Escape to Bali (2015)

DSC01234

To be true to myself, impulsive isn’t something I was born with. I’m always a kind of planner when I come up with everything that I face. I love making plans. It makes me more organized in everything I do, especially in a holiday where time is something valuable to be spent. Namun perjalanan ke Bali kemarin tidak ada dalam pikiran gue sama sekali bahkan satu minggu sebelum gue melakukannya. Bukan tanpa alasan gue berangkat ke Bali dengan sangat mendadak, tetapi karena Dani Pedrosa, seseorang yang sudah lama sangat ingin gue temui  semenjak gue mengenalnya di ajang MotoGP, sedang ada di sana untuk peluncuran Honda RC213V yang akan dipakainya di musim balap 2015. Kesempatan bertemu dengannya pun sangat terbuka ketika seorang teman akhirnya berusaha mendapatkan tiket untuk mengikuti acaranya setelah gue memberikan beberapa bujukan. Tanpa rencana dan buta akan medan, gue berusaha mengikuti alur mengejutkan yang terus hadir selama perjalanan gue keluar Pulau Jawa untuk pertama kalinya.

DAY 1

Setelah melewati pagi yang penuh emosi dengan salah satu supir taksi terg****k yang pernah gue temui (don’t ask), Sabtu pagi gue dan Anis (iya, Anis yang melakukan perjalanan ke Sepang bersama gue Oktober tahun lalu)terpaksa harus membeli tiket lagi setelah tertinggal penerbangan pagi yang sudah sebelumnya kami beli. Kami berusaha untuk tegar serta melupakan hal itu dan menunggu pesawat kami yang akan berangkat pukul 13.40. Misi kami yang terpenting saat itu adalah sampai di Bali dengan selamat tanpa memperdulikan seberapa mahalnya harga tiket.

DSC01145

Landed safely in Ngurah Rai International Airport, Bali.

Perjalanan selama 1jam 45menit membawa kami tiba di Bali pukul 16.30 WITA dan hal pertama yang kami lakukan adalah menuju hotel yang sebelumnya telah kami pesan. Terus terang, saat sampai Bandara Ngurah Rai kami kelimpungan mencari taksi yang benar-benar bisa kami percaya untuk bisa sampai di penginapan tanpa harus menanggung beban dengan kembali tertipu. Kami berusaha selektif tanpa terlihat seperti orang tersesat, namun yang kami lakukan justru membuat kami makin terlihat tersesat. Banyak sekali taksi di Bali dengan warna yang serupa, dan supirnya menjajakan pelayanan di dalam Bandara dengan menanyai setiap orang jika mereka membutuhkan taksi atau tidak. Setelah berputar-putar selama kurang lebih 15 menit, akhirnya kami menunjuk taksi random yang kebetulan lewat.

The Bakung Beach Resort adalah tempat di mana kami menginap. Berlokasi di Jalan Kartika, Kuta, hotel tersebut cukup ramai oleh pengunjung. Lokasinya yang strategis, harganya yang relatif terjangkau, serta fasilitas yang lengkap membuat kami tidak menyesal memilih tempat tersebut. Alasan lain gue memilih tempat itu adalah karena ada pantai yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Kami masih sempat ke pantai setelah check-in dan menyimpan beberapa bawaan kami. Sayang saat itu cuaca mendung. Tidak ada sunset, dan pantai sudah sangat sepi. Padahal masih pukul 17.45. Kami hanya berada di sana selama beberapa menit untuk sekedar berfoto dan membasahi kaki kami sebelum gerimis mulai turun.

DSC01154-tile

Entah nama pantainya apa, but this were taken from the closest beach to our hotel.

Hal yang menyebalkan ketika di sana adalah hujan deras turun di saat kami sudah menyusun rencana dengan baik untuk menghabiskan malam Minggu kami di Kuta dengan berjalan kaki ke Legian. Kami nyaris menyerah untuk keluar karena hujan tak kunjung reda saat jam menunjukan pukul 19.30. Karena kami pikir kami tidak punya banyak waktu, akhirnya kami memutuskan untuk tetap keluar meski hujan masih mengguyur. Sialnya, saat mencoba meminjam payung ke resepsionis, mereka kehabisan stok. Saat hampir menyerah lagi, kami akhirnya nekat meminjam payung ke penduduk setempat yang kebetulan berada di sana. Gue sempat merasa bersalah karena kami akan pergi sampai larut, namun Anis yakin bahwa ibu yang payungnya kami pinjam akan baik-baik saja.

