Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Pitlane Walk

img_1854

Semenjak penjualan tiket race di Twin Ring Motegi dibuka, Kak Difa sudah mewanti-wanti apakah kami ingin mengunjungi paddock atau tidak. Tadinya jika ada kesempatan dan tiketnya cukup murah, kami akan patungan untuk beli tiga hari. Ternyata Paddock Pass di Motegi ini dijual harian dimana hari Jum’at seharga 10,000 Yen, Sabtu 11,000 Yen, dan Minggu 12,000 Yen. Lalu dipikir lagi sepertinya terlalu mahal untuk seorang. Jika patungan pun hanya kebagian sehari dan harus dibagi empat orang (waktu itu sebelum tau Tristan memutuskan untuk nggak ikut). So how could we see Dani if we didn’t have paddock pass mengingat Tristan juga tidak bisa menjanjikan. Solusinya cukup jenius, why not purchasing Pitlane Walk?

To be honest, I had never joined Pitlane Walk before because when I went to Sepang I always arrived on Saturday to the circuit. Kata Kak Difa, di Sepang itu pitlane walk gratis selama kami punya tiket tapi tetap dibatasi dan hanya diadakan di hari Jum’at. Sementara di Motegi apa aja dijual termasuk pitlane walk ini. Ada dua pilihan waktu dengan harga yang sama yang ditawarkan. Kami memilih hari Sabtu sore dengan harga tiket 2100 Yen karena hari Minggu pagi-pagi sangat tidak mungkin mengingat kami menginap di Tokyo.

Akses ke pitlane baru akan dibuka sesuai jadwal yakni jam 17.30 sore, tapi antrian sudah mulai terbentuk dari jam 4 sore dan makin lama makin mengular. Saat duduk-duduk di aspal dan menunggu akses dibuka, kami berpapasan dengan dua orang berwajah melayu yang sebelumnya sempat berpapasan dan mengucapkan salam di Mall Area. Keduanya memakai baju kebesaran Rossifumi. Kamipun mengobrol dan berkenalan.

Mereka adalah Angga dan David yang ternyata juga berasal dari Indonesia. Hanya saja mereka tidak senekat kami yang datang langsung dari Indonesia hanya untuk menonton MotoGP. Mereka berasal dari Hokkaido dimana mereka tinggal dan bekerja. Kami juga sempat berbagi informasi tentang tiket MotoGP dan pitlane walk ini. Mereka sempat iri karena tidak paham jika ada tiket yang bisa dibeli untuk pitlane walk. Kamipun menawarkan sisa satu tiket yang tidak terpakai untuk mereka beli. Sayangnya mereka sahabat kental dan tidak tega meninggalkan satu sama lain.

Time almost came. Kami mendengar panitia berbicara sesuatu dalam bahasa Jepang dan hampir seluruh peserta berdiri jadi kami ikut-ikutan saja. Gue tau alasan pitlane walk diadakan sangat sore sekali dan bahkan menjelang magrib. Para panitia menunggu aksi di trek selesai terlebih dahulu karena ternyata akses ke pitlane dari sisi penonton satu-satunya adalah melewati trek. YES! THE TRACK THAT IS USED DURING THE RACE WEEKEND! Gue selalu ingin menapaki aspal sirkuit yang dipakai balapan with no particular reason.

Gerbang dibuka, dan orang-orang berlarian saling mendahului memasuki pitlane. Entah apa yang mereka cari. Tebakan gue sih mereka akan standby di depan garasi pembalap favorit sembari berharap mereka keluar dan menyapa. Saat itu gue, Kak Difa, dan Malia sudah berpencar entah kemana. Gue sendiri karena Dani nggak ada cuek saja melewati garasi Repsol Honda yang mulai dipenuhi orang. Gue lebih memilih nongkrong di depan garasi Suzuki yang less crowded sambil berdoa dedek Maverick keluar. Eh, gue malah melihat salah satu pembalap Mahindra Racing yang dadah-dadah ke arah pengunjung which I had no clue about who he was. When I thought I knew who he was, I tried to call him. Tapi ya tetep pelan dan ragu juga takut salah karena nggak yakin. I thought he was John McPhee. Lalu setelah sampai rumah dan nonton Malaysian GP, gue baru sadar kalo dia itu Pecco Bagnaia. How come I didn’t recognize him? I met him in Sepang last year and I couldn’t recall what he looks like. Sebagai fans gue merasa gagal. Dasar Wiwin pikun.

Selama dua puluh menit dari durasi pitlane walk yang hanya 30 menit gue habiskan untuk nongkrong di depan garasi pembalap. Garasinya sih sempat dibuka, tapi pembalapnya nihil. Sempet deg-degan tiap kali ada jejak sepatu dengan jeans panjang kelihatan dari bawah bagian garasi yang tidak ditutup rapat. Gue hafal betul mekanik biasanya pakai jeans pendek, tapi ya sampe panitia nyuruh bubar nggak ada satupun yang keluar. Pitlane sudah mulai dibersikan dari kerumunan orang sipil di sepuluh menit terakhir. Dari yang tadinya hanya himbauan untuk segera meninggalkan pit, panitia sampai membentuk garis dari ujung satu ke ujung yang lainnya sembari menggiring kerumunan orang yang masih kekeuh berfoto termasuk gue. :p

Agak kecewa dengan keputusan gue sendiri untuk nongkrong di depan garasi sebenernya. I could’ve used those 20 mins to explore all pitlane areas from the entry to the exit, but what could I do? Even a small amount of hope could make you stand a chance of meeting one of your idols. Nonetheless, gue tetap mensyukuri kesempatan untuk menjelajah pitlane walk disirkuit baru. It doubled the experience of visiting the circuit.

