Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Wowed by the Circuit

img_1812

The weekend that we had been waiting for the last eight months had finally arrived and it meant it was almost the time we reached the core of our trip, Japanese Grand Prix of MotoGP. The idea of visiting other circuits came from the boredom of visiting Sepang three years in a row. Not to brag, but I pretty much had explored some of the circuit areas including the paddock. Twin Ring Motegi came to me as the only option considering it is still in Asia, and lots of people have been to Japan. In fact, few of them have visited the circuit. Decision was made as soon as Kak Difa had the same desire as I did. We were going to Motegi.

Come again? Pake Bahasa Indonesia aja? Oke. Padahal emang dasar males aja. :p

Setelah menghabiskan malam di Khaosan Tokyo Original di mana kami menyewa dua private bedroom yang sangat sangat sangat sangat sangat sangat minimalis, gue, Kak Difa, dan Malia (yes, Malia was going to experience the awesomeness of watching live race for the first time) berangkat menaiki Subway untuk menuju ke Stasiun Tokyo untuk kemudian menuju Utsonomiya dengan menggunakan Shinkansen. Salah satu alasan kami membeli JR Pass adalah karena kami tidak menemukan penginapan di Utsonomiya dan karena itu kami akan melakukan perjalanan PP dari Tokyo – Utsonomiya. Perjalanan sendiri memakan waktu sekitar 48-60 menit.

Sampai di Stasiun Utsonomiya pukul 9.15, kami langsung menuju bagian informasi dimana ada kokoh-kokoh yang memegang petunjuk bus menuju Motegi. Kami kaget banget ketika menemukan fakta bahwa bus keberangkatan hanya sampe jam 9.30. Kami pun berlarian mengikuti petunjuk arah menuju bus ke Sirkuit. Gue sempat melihat satu bus bertuliskan Motegi meninggalkan terminal. Sudah panik setengah mati dan takut kalau-kalau ternyata itu bus terakhir dan kami hanya bisa memandanginya. Ternyata masih ada satu bus lagi yang masih menunggu penumpang untuk berangkat. Kami berlarian lagi ke arah bus tersebut.

Kami disambut oleh mbak-mbak staff MotoGP yang menanyakan tujuan kami dan menanyakan apakah kami akan bergabung dengan bus mereka. Kamipun memesan tiket dan membayar untuk satu kali perjalanan sebanyak 1500 Yen. Sebelumnya Kak Difa mendapat informasi bahwa pengguna JR Pass juga disediakan bus di suatu tempat di termina. We had no time to look for it and we had no other option because at that time finding the bus was even more than enough. Shuttle busnya sendiri mewah banget like a real tour bus. Kursi penumpang berbaris empat dan bisa diatur sesuai keinginan. Ada plug untuk charger juga in case hape tiba-tiba lowbat.

Perjalanan dari Stasiun besar Utsonomiya menuju Motegi cukup memakan waktu lama. Dengan jalan yang lampu lalu lintasnya begitu banyak, rasanya bus tidak kunjung sampai. Jika dikalkulasi, cukuplah waktu buat tidur jika terpaksa harus bangun pagi-pagi sekali kayak gue. I wore contact lenses, so I decided not to sleep and enjoyed the view outside instead. Actually there aren’t much to enjoy. Jalanan ke Motegi ini suasananya pedesaan sekali. Kanan-kirinya didominasi oleh persawahan atau perkebunan. Hanya ada beberapa rumah atau pertokoan yang terselip di tengah-tengahnya.

It was the longest 1,5 hours I’d been into. Selalu seperti itu jika dihadapkan dengan tempat baru dan pengalaman baru. Kami sampai di sisi selatan sirkuit di mana terdapat museum Honda Collection Hall. Suara bising dari knalpot motor which I was guessing it was from Moto3 kids doing FP3 mulai terdengar mengisi udara sejuk Twin Ring Motegi. Honda Collection Hall could wait for another time, we were eager to walk ourselves in to the circuit!

On our way to the circuit before checking in to the gate, kami bertemu bapak-bapak paruh baya yang duduk di pagar sembari memegang tulisan ‘Need Ticket’. Kami sempat berhenti dan kepikiran untuk menjual tiket milik Tristan saja karena toh nganggur, tapi setelah menawarkan dan harga yang diminta tidak sesuai dengan harga yang kami mau maka kami urung menjualnya. Kami berjalan lagi sampai akhirnya menemukan gate yang cenderung sepi. I was thinking this can’t have been the main gate that the pricture I saw from the internet with TWIN RING MOTEGI written all over it. we still walked in anyway.

