Sepang Trip 2 – The Unusual Race Day

WP_20151025_17_45_08_Pro

RACE DAY

When I woke up to the tenth time of my alarm sound that morning after having a great day down the Paddock on Saturday, I was expecting another great day on the Race Day. Balapan di Phillip Island membawa harapan besar pada gue dan seratus ribu lebih penonton lain yang akan datang ke sirkuit hari Minggu itu bahwa keseruan yang setidaknya menyamai balapan di Australia akan dihadirkan di tengah kumpulan kabut asap yang menaungi Sepang International Circuit (SIC). Namun ternyata apa yang kami saksikan melebihi semua ekspektasi yang ada di benak para fans.

Taken with Lumia Selfie

Sejak mengetahui bahwa tiket MotoGP Sepang sudah habis terjual sekitar satu minggu sebelum acara, gue sudah memprediksi bahwa keramaian yang melebihi tahun lalu akan hadir di setiap tempat yang berhubungan dengan pagelaran MotoGP. Antrian di konter Shuttle Bus, duduk lesehan di bus ke sirkuit, keramaian pagi yang tak normal di Mall Area SIC, bahkan banyak orang yang sudah menempati spot-spot terbaik di Main Grand Stand (MGS) adalah beberapa keramaian yang tidak gue temui tahun lalu di pagi dan jam yang sama. Sebagai Pedrosistas, Gue, Tristan, dan Kak Difa seharusnya menempati tribun paling depan di posisi Pole di mana Dani Pedrosa akan memulai balapan. Namun ternyata orang lain sudah terlebih dahulu menempatinya. Maka kami bergeser sedikit ke kiri tepat di antara lampu start dan garis finish. Nyaris di seluruh tribun saat itu didominasi oleh pendukung berbaju kuning cerah khas warna Valentino Rossi sementara fans Marc Marquez terkonsentrasi di sepanjang tribun Diamond tepat di atas kami. Fans club lain cenderung terpisah-pisah.

WP_20151025_11_32_14_Pro

MotoX2 riders

Sisanya sama seperti tahun lalu di mana acara dibuka dengan sesi Warm Up ketiga kelas dan pertunjukan MotoX2 yang menampilkan dua pembalap dengan dua motor yang didisain khusus untuk membawa penumpang. Sekali lagi, jika ada yang menawarkan gue untuk berada di atas motor tersebut bersama pembalapnya secara gratis, I’d be glad to say yes. Lalu kemunculan Grid Girls yang selalu mengundang decak nakal dan siulan para penggemar laki-laki yang mendominasi penonton yang hadir. Para Track Marshall yang gemar menggoda para penonton untuk bersorak setiap kali nomor pembalap terkenal yang mereka pegang diangkat. Sampai pada rangkaian acara balapan dari kelas terendah sampai di kelas tertinggi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah seorang Track Marshall yang memegang nomor motor Dani.

Perbedaannya hanya tertetak pada balapan Asia Talent Cup yang musim lalu digelar sebelum semua balapan kelas utama, musim ini digelar setelah balapan kelas utama rampung. Tujuannya untuk meredam penonton agar mereka tidak mengadakan Track Invasion dadakan seperti tahun lalu, and it worked!

WP_20151025_11_27_41_Pro

Just the three of us, Pedrosistas, against the rest of the fanclubs.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan di race day karena tribun di MGS dipenuhi oleh banyak sekali penonton. Beberapa diantara mereka sampai duduk di bagian tangga dan berdiri di belakang tribun sehingga menyulitkan beberapa penonton yang hendak keluar-masuk tribun. Baru kali itu gue berdiri dari race Moto3 sampai race MotoGP selesai. Karena bergerak menjauh sedikit saja kami akan kehilangan tempat bersandar di pagar. Ketidak hadiran matahari di sana pun tidak membantu banyak karena panas dan haus justru semakin diperparah akibat banyaknya orang yang datang. Stok air putih di para penjual di area sirkuit sudah habis bahkan sebelum balapan Moto3 dimulai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

We witnessed this ritual again this year.

Semua masih berjalan normal sampai pada balapan MotoGP akan digelar. Seperti biasa bagi kami yang berada di MGS, Dani melakukan ritual ‘siraman’ yang selalu dilakukannya ketika di Sepang. Dia sepertinya tidak sadar bahwa rutinitasnya mengundang jeritan dari para wanita yang menggemarinya.

WP_20151025_14_57_41_Pro

Our heroes are about to have their races.

