When Hearts Speak

Suara klakson yang terdengar begitu kencang berhasil membangunkan Riani yang sedari tadi tertidur pulas di sepanjang perjalanan Jakarta – Bandung yang sedang ditempuhnya. Matanya yang masih sayu lantas melirik ke jendela untuk melihat penyebab kegaduhan yang ditimbulkan oleh sang supir bus DAMRI Bandara yang sedang dia tumpangi. Rupanya kemacetan sudah terbentuk bahkan satu kilometer menjelang pintu gerbang keluar Tol Cipularang. Bandung memang selalu menjadi primadona manusia-manusia yang ingin melepas kejenuhan yang ditemui di kegiatan sehari-harinya. Mereka yang pada hari-hari biasa ‘memacetkan’ Ibukota seolah hendak memindahkan kemacetan itu ke Bandung dengan berbondong-bondong mengunjungi Kota Kembang dengan kendaraan masing-masing. Lalu senyum tersungging begitu saja di bibirnya saat dirinya sadar betapa dia merindukan suasana kacau yang ditimbulkan oleh kemacetan yang sudah lama tidak dia temui.

Selama satu tahun menetap di Jerman untuk menimba ilmu guna memperlancar penggunaan bahasa yang dia pelajari selama duduk di bangku kuliah, Riani nyaris tidak pernah berpapasan dengan segala bentuk kemacetan. Hidupnya di sana terbilang tentram karena di samping belajar, dia juga bisa sekalian menjelajahi beberapa kota di berbagai negara Eropa yang kebetulan berdekatan dengan Jerman. Jangankan yang dekat, Inggris yang letaknya jauh saja dia datangi. Bukan tanpa alasan dirinya jauh-jauh berwisata sampai ke Inggris, memang Riani mengincar tempat tersebut semenjak dirinya duduk di bangku SMA.

Ponselnya berdering dengan nada khas yang sudah dikenalnya bahwa seseorang mengirimkannya pesan di Whatsapp. Rupanya itu pesan dari adiknya yang hendak menjemput setibanya di Terminal Leuwi Panjang. Riani segera membalas bahwa tidak lama lagi dirinya akan sampai di sana. Tidak akan lama lagi dirinya akan bertemu dengan keluarga yang sudah satu tahun tidak ditemuinya.

Saat sedang tersenyum ke arah jendela seraya membayangkan akan betapa harunya pertemuan dengan keluarganya, padangan Riani teralih pada billboard besar yang terpampang di samping Cihampelas Walk. Billboard seukuran lima kali tiga meter itu menunjukan gambar beberapa orang yang mengenakan dua seragam klub sepakbola yang berbeda dan yang diketahuinya. Di bawah gambar orang-orang tersebut, terpampang jadwal pertandingan berikut dengan waktu dan tempat diadakannya nonton bareng. Riani lupa bahwa hari itu adalah hari di mana Derbi Manchester jilid kedua akan berlangsung. Ingatannya langsung terbang ke kenangan-kenangan yang disimpan di dalam folder Nonton Bareng di otaknya.

Konteks Nonton Bareng selalu Riani kaitkan dengan seseorang yang turut andil mengenalkan dunia sepakbola ke jiwa femininnya. Seseorang yang selalu mengajaknya dari acara nonton bareng satu ke nonton bola lainnya di Bandung, seseorang yang akan terharu bahagia tiap kali Riani paham peraturan yang ada dalam sepakbola, seseorang yang selalu minta dibangunkan ketika klub kesayangannya main pada dini hari, seseorang yang, setahun lalu, menghilang tanpa jejak tak lama setelah Riani mendarat di Berlin.

Di mana orang itu sekarang? Pikirannya bertanya pada hatinya ketika sosok yang pada hari terakhir pertemuan mereka melakukan sesuatu yang merubah sudut pandang hatinya terhadap konteks ‘sahabat’ sebelum menghilang tanpa kabar hingga detik ini. Kekurang ajarannya menimbulkan seribu pertanyaan di hatinya dan pertanyaan-pertanyaan tersebut kian hari kian bertambah sampai menumpuk menjadi gunung dalam jeda satu tahun ketika diam-diam dia merindukannya.
Sesampainya di terminal, dirinya sudah melihat Rizki, adik bungsunya yang memakai Jersey Manchester United sedang berdiri di samping mobil Honda Jazz merah miliknya. Lantas dia memeluk kakak sulungnya itu saat Riani baru menginjakkan kakinya di Tanah Parahiyangan.

