A Day in Bandung

 

IMG_0781

Seharian di Bandung? Bisa apa?

Pertanyaan yang terdengar sepele tapi jawabannya bisa sepanjang cerpen tiga lembar macam postingan ini. Bandung memang memiliki banyak sekali tempat untuk dikunjugi. Tidak hanya di pusat kotanya saja, Bandung beserta kota-kota pendampingnya menawarkan keindahan dari yang bernuasa modern sampai natural. Rabu yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik tercinta ini (17/8), gue dan beberapa teman lain dari Jakarta berkesempatan untuk menengok Kota Kembang yang di sponsori oleh Enter Traveller dan kami berkunjung ke dua tempat yang sedang ngehits di sana, Farm House dan Bukit Moko.

Farm House

Blog3

Resiko mengambil one day drip adalah kemacetan yang tidak bisa diprediksi. Ketakutan tersebut menjadi nyata ketika jam 11 siang saja kami masih terjebak kemacetan di titik menjelang destinasi pertama kami tersebut dan berhasil parkir dan turun dari mobil untuk menuju Farm House pada pukul 12.30.

Sedikit tentang Farm House, ini merupakan sebuah tempat di Bandung yang terkenal dengan Rumah Hobbit dan produksi susunya. Gue sempat melihat beberapa teman yang berkunjung dan berfoto di sana dan sepertinya akan jadi destinasi yang bagus untuk melepas penat. Sebelum melihat tempatnya dengan mata kepala gue sendiri, gue pikir Farm House itu dibangun di atas dataran yang luas dengan hamparan rumput hijau di mana-mana. Semacam pemandangan yang ada di bukit Teletubbies gitu. Bayangan akan mini Shire yang ada di New Zealand juga sempat terlintas di kepala gue. Gue pun tidak pernah ada niatan untuk browsing dan mencari informasi karena saking overwhelmed-nya akan desas-desus ketenarannya.

Sesampainya di sana, ternyata Farm House tidak seluas yang gue bayangkan. Tempatnya dipenuhi oleh bangunan-bangunan ala-ala Eropa yang hanya dipisahkan oleh jalan setapak. Atmosfir yang berhasil dibangun mengingat banyak orang-orang berfoto di sekitarnya. Bahkan mereka rela mengantri untuk menyewa dan memakai pakaian tradisional dari Swiss (?) demi mendapat settingan yang pas.

Di beberapa bagian terdapat taman-taman dengan bunga yang warnanya bervariasi. Hiasan dan dekorasinya membuat para pengunjung berfikir bahwa mereka tidak lagi berada di Bandung, melainkan di salah satu negara Eropa. Namun pagar-pagar yang membatasi tanaman dengan manusia tersebut cukup mengurangi keindahannya. Gue pribadi paham mengapa mereka membuatnya seperti itu. Jangan sampai kejadian di Kebun Bunga Amarillys di Gunungkidul itu terulang.

Daya tarik yang paling diburu orang-orang yang berkunjung ke Farm House adalah Rumah Hobbit. Rumah tersebut sengaja dibangun agar menyerupai bentuk aslinya yang terdapat di film trilogi Lord of The Rings dan The Hobbit. Halamannya menjadi rebutan para pengunjung untuk berfoto. Saking banyaknya pengunjung, mereka bahkan harus antri demi mendapat foto di depan rumah tersebut.

Highlights lain yang menurut gue keren adalah arena di mana beberapa domba berkeliaran di antara para pengunjung yang ingin berfoto dengan mereka. Entah siapa yang sampai terpikirkan ide jenius seperti itu. Those sheep were so cute that you just wanted to grab one and brought it home. Di sekitar tempat tersebut juga banyak dekorasi-dekorasi unik yang diadaptasi dari beberapa budaya asing. Lagi-lagi sulit untuk mengambil foto sempurna karena banyaknya orang yang mengambil foto.

Karena keterbatasan waktu, kami hanya diizinkan untuk menjelajahi tempatnya selama 1jam 30menit. Merasa diburu-buru dan sedih sih, tetapi waktu tersebut sudah cukup membayar rasa penasaran gue terhadap tempat tersebut. And FYI, tiket masuk yang hanya seharga Rp.20.000,00 itu bisa ditukar dengan segelas susu dengan berbagai pilihan rasa. I had the chocolate one, and it was delicious.

