Sepang Trip 2: Off Track

DSC_0270

Batu Cave

Since MotoGP changed the title A Sideway Glance to Off Track, I did the same thing with this article that tells you everything that doesn’t have any connection at all to the circuit and the race. Untuk perjalanan kali ini, gue sengaja menyisakan dua hari bebas yang akan digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat iconic lain yang belum sempat dikunjungi tahun lalu. I was also accompanied by another friend which has no interest to Racing at all, Malia, my classmate from college. Tahun ini kami banyak merasakan pengalaman baru, diantaranya mengunjungi Genting Highlands dan Batu Cave, serta berjalan-jalan menggunakan transportasi umum. What are on those places? Here they are.

Genting Highlands

WP_20151023_12_30_38_Pro

Our agreement before we slept in the night we arrived in KL was to wake up as morning as possible in order to catch two places in one day. Apa yang terjadi justru sebaliknya. We woke up when the clock hit 8.30 am and we ended up leaving for Genting Highlands at 10. Kami sampai tepat 15 menit sebelum bus jam 11 berangkat. Harga tiket bus one way trip sudah termasuk tiket untuk menaiki Sky Train. It was a one hour journey with up hill ride by bus before we arrived at the Sky Train station.

Genting Highlands sendiri sebenarnya kurang lebih semacam Puncak-nya Kuala Lumpur. Udara yang sejuk dan pemandangan hijau hutan bercampur dengan warna putih kabut tersaji di sejauh mata memandang. Sesampainya di tujuan Sky Train, di tempat tersebut ternyata terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan sebuah Theme Park! Banyak spot bagus untuk berfoto-foto juga. Malia yang juga seorang pemilik butik online, Malika Project, memanfaatkan moment itu untuk photoshoot berbagai macam produknya. We were having fun taking pictures.

Turun kembali ke tempat semula, kami harus membeli tiket untuk Sky Train lalu membeli tiket bus untuk pulang ke Kuala Lumpur. Namun kami dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa kami harus menunggu bus sampai jam 5.15 karena tiket untuk bus-bus sebelumnya sudah habis dan saat itu baru jam 3 sore. Kamipun mati kebosanan di mushola. Tujuan selanjutnya pun tidak jadi dikunjungi karena ketika sudah sampai di KL sudah magrib.

Central Market (Pasar Seni)

DSC_0205

Fotonya blur semua. XD

Sebenarnya tahun lalu gue sudah berkunjung ke sini, namun karena Malia belum pernah berkunjung dan demi permintaan Bapak yang ingin memiliki miniatur Petronas Twin Towers yang lebih besar dari yang gue belikan tahun lalu maka gue berkunjung lagi kemari. That was the only thing I bought there, though. I couldn’t afford to buy the same things for my friends. Ditambah harga merchandise di sana sebenarnya lumayan mahal. Jika masih punya banyak waktu untuk menjelajahi KL untuk berbelanja oleh-oleh, Chinatown atau Hanifa bisa jadi pilihan sebenarnya. Namun waktu kami hari itu tidak banyak, jadi setelah mendapatkan pesanan Bapak dan berfoto, kami langsung pulang.

DSC_0175

Dipilih, dipilih, dipilih. :p

Malaysia’s Public Transportation

WP_20151023_20_05_16_Pro

Malia posed before we departed with MRT

This year was the second time I visited Kuala Lumpur, but it felt like the first time for me due to the taking of its public transportation karena suami Mano, satu-satunya orang yang bisa mengendarai mobil, sedang keluar kota untuk akhir pekan itu. Yup, gue memang kembali menginap di apartemen Mano yang letaknya masih di Damansara which is a suburban area, namun unit apartemennya sudah berpindah dari yang ditempatinya tahun lalu. Selain masalah membengkaknya budget, sebenarnya menyenangkan menaiki transportasi umum di sana, terlebih jika lokasi tempat kita tinggal berada di sekitar Kuala Lumpur Sentral Station. Dari MRT, Rapid KL, bus ke tempat wisata, sampai taksi sudah kami cicipi.

WP_20151023_11_28_34_Pro

Malia and I on the bus to Genting Highlands

Jika dibandingkan dengan transportasi yang ada di Jakarta, MRT mungkin mirip dengan Commuter Line, sementara Rapid KL serupa dengan TransJakarta. Hanya saja Rapid KL tidak mempunyai halte spesifik seperti TransJakarta. Selain taksi dan bus ke tempat wisata, sistem pembayaran transportasi mereka juga sama dengan yang Jakarta punya yakni menggunakan kartu semacam eMoney yang bisa diisi ulang. Masalah ketersediaannya, hanya Rapid KL yang menurut kami kurang efisien karena waktu itu kami menunggu sampai lebih dari satu jam untuk bus ke Damansara.

Petronas Twin Towers

WP_20151024_21_27_33_Pro

It’s a very beautiful picture of Petronas Twin Towers. And then there’s a wood. :/

Keramaian pengunjung di sirkuit berimbas pada keramaian di salah satu ikon bangunan di Kuala Lumpur, Petronas Twin Towers. Orang-orang sudah tumpah ruah di depan Mall KLCC saat kami tiba di sana. Jangankan untuk berfoto bersama, untuk duduk dan menyaksikan pertunjukan air mancur saja kami berdesak-desakan. Sayangnya malam itu tidak semua lampu menara dinyalakan, jadi keindahannya pun berkurang. Gue, Tristan, dan Kak Difa pun tidak jadi berfoto bersama karena sulit mencari sudut yang pas di tengah keramaian.

