Japan Trip 2016 [Nara] – A Quick Pitstop

Did I tell you already that in this Japan Trip I and Malia were just following Kak Difa around? My mind was so focus on watching MotoGP in a circuit that I was about to visit for the first time. Semua perencanaan ada di Kak Difa. Mulai dari hostel mana yang bakal ditempati, daftar restoran-restoran halal yang bisa dikunjungi selama di sana, sampai ke rute-rute ribet yang gue sama Malia sudah pusing hanya dengan melihatnya saja. Bahkan gue sama Malia tidak hafal sama nama-nama tempatnya. Mengunjungi Nara selepas semua tempat penting di Kyoto dikunjungi sendiri adalah ide dari Kak Difa. I never really bother what Nara looks like and what’s available there.

Menuju Nara yang merupakan kota kecil yang bisa ditempuh selama kurang lebih satu jam dari Kyoto pilihannya bisa menaiki kereta lokal atau rapid yang lebih cepat 15-20 menit. Sampai di Stasiun Nara, kami harus masih menaiki bus yang menuju ke Nara Park yang memang menjadi agenda kami berkunjung ke sana.

Sesampainya di tujuan, bau hutan memenuhi udara Nara yang sore itu cerah. Nara Park sendiri terkenal karena memiliki populasi rusa yang berkeliaran di sekitar taman dan Kuil Todaiji yang menjadi ikon kota Nara. Sebelum memasuki kawasan kuil, kami disuguhkan dengan beberapa toko yang berjejer di pinggir jalan. Mereka menjual berbagai macam pernak-pernik khas Nara dan Jepang. Mereka juga menjual makanan untuk rusa jika pengunjung cukup berani memberi makan rusa-rusa liar tersebut. Kami sih boro-boro ngasih makan, dideketi aja udah ngeri.

Rusa-rusa di Nara Park tidak seperti rusa yang biasa ditemui di Istana Bogor. Mereka tidak memiliki tanduk karena memang tanduk mereka sengaja dipangkas dengan tujuan tidak membahayakan pengunjung. They were still terrifying though. Apalagi kalo kami membawa makanan. Bahkan kami harus menunda makan siang di Nara karena setiap kali membuka onigiri pasti para rusa langsung menghampiri. They thought the food was for them! Oh no deary deer. Boro-boro ngasih makan kalian. Ini mau makan enak dua kali sehari aja mikirnya lama. :/

Semenjak turun dari bus dan keluar masuk toko suvenir, gerbang Kuil Todaiji yang megah dan super besar sudah menyambut kami dari kejauhan. Di sisi kanan dan kiri gerbangnya terdapat dua patung besar yang menyerupai dua orang samurai yang menjaga kuilnya sendiri. Truth be told, gue sendiri nggak terlalu jelas melihatnya karena patung-patung tersebut ditutupi kain hitam yang transparan.

 

Setelah melewati gerbang dan berfoto, ternyata di depan masih ada lagi dan untuk memasuki kawasan Kuil Todaiji kami harus membayar tiket masuk. Namun karena waktu kami tidak banyak dan memang tidak ada niat, maka kami urung membeli tiket. Instead, kami menyusuri taman untuk mencari daun-daun yang mulai berubah warna. Tidak banyak memang, tapi cukup untuk koleksi foto.

 

There wasn’t much to explore in Nara Park, really. Layaknya taman-taman biasa, pemandangannya didominasi oleh pemandangan hijau dari pepohonan. Beberapa dari pohon tersebut daunnya rimbun dan cenderung menggelapkan karena menghalangi cahaya matahari masuk dan menyentuh tanah. Mungkin jika kami hendak berlama-lama di Nara atau tinggal barang sehari, kami akan banyak menemui tempat indah seperti yang direkomendasikan banyak website pariwisata Jepang. Namun sayangnya kami dikejar agenda lain dan harus segera pulang ke hostel untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Tokyo. Nonetheless, Nara has left a small piece of memory in our Japan Trip and I never regret visiting Nara which is quirky, but very naturalistic.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s