DSC01199

Salah satu fasilitas di The Bakung Beach Resort, swimming pool! Sayang kami tak sempat berenang.

Niat kami malam itu adalah mencari tempat makan. Kami masih berjalan menyusuri trotoar Jalan Samudra sampai akhirnya kami memutuskan untuk memberhentikan taksi. Sang supir menyarankan kami untuk pergi ke Jimbaran di mana terdapat banyak tempat untuk makan. Gue pikir Jimbaran itu seperti Malioboro-nya Bali saat gue dan Anis mengiyakan sang supir untuk membawa kami ke sana, namun setelah sampai sana kami diberhentikan tepat di lobi Jukung Bali Seafood yang nyaris semua pengunjungnya adalah foreigner dengan dress yang mereka pakai for a proper dinner. Gue dan Anis hanya tersenyum ironis satu sama lain karena terlihat sangat tidak siap dengan makan malam ini melihat dari kemeja, parka, jeans, dan sepatu kets yang kami pakai.

DSC01177-tile

The Jukung Bali Seafood

Jukung Bali Seafood merupakan salah satu restauran-kafe yang letaknya berada di deretan tempat makan mewah di Jimbaran. Tempatnya sendiri sebenarnya menyenangkan. Apalagi jika tidak hujan, kami bisa menempati meja yang berada tepat di bibir pantai. Suguhan deburan ombak menerjang pasir di hadapan kami serta pemandangan lampu-lampu kota dan lampu lintasan Bandara Ngurah Rai di kanan-kirinya terlihat sangat indah. Tetapi niscaya pemandangan itu tidak berhasil mengalihkan perhatian kami dari harga makanan-makanan yang waaaaayyy over our league. Malam itu kami harus membayar sepuluh kali lipat dari uang makan yang biasa kami habiskan sehari-hari. Pengen nangis sebenernya, but this is Bali. Sekali-kali makan makanan enak dan mahal wajar lah. Setelah makan malam selesai, kami beranjak dari tempat tersebut sembari memegang erat dompet kami.

Tujuan selanjutnya adalah pusat oleh-oleh Krisna. Karena kami tahu sesingkat apapun perjalanan kami, orang-orang terdekat kami akan selalu menanyakan buah tangan yang kami bawa. Kami berjanji pada supir taksi tidak akan berlama-lama berbelanja, namun akhirnya kami menghabiskan nyaris satu jam di dalam sana memikirkan apa yang hendak dibeli. Tidak banyak memang, tapi banyaknya pilihan membuat gue pusing tujuh keliling akan membeli yang mana. Malam itu kami pulang ke hotel dengan membawa tentengan segede gambreng. Padahal bawaan kami ke Bali tidak banyak, namun ransel menjadi penuh akibat oleh-oleh tersebut. Hal yang gue sesali saat sampai ke hotel adalah ketidak bisaan gue menonton pertandingan Manchester United karena tidak ada channel BeIN Sports di tv hotel. Akhirnya gue tidur ditemani pertandingan Bundesliga antara Stuttgart vs Hamburger SV yang jerseynya nyaris mirip dengan jersey yang dipakai United dan Leceister City.

DAY 2

Pagi yang nyaris terlihat seperti pagi di hari-hari biasa (except that we were in Bali) sudah memanggil ketika kami memutuskan untuk buru-buru check-out dari hotel bahkan tanpa sarapan. Kami berkelakar bahwa makanan semalam masih mengenyangkan perut kami saking mahalnya harga yang harus kami bayar. Hahahaha. Lalu kami bertanya pada petugas keamanan hotel tentang tujuan-tujuan kami. Awalnya kami bingung memilih Uluwatu atau Tanah Lot untuk tujuan kami selanjutnya, namun berkat informasi dari petugas keamanan tersebut akhirnya kami memutuskan untuk ke Uluwatu yang tempatnya lebih dekat dan tidak memakan waktu lama dalam perjalanan.

DSC01205

Pantai Kuta! Sedikit mirip pantai Bagedur, hanya lebih ramai.

Sebelum ke Uluwatu, kami mampir di Pantai Kuta dan Monumen Legian. It was really a quick stop.  Namun gue ingat satu hal ketika mengunjungi Monumen Bom Bali 1 di Legian, saat menapakkan kaki di depan ukiran marmer yang berisi nama-nama korban pengeboman tersebut rasa merinding dan sedih menyeruak secara bersamaan di pikiran gue. Membayangkan bagaimana dahsyatnya kejadian tersebut yang merenggut lebih dari 200 orang dan mengguncang dunia. Selepas berfoto, kami diceritakan bagaimana kejadian suasana selepas pengeboman oleh supir taksi yang kami naiki sambil meneruskan perjalanan ke Uluwatu.