“Lo putihan ya,” celetuk adiknya saat dia melepaskan pelukan.

“Sial,” Riani tertawa sembari bergumam. “Baru ketemu udah ngeledek aja lo.”

“Tapi enggak ada yang kayak gue di Jerman, kan?” godanya.

“Iya sih,” Riani membenarkan sambil menatap adiknya yang tengil itu, membuat dirinya sadar betapa dia merindukan suasana rumah dan seluruh penghuninya.

“Anyway, ke mana aja kemaren pas di Eropa? Ke Inggris, enggak?”

Mereka meneruskan percakapan sembari mengangkut dua koper Riani yang super besar dan memindahkannya dari bagasi bus ke bagasi mobil Rizki. Seolah waktu Riani hanya sebentar di Bandung, Rizki terus memberondonginya dengan berbagai pertanyaan yang berkutat di pengalaman yang sudah dinikmati kakaknya di Eropa. Kadang dirinya bengong sambil menatap kagum pada kakaknya yang bisa melakukan lebih dari yang pernah dilakukan siapapun yang dikenalnya. Riani sendiri menikmati obrolan tersebut. Dirinya juga sadar dengan pengalaman yang diceritakannya ini, Rizki akan merasa terlecut semangatnya untuk mengejar hal yang lebih besar dari dirinya.

“Eh, ini bukan jalan ke rumah deh?” tanya Riani saat Rizki berbelok ke arah kiri di sebuah perempatan di mana seharusnya dia berbelok kanan jika menuju rumah.

“Kita ke CiWalk dulu ya, kak.”

CiWalk? Tentu saja! Adiknya sudah memakai jersey. Dia pasti sudah siap untuk nonton bareng bersama komunitas yang dulu pernah Riani ikuti juga karena diajak seseorang.

“Ayah udah ngijinin kita koq. Jadi enggak masalah kalo balik ke rumah dua jam setelah lo sampe Bandung,” adiknya nyengir sembari memarkirkan mobilnya di salah satu tempat kosong di parkiran.

Riani hanya menghela nafas terhadap kelakuan adiknya yang gila bola tersebut. Meski capek karena lamanya penerbangan dan perjalanan Jakarta-Bandung, Riani terpaksa mengikuti ajakan adiknya untuk nonton bareng.

“Nih, gue juga udah bawain jersey lo. Pake yah. Kita ngechant bareng lagi.”

Percaya atau tidak, kelakuan adiknya itu mengingatkan dirinya akan sosok yang sama yang diingatnya ketika melihat billboard besar di perjalanannya ke terminal.

Riuh rendah teriakan para penggila sepakbola memenuhi salah satu resto yang disewa oleh panitia penyelenggara begitu Riani dan adiknya masuk. Pendukung kedua kubu yang menggunakan dua warna jersey berbeda saling melontarkan nyanyian yang turut memanaskan suasana. Rizki menuntunnya ke salah satu meja yang lumayan dekat dengan layar besar di mana pertandingan sebentar lagi tersaji. Riani duduk di kursinya sementara Rizki sibuk menyapa teman-teman komunitasnya.

Rasanya sudah lama sekali Riani tidak merasakan suasana seperti ini. Riani memang pernah ke Inggris dan menonton langsung pertandingan United di Old Trafford, tapi tetap saja euforianya berbeda. Mencoba menikmati suasana gaduhnya, pandangan Riani menjelajah tempat tersebut tanpa bermaksud untuk memperhatikan apapun atau siapapun. Namun matanya dikejutkan oleh sosok yang sedang berdiri dan memimpin rekan-rekannya bernyanyi di barisan belakang.

Itu Andi.

Hatinya seketika bergetar dengan berbagai macam perasaan yang kebanyakan marah. Perlakuannya selama setahun belakangan terhadap Riani membuat Andi menjadi orang yang paling tidak diharapkan untuk dia lihat di hari pertamanya di Bandung. Tentu dia menyalahkan Rizki yang mengajaknya kemari di mana dirinya sudah ingin pulang. Setelah melihat Andi, dirinya malah semakin ingin pulang.

