Sepang Trip 2014 – A Sideway Glance

Jika MotoGP sekarang mempunyai program A Sideway Glance untuk menunjukan sisi lain dari balapannya, gue juga punya sisi lain dari cerita perjalanan gue ke Sepang untuk menonton MotoGP untuk yang pertama kalinya. Terlalu banyak peristiwa indah yang gue dan Anis jalani di Malaysia ketimbang hanya pengalaman kami menjelajahi Sepang International Circuit dan menonton balapan MotoGP secara langsung. Dari mulai serba-serbi pengalaman pertama, tuan rumah yang kelewat ramah, tempat-tempat baru yang kami kunjungi dan banyak lagi. Maka tertuanglah sisi lain tersebut di artikel ini.

First Flight Experience

DSC00650

This was taken when we were on our way home.

Salah satu yang membuat gue excited soal perjalan ke Sepang ini adalah mengejar pengalaman pertama menaiki pesawat terbang. Mungkin terdengar norak, tapi selama 22 tahun 349 hari gue hidup di dunia ini, belum pernah sekalipun gue pergi ke suatu tempat menggunakan pesawat terbang. Singkat cerita setelah membeli tiket pesawat yang kelewat mahal saking panik nggak ketulungan karena h-1 bulan belum pegang tiket, gue dan Anis yang mengambil penerbangan terakhir pada hari Jum’at (24/10) karena masing-masing dari kami harus bekerja sebelum akhirnya bisa berlibur tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta beberapa saat setelah magrib. Kami berdua berusaha untuk tidak terlihat ‘cengo’ setelah check-in menggunakan mesin otomatis di depan konter AirAsia. Saat di pesawat, gue dan Anis tidak duduk berdampingan yang membuat kami memiliki keterbatasan dalam berbagi pengalaman penerbangan kami. Kami di tempatkan di dekat jendela dengan posisi duduk berurutan. How was my first flight experience? It was just riding on a roller coaster. Apalagi saat lepas landas, I was so thrilled!

DSC00172-vert

Soekarno-Hatta International Airport Waiting Logue.

Setelah berada kurang lebih dua jam di atas awan, pesawat tersebut membawa kami mendarat di Kuala Lumpur pada tengah malam. Konter imigrasi adalah hal selanjutnya yang kami datangi sebelum akhirnya kami bisa keluar dari bandara dan menemui Mano dan kak Nasir, keluarga kecil yang berjanji akan menampung kami selama kami ada di Kuala Lumpur. Mereka sudah menunggu di Pintu Kedatangan semenjak kami masih mengantri di Imigrasi. Mano adalah teman sekelas kami sewaktu kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Jakarta, jadi kami sudah tidak canggung lagi ketika kami meminta mereka untuk menemani kami ke sana-ke mari.

DSC00670-tile

Inside the plane, and outside the plane.

DSC00643-tile

Things in Malaysia that We Don’t Find in Indonesia

Merujuk ke judul di atas, BUANYAK! Dari mulai flat sederhana yang ditempati oleh Mano. Dalam satu kompleks flat yang terdapat di dalamnya nyaris memiliki bentuk yang sama. Cat putih tiga lantai dengan bentuk jendela yang nyaris serupa. Gue dan Anis bertaruh jika kami di minta untuk mengunjungi flat Mano tanpa dijemput terlebih dahulu oleh mereka, kami bisa berjam-jam mencari flat yang benar.

Lalu jalan tol yang begitu lengang di setiap harinya. Jarak yang kami tempuh dari kota Damansara ke Sepang serupa menempuh jarak dari Jakarta ke Bogor. Jika di Jakarta, kami tidak akan pernah sampai ke tujuan dalam kurun waktu satu jam. Namun karena kelengangan yang diciptakan publik Malaysia di jalan tol-nya membuat kami menempuh jarak tersebut dalam waktu kurang lebih satu jam. Di Indonesia jalan tol hanya di peruntukan untuk kendaraan beroda empat atau lebih sedangkan di Malaysia kendaraan roda dua seperti sepeda motor diperbolehkan untuk melalui jalan tol. Gratis pula! Sayangnya kemudahan tersebut dibarengi oleh angka kecelakaan lalu lintas mereka yang tergolong tinggi.

DSC00175E

Yap, selengang itu jalanan Malaysia.

Kemudian segala hal yang berbau self-serviced. Ada self-serviced parking yang kami temui di Kuala Lumpur International Airport 2, di KLCC Suria Mall tempat di mana Menara Petronas berdiri dengan gagahnya, bahkan di supermarket macam Giant. Ada juga self-serviced water refill, dan yang menurut gue paling menarik dan tidak akan pernah kami temui di Indonesia adalah self-serviced laundry. Solusi musim hujan yang jenius. Hanya butuh 10 ringgit sampai pakaian kita bersih dan kering. Kenapa di Jakarta tidak ada yang seperti itu mengingat laundry yang ada masih membutuhkan tiga hari sampai satu minggu untuk bisa selesai?