Menonton di tempat yang sama di tahun lalu dengan posisi yang lebih rendah tentunya masih menyulitkan gue untuk mengetahui apa yang terjadi di balapan. Layar yang jauh dengan sudut yang sangat sulit untuk dilihat juga tidak membantu banyak. Maka saat balapan dimulai dan para penonton bersorak setiap kali Valentino Rossi melakukan overtake, kami terlalu lambat untuk menyadarinya. Sampai kami melihat duel seru antara Marquez dan Rossi, riuh rendah sorakan penonton semakin menjadi ketika Marquez jatuh saat dirinya berduel dengan Rossi. Ada yang mengutuk Rossi, tidak sedikit juga yang mensyukuri kejatuhan Marquez di sekitar kami.

Taken with Lumia Selfie

This was the excitement after Dani crossed the finish line ahead of Lorenzo and Rossi

Dari kejadian itu, menonton balapan pun sudah tidak fokus lagi. Sampai Pedrosa menyentuh garis finish dan mengklaim kemenangan keduanya di musim ini, orang-orang sibuk membicarakan insiden antara Rossi dan Marquez. Apalagi setelah Race Direction memutuskan bahwa kejadian itu bukanlah Racing Incident. Somebody was gonna get punished and I was guessing it would be Rossi. Sisanya merupakan sejarah kelam yang sudah sepatutnya dilupakan oleh siapapun dari mereka yang mengklaim satu pembalap lebih benar dari pembalap lain.

B612_20151025_155330

We were so happy for Dani’s win!

Beberapa kejadian lain juga mewarnai acara menonton balapan kami saat itu. Diantaranya kegiatan gue dan kak Difa yang di sela-sela balapan selalu memperhatikan dan membicarakan para marshal yang mengganti jumlah lap yang dilakoni pembalap. Lumayan ampuh untuk menunggu sampai suara motor kembali terdengar di tikungan terakhir sebelum melewati kami. Lalu Jorge Lorenzo yang melewatkan sesi foto podium akibat tidak tahan akan sorakan dengan nada mengejek yang terdengar hampir dari seluruh bagian tribun. Gue hanya tersenyum miris mendengarnya. Ada juga wawancara di atas podium dengan Dani yang dilakukan oleh pembawa acara. Lumayan bisa melihat Dani di sana lebih lama. Gue juga bersyukur komentator yang suara dan logatnya mirip komentator bola tarkam di kampung sudah tergantikan oleh sang presenter yang berbicara bahasa inggris.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Podium time! Couldn’t take picture any better with the roof in our sights.

Things were heating up for us when some idiot ugly guy grabbed Tristan’s flag which hanged on the fence and claimed it was his because he was the one who took it. Untungnya gue dengan sigap merebutnya dari dia sambil berteriak keras “It’s ours!” berkali-kali. Tristan dan Kak Difa yang melihat gue berteriak langsung membantu dan akhirnya dia melepaskannya dan pergi begitu saja. What a dick! Tangan gue sampai gemetar karena itu. We saw this coming somehow because last year it also happened to one of Tristan’s friends. I’m just glad I didn’t cry after that. *Masih ngeri loh ini Cuma nginget-nginget doank juga* :/

20151025_154810

Setelah ambil bendera, langsung pindah ke atas untuk pemandangan podium yang lebih kece. 😀

Sebelum pulang, kami seperti biasa hendak membeli merchandise yang dijual oleh beberapa konter sposor. Betapa terkejutnya kami saat harga dari barang-barang tersebut naik sekitar 20% dari harga tahun lalu. Topi original pembalap yang sebelumnya dibandrol RM150 kemarin menjadi RM160. Kaus pembalap apalagi. Satu-satunya kaus dengan label 26 milik Dani dihargai RM200 dimana tahun lalu gue bisa mendapatkannya dengan harga RM175. Bendera official Dani pun naik dari RM100 menjadi RM120. Sisa uang gue saat itu nanggung sekali. Jika beli kaus, maka topi titipan Anis tidak akan terbeli. Akhirnya gue memutuskan untuk membelikan titipan Anis saja.

20151025_174601

Lining up for the bus on our way home.

Kembali ke balapan, the talk about the incident didn’t end after we left the circuit with amazing feelings because Dani won that day. Despite of that fact, we saw the footage of the incident over and over again on our way home after lining up for the bus and we kept the news updated with our Twitter feed. It was just ashamed that Dani’s win was under appreciated due to the incident. He was brilliant that day.

20151025_162329

#DP26

I can say I didn’t regret at all coming to Sepang two years in a row. This year was certainly better in everything. From Saturday with its Paddock sensation to some madness on Sunday race which ended with Dani’s win and the incident that lasted for weeks until Valencia show down, it was almost perfect. There is nothing better than being there to witness something great for something that you love for a long time. I have made a promise to myself that I will be back next year with one condition only, and that condition would be Dani being a serious title contender. I guess I’d better start praying for him now. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s