Di tengah amarah yang bergejolak di hatinya juga seribu pertanyaan yang ingin ditembakannya kepada sosok yang sedang bergembira tersebut, ada segelintir rindu yang menyeruak. Rindu akan seseorang yang tidak pernah meninggalkan sisinya dari hari pertama mereka berkenalan.

Riani sedang mempertimbangkan dengan serius untuk beranjak dari bangkunya dan berjalan menuju pria yang masih belum menyadari bahwa masa lalunya sedang berada di sana.

*****

Menatap sosok yang ada di pantulan cermin lemari pakaiannya, Andi merasa gamang hari itu. Dirinya yang bersemangat dan sudah berdandan rapi serta bersiap untuk berangkat ke lokasi nonton bareng bersama teman-temannya tiba-tiba dikejutkan oleh kabar tentang Riani, sahabat yang tidak pernah dihubunginya lagi setelah terakhir kali mereka berkomunikasi ketika Riani menunggu penerbangannya ke Berlin sudah kembali ke Bandung, tempat mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Meski entah Riani masih menganggap dirinya sahabat atau tidak setelah apa yang diperbuatnya sepanjang tahun lalu. Bayangan akan sosok itupun seketika menggeliat di pikiran Andi. Senyum, tawa, dan tangis yang tidak pernah bisa Andi lupakan. Apa yang akan dia katakan jika suatu saat mereka diharuskan untuk bertemu? Apa alasan logisnya untuk tidak menghubungi Riani sama sekali? Karena selama ini alasannya untuk perbuatan yang satu itu sungguh menggelikan.

“Andi, temanmu sudah jemput,” teriakan ibunya dari ruang tamu menyadarkannya dari lamunan tentang Riani.

“Iya, bu,” Andi meraih ransel dan syal kesayangannya dan melesat keluar kamar untuk menuju CiWalk, tempat dirinya dan komunitas fans klub kesayangannya biasa nonton bareng.

Bicara tetang CiWalk, sebenarnya tempat itu banyak menghadirkan kenangan tentang Riani. Berkali-kali Andi membawa Riani ke sana untuk dicekoki sepakbola sebagai olah raga kesayangannya dan Manchester United sebagai klub kesayangannya. Andi bahagia tiap kali Riani mampu mengidentifikasi kesalahan pemain tengah yang tidak umum diketahui oleh para penggemar sepakbola perempuan. Dari banyak tatapan dan kebahagian yang dialami Andi, perasaanya bergerak ke palung yang lebih dalam. Andi merasa hina saat melihat senyuman Riani yang tiap kali tersungging menunjukan senyum tulus persahabatan sementara dirinya mengharapkan sesuatu yang lain.

Dirinya bahkan lebih merasa hina lagi ketika hari terakhir Riani di Bandung, Andi mencium kening Riani dan meninggalkannya terpaku dengan keterkejutan di depan rumahnya selepas kunjungan mereka ke Kawah Putih. Dorongan dari perasaannya begitu kuat mengetahui bahwa dirinya tidak akan melihat Riani lagi setelah malam itu. Riani sendiri tidak menyinggung hal itu ketika mereka saling bertukar pesan di pagi hari sebelum keberangkatannya. Hal itu membuat Andi berpikir perasaan yang sama mungkin tidak dirasakan Riani. Dan saat itu juga, setelah mereka mengucap salam perpisahan, Andi memutuskan untuk tidak menghubungi Riani untuk membiarkannya tenggelam dalam kebahagian impiannya.

“Bro, nanti lo pimpin anak-anak ngechant ya,” kata temannya sesaat setelah motor mereka terparkir.

“Gue? Enggak yang lain aja? Kayaknya gue ketuaan buat ngajakin orang teriak-teriak ngechant,” balas Andi ragu.

“Si Yudo sama Dian nggak ada yang bisa dateng. Lo kan dulu pernah ada di posisi mereka, jadi anak-anak nurut lah sama lo.”