Setelah mereka berpamitan, gue beralih ke tempat di mana Mano dan Malia berada. Meski sudutnya kurang pas, kami berhasil mengambil beberapa gambar menara yang cukup megah. Hujan yang turun malam itu membuat orang-orang yang tadinya berkumpul di sekitar danau berlarian ke sana-ke mari mencari tempat untuk berlindung. Untungnya tempat kami bersantai terdapat sebuah tempat berteduh. Ternyata hujannya hanya menakuti pengunjung saja.

Batu Cave

DSC_0301

Akhirnya tahun ini kesampaian berkunjung ke salah satu tempat ikonik di Kuala Lumpur. Semenjak melihat keindahan Batu Cave di Asia’s Next Top Model Season 1 di episode 2, gue sudah jatuh cinta dan ingin sekaali berkunjung ke sana. Senin pagi sebelum ke Bandara, kami pun diantar oleh Mano dan suaminya untuk berkunjung ke sana.

Tempat ini sebenarnya merupakan sebuah tempat peribadatan umat Hindu di KL. Tantangan di tempat ini adalah menaiki beratus-ratus anak tangga untuk sampai ke gua di mana terdapat beberapa kuil untuk beribadah di atasnya. Karena tidak ada satupun yang mau menemani gue naik, akhirnya gue naik sendiri dan berhasil mencapai mulut gua dengan peluh bercucuran di sekujur tubuh.

Luar biasa capek, but it was worth it. Lutut gue gemetar saat harus kembali naik-turun tangga di dalam gua. Salah satu ciri khas Batu Cave adalah banyaknya kera yang berlalu lalang di tangga maupun di dalam gua. Sempat khawatir akan kehadiran mereka juga sebenarnya, namun ternyata semuanya aman-aman saja jika kita tidak membawa makanan. Selama sekitar 30 menit di dalam gua, gue berhasil mengabadikan beberapa sudut indah dari tempat tersebut. Have a look bellow.

Kunjungan Kuliner

Di hari kepulangan suami Mano, gue dan Malia diajak ke dua restauran yang sering mereka kunjungi di Kuala Lumpur. Restauran pertama adalah D’Lala Seafood yang letaknya masih di Kuala Lumpur. Dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau restauran ini menyajikan makanan laut yang sangat mengugah selera. Namun bukan itu yang menarik bagi gue dan Malia. Mano membelikan kami salah satu makanan khas restauran, namanya Pulut Mangga. Makanan tersebut merupakan kombinasi dari ketan putih yang di atasnya ditaburi susu vanilla dan disajikan dengan potongan mangga matang. Weird, but delicious. Sebenarnya itu makanan penutup, namun Mano memesannya di awal sebelum makanan utama datang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pulut Mangga

Restauran ke dua kami kunjungi setelah kunjungan pagi kami ke Batu Cave. Restauran yang letaknya di Kampung Nahkoda Kanan di area Selayang tersebut menyajikan berbagai makanan khas Malaysia. Diantara yang kami pesan adalah Roti Tisu. Namanya memang Roti, namun makanan yang datang sama sekali tidak mirip roti. Gue akui ini pertama kali gue melihat Roti Tisu. Ketika memakannya, lidah akan merasakan kombinasi manis gurih dan asin yang unik. Malia bilang makanan ini juga disajikan di salah satu restauran di Kemang dengan ketinggian di atas normal.

Itulah tempat-tempat yang gue kunjungi di kunjungan kedua gue ke Kuala Lumpur. Sebenarnya Malia dan Mano berkunjung ke beberapa tempat selama gue di Sirkuit. Diantaranya Gedung Pemerintahan yang ada di Petaling Jaya, Hanifa yang katanya pusat jajanan cokelat murah, dan Chinatown. Namun karena gue tidak ikut serta, jadi gue tidak bisa menceritakan detail tempat tersebut.

Despite of the haze that was really bothering, I had quite good time travelling to KL fot the second time with Mano and Malia. I might return next year, I might not. Time will tell. But this journey was one of the best I’ve been into and something that I have to keep in mind. Hoping to get some place else next time.

P.S:

Special thank you kembali gue hantarkan untuk Mano and her husband, tuan rumah yang sangat sabar mengantarkan kami kemana-mana walau lelah yang tak biasa kerap melanda. Harap maafkan gue dan Malia kalau kami banyak merepotkan. Untuk Malia, terimakasih sudah mau gue ajak menemani gue di KL walau Sabtu-Minggu gue nggak bisa jalan sama kalian. I hope you really enjoyed your first visit to KL. Jangan kapok jalan-jalan sama gue ya, Mal. :*

WP_20151023_10_52_59_Pro

Thank you, ladies. :*

Advertisements

3 thoughts on “Sepang Trip 2: Off Track

  1. First time nya gue baca blog dengan sangat bangga. There was my name maaaan, lol.
    Well, it was my exciting trip with you guys.. Maybe we can spend for another trip. Would U? 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s