Japan Trip 2016 [Kyoto] – The Tale of Orange Gates

Siapapun yang mengunjungi Jepang dan mampir ke Kyoto, pasti nggak akan melewatkan kesempatan buat mengunjungi tujuan gue dan kawan-kawan di hari ketiga kami di kota tersebut. I’ll give you a hint, they go by orange and are in form of gates from the smallest ones to the biggest ones. Yak, guilty! We were going to visit Fushimi Inari. Kesohoran gerbang-gerbang oranye tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Maka kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari keramaian.

img_1556

Perfect scene, perfect outfit, perfect color, perfect place!

 

Sebelum kami berangkat dan ketika kami sarapan, kami bertemu dengan para penjelajah yang juga dari Indonesia. Kami sempat mengobrol tentang rute yang mereka tempuh di selama di Jepang serta berbagi informasi perihal tempat-tempat wisata lain yang akan atau sudah mereka dan kami kunjungi. Tell you what, up ahead our trip that day, they weren’t the only travelers from Indonesia we met.

Dari Stasiun Kyoto, menuju Fushimi Inari bisa ditempuh melalui kereta di peron nomor 10 and that was pretty much the only thing I remembered from the complicated Japanese train system. Waktu tempuh ke Stasiun Inari sendiri tidak terlalu lama, hanya sekitar lima menit. Keluar dari stasiun tujuan, kami sudah bisa melihat gerbang oranye besar yang mengangga dan membawa pengunjungnya ke dalam fantasi mereka masing-masing.

Kami di sambut oleh bangunan kuil yang berwana oranye juga selepas kami masuk ke gerbang tersebut. Di sana banyak orang-orang yang berdoa. Sebelum memulai perjalanan menyusuri jalan setapak yang dibatasi oleh gerbang-gerbang yang mereka sebut Tori itu, kami sempat melihat beberapa stall suvenir yang menjual makanan dan pakaian tradisional Jepang. Di sana juga kami bertemu teman dari Indonesia, a female solo traveler. How cool is that? Kami sempatkan untuk mengobrol dan berbagi cerita. I’ve always had admiration to solo travelers, especially females. Eager to be one of them one day, tapi berani enggak ya?

Beberapa gerbang bagian muka mulai kami lewati. Not yet impressed. Kami menyempatkan diri untuk berfoto juga. Ya ya, girls. Belum apa-apa udah foto-foto, but truly the beauty of Fushimi Inari lies when you keep going deep into the jungle to find the paths of those orange gates. Sebelum menuju jalan panjang, kami menemukan dua jalan berbeda yang diapit oleh tori-tori yang lebih kecil dan pendek. Ternyata dua jalan itu didisain untuk keluar dan masuk sehingga pengunjung tidak bentrok. We managed to snap a few gorgeous and chic pictures while people were not around! See? This place is the best to get those.

Jika dibandingkan dengan tempat wisata yang lain di Kyoto, Fushimi Inari ini adalah salah satu tempat yang menurut gue paling asyik untuk dikunjungi. Kami betah berlama-lama dan berpindah dari spot satu ke spot yang lainnya. Masa juga tidak terkonsentrasi di tempat yang sama seperti yang di Bamboo Groove kemarin. Trek Fushimi Inari ini panjang dan banyak dari pengunjung yang memilih untuk melanjutkan perjalanan ketimbang berhenti dan berfoto. Terlebih, terdapat banyak spot foto yang bisa dijadikan background. Jika tempat satu telah terisi, maka tinggal cari spot lain yang sepi.

 

Ada cerita juga dibalik tori-tori oranye yang terpasang dikuil itu dan perihal ukuran tori yang berbeda-beda di setiap tempat. Konon dari cerita yang kak Difa baca, tori-tori tersebut merupakan sumbangan dari para penduduk. Semakin banyak sumbangannya, semakin besar tori yang dipasang. Jika diperhatikan juga ketika kami berjalan ke arah sebaliknya, terdapat banyak tulisan yang terukir di gerbang kayu tersebut. Despite not understanding even a single letter, we were sure those are philantropists’ names.

Hari Jum’at itu memang sepertinya hari yang ditakdirkan untuk kami bertemu orang-orang Indonesia. Kami berpapasan dengan serombongan tante-tante yang sepertinya backpackers juga. Mereka menyapa duluan dan menawarkan untuk mengambil foto kami pakai kamera gue. It was a quick stop and chat, selepas itu kami langsung meneruskan perjalanan. Kami juga sempat dimintai tolong oleh kakak tinggi-langsing-cantik yang sepertinya berasal dari Eastern Europe untuk mengambil fotonya. As in turn, we took selfie together.

img_1653

Travel buddies

 

If it wasn’t because of the time that we had to catch our next destination that was quite far away from Kyoto, we would’ve stayed longer there. Kami sebenarnya penasaran apa yang ada diujung trek tori oranye yang panjang tersebut. Kak Difa bilang ada kuil lagi di ujung satunya, tapi kami enggan meneruskan karena harus melanjutkan perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s