Valentino Rossi: The Man of Every Fight

https://i0.wp.com/photos.motogp.com/2015/04/19/_gp_7547.gallery_full_top_md.jpg

Valentino Rossi after a win in Termas de Rio Hondo, Argentina (Courtesy of motogp.com)

A Legend.

Paling tidak itu reputasi yang diperkenalkan Valentino Rossi pada setiap orang yang baru mengenal ajang balapan MotoGP di satu dekade ke belakang. Gelar yang dibawanya adalah satu kali juara kelas 125cc (1997), lantas dilengkapi oleh gelar juara di kelas 250cc (1999), dan tentu saja yang paling sensasional adalah gelar juara di kasta tertinggi balapan ini sebanyak tujuh kali (2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2008, dan 2009). Sepanjang ke ikut sertaannya di kelas tersebut, Rosisi telah mencicipi banyak hal. Dari mulai perubahan spesifikasi motor (2-tak 500cc, 4-tak 990cc, 800cc, dan 1000cc) berbagai macam kecelakaan, sampai berbagai macam kompetitor. Kompetitor sendiri adalah salah satu faktor penunjang berbagai kekaguman semua orang yang mengenal Rossi dari ajang balapan ini disamping bakat dan kepribadiannya. Mengingat panjangnya durasi musim yang dilaluinya (debut di tahun 2000), Rossi sudah mencicipi berbagai pertarungan dengan pesaing yang silih berganti.

Max Biaggi

Rossi and his archenemy.

Di tahun pertamanya, Rossi dipertemukan dengan pesaing yang kerap dijuluki sebagai archenemy dari dirinya, Max Biaggi. Kendati sama-sama berasal dari Italia, mereka kerap terlibat pertarungan sengit di atas aspal yang tak jarang berakhir dengan ketidak beruntungan di salah satu pihak. Puncak persaingan mereka di balapan terjadi di Suzuka musim 2001 saat Rossi hendak menyalip Biaggi tetapi justru dihalangi oleh siku sang pembalap depan dan nyaris membuatnya terjatuh. Rossi yang merasa dicurangi membalas dengan acungan jari tengahnya segera setelah posisi Biaggi diambilnya. Kejadian itu menjadi kontroversi besar di ajang tersebut kala itu. Kabarnya persaingan mereka sampai berlanjut di luar lintasan saat beberapa wartawan menguping adu mulut antara keduanya sebelum naik podium di Catalunya. Meski sempat berdamai atas inisiatif Dorna, persaingan mereka seperti tiada akhir sebelum Biaggi akhirnya memutuskan untuk rehat dari MotoGP.

Sete Gibernau

The famous Jerez last-corner incident.

Belum selesai persaingannya dengan Biaggi, dua musim kemudian datang pesaing Spanyol pertama yang mencoba mengusik kekuasaannya, Sete Gibernau. Keduanya beberapa kali terlibat insiden di sirkuit ketika balapan. Salah satu yang paling terkenal adalah insiden tingkungan terakhir di Jerez 2005. Saat itu Rossi yang mencoba menyalip Gibernau melalui sisi dalam lantas menyenggol dan menyebabkan Gibernau keluar trek dan kehilangan banyak waktu. Kendati dirinya masih bisa finish di posisi ke dua, Gibernau marah pada Rossi atas manuver ‘nakal’ tersebut. Bahkan dirinya sampai tidak mau berjabatangan ketika di podium.

Rossi sempat kehilangan taji di MotoGP musim 2006 saat berkali-kali dikecewakan oleh YZR-M1 miliknya. Lebih tragis lagi, gelar juara yang sudah berada di genggaman sebelah tangannya harus rela ia lepaskan lantaran terjatuh dan hanya finish di posisi 13 di seri terakhir di Valencia. Rossi pun menyerah pada Nicky Hayden dan keadaan.

Casey Stoner

Saat Max Biaggi dan Sete Gibernau mulai mengendurkan perlawanan, Rossi harus bersaing dengan kompetitor baru ketika Casey Stoner hijrah ke Ducati dan berhasil mengangkat presentasi tim pabrikan asli Italia tersebut. Selama dua musim dirinya terlibat pertarungan sengit di atas aspal. Yang paling diingat tentu saja aksi saling salip mereka di Laguna Seca 2008 yang sensasional itu. Manuver-manuver agresif mereka bahkan sampai keluar lintasan! Lalu saat Stoner hijrah ke Repsol Honda, insiden di Jerez 2011 juga menjadi sangat diingat karena kali ini Rossi yang menyebabkan keduanya terjatuh. Saat Rossi bisa melanjutkan balapan dan Stoner tidak, Stoner menunjukan gestur yang kurang lebih menyatakan kekesalannya pada sang Legenda. Stoner juga tidak sungkan untuk melontarkan kritikan terhadap gaya membalap Rossi setelah dua kejadian tersebut.

Jerez 2011.

