Japan Trip 2016 [Osaka] – Castle Tour and an Exaggerated Jetlag

 

img_1101

Ketika malamnya bergadang mau sepagi apapun niat bangunnya pasti tetap kesiangan and it happened since day one! Gue rasa hal ini terjadi karena jetlag akibat suasana jam 6 pagi Jakarta yang menjadi jam 8 pagi di Jepang. I know, I know, we WERE lebay. :p Entah akan sesiang apa kami bangun jika Kak Difa tidak membangunkan gue dan Malia. She was our alarm clock yang mengingatkan kita dengan segala yang berkaitan dengan masalah waktu (bow to Kak Difa). Karena kami hanya tinggal semalam di J-Hoppers, maka pekerjaan sebelum berpetualangpun jadi banyak. Dari packing sampe angkat-angkat koper untuk sekalian cek-out. Ditambah waktu sarapan, kami akhirnya meninggalkan hostel untuk jalan-jalan hampir jam 10 which was udah siang banget!

Jalan-jalan kami saat itu bertambah satu orang lagi, another perfect stranger from Japan, Keiichi. Long story short, Keiichi juga ingin berkunjung ke Osaka Castle yang memang tujuan kami pagi itu. Awalnya kami ragu dia bakal ikut atau enggak karena lagi-lagi kendala bahasa membuat kami miskomunikasi. Sampai akhirnya dia menunggu kami selesai sarapan, baru kami yakin bahwa dia ingin ikut dengan rombongan kami.

Sedikit background tentang Keiichi yang berhasil digali Malia yang begitu kepo dan akrab dengannya, Keiichi juga baru pertama kali hendak berkunjung ke Osaka Castle. Dia sebelumnya pernah ke Osaka, namun hanya untuk urusan bisnis dan tidak pernah secara sengaja mengunjungi tempat wisata di Osaka sampai hari itu. Dia pikir lebih baik ke sana bersama teman dari pada sendiri. Kami sih tidak keberatan dengan adanya Keiichi. Malah jadi ada volunteer buat memfoto kami bertiga. :p

img-20161024-wa0021

The travel mates – Keiichi, Kak Difa, Malia, and I

Perjalanan ke Osaka Castle tidak membutuhkan waktu yang lama. Kami diberi tahu oleh pemilik hostel bahwa jalan kaki dari stasiun Morinomiya lebih dekat daripada stasiun Osakajo-Koen, tujuan awal kami. Kamipun menurut dan memang benar. Sesampainya di stasiun, begitu keluar dan melewati dua penyebrangan jalan kami langsung sampai di salah satu bagian taman dari Osaka Castle.

Jalan kakinya untuk ke Castle-nya sih lumayan jauh dan mesti menaiki beberapa anak tangga which we didn’t like akibat trauma mengangkat koper sambil naik tangga di stasiun Shin-Osaka. Pegelnya masih berasa sampe dua hari, tapi semuanya terbayar ketika tidak hanya bagian atas istananya saja yang terlihat, tetapi semua bagian yang megahnya menonjol diantara bangunan lain yang terdapat di sana.

 

Setelah berfoto di taman di mana Osaka Castle terlihat dekat, kami membeli tiket untuk masuk ke istananya yang sekarang berfungsi sebagai museum. Tiket masuknya seharga 600 Yen yang dibeli melalui vending machine. Great! No more trouble speaking in English with gesture. At first, I didn’t know what we were doing visiting a museum since I’m not a fan of museum itself unless the story attracts me, but Kak Difa told us that the view from the top of the castle is dope. Well, I’d do anything for a dope view from the top of everything.

Japanese, man, they’re really discipline from the simplest things. Memasuki Osaka Castle, kami harus mengantri dengan tertib untuk menaiki lift yang membawa kami ke lantai paling atas. Lift tersebut hanya bisa digunakan untuk akses naik. Sementara untuk turun, para pengunjung bisa menuruni tangga yang juga pada track turun. Jangan sampai terbalik lah, we didn’t want to embarrass ourselves.

