Getaway Singapore – #SuperSoccerGoesToSingapore Part 1

WP_20150716_004

Singapore Iconic Buildings

Tujuan awal gue jika diberi kekuatan finansial untuk berkunjung ke Singapura (SG) adalah untuk menonton balapan Formula1 yang digelar di tengah gemerlapnya cahaya malam di Marina Bay Street Circuit. Dalam setahun atau dua tahun ke depan rencana tersebut akan segera diwujudkan. Tetapi Allah ternyata punya rencana lain di samping rencana yang telah gue buat (Allah always does). Tahun ini tanpa diduga dan tanpa dikejar, undangan untuk berkunjung ke Negeri Singa datang begitu saja saat gue mengikuti kompetisi blog di akun Twitter @my_supersoccer dan artikel gue menjadi salah satu yang terbaik.

Sebagai salah satu dari dua pemenang kontes blog #SuperSoccerGoesToSingapore, gue tidak hanya diberi kesempatan untuk mengunjungi negara yang luasnya tidak lebih dari luas kota Jakarta tersebut secara cuma-cuma, namun juga untuk menjadi salah satu dari ribuan penonton yang akan datang ke The National Stadium of Singapore untuk menyaksikan laga persahabatan antara klub Liga Inggris Everton vs Stoke City dan Arsenal vs Singapore XI dalam tajuk Barclays Asia Trophy (BAT) 2015. BAT sendiri merupakan ajang pramusim tahunan yang digelar oleh sponsor resmi English Premiere League (EPL). Selama dua hari satu malam, gue dan Nensi, rekan pemenang kontes, berpetualang di Singapore dengan modal nekat karena hanya pemenang yang diberangkatkan ke SG dan itu adalah pertama kali kami berkunjung ke negara tersebut.

Setelah urusan akomodasi selesai, kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta hari Rabu pagi untuk kemudian mendarat di Bandara Changi jam 2.30 waktu setempat. Sempat mengagumi tata letak dan kemodernan Changi selama beberapa menit, kami harus bergegas ke hotel jika tidak ingin terlambat untuk ke Stadion. Maka tujuan kami selanjutnya adalah menemukan transportasi yang bisa membawa kami ke kota.

Singapura merupakan negara yang terkenal akan keteraturannya. Salah satu keteraturan yang paling terkenal adalah sistem transportasi mereka. Mass Rapid Transit (MRT – Sistem perkeretaapian di SG) dan bus-bus diberi nomor sesuai rute yang dilalui. Sistem pembayarannya pun sangat mudah, hanya diperlukan satu kartu yang diberi saldo minimal 5 dolar seseorang bisa bebas berkeliaran sesuka hati baik menggunakan MRT atau bus. Untuk mendapatkan kartu tersebut memang perlu mengantri di loket pembelian tiket, namun lamanya mengantri akan segera terlupakan karena kemudahan tersebut. Percayalah, ketiadaan kartu akan menyusahkan perjalanan kalian di SG. Belum lagi pemborosan uang karena jika membeli tiket sekali jalan di General Ticketing Machine, uang yang bisa dipakai hanya uang logam sampai nominal 10 dolar. Ditambah setiap naik bus, jika uang yang kita berikan melebihi tarif tidak akan ada uang kembalian.

20150715_153519

Heading towards the city.

Anyway, dari Changi kami naik MRT, transit satu kali di Stasiun Tanah Merah dan turun di Stasiun Aljunied, stasiun terdekat ke hotel menurut Google Map. Setelah berputar-putar di Geylang Road (yang ternyata nomornya banyak sekali) dan bertanya ke sana-ke mari selama kurang lebih 30 menit, akhirnya kami menemukan hotel yang telah dipesankan untuk kami sebagai bagian dari akomodasi. Sadar badan bercucuran keringat sehingga baju menjadi basah semua, kami memutuskan untuk mandi dan berganti baju.

20150715_174432

Me with the ticket in front of our gate.

Kami tiba di Singapore Sports Hub (semacam gelanggang olah raga yang fasilitasnya lengkap sekali) sekitar pukul 5.30 sore setelah sebelumnya menaiki bus selama kurang lebih lima menit. Anak tangga yang harus dilewati ketika akan menuju Stadion luar biasa banyak. Dengan kondisi dehidrasi karena hari itu bertepatan dengan hari ke-28 di bulan Ramadhan, anak tangga-anak tangga tersebut membuat gue ingin menangis. Literally. Berbekal tiket dan sebuah tumbler berisi air (yang ternyata diizinkan untuk dibawa) untuk berbuka puasa, maka kami menjumpai lagi anak tangga sebelum akhirnya menyaksikan sendiri kemegahan The National Stadium of Singapore.

