was probably the first live race I’ve ever watched by sitting still.

Kami masih santai ketika race Moto3 dan Moto2 berjalan. Sempat kecewa karena Alex Rins, jagoan Moto2 gue jatuh di tingkungan dua. I saw it happen in front of my own eyes! Kinda awesome considering I always see crashes from the screen. Hiburan lain datang dari para Marshal yang bertugas di tingkungan 2 yang selalu melakukan atraksi menggunakan bendera mereka setiap kali balapan selesai. Sayang lensa kamera gue tidak cukup panjang untuk nge-zoom dan mengambil gambar dari Marshal tersebut. Kesulitan yang sama juga terjadi saat gue ingin memotret motor yang sedang balapan. Hasilnya tetap terlihat sekecil semut.

Ada cerita lucu sebelum balapan MotoGP dimulai. Komentator yang memang berbahasa Jepang selalu memulai dengan perkenalan pembalap di setiap kelas. Ketika di kelas Moto3 dan Moto2 gue tidak terlalu memperhatikan nama-nama yang mereka sebut. Barulah ketika list pembalap MotoGP disebutkan dan beberapa nama familiar yang kok terdengar cukup asing. Nah, permasalahannya ada di cara pengucapan orang Jepang yang sangat berbeda dengan orang kebanyakan. They have their own pronunciation or should I say names for every single rider. You were surely familiar with Maruku Marquez since I mentioned it from Saturday’s story. Itu saja sudah lucu, ditambah hari Minggu ini. Nama yang paling gue ingat dan paling mengundang gelak tawa setiap kali gue mengingatnya adalah Scott Redding. What did they call him? Scotto Reddinge. Lol. And that my friend, a joke you will never find anywhere other than Japan. 😀

Mengamati jalannya balapan sendiri cukup menarik bagi gue mengingat kami bisa melihat setidaknya 60% dari bagian sirkuit. Agak lost memang karena komentator juga tidak banyak membantu, tapi untuk posisi bisa dilihat dari menara yang berisikan lap dan lampu berpendar nomor pembalap. How did we know the crashes then? Tinggal mendengarkan komentator. If they screamed a rider’s name, look for the spot where marshals waving yellow flags and observed the surroundings for specs of flying dust and we found it. Setidaknya itu cara kami mengetahui Rossi dan Lorenzo jatuh dari motornya.

Race hari itu gue merasa diri gue dan Marc Marquez paling diuntungkan. Well, meski Pedrosa tidak membalap, gue bisa menyaksikan Marquez yang berhasil menyabet gelar juara dunia ke-3 kali di sepanjang karir balap MotoGP-nya. Marquez diuntungkan karena kompetitor terdekatnya gugur sebelum mencapai garis finish untuk meneruskan perlawanan di klasemen sementara. Not that I’m saying he won because of his luck. I like Marquez and he deseved what he has fought this year after last year’s set back.

Dikarenakan jarak penonton ke sirkuit cukup jauh, motor-motor yang kami lihat tidak sebesar ukuran motor yang kami lihat di Sepang (unless you were lucky enough to be in Victory Stand). Ada untungnya juga sih karena kami tidak butuh earplug untuk menyumbat telinga kami ketika motor-motor badass para pembalap melewati spot menonton kami. Distorsi suara yang masuk cukup bisa dinikmati oleh telinga terbuka (huh?). Lalu gue juga tidak melihat helikopter dengan kamera yang berlalu lalang di langit Motegi seperti yang biasa gue lihat di Sepang. Mungkin saking luas dan terbukanya area sirkuit dan semua sudah ter-cover oleh ground camera. Hanya ada helikopter medis yang sesekali berlalu lalang.

Setelah semua sajian balapan rampung gue, kak Difa, dan Malia buru-buru meninggalkan sirkuit karena bus terakhir untuk hari Minggu hanya sampai jam 4 sore baik itu JR Kanto Bus maupun shuttle bus. Rencana awal untuk mengikuti Road Course (mengelilingi beberapa bagian sirkuit setelah balapan selesai) pun gagal karena kami tidak mau ambil resiko tidak dapat kendaraan pulang. If you have your own vehicle or you are willing to spend some amount of money to take taxi back home or to stay in Motegi Hotel nearby, I suggest you join this Road Course. It must be awesome if you could step on or lay your fingers on tire marks from the rider’s bikes. You can spot the remnants of crashes if you are lucky. Either way, gue tetap senang bisa nonton balap langsung di sirkuit Twin Ring Motegi, dibonusin selebrasi juara dunia Marquez pula. Who knows this would be my one and only experience of visiting the circuit. Harapannya sih suatu saat bisa balik lagi, tapi jika bisa mengunjungi sirkuit baru di kemudian hari kenapa enggak?

PS:

img_1940

I bow to this girl for following us around to the circuit even though she doesn’t like races. She never complained and looked exhausted, and she always brought excitement among us. I salute you, Malia, and I thanked you from the bottom of my heart for everything. 

Advertisements

2 thoughts on “Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Another Historical Race Day

  1. Tahun 2017 nonton di mana kak? Motegi lagi apa sepang? Klo ke sepang siapa tau kita bisa ketemu.

    Kak mahal banget ya biaya ke motegi bisa kebeli 2 motor. Ahhahah

    • Halo, Yunita. Tahun depan belum ada rencana ke sirkuit lagi, tapi masih tentative dan tergantung hawa kompetisi. Hahaha.. enggak juga koq. Bisa dihemat sampe cuma bisa kebeli satu motor aja. xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s