Berjalan sedikit, menyebrang jalan, berjalan lagi, lalu menaiki tangga sampai di puncak dan tempat dimana Twin Ring Motegi Circuit terlihat. I wowed, A LOT! THAT PLACE IS AWESOME! I was gonna cry while walking along its pavement and enjoying what lied in front of my very own eyes. We did it. WE MADE IT TO TWIN RING MOTEGI. Tempat yang menurut gue seperti titian trotoar sendiri dipenuhi oleh orang-orang yang masing-masing menyediakan tikar, kursi lipat, tenda, bahkan gue sempat lihat ada yang bawa kompor mini dan hendak memasak air. Did those people stay over night in this place? AWESOME!

A little over view dari Twin Ring Motegi. Sirkuit ini menurut gue menyerupai stadion sepak bola. Ada track yang dikhususkan untuk balapan MotoGP, ada juga track yang dikhususkan untuk balap mobil semacam GT Cars gitu. Nggak heran spot penontonnya didisain seperti tribun sepak bola. Ketika balapan MotoGP sendiri, tribun paling depan yang biasa disebut Victory Stand adalah tribun yang dibuat dadakan di atas aspal sirkut GT khusus untuk menampung penonton MotoGP sementara di bagian lain sirkuit GT diberdayakan untuk tempat parkir. Twin Ring Motegi memang tidak semewah dan sekece Sepang dari segi tata letak, tapi justru di Twin Ring Motegi ini menonton dari sudut manapun hampir seluruh bagian sirkuit terlihat kecuali Hairpin Curve 10 dan Downhill Straight. Yah walau motor dan pembalapnya terlihat kecil, but we could keep up with the race even though there were no screen on the area.

Tiket yang kami beli merupakan tiket General Admission (GA) seharga 9600 Yen (basically yang paling murah). Nah, GA ini artinya kami hanya bisa menonton di bagian-bagian yang tidak terdapat tribun melainkan bisa di mana saja sesuka hati. Yang agak menyulitkan dari menonton di posisi ini mungkin kemiringan tanah dan rumput-rumputnya yang lumayan tinggi. Saat itu kami cukup beruntung karena menemukan tempat yang disemen dan yang masih kosong. Sempat sejenak duduk-duduk dan berfoto dengan bendera Dani maupun selfie sembari menikmati cuaca yang sangat cerah dengan hangatnya guyuran matahari.

img_1753

It was such a perfect day!

 

Di setiap event apapun pasti yang namanya Mall Area itu selalu ada, tapi kami belum melihat dan menemukannya saat kami sudah berada di area sirkuit. Kamipun memutuskan untuk berkeliling mencari Mall Area. Lagi pula kami memiliki waktu cukup lama sebelum kualifikasi MotoGP dimulai. Setelah berjalan sedikit ke arah tribun, kami akhirnya menemukan Mall Area tersebut. Hal pertama yang kami lihat adalah banyaknya foodtruck yang nongkrong di area sana. Dari makanan tradisional Jepang sampai yang ala-ala western komplit di sana. Lalu kami lihat ada beberapa tenda besar milik pabrikan motor terkenal yang berlaga di MotoGP.

Tenda pertama yang kami kunjungi adalah milik Honda. Terlihat banyak orang mengantri demi sesuatu hal yang sepertinya menarik. Setelah melihat apa yang mereka tunggu, kami akhirnya ikut mengekor di belakang. Apa yang kami tunggu di sana adalah kesempatan menaiki motor balap Marc Marquez yang sudah disetting sedemikian rupa menyerupai posisi balap yang menikung nyaris 30 derajat. We were of course excited. Any chance of hopping into one of those big boys on track would be taken without doubt.

Selama kami mengantri, kami berkenalan dengan orang Jepang yang menanyakan asal negara kami. Banyak dari mereka yang mengira kami berasal dari Malaysia. Probably there had been more Malaysian visiting than Indonesian before we were there. Saat antrian sudah di dalam dan semakin dekat ke tujuan, gue sedari tadi naksir motor CBR 250cc edisi baru yang dipajang sekitar area tenda. Warnanya yang hitam pekat semakin mengesankan bahwa it was gonna be one heck of a motorcycle. As you know, a guy on his motorsport is my weakness. I’d melt all over the place. Teman baru kami dari Jepang ngasih tau kalau motor yang gue kagumi itu hanya untuk dipasarkan di Indonesia menurut keterangan di displaynya. I guessed we knew why Marc and Dani were scheduled to visit Jakarta after Australian GP.

