Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Another Historical Race Day

 

img_1912

Achievement unlocked!

Selama tiga tahun berturut-turut selalu mengunjungi sirkuit untuk menonton live race, selain euforia dan Dani Pedrosa yang dicari gue tidak mengharapkan apa-apa lagi. Bisa berada di tengah-tengah sesama penggemar balapan saja sudah bahagia, apalagi ketika pembalap kesayangan menang atau naik podium. Namun setiap menunjungi sirkuit ternyata ada saja yang terjadi out of the ordinary. Tahun lalu ketika ke Sepang, Marc Marquez dan Valentino Rossi berseteru gara-gara tabrakan yang bersejarah itu. Tahun ini ada kemungkinan sejarah lain terukir meski terdengar sangat sulit dan sangat bergantung pada takdir, tapi Minggu pagi itu kami berangkat ke sirkuit dengan keyakinan akan disuguhi balapan seru.  Continue reading

Advertisements

Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Honda Collection Hall

Di hari Sabtu ketika kami sampai di pintu masuk sirkuit bagian selatan, kami melihat ada sebuah tempat yang sorenya kami ketahui bahwa itu adalah museum Honda Collection Hall (HCH). Sebelumnya kami memang tau kalau Twin Ring Motegi punya museum, namun kami tidak tau persis letaknya dimana. Kami tidak sempat mengunjungi HCH di hari Sabtu karena kami sibuk kesana-kemari menyusuri bagian sirkuit yang bisa kami telusuri. Maka ketika kami tiba di hari Minggu pagi dan setelah kami berfoto di depan gerbang utama sirkuit, gue dan kak Difa memutuskan untuk mengunjungi HCH. Malia tidak ingin ikut karena satu hal dan yang lainnya, jadi dia menunggu di gerbang utama sampai kami bertemu lagi.

img_1947 Continue reading

Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Pitlane Walk

img_1854

Semenjak penjualan tiket race di Twin Ring Motegi dibuka, Kak Difa sudah mewanti-wanti apakah kami ingin mengunjungi paddock atau tidak. Tadinya jika ada kesempatan dan tiketnya cukup murah, kami akan patungan untuk beli tiga hari. Ternyata Paddock Pass di Motegi ini dijual harian dimana hari Jum’at seharga 10,000 Yen, Sabtu 11,000 Yen, dan Minggu 12,000 Yen. Lalu dipikir lagi sepertinya terlalu mahal untuk seorang. Jika patungan pun hanya kebagian sehari dan harus dibagi empat orang (waktu itu sebelum tau Tristan memutuskan untuk nggak ikut). So how could we see Dani if we didn’t have paddock pass mengingat Tristan juga tidak bisa menjanjikan. Solusinya cukup jenius, why not purchasing Pitlane Walk?

To be honest, I had never joined Pitlane Walk before because when I went to Sepang I always arrived on Saturday to the circuit. Kata Kak Difa, di Sepang itu pitlane walk gratis selama kami punya tiket tapi tetap dibatasi dan hanya diadakan di hari Jum’at. Sementara di Motegi apa aja dijual termasuk pitlane walk ini. Ada dua pilihan waktu dengan harga yang sama yang ditawarkan. Kami memilih hari Sabtu sore dengan harga tiket 2100 Yen karena hari Minggu pagi-pagi sangat tidak mungkin mengingat kami menginap di Tokyo. Continue reading

Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Wowed by the Circuit

img_1812

The weekend that we had been waiting for the last eight months had finally arrived and it meant it was almost the time we reached the core of our trip, Japanese Grand Prix of MotoGP. The idea of visiting other circuits came from the boredom of visiting Sepang three years in a row. Not to brag, but I pretty much had explored some of the circuit areas including the paddock. Twin Ring Motegi came to me as the only option considering it is still in Asia, and lots of people have been to Japan. In fact, few of them have visited the circuit. Decision was made as soon as Kak Difa had the same desire as I did. We were going to Motegi. Continue reading

Japan Trip 2016 [Twin Ring Motegi] – Pre-Trip Story

Manusia boleh berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan dan merestui segalanya.

Sering dong liat ucapan memotivasi macam gitu di mana-mana. Sesempurna apapun rencana dibuat, pasti ada aja satu, dua, atau bahkan banyak faktor yang membuat perjalanan kami nggak sesempurna yang kami inginkan. It happened to us as well in this Japan Trip of ours right before the most important agenda was about to happen the next day which was Japanese Grand Prix of MotoGP. The trip which we were waiting for sooooooooo loooooooooonnnngggg was almost ruined by one problem after another. Continue reading

Japan Trip 2016 [Nara] – A Quick Pitstop

Did I tell you already that in this Japan Trip I and Malia were just following Kak Difa around? My mind was so focus on watching MotoGP in a circuit that I was about to visit for the first time. Semua perencanaan ada di Kak Difa. Mulai dari hostel mana yang bakal ditempati, daftar restoran-restoran halal yang bisa dikunjungi selama di sana, sampai ke rute-rute ribet yang gue sama Malia sudah pusing hanya dengan melihatnya saja. Bahkan gue sama Malia tidak hafal sama nama-nama tempatnya. Mengunjungi Nara selepas semua tempat penting di Kyoto dikunjungi sendiri adalah ide dari Kak Difa. I never really bother what Nara looks like and what’s available there.

Menuju Nara yang merupakan kota kecil yang bisa ditempuh selama kurang lebih satu jam dari Kyoto pilihannya bisa menaiki kereta lokal atau rapid yang lebih cepat 15-20 menit. Sampai di Stasiun Nara, kami harus masih menaiki bus yang menuju ke Nara Park yang memang menjadi agenda kami berkunjung ke sana. Continue reading

Japan Trip 2016 [Kyoto] – The Tale of Orange Gates

Siapapun yang mengunjungi Jepang dan mampir ke Kyoto, pasti nggak akan melewatkan kesempatan buat mengunjungi tujuan gue dan kawan-kawan di hari ketiga kami di kota tersebut. I’ll give you a hint, they go by orange and are in form of gates from the smallest ones to the biggest ones. Yak, guilty! We were going to visit Fushimi Inari. Kesohoran gerbang-gerbang oranye tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Maka kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari keramaian.

img_1556

Perfect scene, perfect outfit, perfect color, perfect place!

 

Sebelum kami berangkat dan ketika kami sarapan, kami bertemu dengan para penjelajah yang juga dari Indonesia. Kami sempat mengobrol tentang rute yang mereka tempuh di selama di Jepang serta berbagi informasi perihal tempat-tempat wisata lain yang akan atau sudah mereka dan kami kunjungi. Tell you what, up ahead our trip that day, they weren’t the only travelers from Indonesia we met.

Continue reading