Setelah urusan pitlane walk kelar, kami memutuskan untuk kembali ke mall area karena bus untuk pulang kami selanjutnya dijadwalkan berangkat pukul 20.30. Kamipun kembali ke tenda Honda untuk menyaksikan wawancara mereka dengan Marc Marquez dan Hirosi Aoyama (it should’ve been Dani, but you know the story). Like what every presenter does, presenter di booth Honda juga mengoceh dengan bahasa Jepang yang tidak berarti apa-apa untuk kami. Sesekali dia berbicara bahasa Inggris, namun tidak sebanyak bahasa ibunya. Dia juga memimpin yel-yel yang memanggil nama seseorang yang asing di telinga kami. Hanya sahutan nama Hiroshi yang kami pahami. Lalu setelah beberapa kali yel-yel dikumandangkan, kami baru sadar bahwa mereka menyerukan nama Marc Marquez versi mereka sendiri, Maruku Marquez. I and Kak Difa exchanged looks and laughed quite hard over that. Marc, Hirosi, dan Shoei Nakamura hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari 20 menit.

Pitlane walk dan nonton Marc membawa kami ke kepanikan mengenai jadwal kepulangan. Bus terakhir hanya sampai 20.30 and If we had missed that one, we’d probably have had pnumonia when we got back home. Kami kembali ke tempat pemberhentia bus di depan Honda Collection Hall dan menemukan mbak-mbak penjual tiket yang sama yang menawarkan tiket kami tadi pagi. Perdebatan dimulai ketika Kak Difa sangat yakin bahwa ada bus yang melayani pengguna JR Pass sehingga tidak perlu menaiki mobil yang sama dan membayar lagi. Permasalahnya di brosur tidak disebutkan dimana letak pemberhentian dan penjemputan penumpangnya (atau mungkin kami saja yang tidak paham hiragana :/). I wasn’t even sure the bus existed because I didn’t see one. Petugas penjual tiket pun tidak yakin dengan bus tersebut, tapi mereka menyarankan kami untuk mencarinya di bagian utara sirkuit. However before we did that I had to make sure that we had the ticket back to Tokyo before in case we didn’t find the bus so we didn’t return the ticket yet. Kami berjalan ke arah utara sirkuit dan gue pribadi berharap untuk menemukan bus yang dimaksud Kak Difa cos I panicked.

Masalah muncul ketika kami tidak menemukan bus dan dan hanya menemukan sebuah jadwal dalam bahasa Jepang yang kami sendiri tidak yakin apakah itu bus yang benar. Tulisannya nyaris sama dengan yang ada di cardboard tiket bus yang kami beli tadi. Kami mencoba bertanya pada panitia dan untuk kesekian kalinya selama di Jepang, bahasa menjadi kendala. Me panicking didn’t help solving a thing too. Kak Difa sebenarnya sudah yakin bahwa ini pemberhentian busnya dan Malia juga percaya, but I just had to make sure everything was right before returning the previous bus tickets we had bought. Kemudian dengan bantuan teman-teman dari Taiwan yang ternyata paham sedikit-sedikit bahasa Jepang, akhirnya gue yakin dan bisa tenang menunggu bus yang saat itu baru lima orang mengantri. Kamipun memutuskan untuk me-refund tiket bus yang sebelumnya kami beli.

Saat kami mulai mengekor di belakang teman-teman dari Taiwan, waktu baru menunjukan pukul 18.45. Itu artinya kami masih punya waktu menunggu sekitar 100 menit. Kondisi geografis sirkuit yang dikelilingi oleh bukit-bukit dan hutan tanpa adanya pemukiman membuat angin malam berhembus begitu kencang. Semakin malam dinginnya semakin parah. Gue hari itu memakai legging dua lapis, baju dua lapis, lalu kembali dilapis jaket windbreaker abal-abal sampai tidak tahan akan dinginnya. Saat cek weather forecast untuk melihat temperaturnya, gue kaget karena mendapati suhu 16 derajat! Pantas dinginnya sampai menusuk ke tulang. Harusnya sih kami berlindung di mini market yang ada di samping pintu masuk utama sirkuit, namun kami enggan meninggalkan antrian karena takut disalip mengingat makin banyak orang mengantri.