Tiba giliran kami untuk naik ke motor Marc. Giliran pertama adalah Kak Difa. Kesulitan yang dialami Kak Difa lumayan ribet, she wore a skirt! Meski susah payah, akhirnya dapat foto yang bagus. Kerennya sih di sana juga disediakan juru foto yang bertugas memegang kamera kami agar mendapat sudut bagus untuk foto. Lalu giliran gue yang saat itu juga memakain rok selutut. How did it feel? Unbelievably heavy and difficult. Man, menaiki motor segede itu tanpa ngegas dan jalan beratnya udah kayak pegang batu segede koper ukuran 24. Berat banget! Ngatur posenya juga susah karena kemiringan motor yang super. How did those guys manage this beast on track? Soal pose di atas motor, Malia jagonya. Heran gue sama dia. Photogenic-nya awet.

Di Motegi ini banyak dari pabrikan-pabrikan besar yang mengeluarkan pembalapnya untuk wawancara singkat di atas panggung. Jadwal manggung pembalap dari satelit sampe pabrikan bakal dibagi perhari. Biasanya yang pabrikan kebagian hari Sabtu setelah waktu kualifikasi, dan jadwal keluarnya disetiap pabrikan di waktu bersamaan! Jadi fans juga terpecah konsentrasinya dan menuju rider favorit masing-masing. Dani should have been scheduled the same day as Marc, but he wasn’t there.

Puas berkeliling di Mall Area selatan, kami terus berjalan menelusuri jalanan yang dipenuhi berbagai stall merchandise. Kami juga melihat ada area untuk bermain Flying Fox. Hanya saja treknya menjauh dari sirkuit. It’d be awesome kalo treknya menyebrangi sirkuit, tapi kayaknya mustahil. Kami juga mencari bagian informasi untuk mendapatkan flyer gratis tentang agenda GP akhir pekan ini. Melihat flyernya yang full berbahasa Jepang, gue yang tadinya hendak membei majalahnya dengan harga 1500 Yen mengurungkan niat karena pasti nggak berguna. At least we still knew from the flyer about what happened when.

Beruntungnya datang di hari Sabtu selain untuk trial and error menuju sirkuit, kami juga punya kesempatan untuk menjelajah kawasan sirkuit dengan lebih bebas. Semua area kecuali Victory Stand bisa kami sambangi. Kak Difa dan Malia juga menyempatkan diri untuk sholat di tribun A-B karena memang tidak ada mushola atau tempat yang disediakan panitia untuk beribadah. Kemudian kami sempat turun ke area aspal GT yang dipakai tenda-tenda sponsor dan foodtruck berkat Kak Difa yang jeli melihat truk yang menjual kebab. Mungkin satu-satunya tempat yang kami percaya bahwa makanannya halal.

Bagian informasi di Motegi juga berada di area yang sama di tempat kami membeli makan siang. Ada banyak hal yang kami ingin tanyakan dan diantaranya adalah titik kumpul untuk Pitlane Walk sore ini. Lagi-lagi bahasa jadi kendala. Kami kesulitan menjelaskan masalah pada mereka, mereka juga kesulitan menjelaskan solusinya sampai ada salah satu dari mereka yang beneran paham Bahasa Inggris. Setelah mendapat informasi yang kami cari, kami diminta untuk mengisi survey dengan bonus sticker banner GP tahun ini. Semoga dengan apa yang sudah diisi, mereka akan mempermudah akses transportasi ke sirkuit ini karena gue yakin akan banyak sekali orang yang semakin nekat untuk mengunjungi Motegi dari luar Jepang.

Stay tuned for Pitlane Walk story.

Advertisements

2 thoughts on “Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Wowed by the Circuit

  1. Hay kak, mau Tanya nich. Ticket motoGPny apa d jual disemua sevel d jepang? Lalu shuttle busnya itu dimana?di stasiun utsunomiya nya atau dimana? Please info ya…hehe

    • Halo. Iya, tiketnya dijual di seluruh retail Sevel. Kemarin kami cari yg terdekat dan paling pertama dan mudah dijangkau. Untuk shuttle bus tersedia di area parkir Stasiun Utsonomiya. Kalo bingung carinya, bakal ada papan petunjuk kok, tapi untuk Kanto Bus yg bisa pake JR pass itu terdapat di depan Lawson stasiun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s