Ketidak Adilan dalam Sepak Bola Berkedok Adu Penalti

SAMSUNG DIGITAL CAMERA

Penalty Shoot-out in a Football Game (Credits to Google)

Dalam kompetisi sepak bola yang bersifat turnamen dan menggunakan sistem gugur kadang kedua tim yang sama kuat tidak mampu mengungguli satu sama lain. Saat kedua tim bermain imbang selama 90 menit waktu normal atau 120 menit dengan tambahan waktu dan pemenang mesti ditentukan saat itu juga, maka jalan satu-satunya yang mesti ditempuh adalah melalui Adu Penalti.

Adu penalti itu sendiri merupakan kegiatan yang dilakukan dalam suatu pertandingan sepak bola di mana masing-masing tim harus memilih setidaknya lima penendang untuk berhadapan langsung dengan penjaga gawang lawan. Adu penalti menentukan pemenang dengan tim yang perwakilan pemainnya menjebol gawang lawan lebih banyak daripada lawan menjebol gawang mereka. Meski cara kemenangannya nyaris sama dengan sepak bola tanpa penalti, ada satu pengaruh yang dirasa adu penalti bukanlah cara yang adil dalam menentukan kemenangan dalam sebuah pertandingan sepak bola.

Semenjak terciptanya sistem ini di tahun 70an, adu penalti kerap kali mengundang kontroversi dalam pelaksanaannya. Banyak orang berpendapat bahwa adu penalti tidak lebih dari ajang adu keberuntungan ketimbang adu skill pemain maupun strategi pelatih. Meski terlihat mudah dalam pelaksanaannya dan orang-orang sering berpendapat bahwa sebagian dari hasil pertandingan merupakan hasil dari campur tangan keberuntungan, melakoni adu penalti sebenarnya bukan perkara mudah. Saat akan melakukannya, seorang pesepak bola dituntut untuk menendang ke gawang dengan baik sekaligus mengecoh kipernya di bawah tekanan dan bayang-bayang efek domino kegagalan yang barangkali akan menghantui mereka selama hidupnya. Mereka yang sukses bakal dianggap menjadi pahlawan, sementara yang gagal akan diolok-olok dan dianggap pecundang.

Letak ketidak adilan dalam adu penalti adalah ketika permainan sepak bola yang sepatutnya merupakan permainan yang membutuhkan kerjasama tim menjadi ajang individu. Mental dan emosi pemain dipaksa untuk dibebani oleh harapan yang begitu membumbung tinggi baik dari rekan-rekan satu timnya maupun pendukung yang jumlahnya berjuta-juta orang. Hal itu menjadi beban psikis tersendiri bagi para penendang saat mereka hendak berhadapan satu lawan satu dengan sang kiper. Maka saat beberapa pemain kondang dengan skill mumpuni berubah menjadi penendang medioker hanya karena urusan mental, hal ini menjadi pemandangan biasa dalam adu penalti.

Contoh yang paling segar dalam ingatan para penikmat sepak bola adalah ketika Argentina harus mengalah pada Cile melalui adu penalti yang akan selamanya diingat Lionel Messi dalam final Copa America 2015. Tiga dari empat penendang Argentina gagal mengatasi tekanan saat tendangan mereka ditahan kiper atau bahkan melenceng jauh di atas mistar gawang. Mana tahu masing-masing dari penendang Argentina tersebut masih terbebani bayang-bayang kekalahan dari Jerman di Piala Dunia tahun lalu sehingga tekanan begitu menyergap mereka. Sementara empat penendang Cile yang memang bermain di hadapan pendukungnya sendiri sukses melakukannya. Ini menggambarkan bahwa mental dan emosi sangat berperan penting terhadap pemain ketika akan berhadapan dengan kiper di titik duabelas pas.

Higuain

Gonzalo Higuain berjalan gontai setelah tendangan penaltinya melenceng jauh di atas mistar gawang Claudio Bravo.

Meskipun begitu, ada beberapa pemain yang lolos dari tekanan mental adu penalti dan justru mengubah ajang penalti tersebut menjadi sesuatu yang patut dikenang. Penalti Antonin Panenka adalah salah satu yang dikenang sepanjang masa karena keunikannya. Dirinya mencetak penalti kemenangan atas Jerman Barat dengan mencungkil bola dengan pelan ke bagian tengah gawang saat kiper lawan sudah jatuh terkecoh ke sisi lain. Namanya bahkan diabadikan untuk sebutan tendangan dengan cara yang sama. Hal yang sama ditirukan Andrea Pirlo berkali-kali. Salah satu yang paling terkenal mungkin saat Italia berhadapan dengan Inggris di EURO 2012. Panenkanya berhasil memulangkan Inggris di babak perempat besar.

gamblers-fallacy

Panenka Andrea Pirlo saat Italia berhadapan dengan Inggris di perempat final EURO 2012.

Walau kehadirannya sering menghadirkan kontroversi dan dianggap tidak adil, adu penalti tetap menjadi satu-satunya cara yang bisa ditempuh agar satu pertandingan memiliki satu pemenang. Serupa dengan musyawarah yang ketika mufakat tidak tercapai dan harus menempuh jalan yang paling akhir dengan pemungutan suara, para pemain dipaksa menerima apapun hasil dari adu penalti tersebut. Bedanya, jika musyawarah melibatkan seluruh elemen yang berada dalam lingkup musyawarah tersebut, adu penalti dalam sepak bola yang selama ini perkaranya dianggap sebesar perkara manusiawi lainnya hanya melibatkan setidaknya 5 penendang dan satu penjaga gawang untuk menentukan kemenangan. Dalam hal ketidak adilan, keduanya kerap bersaing satu sama lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s