 

The castle didn’t seem very high, but we were in 7th floor when we went outside to the balcony to enjoy the view. Dari atas, kami bisa melihat kemodernan Osaka menyatu dengan tradisional dan natural yang ditunjukan dari pepohonan rimbun yang mengelilingi istana. I bet the view would look gorgeous if the autum is in its peak. Kami berkeliling untuk melihat pemandangan dari berbagai sudut. Walau berfoto agak menyulitkan karena pengunjung pada hari itu sangat ramai, tapi kami masih bisa mengambil foto yang bagus.

Setelah puas berada di atas, kami mulai menuruni tangga dan menyusuri lantai demi lantai untuk melihat apa yang ada di museum ini. Selain menemukan banyak benda peninggalan jaman kerajaan Jepang, kami juga menemukan display video yang menggambarkan sejarah Jepang. Selain dari video dan tulisan yang kebanyakan bahasa Jepang, kami juga mendapat guide gratis dari Keiichi. Sambil berkeliling, dia menceritakan bagaimana perjalanan tokoh-tokoh yang disebut di museum dan beberapa kisah perang yang terdapat di panjangan museum. Bagi gue yang tidak terlalu tertarik akan sejarah, cerita Keiichi hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. I didn’t remember a thing he told us.

img_1138

One of the miniature display about the history of Japan

Satu deng yang inget. Ketika di lantai 3 dan 4, ada miniatur set dari Osaka Castle full version. Sayangnya di lantai tersebut pengunjung tidak diizinkan untuk mengambil gambar. The guards were full on patrol mode. Kami hanya bisa menatap miniatur set sembari diceritakan Keiichi bahwa batu-batu dan kanal yang kami temui sebelum memasuki kawasan istana dan yang terdapat pada miniatur merupakan bagian dari proteksi untuk istana sendiri. Kanal tersebut dibangun di sekeliling kawasan Osaka Castle. That was it. No other things I remembered.

Kami keluar dari museum setelah menyusuri semua lantai. Kinda feel bored inside. Hawa museum, you know? Bikin ngantuk. Gue aja menguap beberapa kali. Although I was sure Keiichi sebenarnya mau berlama-lama di sana. It IS his country’s history after all, tapi karena kami buru-buru kunjungannya juga hanya sebentar. I did feel guilty for that, but we didn’t have much choice.

Kami lanjut mengelilingi bagian luar Osaka Castle yang mau dilihat dari sudut manapun sama megahnya. Udara yang cerah dan cahaya matahari yang mengguyur bangunan berwarna putih tersebut semakin membuat istananya terlihat mewah. Kami juga menemukan beberapa spot cantik untuk berfoto. Puas berkeliling, kami memutuskan untuk kembali karena kami juga mengejar waktu untuk sampai di Kyoto.

Sebelumnya, Keiichi terus menanyakan kami akan makan siang di mana dan gue terus berfikir dalam hati makan siang masih lama. Matahari pun belum berada tepat di atas kepala yang menunjukan waktu dzuhur. But then I remembered we were no longer in Jakarta. Kami mengecek waktu di handphone dan benar saja. Yang gue kira masih jam sepuluh nyatanya sudah jam dua belas. Jetlag alert! Hari itu adalah siang pertama yang benar-benar kami jalani di luar. Sebelumnya karena di dalam kereta kami tidak sadar.

We and Keiichi were heading for different directions after we bought our lunch in Lawson. Kami harus meneruskan perjalanan dan berpindah kota, sementara Keiichi memutuskan untuk menjelajah Osaka kembali. It was very nice to meet Keiichi and he showed us around and told us a brief story about Japan history. Indeed making new friends are one of those interesting experience in travelling by yourselves. We bid farewell to Osaka and moved to Kyoto with a new hope of finding more and more exciting experience. It had been a good time.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s