Andi tidak punya pilihan kalau sudah ditodong seperti itu. Biasanya dia akan menurut saja daripada menunggu semua anggota komunitasnya memintanya. Dan di sanalah dia berdiri sambil sesekali melompat-lompat kecil dan menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan pendukung Manchester United di Inggris sana ketika mendukung tim kesayangannya. Andi larut dalam kegembiraan tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama.

*****

Peluit panjang telah ditiup wasit dan pendukung Manchester United yang mayoritas berbaju merah meledak dengan kegembiraan. Tim kesayangan mereka memenangi pertandingan dengan skor akhir 4-2. Begitupun Rizki dan teman-temannya, serta pria yang sedari tadi terus di perhatikan Riani. Dirinya tidak terlalu menikmati pertandingan yang sebenarnya atraktif tersebut karena pikirannya sudah terdistraksi atas kehadiran Andi yang masih belum juga sadar bahwa Riani memperhatikannya sedari tadi. Kini Andi sudah tidak memimpin rekan-rekannya bernyanyi lagi, melainkan mengobrol dengan nada bercanda dengan teman-teman menyanyinya. Terlihat dirinya mulai merapikan barang bawaannya dan bersiap untuk pulang.

Sekarang atau tidak sama sekali, Riani!

“Ki!” Riani memanggil adiknya yang sedang mengobrol dengan temannya saat tempat nonton bareng mulai ditinggalkan audiensnya.

Rizki memutar badannya untuk menatap kakaknya.

“Gue mau ke toilet sebentar ya. Jangan tinggalin gue!”

“Iya, kak,” jawab adiknya sebari kembali mengobrol dengan teman-temannya.

Toilet adalah alasan terbaik agar dirinya bisa bangkit meninggalkan Rizki tanpa ditanya macam-macam. Perlahan Riani berjalan. Langkahnya terasa berat dengan keraguan yang menggantung di tumit kakinya. Namun demi jawaban atas amarah dan pertanyaan-pertanyaan yang telah dipendam setahun lamanya, dirinya meneruskan langkahnya menuju satu-satunya sosok yang bisa memberikan jawaban.

Satu meter berdiri di belakangnya, Riani kembali ragu. Dia takut jawaban yang diharapkan tidak akan diucapkan Andi. Bagaimana jika dia memang sudah tidak mau bertemu dan berteman dengannya? Bagaimana jika dia memang sudah benar-benar melupakannya? Saking kerasnya Riani berpikir, dirinya sampai tidak sadar bahwa salah satu teman mengobrol Andi memperhatikannya dan memberitahu Andi bahwa ada sesosok wanita cantik yang berdiri tidak jauh dari belakangnya dengan menggunakan Bahasa Sunda.

Saha (siapa)?” tanya Andi pada temannya tersebut.

Nya tingali wae ku salira (Ya liat aja sendiri).”

Teman-temannya yang lain menertawakannya. Andi masih tersenyum dari sisa tawa yang diberikan teman-temannya ketika dia berbalik dan menemukan sosok yang setahun belakangan mencoba untuk dilupakannya, tetapi tidak pernah bisa. Senyumnya seketika hilang dan berganti dengan keterkejutan luar biasa dalam diamnya. Sekujur tubuh Andi mendadak kaku.

“Hai,” kata pertama yang dilontarkan Riani tidak kalah kaku.

“Hai.” Andi masih mencerna apa yang sedang terjadi padanya sekarang. Semacam tidak percaya dirinya akan bertemu Riani secepat ini. Dirinya bahkan belum memikirkan apa-apa jikalau pertanyaan pentingnya dilontarkan Riani saat itu juga. Sementara dirinya yakin teman-temannya telah meninggalkannya sendirian dalam hal ini.

“Gue udah balik,” Riani tidak yakin apakah itu ucapan yang tepat mengingat Andi tidak bereaksi. Senyumnya terlihat hambar. Dia mulai berpikir bahwa mungkin Andi sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi. Ingin sekali dirinya berbalik dan meninggalkan Andi berdiri di sana dan berpura-pura seolah pertemuan ini tidak pernah terjadi.

