Japan Trip 2016 [Osaka] – Beyond The Universal Studios and Along Dotonburi Namba

img_0966

Before we had a chance to buy airplane tickets, we tried to think of possible route that we could go in order not to have wasted times and costs. Ada beberapa pilihan yang bisa diambil dengan jadwal kota yang akan dikunjungi adalah Osaka, Kyoto, dan Tokyo plus satu rute anti-mainstream, yakni nonton MotoGP ke Motegi yang terletak di Utsonomiya. Setelah memiliki tiket pesawat PP CGK – HND, keputusan memilih rute menjadi lebih mudah dan terpilihlah Tokyo – Osaka – Kyoto – Tokyo. Perkara lain yang menjadi pertimbangan adalah transportasi untuk berpindah kota.

We tried to avoid buying JR Pass karena menurut kami harganya sungguh keterlaluan mahal dengan memilih beberapa alternatif seperti mengambil penerbangan lagi dari Tokyo ke Osaka atau naik Willer bus dari Osaka ke Kyoto ke Tokyo. Namun ternyata biayanya justru melebihi membeli JR Pass. Pertimbangan-pertimbangan tersebut yang akhirnya membuat kami memilih JR Pass yang meski tekor di awal setidaknya kami bisa seenaknya keluar masuk stasiun dengan jaringan Japan Railway dan bebas naik Shinkansen kemanapun. JR Pass is totally worth the money if you did a lot of multicity traveling in Japan just like we did. Asal pinter membaca rute yang mana yang bisa pakai JR Pass dan yang bukan. I bowed to Kak Difa for noticing every station and every route that we passed using that JR Pass.

Perjalanan menggunakan Shinkansen dari stasiun Shinagawa memakan waktu selama hampir tiga jam. Kami sampai di Shin-Osaka sekitar jam 2 siang dan langsung bergerak mengejar kereta lain menuju hostel. Fair warning, Shin-Osaka tidak memiliki eskalator untuk naik maupun turun. Unless you are strong enough to bring up and down your suitcases, I’d recomend you not to bring too much luggage or too big in my case. Selanjutnya kami turun di stasiun Fukushima dan langsung menuju hostel yang jaraknya hanya sekitar lima menit berjalan kaki untuk drop koper dan cek-in.

Di Osaka, kami menginap di J-Hoppers, hostel yang ramah bagi budget traveler seperti kami karena harga permalam hanya berkisar di 2700 Yen untuk Female Dorm. Meskipun hostel sederhana, J-Hoppers Osaka ini sangat nyaman untuk ditempati. And that’s an opinion came from someone who had never been in dorm-kind of budget hostel. Jangan dibandingan dengan hotel berbintang lah, bisa ketemu tempat murah untuk tidur saja sudah bersyukur. However, you have to bear with ngangkat koper ke lantai atas karena di sana hanya ada tangga sempit yang lumayan curam. Untungnya kami ditempatkan di lantai 2. Itupun perjuangannya luar biasa karena koper kami masing-masing setidaknya berbobot 12 kg. Nggak kebayang kalo kami ditempatkan di lantai 5. Bisa-bisa encok sampe atas. Setelah mandi dan urusan hostel kelar, kami berangkat ke tujuan wisata pertama yakni Universal City Walk.

Sebagai budget traveler, nggak ada niat sama sekali dari kami untuk menghabiskan waktu seharian mengantri di wahana-wahana amusement park seperti Universal Studios Osaka, Tokyo Disney Land atau Tokyo Disney Sea. Biaya masuknya saja sudah setara biaya hostel dua malam. Namun tidak ada salahnya jika hanya mampir, melihat-lihat dan sekedar berfoto di depan gerbang dan bola dunia Universal yang terkenal itu. Universal City Walk sendiri seperti area mall yang dibangun untuk memfasilitasi lokasi Universal Studios tersebut. Kanan kirinya ada hotel dan berbagai macam restauran yang dibuat semeriah mungkin demi menyesuaikan dengan kemegahan yang terpancar dari Universal Studios.

 

It was on Tuesday, but it felt like weekend. Banyak sekali pengunjung yang berlalu-lalang dan berfoto. Kami saja harus menunggu untuk bergantian berfoto di depan Universal globe. Di tambah suasana saat itu sudah semakin sore dan cahaya matahari mulai meninggalkan bumi, orang-orang seperti terburu-buru menangkap momen bagus agar hasil fotonya keren. Gue sih tinggal ngotak-ngatik settingan kamera biar cahayanya tetep keren meski udah rada gelap (fotografer amatir nan sombong :p).

img_1049

The best pictures I took tonight, and Malia was being a good model

Pas jam makan malam, kami nggak punya pilihan selain mampir ke resto Italia yang sebenarnya diragukan ke halal-annya. Namun setelah ada beberapa orang berjilbab yang makan di sana juga, kami akhirnya memutuskan untuk masuk dan memesannya. Kerumitan selanjutnya di tahap pemesanan. Waiter dan waitress-nya nggak ada yang bisa bahasa Inggris sementara menunya ditulis dalam bahasa Jepang. Matilah. Bertanyapun nggak ada gunanya karena komunikasi kami terkendala bahasa. Kamipun hanya bisa menebak-nebak mana yang tidak menggunakan bahan-bahan yang haram untuk dikonsumsi muslim. Ujung-ujungnya mah bismillah aja lah. Masalah datang lagi ketika rasa makanan Italia ya begitulah. Gurih cheesy nggak jelas. Akhirnya terselamatkan oleh bekal Bon Cabe yang selalu gue bawa di tas kemana-mana (bukan iklan).

