Japan Trip 2016 [Kyoto] – The Golden Pavilion and The Market

img_1514

Every once in a while you get to stare the gorgeous view on a wallpaper on your phone, your laptop or even a poster and wishing you could be there one day. That happened to me when we visited the next destination after we went to Arashiyama which as Kinkakuji Temple or in English name people call it The Golden Pavilion. I hadn’t been sure why it’s called The Golden Pavilion before I saw it myself. I didn’t remember how we got there, but I think we went to the nearest station and still had to take the bus to get to the exact place. I’m bad at remembering everything direction. The only thing I remember is the number of the bus which is 205.

Keramaian wisatawan berimbas juga pada ramainya pengguna bus di Kyoto. Belum lagi penduduk sekitar juga menggunakan bus yang sama. Berdiri di bus adalah bagian dari kegiatan kami hari itu. Didn’t mind actually. Used to doing it in Jakarta. Tak lama kami sampai, kami langsung membeli tiket masuk ke kuilnya seharga 400 Yen. Tell you what, tiketnya seperti mantra yang suka dipakai untuk menangkal vampir di film-film mandarin. :p

 

Masuk ke kawasan kuil, ramainya pengunjung bahkan melebihi apa yang kami temui di Arashiyama. Untuk berfoto dengan spot kuil yang baguspun mesti bergantian dengan pengunjung lain. Sulit juga mengambil gambar landscape jika ingin berfoto sendiri. Pilihannya tetap potrait dengan hanya fokus pada kedua objek. Namun di pertengahan gue sempat mengambil beberapa gambar kuil yang wallpaper-able. I’m currently putting it on my phone and laptop. Beberapa sudut berbeda dari Kinkakuji juga sangat menarik untuk di eksplor. One fact I learned about the name of the place, the temple really is covered with gold. No kidding. 

It was a short visit to Kinkakuji because there was not much to explore, tapi tetap memakan waktu sih. Saat itu waktu sudah menunjukan jam 3 sore dan kami masih punya dua tempat untuk dikunjungi antara Kyoto Imperial Palace yang last admission-nya jam 3.30 atau langsung ke Rose Cafe untuk makan mengingat kami hanya makan dua buah onigiri seharian. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Rose Cafe karena mempertimbangkan waktu tempuh ke Kyoto Imperial Palace yang tidak akan cukup jika rentang waktu dari kami naik bus dan last admission hanya kurang dari 30 menit dan karena lapar dan capek butuh duduk dan istirahat juga sih. Lagi-lagi menaiki bus yang penuh dan mesti berdiri. Karena capek dan kurang konsentrasi, kami menaiki bus yang benar dengan arah yang salah. Kami pun berhenti dan langsung menyebrang untuk mengganti bus dan tetap kebagian berdiri.

Sampai di halte bus, sudah kebayang duduk nyaman di cafe sambil makan masakan Turki. Bad luck was on us that day, restorannya tutup dan lapar sudah tidak bisa ditahan namun kami tidak punya cadangan makanan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Kyoto Islamic Center untuk sholat dan sejenak beristirahat dari pegalnya berjalan dan berdiri di bus dan berlindung dari udara Kyoto yang mulai dingin. Kyoto Islamic Center memiliki mushola di basement dan toko makanan dan koleksi buku di lantai atasnya. Saat itu sedang ada pengurusnya yang kebetulan orang Indonesia I think. Kami hanya beristirahat di sana beberapa menit dan kembali meneruskan perjalanan.

Kunjungan selanjutnya adalah ke pasar. Yak. Pasar. The name is Nishiki Market dan tempat ini katanya sih pusat jajanan tradisional dan oleh-oleh di Kyoto. Di peta, Nishiki Market kelihatan tidak jauh dari tempat yang sebelumnya kami kunjungi tapi karena tidak tau letak persisnya di mana, kami hanya mengandalkan GPS dari Google Maps. Namun sore itu GPS hanya membawa kita bolak-balik dan muter-muter nggak jelas. Akhirnya karena sudah terlalu lama muter-muter dan sudah mulai larut juga (mengingat pasarnya tutup jam 5.30 petang), kami bertanya pada salah satu penjaga toko yang sedang mempromosikan dagangannya.

Petunjuk sudah didapat, but somehow we were still in doubt. Tempat yang kami telusuri sama sekali tidak menunjukan adanya keramaian layaknya orang-orang menuju ke pasar. Setelah sampai di salah satu gerbang masuknya lah kami baru paham bahwa Nishiki Market itu tidak seperti pasar-pasar tradisional yang biasa ada di Indonesia. Sama sekali jauh dari bayangan pasar Jepang di benak gue.