wp_ss_20161015_0001

Screenshot dari tekape

Dinginnya udara malam itu sampe membuat pikiran-pikiran negatif hinggap di kepala gue. Dari bayangan akan berlindung dan nginep di mana dengan suhu sendingin itu kalo seandainnya anggapan Kak Difa soal busnya salah, sampai putus asa dan mikir there was no such things as JR Kanto Bus karena menjelang jam 8.30 bus tidak kunjung terlihat. Perasaannya udah campur aduk panik nggak tau gimana lagi. Mau nangis juga nggak bisa. Sampai akhirnya bus terlihat, you could literally see me crying with tears of joys and sense of relief. Apa yang diyakini Kak Difa memang ternyata benar. Pengguna JR Pass bisa menaiki bus dengan gratis sampai stasiun Utsonomiya. Bahagia karena akhirnya kami bisa berlindung dari dinginnya udara malam dan bisa pulang ke penginapan meski perjalanan masih lumayan jauh. Gue jadi teringat Angga dan David yang bilang akan menginap di mana saja di area sirkuit mengingat mereka memang tidak menyewa penginapan. In the weather like that, how were they gonna survive I wondered?

Advertisements

20 thoughts on “Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Pitlane Walk

  1. Kak, kalo misal aku ga beli tiket balapnya. Tapi cuma mau beli tiket pit walk doang. Itu bisa ga kak? walau ga ada tiket balap, bisa masuk ke area pitwalk? Di periksa tiket masuk grandstand ga sih kak?

    Jadwal pitwalk dari jumat-minggu, itu di jam yang sama?

    Kalo riders yg di panggung itu, dia area pemeriksaan tiket atau di mall area kaya sepang?

    • Nah, itu yg jadi misteri sih kemaren juga. Karena dari kami nggak ada yg ngerti bahasa jepang dan tulisan yg ada di tiket, sementara aku cuma berani bilang mesti beli tiket nonton juga. Pitlane Walk di jadwal aku lihat cuma ada Sabtu sore banget, sama Minggu pagi banget. Kalo yg di panggung itu di Mall Area.

  2. Kayanya aku ada rwndana beli paddock pass hari jumag kak. Itu buat masuk ke circuit apakah harus beli tiket grandstand atau cukup pake paddock pass hari jumat kak buat masuk hari jumatnya? Trus kalo mau ikut pit walk mesti beli tiket pot walk lagi , walau ada paddock pass?

    • Kalo beli tiket Grandstand kan tiketnya udh sekalian Jum’at-Sabtu, kalo paddock pass aja berarti cuma bisa masuk Jum’at. Kalo mau nonton racenya sih aku saranin beli tiket grandstand juga. Iya, untuk pitlane walk dijual terpisah lagi.

  3. Paddock passnya murah ya di banding sepang. Itu paddock pass sehari, apakah cuma paddock visit beberapa jam doang? Apa bisa di pake dari pagi ampe sore? Thanks

    Pengen nonton di motegi tapi takut nyasar karna ga bisa bahasa jepang, bingung kalo mau naik kereta buat transportasi dan beli tiket kereta di mesin. Hahaah

    • Iya, paddock passnya bisa dipake seharian. Kita juga kemaren nggak ada yg bisa bahasa Jepang koq, tapi alhamdulillah sampe aja. Hehehe.. Yang penting nekat dan berani tanya-tanya aja sih walau bahasa ttp jadi kendala.

  4. Paddock pass motegi ini, sama dengan paddock pass sepang ga? Bisa dipake juga buat nonton di tribune dan di atas paddocknya pembalap?

    • Kan di motogi ini, apa aja pake duit, hhehe apakah mau masuk ke circuit kalo udah ada paddock motegi perlu beli grandstand tiket lagi?kalo di sepang kan hanya disken paddock pass buat tiketnya di pintu masuk circuit.

      Baca di atas, masuk pitwalk dari trek. Nah kalo paddock lass masuknya gimana? Emang ga ada tunnel kaya di sepang?

      Opsesi ketemu dani banget kak, jadi mau beli yg paddock pas aja. Tapi sehari aja, lebih murah.

      • Aku lupa kemaren tiketnya discan atau cuma dicap dan disobek doank. Cuma ya kalo beli paddock pass masuk sirkuitnya juga cuma bisa hari itu aja. Kalo paddock access kayaknya ada deket tribun VIP deh. Cuma kmrn kita nggak ngecek karena nggak punya paddock pass.

    • Pas kami beli sih ada listnya di mesin buat beli. Tinggal print bukti pembeliannya ke kasir buat bayar dan tuker tiket. Kalo beli langsung deket hari H kayaknya mesti tanya stock dulu.

    • Meet and greet di booth pabrikan setiap hari ada, tergantung siapa yg mau dilihat. Kalo untuk autograph session adanya hari Jum’at dan pemegang tiket terusan yg bisa ikut undian buat kepilih dan ngantri di sesi ttd.

  5. Alhamdulilah udah ada gambaran ke motegi nantinya. Makasih ya kak. Cuma mau mastiin kak. Klo tiketpaddock pass, tiket fisiknga bisa diambil waktu bayar dikasir juga ga? Apa khusus paddock pass ini harus di tukar di circuit?

    Kalo misal di satu tempat 7 11 paddock pass habis, di 7 11 lain masih ada, atau itu sold out buat semua 7 11?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s