Perut sudah kenyang, keliling Universal City Walk udah (there’s not much to explore actually) maka saatnya pindah ke tujuan lain yakni Dotonburi Namba. Sesampainya di stasiun subway terdekat (yep, you need to change from JR Line to Subway Line to get here), kami sempat kebingungan mencari letak Dotonburi Namba tersebut. Senjata ampuh kami kalau hal ini terjadi adalah minta tolong GPS dan Google Maps. Entah karena males bersosialisasi dengan orang asing atau apa, pertolongan dari GPS dan Google Maps adalah yang paling realistis menurut kami. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya kami menemukan tempatnya.

Dotonburi Namba sendiri terlihat seperti distrik modern yang kanan-kiri jalannya dipenuhi oleh pertokoan yang didominasi toko makanan khas Osaka which are Takoyaki dan Okonomiyaki. I don’t really like them, but when you are in Japan it is a sin not to try their traditional food. Kamipun membeli delapan buah Takoyaki demi mengobati rasa penasaran dan membandingkannya dengan yang pernah kami cicipi di mall-mall Jakarta (tetep :p). Satu cerita lucu ketika kami menerima pesanan Takoyaki, di atas bulatan panas dan baru matang tersebut ditaburi entah apa namanya. Kami menertawakan benda tersebut yang bergoyang-goyang sendiri tanpa adanya dorongan angin atau apapun. Malia menjuluki makanan tersebut sebagai ‘Daun Goyang’ which is quite catchy.

img_1065

Takoyaki featuring ‘Daun Goyang’ :p

Talking about pertokoan di sekitar Dotonburi Namba, banyak ornamen-ornamen lucu macam kepiting atau gurita raksasa yang menggantung di atas pintu masuk restoran. Lampu-lampu yang dipasang juga menambah kemeriahan ornamen tersebut. Layar-layar gede memajang iklan-iklan yang quirky turut menambah keramaian yang udah dihadirkan oleh orang-orang yang berkumpul di sana. Ada di satu bagian dari Dotonburi dimana layar bergambar orang seperti orang lari menuju garis finish. Entah kenapa gambar yang sepertinya hanya billboard iklan biasa menjadi ciri khas dari Dotonburi Namba dan bahkan menjadi ikon promosi tempat mereka. Bagian favorit gue sih jembatan yang membelah kanalnya. Berasa di Venice tapi pake sentuhan modern ala Jepang. Tapi sayang pose gue nggak ada yang bagus pas foto di kanal.

Kami meninggalkan Dotonburi Namba sekitar jam 8 malam dan kondisi di kereta sudah tidak seramai sore pas kami menuju Universal City Walk. Menurut kak Difa, masih ada satu tempat lagi yang wajib dikunjungi ketika ada di Osaka yakni Umeda Sky Building. Mencari Umeda Sky Building sendiri bukan perkara mudah ternyata. Turun di Stasiun Kota Osaka yang super luas, kami harus berjuang mencari pintu keluar yang tepa. Sempat keluar-masuk beberapa kali dan berputar-putar di tempat yang sama dan tanya ke beberapa orang, akhirnya kami berhasil menuju trek yang benar untuk kemudian berjalan lagi sekitar satu sampai dua km. Don’t ask me the directions, I don’t remember a thing.

Sesampainya di Umeda Sky Building sekitar jam 9 malam, lampu-lampu gedung ternyata tidak menyala. Sangat disayangkan padahal gue pengen nyoba foto gedung yang hasilnya glowing gitu. Kebetulan gue bawa tripod hari itu. Agak gabut juga sih itu tripod. Berat iya, dipake jarang. Kami memutuskan untuk naik ke gedungnya dan menemukan penjaga yang memberitahukan bahwa jika ingin ke observatoriumnya kami harus membayar. Tentunya kami enggan untuk membayar hanya demi ke observatoriumnya, tapi untungnya kalau hanya untuk naik ke atas itu free. Walaupun tidak masuk ke observatorium, kami sempat melihat pemandangan kota Osaka di eskalator panjang yang hanya dibungkus oleh cermin. It was beautiful even we only witnessed it for a moment. Kerena memang tidak niat untuk masuk ke observatoriumnya, kami hanya naik turun eskalatornya saja. Saking panjangnya itu eskalator, kami sempat duduk di tangganya karena lelah. Maklum bocah kampung. Hahahaha.

Tadinya kami henda berfoto dulu di luar gedungnya. Lumayan buat kenang-kenangan walaupun gedungnya tampak gelap. Lalu kami sadar bahwa semakin malam angin bertiup semakin kencang. Kami kedinginan! Bahkan marmer yang akan kami duduki di sekitar gedung pun sangat dingin. Pas duduk rasanya kayak duduk di atas balok es. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja without a single photo taken kerena malam juga sudah mulai larut. Takut tidak kebagian kereta pulang ke hostel. Petualangan hari itu pun cukup di tiga tempat saja. Hari esok akan menjadi hari baru dengan petualangan baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s