Japan Trip 2016 [Kyoto] – Wandering Around Arashiyama

Okay. So at first I was gonna put a day in Kyoto in one blog post but turned out there were too many things to be written (or it was just me who likes to write everything up). But seriously, a blog post about a day in Kyoto would be two thousand words altogether because we had a lot of agendas on that particular Thursday. Therefore I divided it into two parts where the first part is all about Arashiyama.

Before I tell you about our second day visit to Kyoto, I just have to tell you about the awesome hostel where we spent two nights in Kyoto which is is Kyoto Piece Hostel. Letaknya cukup dekat dengan Kyoto Station dan kami hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit dari stasiun. Kyoto Piece Hostel memang budget hostel yang harganya cukup terjangkau, tapi tempat dan pelayanannya  begitu oke. Kami menginap di dua tempat berbeda karena room availability ketika kami memesannya. Malam pertama di 10 mix dormitory dan ke dua di 4 female dormitory. Keduanya tidak ada keluhan. Kasurnya luas, bantal bisa mengambil untuk ekstra, handuk disediakan, dan yang paling penting kamar mandinya luas dan nyaman, dapat sarapan yang layak pulak. What I mean layak is proper meal yang beneran bikin kenyang dan bertahan ampe siang. Baru kali itu gue traveling di tempat bersuhu dingin dan rajin mandi. Dari keempat hostel yang ditempati di Jepang sana, Kyoto Piece Hostel ini favorit gue.

Right sebelum ke Arashiyama, kami terlebih dahulu membeli Kyoto Bus Pass dengan harga 500 Yen dan berlaku seharian. Kemarin kami menang tidak membeli bus pass karena hanya memakainya beberapa kali saja. Jika diitung-itung, Kyoto Bus Pass ini menguntungkan banget karena kami hari itu hendak berwara-wiri dan akan sering menggunakan bus. After it was done, off we went to Arashiyama.

img_1318

 

If you Googled the word Arashiyama, what’s coming must be between the famous Togetsukyo Bridge and its Bamboo Groove. However, Arashiyama isn’t just about those two. What’s fun about visiting Arashiyama is that it has a lot of tourist destinations gathering all in one place. Sebelumnya dari stasiun kereta kami menemukan tempat untuk membeli tiket Sagano Romantic Train yang akan kami naiki di tengah perjalanan nanti. Setelah itu kami berjalan sedikit agak jauh ke pertigaan yang akan membawa kami ke tempat-tempat berbeda.

Sebelum memutuskan jalan mana yang akan kami tempuh drama, kami mampir di sebuah kuil yang saat itu kami nggak tahu namanya. Ternyata itu adalah Tenryuji Temple. Kami tertarik pada daun-daun yang memerah di sekitar tamannya. Mampir sebentar untuk foto-foto, kami kembali ke jalan dan memutuskan untuk berbelok ke kiri menuju Jembatan Togetsukyo. Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh pertokoan yang masih bersiap menyambut pengunjung.

 

Sesampainya di jembatan yang membelah sungai luas, kami disambut oleh gemercik air yang menyejukkan telinga. Gugusan pepohonan yang menurut gue akan terlihat cantik ketika warnanya berubah nanti membentang di sepanjang perbukitan yang terdapat di sisi aliran sungai. Yang paling gue nggak tahan di sana adalah hembusan anginnya. Gue hari itu tidak memakai heattech dan dinginnya langsung tembus ke tulang. Meski begitu, gue tetep pengen nyebur ke air sungai. Diriku lemah kalau melihat air. Saat kami sudah tidak tahan dengan dinginnya, kami pun berpindah ke lokasi selanjutnya.

Sebelum sampai sana, gue sudah melihat di internet bagaimana indahnya gugusan bambu di Arashiyama Bamboo Groove ini. Ini adalah tujuan pertama yang gue benar-benar tahu dan ingin mengunjunginya selain Motegi. However, as soon as we got there, it wasn’t as majestic as it was pictured on the internet.