“Gue selalu tau lo bakal balik,” ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Andi tanpa melalui saringan logika miliknya.
Riani yang sebatas mengharap pertanyaan atau pernyataan standar pertemuan pertama kedua orang sahabat setelah terpisah selama setahun cukup kaget karena mendapat jawaban lebih dari yang dia harapkan. Tiba-tiba saja ada air terjun virtual yang secara ajaib menyejukan hatinya dan meredakan amarahnya.

“Kapan nyampe di Bandung?” otak Andi berproses lebih cepat dari yang diharapkan setelah satu kalimat terlontar atas dasar suara hatinya.

“Baru banget. Langsung diajak ke sini sama Rizki tanpa pulang dulu ke rumah,” Riani menunjuk Rizki yang masih mengobrol di tempat yang sama semenjak dirinya meninggalkan meja.

Keduanya saling tatap tanpa kata. Kecanggungan seolah tidak ragu untuk menyusup melalui semilir angin yang membelai kulit mereka.

Sebenarnya Riani ingin sekali langsung menyampaikan kekesalannya terhadap Andi atas sikapnya terhadapnya setahun belakangan. Namun di sosok dihadapannya seperti tidak menyadari amarah dan sesuatu yang lain yang dipendamnya. Sangat sulit dipercaya bagi Riani bahwa sosok ini adalah sosok yang sama yang meninggalkan perasaannya menggantung di depan pintu gerbang rumahnya selama setahun.

“Gue minta maaf jika selama setahun ini gue enggak ngehubungi lo sama sekali,” kata Andi memulai. Pikirannya mulai membentuk jalan lurus ke arah yang benar.

Andi baru akan melanjutkan perkataannya saat Riani menyela, “Enggak masalah. I’m sure there’s a perfectly good reason for that.”

Merasa terpancing, Andi akhirnya membatalkan ucapan datar yang telah dipikirkannya dan beralih mengikuti kata hatinya, “Setelah apa yang terjadi di depan rumah lo setahun yang lalu, gue enggak tau lagi mesti ngapain.

“Demi Tuhan gue enggak ada maksud buat ngerusak persahabatan kita dengan apa yang gue lakuin malam itu. Yang ada di pikiran gue saat itu adalah gue enggak bakal ngeliat lo lagi, bukan untuk satu tahun, tapi untuk selamanya. Meski hati gue selalu tau kalo lo bakal balik, tapi hal itu diikuti sama bayangan-bayangan bahwa lo bakal jadi orang yang beda banget ketika udah balik dari sana.”

Jika Riani tidak salah menangkap, Andi malam itu mencurahkan segala perasaannya melalui kecupan di keningnya. Seterkejut apapun dirinya, Riani diam-diam senang merasakannya. Setelah apa yang dibicarakan oleh Andi langsung dihadapannya, dirinya makin yakin akan perasaannya dan sahabatnya itu.

Andi terlihat gelisah saat tidak ada respon sama sekali dari Riani selepas dirinya mencurahkan sebagian isi hatinya yang telah dipendam selama satu tahun dan beberapa tahun sebelumnya. Mungkin Riani sedang tidak peka seperti apa yang terjadi setahun yang lalu, pikirnya.

“Sekarang gue udah di sini,” Riani meraih tangan Andi seolah ingin Andi tahu bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama. “Dan gue masih Riani yang sama sama orang yang lo cium keningnya setahun yang lalu.” Tak lupa Riani juga menyunggingkan senyum termanisnya untuk sosok yang sangat dipedulikannya.

Ekspresi di wajah Andi mulai terlihat lega. Entah kelegaan mana yang dia rasakan. Lega karena sahabatnya tidak membencinya atas perlakuannya setahun yang lalu, atau lega karena mengetahui bahwa perasaan yang diungkapkannya malam itu ternyata berbalas. Senyum dari Riani yang Andi pikir Riani menganggapnya sebagai tanda persahabatan ternyata mengandung maksud lain juga. Riani hanya menyunggingkan senyum itu pada Andi. Saat hati sudah bicara melalui isyarat maupun tingkah laku, meskipun tidak pernah ada kata cinta yang terucap, dua orang yang saling mencintai akan saling mengerti. Riani dan Andi sama-sama percaya akan hal itu.

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s