Jadi ternyata Nishiki Market itu berupa pasar yang hanya terbentang di sebuah jalan setapak yang cukup panjang. Ketika kami bolak-balik kebingungan membaca arah di GPS, sebenarnya kami bisa berbelok kanan di tempat yang mana saja karena pasar sudah mulai membentang dari pertama kami menginjak trotoar pinggir jalan raya. Memasuki kawasan pasarnya, kami langsung disuguhi berbagai makanan tradisional Jepang yang terus terang nggak paham apa namanya. Beberapa toko suvenir yang menyediakan pernak-pernik khas Jepang juga banyak terdapat di sana. Harganya menurut gue sama dengan yang nantinya akan gue temui di tempat-tempat berikutnya.

Ada satu makanan yang berhasil meningkatkan selera makan gue yang kebetulan sedang lapar hari itu. Gorengan dari berbagai macam bahan makanan. Gue hendak membeli gorengan seafood tadinya jika saja teman mengingatkan bahwa ada bacon diantara gorengan yang dijual. Kekhawatiran itu selalu muncul jika menyangkut makanan yang akan dikonsumsi di Jepang. Gue pun mengurungkan niat dan memilih untuk kelaparan daripada zonk.

img_1523

Never really say no to gorengan, but this one I had to.

Sebelum Nishiki Market benar-benar tutup, kami mampir di suatu tempat semacam mini market yang menyediakan oleh-oleh khas Jepang dengan harga yang relatif murah. Entahlah apa namanya karena semuanya ditulis dalam bahasa Jepang. Yang jelas ketika lewat toko serupa diberbagai daerah, selalu ada satu orang salesperson yang berteriak mempromosikan toko tersebut ke orang-orang di jalanan. Suvenir dari dompet-dompet kecil, gantungan kunci, sumpit, hiasan dinding, sampai magnet kulkas dijual dengan harga yang tidak lebih dari 500 Yen. Gue tidak banyak membeli apa-apa karena gue pikir perjalanan masih panjang dan masih ada hal-hal lain yang perlu dibeli. Bingung juga mau beli apa sebenarnya. Terlalu banyak barang yang ingin dibeli di sana.

Selesai urusan di Nishiki Market, kami yang sudah kelelahan karena seharian wara-wiri memutuskan untuk berhenti di McDonald terdekat. You’re probably thinking what the hell we did in McD. Trust me, it was an emergency. If we hadn’t felt starving we wouldn’t have stopped by McD and ordered just french fries. Kami juga masing-masing memesan kopi dan teh untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan karena lagi-lagi cuaca malam Kyoto tidak bersahabat bagi tubuh tropis kami.

Bucket lists hari ini sudah terpenuhi kecuali mengunjungi Kyoto Imperial Palace yang waktunya memang tidak memungkinkan. Kamipun memutuskan untuk pulang dengan menaiki nomor bus yang sama ke Stasiun Kyoto. Kali itu untungnya dapat duduk, jadi tidak pegel-pegel amat lah. Ketika sampai di tujuan akhir, masih ada pikiran jika jalan pulang tidak malam cupu dan mubazir waktu. Kak Difa punya solusi untuk hal itu. Akhirnya kami mengunjungi apa yang terdapat di bagian bawah Kyoto Tower dan makan malam di Ayam Ya.

A quick explanation, bagian bawah Kyoto Tower merupakan toko suvenir yang menjual berbagai macam pernak-pernik Jepang yang ternyata harganya lebih mahal dari yang kami temui di Nishiki Market. Kamipun di sana hanya melihat-lihat tanpa berniat membeli. When a kid suddenly said greeting to us, kami sempat mengorol dengannya dan dia bilang berasal dari Palestina. No wonder he is a muslim. Makan malam di Ayam Ya juga terasa begitu memorable. Restoran halal yang menyajikan ramen halal ini menurut gue rasanya paling enak diantara restoran halal yang kami kunjungi selama di Jepang. Tempatnya juga relatif dekat ke Stasiun Kyoto if you are willing to walk about 700m. Hari kedua di Kyoto berakhir dengan kekenyangan dan gelak tawa yang dipersembahkan oleh marka jalan dengan tulisan Santetsu (If you ever get the joke). =))))

Advertisements

2 thoughts on “Japan Trip 2016 [Kyoto] – The Golden Pavilion and The Market

  1. Berapa biaya total ke jepangnya kak? Kali aja kan tabungan saya cukup buat ke jepang. Hotel dani di mana ya kak, di daerah circuit motegi kah? Tahun 2017 nonton motogp di negara mana ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s