Japan Trip 2016 [Kyoto] – Love at The First Sight

img_1230

If I had to choose which city is my favorite during my Japan Trip 2016, it’s gotta be Kyoto.

Dilihat dari kacamata gue, Kyoto merupakan kota yang dinamis di mana hal-hal yang berbau tradisional dan modern bisa berdampingan secara imbang dan saling melengkapi. I love every corner of Kyoto from its temples to its famous buildings. Bahkan hostel yang kami tempati saja asyik banget! Di Kyoto ini, gue dan teman-teman menghabiskan waktu tiga hari dua malam untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat ikonik yang kami (kak Difa) tahu.

Pe’er pertama ketika sampai di Kyoto dari Osaka menaiki Shinkansen adalah mencari penginapan. Letak dari Kyoto Piece Hostel, tempat kami akan menginap memang dekat dengan Stasiun Kyoto namun tetap saja mencarinya butuh Google Maps dan tanya sana-sini. Akhirnya setelah bertanya pada seorang ibu yang mau berbaik hati mengantarkan kami sampai hostel tersebut terlihat, kami tiba di hostel dan langsung cek in. Tell you what, Japan is filled with the nicest people in the world. Tanpa ba-bi-bu karena waktu sudah sore, kami hanya membereskan urusan administrasi dan menitipkan koper di hostel lalu kembali mengembara menuju tempat yang sudah menjadi tujuan kami selanjutnya.

Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kiyomizu-dera Temple. Kuil ini sih sebenernya cukup mainstream. Fotonya sering jadi promotional pictures dari tur-tur ke Jepang untuk semua musim. Waktu terbaik untuk berkunjung sih tetep pas Spring atau Autumn ya. Menuju ke Kiyomizu-dera ini sangat penuh perjuangan. Karena kuilnya terletak di puncak bukit, kebanyang lah the amount of nanjak yang mesti kami lakukan untuk bisa sampai ke sana. Meski kanan-kiri jalan menuju kuil dipenuhi oleh stall-stall penjual makanan maupun suvenir, tetep kerasa capek. Pas bangunan warna merah yang merupakan gapura kuilnya udah kelihatan baru lah semangat lagi, tapi tetep engap cuy.

Kiyomizu-dera ini merupakan kuil yang dibangun dari kayu yang dari dulu sampai sekarang kayaknya masih awet aja. Kuilnya sendiri dikelilingi oleh hutan dengan berbagai jenis pohon yang gue yakini akan terlihat sangat cantik ketika musim gugur mencapai puncaknya. Pas gue di sana sih baru beberapa pohon aja yang daunnya udah memerah atau menguning. Seperti tempat ibadah biasanya, kuilnya sendiri terlihat sangat sederhana dan cenderung seram. Malah ada di beberapa bagian yang nggak dikasih penerangan yang cukup.

Setelah puas keliling di dalam kuil, kami turun ke dekat pancuran tiga mata air di mana banyak orang-orang yang mengantri untuk meminumnya. Kabarnya sih masing-masing dari mata air itu menyimbolkan rejeki, jodoh, dan entah apalah satu lagi. Barang siapa yang meminum salah satunya bakal terkabul, namun tidak boleh serakah juga untuk meminum ketiganya dalam satu waktu. If you believe in such things of course. Kami yang saat itu berkunjung menjelang magrib juga beruntung bisa melihat sunset di sudut kota Kyoto. Tapi jangan kesorean juga ya, soalnya kuil tutup sekitar jam 5 sore.

img_1222

Magic fountain. Yang ngantri banyak. 

Setelah kuil tutup, kami langsung turun dan masih melanjutkan foto-foto di jalan-jalan yang mulai ditinggalkan oleh turis karena toko-toko juga sudah mulai tutup. Tempat itu kalo sepi pasti serem deh. Aura mistisnya keluar semua apalagi ditambah lonceng yang kedengeran dari kuil dan sorotan bulan purnama.