Jorge Lorenzo

Ujian selanjutnya datang dari junior Rossi di Yamaha, Jorge Lorenzo. Rossi menemukan kenyataan pahit bahwa musuh kali ini berada di bawah naungan atap pitbox yang sama. Ancaman itupun terasa nyata saat dirinya mulai membatasi diri dari Lorenzo yang perlahan tapi pasti mengancam tahtanya. Pada musim 2009 Rossi memang berhasil mengungguli Lorenzo dengan raihan gelar juara dunia ke tujuh, namun musim selanjutnya dia dikalahkan rekan setimnya itu dan hanya berakhir di posisi ketiga klasemen. Rossi bekerja sangat keras untuk mencegah gelar juaranya menghilang dari genggaman sampai-sampai dirinya mengalami kecelakaan parah pada latihan bebas di Mugello dan terpaksa harus menjalani operasi dan melewatkan beberapa seri kala itu. Setelah dirinya pulih, persaingan pun berlanjut. Banyak pertarungan yang mereka berdua lakoni sepanjang dua musim tersebut, namun pertarungan sengit di Motegi demi gelar juara dunia adalah bukti nyata bahwa kala itu Lorenzo tidak mau lagi menjadi pembalap yang diungguli oleh rekan setimnya, begitupun sebaliknya. Meski pertarungannya hanya untuk podium kedua, namun tidak akan ada yang akan melupakan aksi senggol mereka di bawah jembatan ikonik sirkuit Motegi.

Marc Marquez

Marquez being Rossi-esque.

Di saat Lorenzo sudah tidak menjadi ancaman serius dan Stoner memilih rehat total dari dunia balap, Rossi menemukan pesaing yang sama agresifnya dengan dirinya. Adalah Marc Marquez yang menantang kedigdayaannya kali ini. Kemunculan Marquez bagaikan anti-thesis terhadap kegarangan Rossi di trek. Bahkan Marquez sempat menirukan overtaking-nya terhadap Stoner di 2008 di sirkuit yang sama lima tahun kemudian! Meski sempat didominasi di musim 2013 dan 2014, Rossi sekali lagi menunjukan perlawanan yang kurang lebih menyatakan bahwa dirinya belum habis. Masalah motor yang kurang kompetitif dengan Honda yang ditunggangi Marquez belakangan bukan menjadi isu perdebatan di pitbox lagi. Termas de Rio Hondo menjadi saksi bagaimana pengalaman membalap ditambah agresifitasnya menjadi dua hal yang mahal karena dibayar oleh kemenangan. Rossi berhasil mengejar Marquez yang saat itu sedang melambat lantaran ban motornya mulai kehilangan daya cengkram. Pertarungan keduanya pun tidak terhindarkan. Rossi menekan, Marquez sempat membalas dengan satu atau dua gerakan perlawanan agresifnya. Sisanya tinggal sejarah. Dua kemenangan dari tiga seri yang telah dilakoninya di musim balap 2015 ini menunjukan bahwa Rossi tidak akan membiarkan Marquez melenggang dengan mudah menuju gelar juara ketiganya di MotoGP.

Musim 2015 adalah musim yang untuk pertama kalinya sejak tahun 2012 Rossi bisa melihat jelas dari kejauhan namanya perlahan sedang diukir di plakat juara dunia MotoGP untuk ke delapan kalinya di kelas premier dan gelar ke sepuluhnya semenjak keikut sertaannya di Grand Prix. Musim memang masih panjang, tetapi melihat performa Marquez yang belakangan sering kehilangan fokus, penampilan Lorenzo yang begitu tidak meyakinkan, dan Dani Pedrosa yang bahkan sudah melewatkan dua dari tiga seri awal karena cederanya, praktis hanya para penunggang Ducati yang digawangi Andrea Dovizioso dan Andrea Iannone yang berada diantara jalannya menuju tambahan koleksi gelar. Namun selalu ada satu hal yang selalu diketahui para penggemar tentang Rossi bahwa dia tidak akan pernah gentar melawan siapapun yang berdiri dihadapannya untuk menjegal kedigdayaannya karena dia selalu berada di sana dan selalu siap untuk setiap pertarungan.

Advertisements

2 thoughts on “Valentino Rossi: The Man of Every Fight

  1. halo, salam kenal, kita ketemu di nobar kemarin Jerez.
    artikelnya menarik ^^
    btw, “Rossi memang berhasil mengungguli Lorenzo dengan raihan gelar juara dunia ke tujuh, namun musim selanjutnya dia dikalahkan kompatriotnya itu dan hanya berakhir di posisi ketiga klasemen”
    kompatriot artinya teman setanah air. 🙂
    semangat menulis ^^

    • Huaaaa.. makasih udh baca, kakak. Makasih juga buat koreksiannya. Honestly, I just knew that. *brb diedit lagi* Wah, kakak pasti salah satu diantara yg pake baju kuning ya? Apa baju putih atau hitam? Hua.. aku lupa. ( ._.)> Anyway, salam kenal juga, kak. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s