DSC01214

Legian Memorial

Jarak dari Kuta ke Uluwatu cukup jauh sehingga mata gue tidak bisa lepas dari kegiatan menatap argo taksi di depan gue. Jalanan yang dilewati sendiri cukup menyenangkan sebenarnya. Pedesaan di sepanjang jalan dan kami juga melewati salah satu universitas terkenal di Bali, Universitas Udayana. That place is just HUGE! Jalanan ke Uluwatu relatif sepi di pagi hari. Sang supir taksi menceritakan bahwa tempat ini ramainya ketika sore menjelang matahari terbenam. Uluwatu memang salah satu tempat asyik untuk menikmati sejuknya angin laut sore sekaligus pemandangan sunset. Ketenangan di suguhkan pura, hutan lindung, serta deburan ombak yang menghantam tebingnya sungguh langka.

DSC01230

Uluwatu, Pura di ujung tebing Pulau Bali.

DSC01228-tile

DSC01241-horz

DSC01247

Pura Luhur Uluwatu. Scarf kuning itu wajib dipakai di pinggang ketika memasuki kawasan ini.

Setelah satu jam menyusuri tebing, berfoto, dan menikmati sejuknya angin pantai kami memutuskan untuk menyudahi petualangan kami di Uluwatu dan langsung menuju ke Nusa Dua. Karena waktu menunjukan semakin siang dan perut kami yang sedari pagi belum diisi mulai meronta-ronta untuk disuplai, kami memutuskan untuk berhenti di salah satu restauran cepat saji di Nusa Dua. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana karena acara yang menjadi tujuan utama kami masih akan di mulai beberapa jam ke depan.

Lewat tengah hari, kami memutuskan untuk mencari mesjid untuk beribadah sholat dzuhur. Mencari mesjid di Nusa Dua tidak semudah mencari mesjid dan mushola di Jakarta atau tempat-tempat lain di Pulau Jawa. Mungkin karena mayoritas penduduk Bali yang bukan pemeluk agama Islam. Akhirnya setelah bertanya sana-sini, kami berjalan mengikuti arahan orang-orang yang kami tanyakan tentang masjid tersebut. Mereka bilang tempatnya cukup dekat, namun setelah berjalan kurang lebih 1 km dengan keadaan jalan yang menanjak kami tak kunjung menemukan masjidnya. Akhirnya kami diberi tahu untuk menaiki kendaraan umum saja.

Angkutan kota di Bali cukup bervariasi. Meski di dominasi oleh taksi, ada juga beberapa angkutan umum yang sama seperti di Jakarta. Hanya saja rutenya lebih pendek dan ongkosnya relatif murah juga ber-AC. Andai di Jakarta ada yang seperti itu. Kami sampai di pusat peribadatan yang cukup terkenal di Nusa Dua. Di sana terdapat Mesjid, Gereja, Pura, dan bahkan Kuil. Toleransi beragama masyarakan Bali memang patut diacungi jempol dan dicontoh oleh masyarakat di seluruh Indonesia.

DSC0128-tile

Mesjid, Gereja, Pura, and Kuil all in one place.

Selesai beribadah dan hendak menuju Nusa Dua Resort, kami berpapasan dengan rombongan yang membawa benda yang menyerupai bangunan menuju ke suatu tempat. Gue kira ada semacam ritual keagamaan yang sedang berlangsung dan benda itu adalah bagian dari ritual tersebut. Gue dan Anis sempat bergantian untuk berfoto sebelum akhirnya kami sadar bahwa benda yang menyerupai bangunan itu di dalamnya terdapat peti mati. Mereka akan melakukan ritual yang biasa dilakukan terhadap orang meninggal. Agak tengsin juga sih pas foto-foto, namun untungnya bukan kami saja yang melakukan hal itu.

DSC01317

Yap, itu di atasnya peti yang berisi orang meninggal. Ngaben sepertinya.

Lantas kami memberhentikan taksi untuk melanjutkan perjalanan kami ke Sofitel Bali Resort dan melakukan apa yang menjadi tujuan utama kami ke Bali, Mengejar Dani Pedrosa.

PS: Someday, I’ll be back with more plans and days of visit. Masih banyak yang belum sempat didatangi karena keterbatasan waktu. Semoga. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s