Ketika malam tiba, kami langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya. Niat kami untuk berjalan kaki mempertemukan kami dengan abang ganteng dari Prancis kuil baru yang entah namanya apa. Abang ganteng tersebut meminta pada semua pejalan kaki untuk berhenti di belakang kameranya karena dia sedang memotret kuil tersebut dan memakai shutter speed yang lumayan lama. Akhirnya moduslah sambil nunggu (halah). Beliau ternyata merupakan perserta dari pertukaran pelajar dan belum lama tinggal di Jepang. Dia di sana memang sedang mencari gambar terbaik dari kuil yang diguyur cahaya purnama terbaik. I wish I could go with him. :p

Udara malam Kyoto ternyata lumayan bikin badan menggigil juga. Gue yang memakai heattech, t-shirt lengan panjang dan outer masih tetap merasa dingin, padahal sebelumnya di Osaka kegerahan dengan outfit yang sama. Bodohnya lagi pas mau ke Gion, gue yang memang niatnya beli tumbler Starbucks untuk oleh-oleh memesan minuman dingin. Makin lah menggigil. Berasanya di Jakarta aja pesen kopi dingin (masih jetlag ceritanya).

 

Sebelum kami beranjak ke Gion, kami yang memang sudah kelaparan kemudian mecari tempat makan dulu di sana. Ada Naritaya Ramen, salah satu restoran berlogo halal di sekitaran Gion. Letaknya cukup tersembunyi dan cukup jauh dari jalan raya. Kalau mencarinya tidak jeli mungkin tidak akan ketemu. Ketika kami sampai di sana ternyata sedang ramai dikunjungi teman-teman muslim lain. Ada yang dari Malaysia dan Maroko saat kami makan di sana. Kami memesan dua menu untuk bertiga karena menurut informasi dari teman-teman Malaysia tadi, porsinya cukup besar. Rasa ramennya Jepang banget (menurut ngana aja). Cuma karena lidah gue aja yang ngerasa kurang gurih dan kurang rempah de el el, tapi tetep enak dan abis. Harganya cukup terjangkau juga untuk ramennya yang hanya berkisar di 700-1200 Yen. Cukup untuk mengenyangkan dan menghangatkan tubuh kami yang kedinginan. Kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang.

img_1264

Romantis. Makan bertiga mangkoknya cuma dua (padahal kere).

Semua orang tahu tujuan mereka ke Gion adalah untuk melihat secara langsung Maikko atau yang lebih familiar disebut Geisha. Menemukan Gion sendiri lumayan tricky karena tempatnya berada jauh dari halte bus terdekat yang dilewati dari tempat kami turun. Kami pun harus berjalan kaki beberapa meter sampai akhirnya kami menemukan tempatnya. Kanan-kiri jalanan Gion penuh dengan restoran mewah yang katanya sih biasa dipake para pejabat tinggi Jepang untuk kongkow sembari dihibur oleh Geisha.

img_1271

Poster sinetron Cinta Fitri Season banyak. xD

We learned a thing or two from the crowd on how to spot a Maikko with your own eyes and take their pictures. Just follow where the taxis stops. Yep, setiap ada taksi standby di depan restoran, kerumunan orang langsung berkumpul mengelilingi lingkungan restoran tersebut. Tentunya masih dengan jarak yang masuk akal. Lalu tinggal menunggu beberapa orang keluar. Dalam usaha menunggu Maikko tersebut, kami mesti sabar for no particular reason, really, karena semuanya memang untung-untungan. Kadang mereka mengecoh pengunjung dengan memberi jalan lain untuk Maikko keluar dari tempat tersebut. Hal itupun terjadi pada Maikko yang sedang kami tunggu.

Setelah harap-harap cemas dan bersiap dengan kamera, tidak ada Maikko yang keluar dari pintu depan restauran dan yang menaiki taksi ternyata orang-orang berjas. Kami sempat kecewa, namun tiba-tiba dari sisi lain sang Maikko berjalan santai menuju tempat lain seolah tidak peduli dengan pengunjung yang menatap dan mengambil gambarnya. I like her style though. Of course because that was Japan and all the tourists had manners, no one bothered following her to the next place she visited.

Apart from looking for Geisha, I didn’t know any other place to visit in Gion. Mungkin kalau waktunya siang dan pada tanggal-tanggal tertentu, kami akan menemukan banyak hal di sana. sayangnya kami hanya punya malam itu untuk mengunjungi Gion dan hanya menemukan sejalan itu saja.

Sebelum kembali ke hostel, setibanya kami di stasiun Kyoto kami beristirahat sejenak sambil menikmati Aquatic Dancing Show yang berada di sekitar stasiun dan memotret tingginya Kyoto Tower juga. Gue sendiri di sana sembari menelepon teman-teman kantor karena sudah mulai kangen dengan ocehan mereka. If it hadn’t been for the cold wind, we would’ve stayed there longer, so we decided to go back to the hostel and get some rest so that we were ready for another trip the next day.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s