Bukit Moko

Blog13

Muka capek padahal masih setengah jalan. Xp

Berbeda dengan Farm House yang memukau pengunjung dengan konsep bergaya Eropa-nya, Bukit Moko menyajikan sesuatu yang menjadi ciri khas pariwisata Bandung dengan bukit-bukit yang menjulang dan pemandangan lampu kotanya. Gue tidak tahu persis di mana letak Bukit ini, hanya saja kami sempat berputar-putar beberapa kali lantaran di antara rombongan tur hanya beberapa orang saja yang tahu tempatnya. We ended up spending two hours before we reached the slope of the hill.

Perjalanan menuju Puncak Bintang yang terkenal pun tidak semudah yang dibayangkan. It was about an hour (or longer but felt like forever) uphill battle dengan jalan yang kadang mencapai kemiringan sampai 45 derajat. Penumpang satu mobil tidak ada yang sanggup melihat ke depan atau ke atas saking ngeri nya. Bahkan beberapa dari kami tertawa cekikikan karena tidak tahu harus bagaimana lagi mengekspresikan ketakutan kami. Namun memang benar apa kata orang, sesuatu yang indah memang tidak mudah untuk dicapai.

Blog20

I gotta say I was impressed with this place. Gue lupa kapan terakhir kali gue naik ke bukit setinggi itu dan duduk-duduk menunggu malam hanya untuk menyaksikan pemandangan lampu kota. Probably years ago, but that was exactly what we did last Wednesday. Dan di saat itu pula saya #baper dan berharap kabogoh, nu masih bobogohan jeung batur entah di mana, calik di gigireun uing. 😦

Hanya bukan malam saja yang kami tunggu waktu itu, tetapi juga pemadangan matahari terbenam di balik lapisan-lapisan bukitnya.  Gue yang saat itu membawa tripod dan kamera yang lumayan bagus segera mengatur posisi untuk mengambil gambar terbaik dari berbagai sudut. Sayang saat itu cuaca sedang tidak bersahabat karena sang matahari tertutup awan tebal dan kota Bandung pun diselimuti kabut.

Tidak hanya itu, Bukit Moko dengan Puncak Bintangnya juga menawarkan gugusan hutan pinus yang lebat. Pohon-pohon yang menjulang seolah ingin mengkerdilkan kami, manusia-manusia pendek yang hanya bisa mendongak dari bawah. Kelakar Edward Cullen ala Twilight pun berluncuran dari mulut kami. Just a friendly advice, sebaiknya olahraga yang rutin dulu sebelum berkunjung ke sana. Percaya deh, nanjaknya bikin pengen minum air putih segalon. Luar biasa capek, or was it just me who was lack of physical endurance? Either way, sarannya patut dipertimbangkan.

Menurut gue, waktu terbaik untuk berkunjung ke Bukit Moko adalah setelah malam turun. Mungkin kalian tidak akan mendapat pemandangan matahari terbenam, tetapi jika langit Bandung bersih bayangkan taburan bintang di langit yang bisa ditatap yang beriringan dengan pemandangan kelap-kelip lampu kota. It’s going to be majestic, I bet. Sayang kemarin waktu kami sempit karena mengejar kepulangan kembali ke Jakarta. Kami hanya bertahan sampai sehabis magrib saja, dan segera turun untuk mencari makan agar tidak masuk angin saat perjalanan pulang.

Despite of the traffic and everything else that we didn’t wish to happen on this trip, gue merasa puas dan bahagia. Bandung masih menampilkan pesona yang sedari dulu tidak pernah berubah. Mungkin yang kurang hanya kadar kesejukannya saja (it used to be very cold there). Ruginya one day trip adalah, gue merasa seperti berkunjung ke Bandung hanya dalam mimpi saja karena hari berikutnya gue harus kembali mengais rejeki. Namun secara keseluruhan, Enter Traveller sudah menjadi partner trip yang oke dan recommended banget deh. I am satisfied with everything they did to make this trip to be successful and fun. Will I be back to Bandung for more adventure? I’d say yes! I’m still after that stars and city lights picture from Bukit Bintang.

IMG_0762

With fellow travellers

P.S: For those of you who seek for an escape way from your hectic real world, Enter Traveller can be your best solution for your getaway plans. Kindly check their Instagram page for more information about their upcoming trips. Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s