That was me anyway, Kak Difa dan Malia mungkin melihatnya secara berbeda. Don’t get me wrong, it is still beautiful. Dan yang gue nggak ngerti adalah banyaknya pengunjung di sana. I mean, it wasn’t even the peak of autumn yet. Sangat sulit sekali mencari momen berfoto yang tidak terganggu oleh orang-orang yang berlalu lalang atau malah berhenti untuk befoto di belakang spot foto kami. Ditambah pencahayaan yang kurang karena cuaca cukup berawan di sana. Sangat susah menangkap momen karena gue mesti otak-atik kamera disetiap tempat berbeda demi mencari settingan yang pas. Well, it’s called Forrest for a reason. Kami pun tidak bisa berlama-lama menyusurinya karena kereta kami untuk Sagano Romantic Train sebentar lagi akan berangkat. Selain itu kerumunan orang semakin siang semakin banyak.

Talking about Bamboo forest, I remember Malia making jokes about it. You know that in Indonesia bamboo forests are really famous for being a place where Kuntilanak hangout. Kuntilanak is of course the most terrifying ghost in our myth with the long hair, white gown, and horrific laugh. Out of the blue, she asked us whether this one also had those hangout in the place. For real Malia? That thought didn’t even cross my and Kak Difa’s mind. xD It was a good joke though. Thanks, Malia. 

Anyway, we found our reward for the disappointment in Bamboo Groove in Sagano Romantic Train. Enggak, keretanya bukan yang kalo naik single trus kalo turun dapet pasangan gitu, bukaaaan. Jangan artikan Romantic di sini literally unless you have boyfriend or girlfriend to come along with, or a husband in our case. Sebelum membeli tiket dan menentukan waktu keberangkatan, kami sempat berdebat tentang di mana kami akan duduk. Gue pengen duduk di gerbong tanpa jendela karena ingin mendapat ultimate experience melihat pemandangan kece tanpa halangan sama sekali. Kak Difa berpendapat lain dengan bilang itu bakal dingin banget. I never thought of that before, really. In the end, we trusted her and we chose the car with windows. She was right thou. We’d have frozen to death if we had chosen what I wanted.

Kami naik di stasiun yang dekat dengan ujung dari trek Bamboo Groove. Trek dari kereta ini gue rasa bekas peninggalan perusahaan kereta api karena tepat di seberang lain terdapat trek untuk jalan kereta untuk transportasi. Saat kereta tiba, kami naik dan duduk di posisi kanan dari arah lajunya kereta. Setengah perjalanan pertama kami tidak mendapat pemandangan apa-apa. Sepenuhnya gundukan tanah dan batu sementara sebelah kiri mendapat pemandangan aliran sungai dan gugusan pepohonan yang keren. Namun ternyata perjalanan dibagi seimbang. Keindahan bagi kami hadir di setengah terakhir perjalanan.

Aliran sungai dengan air yang berwarna biru giok mengalir melewati bebatuan besar yang menonjol. Pemandangannya mengingatkan gue akan film-film Hollywood yang settingnya di hutan. Pepohonan yang tertanam di bukit sebelah kanan dan kiri sungai menambah kesejukan pandangan mata. Sesekali kami berhenti untuk melihat pemandangan sekitar. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menganggumi keindahan alam dan memotret sembari bersyukur bisa menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Perjalanan Sagano Romantic Train sendiri berakhir setelah menempuh kurang lebih 20-30 menit perjalanan. Dari tujuan akhir stasiun kereta, kami bisa langsung berjalan ke stasiun kereta untuk transportasi publik untuk melanjutkan perjalanan. Pemandangan sepanjang jalannya mindblowing. Udara dan atmosfir pedesaannya sangat terasa. And all of a sudden I missed home. 

And then we moved on to the next destinations.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s