20150715_203007

The National Stadium of Singapore

I’ve been to GBK, I’ve been to Istora Senayan, but this stadium just felt different. Kemegahan dari tata letak dan disainnya luar biasa. Stadion yang dibuka tahun lalu itu berkapasitas 55.000 orang dan memiliki dua layar besar di kedua ujungnya. Atapnya yang bisa menutup dan terbuka juga memiliki layar LED yang didisain untuk memeriahkan pertandingan saat terjadi gol (setidaknya itu yang terjadi saat gue menonton di sana). Gue sempat tercengang beberapa saat sebelum akhirnya menemukan tempat duduk yang tertera di tiket kami. Tiba-tiba pikiran gue melayang ke Emirates Stadium. Entah karena pengaruh akan menonton Arsenal atau nuansa kursi yang dicat merah-putih.

Pertandingan pertama pada hari itu antara Everton vs Stoke City digelar tidak lama setelah kami datang. Saat peluit kick-off dibunyikan, perhatian kami yang tadinya fokus ke jalannya pertandingan sedikit teralihkan ketika pendukung Stoke yang sepertinya berasal dari Inggris yang tersebar di kursi di depan kami mulai meneriakan nyanyian (chant) yang biasa mereka nyanyikan saat Stoke bertanding di kompetisi sungguhan. Chant mereka saling berbalas dengan pendukung Everton yang berkumpul di sisi lain stadion. Salah satu dari mereka yang teriakannya paling kencang memakai jersey away yang penuh dengan tanda tangan pemain di nomor punggungnya. Berkali-kali dia memimpin rekannya ngechant. Satu hal yang menarik dari mereka adalah mereka tetap menanggap laga persahabatan ini serius saat mereka terlihat cemas ketika pertandingan berakhir dengan skor kacamata dan berlanjut ke adu penalti. Stoke City kalah 5-4 oleh Everton dalam adu penalti tersebut karena salah satu penendang mereka, Marco van Ginkel, tendangannya ditepis oleh Tim Howard. Mereka meninggalkan stadion segera setelah pertandingan selesai tanpa gue sempat meminta foto mereka. Bagi gue yang tidak bisa fokus karena menunggu waktu berbuka di sana terasa lebih lama (Jam 6.45 masih terang gitu), menyaksikan skor 0-0 di layar terasa sedikit membosankan.

20150715_175228Saat seisi stadion riuh dan orang-orang berbaju Arsenal mulai berdatangan dalam jumlah yang tidak sedikit, maka kami tahu bahwa para pilar Arsenal yang akan dimainkan sedang melakukan pemanasan di lapangan dan pertandingan kedua antara Arsenal vs Singapore XI akan segera digelar. Kami melihat Petr Cech, Jack Wilshere, Per Mertesacker, but no Olivier Giroud or Aaron Ramsey sadly. Jalannya pertandingan sendiri cukup menarik. Selain beberapa pertunjukan skill memukau yang biasanya hanya bisa dilihat di tv, di luar dugaan Singapore XI bisa mengimbangi permainan Arsenal meski beberapa kali menerima serangan yang berbahaya. Arsenal yang di pertandingan itu kebanyakan menurunkan pemain-pemain mudanya berhasil mengungguli Singapore XI dengan skor 4-0 di mana 3 diantaranya dicetak oleh Chuba Akpom dan satu oleh Jack Wilshere. Saat pertandingan masih berlangsung, kamera lapangan sempat beberapa kali menyoroti bench yang diisi oleh Mesut Ozil, Calum Chambers, Ramsey, Cech, dan pemain-pemain lain. Tidak lupa juga menyoroti sang arsitek yang menukangi Arsenal sejak tahun 1996, Arsene Wenger.

20150715_174806

Me and Nensi enjoying the game.

Dua pertandingan hari itu selesai dengan Everton dan Arsenal yang mengantongi kemenangan dan berarti juga mereka akan bertemu di final hari Sabtu depannya. Seolah tak rela meninggalkan stadion, kami mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenang-kenangan bahwa kami pernah di situ dan menyaksikan langsung BAT2015. Sebagai penggemar sepakbola yang kali itu baru pertama mengecap pengalaman menonton pertandingan sepakbola sungguhan langsung di stadion, gue semacam tidak rela meninggalkan keriuhan itu. Keriuhan yang jarang gue nikmati ketika menonton bola. Bahkan sensasi keriuhan nonton bareng pun kalah dengan sensasi keriuhan di stadion langsung. Seandainya yang tadi gue tonton adalah Manchester United, klub kesayangan gue, mungkin sensasinya akan lebih exciting lagi. Kami mengikuti arus penonton yang berbondong-bondong meninggalkan stadion. It had been a fun night watching the game and involved in the euphoria. Kami berjalan kaki ke hotel dan bisa ditebak, saat sampai di sana kami tidak melakukan apa-apa lagi selain update status di Path, upload foto di Instagram, dan tidur. :p

This way is PART 2.

Advertisements

2 thoughts on “Getaway Singapore – #SuperSoccerGoesToSingapore Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s