IMG00013-20141026-2331

Self-serviced laundry and Anis as the model. 😀

Petronas Twin Towers or Kuala Lumpur Tower?

Sabtu malam setelah gue dan Anis menonton kualifikasi, Mano dan kak Nasir mengajak kami ke pusat ibukota Malaysia, Kuala Lumpur. Hal yang wajib dikunjungi tentu saja Menara Kembar Petronas yang merupakan ikon Malaysia. Keduanya berdiri gagah saling berdampingan sembari diterangi oleh lampu di tengah kegelapan langit malam yang membuat menara itu semakin terlihat megah. Mano juga memberi tahu bahwa ketika malam tiba, danau yang ada di depan KLCC Suria Mall kerap menampilkan pertunjukan air mancur. Benar saja, selepas adzan magrib sayup-sayup terdengar musik diiringi dengan liukan air mancur dan temaram warna-warni cahaya yang mengikutinya.

DSC00402

This is the most glorious picture I had ever taken when I was in Malaysia.

Karena kami tidak punya waktu lama, maka setelah pertunjukan air mancur selesai kami langsung meluncur ke tujuan selanjutnya. Di perjalanan ke tempat tersebut, Anis melihat menara yang di puncaknya terdapat gelembung serupa menara stasiun televisi di Tokyo. Dia langsung menunjuk menara itu dan menyebut jika itu adalah Menara Petronas. Tak pelak gue, Mano dan kak Nasir langsung mendebatnya. Hehehehe…

DSC00356-horz

Petronas Twin Towers

Ternyata selama ini Anis salah mengidentifikasi bahwa menara yang kerap di sebut Menara Kuala Lumpur itu dengan Menara Petronas dan Menara Petronas dengan sebutan lain. Well now she knows. 😀

Ampang Hill

Tujuan kami selanjutnya adalah Bukit Ampang. Berbekal GPS dan arahan dari adik Mano, Naysila beserta seorang temannya, yang turut serta dengan kami akhirnya kami sampai di sana sebelum tengah malam. Bukit ampang sebenarnya sama dengan bukit-bukit di Indonesia yang menyuguhkan pemandangan lampu kota di malam hari. Melihat banyaknya pengunjung malam itu, gue tebak bukit ini salah satu tempat nongkrong populer di kalangan pemuda-pemudi setempat. Berikut dengan lapak-lapak pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai spot menarik sebagai tempat makan mereka, tidak heran masih banyak orang yang berdatangan ke tempat itu bahkan saat kami sudah akan beranjak pergi.

DSC00421

The view from Ampang Hill. Maapkan kamera Anis atas ketidak jelasan gambarnya. :p

Salah satu hal yang menarik perhatian gue dan Anis adalah aneka makanan kecil yang dibentuk menyerupai sate dan dijajakan di sana. Hanya butuh satu ringgit untuk membeli salah satu dari ratusan tusuk makanan yang disajikan. Sayang kami tidak sempat mengambil gambarnya. Entah karena kami terlalu lapar atau terlalu antusias dengan tempatnya.

Beda Bukit ampang dengan bukit-bukit yang ada di Indonesia mungkin hanya kurangnya lampu yang berada di kota yang pemandangannya sedang kami saksikan. Hal itu terdengar wajar memang, mengingat di beberapa sudut kota Kuala Lumpur masih banyak yang wilayahnya masih dalam proses pembangunan. But overall, Bukit Ampang merupakan salah satu tempat yang wajib untuk dikunjungi kalau gue ke Malaysia lagi.

Thanking The Newly-Wed Couple

20141025_084138

Mano and kak Nasir. I took this picture while he was driving. :p

All this time, rencana gue dan Anis untuk ke Sepang mungkin tidak akan pernah berjalan jika bukan karena Mano dan kak Nasir yang kebetulan sedang tinggal di Malaysia karena tugas kantor kak Nasir. Segala hal yang patut dikhawatirkan para traveler ketika traveling seperti tempat menginap dan transportasi tidak menjadi pikiran kami menjelang perjalanan ‘mandiri’ pertama kami keluar negeri karena sudah ada Mano dan kak Nasir yang memastikan keduanya aman.

DSC00180

See the GPS? They still go here-and-there with it.

IMG_20141025_180029

If Mano drove the car, I wouldn’t be here writing about my journey. :p

Mereka menjemput kami di KLIA2 tengah malam, menemani kami beristirahat di Rest Area, menyediakan tempat tidur, mengantar dan jemput kami ke Sepang ditengah kesibukan mereka sendiri. Maka dari itu, gue dan Anis sangat berterima kasih pada Mano dan kak Nasir. Berkat keha’diran mereka di Kuala Lumpur, perjalanan pertama gue dan Anis ke Malaysia terasa mudah dilakukan. Harapan gue ketika tahun 2015 atau beberapa tahun ke depan gue berniat untuk kembali lagi ke sana, mungkin tidak hanya sekedar menonton balapan saja, mereka masih di sana untuk menyambut gue dan siapapun yang datang bersama gue. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s