Sepang Trip 2014 – Day 1

DSC00347

SEPANG! I finally made it to the trip of the year.

Hari pertama gue dan Anis di sirkuit yang paling mudah dijangkau dari Jakarta dan juga mengadakan balapan dari salah satu olah raga favorit gue, MotoGP, nyaris kami habiskan dengan berfoto-foto di berbagai tempat-tempat ikoniknya ketimbang hanya untuk menghadiri sesi kualifikasi.

Pagi itu setelah melalui jalan tol yang cukup panjang dan tidak terlalu ramai, kami sampai di sirkuit sekitar jam 9 yang ternyata sudah terlampau siang jika kami berniat mengantri untuk sesi tanda tangan pembalap. We had no idea at all that Riders autograph session was held in Saturday afternoon when we thought we could a bit chill up on Saturday session. We got in line anyway.

DSC00189

Gue dan Anis menunggu dengan penuh kesabaran karena sesi tanda tangan baru akan dimulai jam 11.30 dan yang akan diberikan kesempatan hanya 400 orang. Personaly, gue rasa gue dan Anis termasuk ke 400 orang itu, namun nasib kami rupanya belum seberuntung orang-orang di depan kami. Berpanas-panasan dari jam 9 pagi tidak cukup untuk membawa kami naik panggung untuk bertemu para idola dari balapan MotoGP. Antrian diberhentikan saat di depan kami hanya tersisa kurang lebih 20 orang. Menyakitkan memang, mengingat kami menunggu dan berpanas-panasan selama 2jam 30menit sambil bermandikan keringat dan cahaya matahari (halah!), namun akan lebih menyakitkan lagi jika kami tidak mencoba sama sekali. At least it taught us a lesson that you cant be late to show up in the venue when you are after riders autographs.

DSC00203

So close yet so far away

Kami berusaha melupakan kekecewaan tersebut dengan berjalan-jalan kesana-kemari mengunjungi booth demi booth untuk sekedar melihat-lihat, berfoto, atau membeli merchandise. Gue tidak belanja habis-habisan mengingat harganya yang menurut gue terlampau mahal untuk diborong. Hanya yang menurut gue wajib punya saja yang gue beli meski sejujurnya gue ingin membeli semua yang ada.

SAM_2019

The most expensive merchandise we have ever purchased

Kami baru benar-benar memasuki kawasan sirkuit ketika jam menunjukan pukul 1 siang, satu jam menjelang sesi kualifikasi. Itupun belum benar-benar ke Main Grandstand North di mana seharusnya kami duduk. Kami berkunjung dulu ke Main Grandstand South di mana pemandangan balapannya sungguh asyik. Tidak ada pitlane memang, namun tingkungan-tingkungan krusialnya berada di segala penjuru mata angin. Surga di depan mata dan telinga hadir saat suara motor-motor Moto3 berseliweran. Saat kami membawa makan siang kami, gue berfikir bahwa ini lebih baik ketimbang makan siang di restoran mewah.

DSC00234

Main Grandstand South. Moto3 riders was doing a start practice.

Makan siang selesai, dan kami memutuskan untuk beranjak ke tempat di mana seharusnya kami berada. Excited? IYA! Pengen mewek? Sebenernya iya, cuma  gue tahan lantaran malu dilihat orang-orang. Hahahaha. Pertama  kali masuk, kami mencoba  duduk di beberapa kursi kosong yang ada. Kami berada tepat di depan pit Movistar Yamaha. Selama beberapa menit kami di sana untuk sekedar foto-foto, kami pindah ke spot yang lain, spot yang menurut Anis terbaik jika ingin melihat pembalap saat kualifikasi. Gue tahu maksud Anis apa ketika kami tiba di depan pit Marc Marquez dan Dani Pedrosa. Rider yang gue sebutkan terakhir adalah orang yang menanamkan keinginan gue untuk pergi ke Sepang semenjak pertama kali gue mengenal dunia balapan MotoGP.

SAM_2040

Kalian tahu? Sebelum perjalanan ke Sepang ini gue lakukan beberapa dari teman gue berusaha meyakinkan gue kalau nonton balap sesungguhnya lebih enak jika melalui televisi. Kata mereka, di sirkuit gue hanya  bisa melihat para pembalap lewat dengan motornya di depan gue bersama angin. Gue sempat goyah karena kebenaran tersebut, apalagi tiket yang gue punya adalah tiket Main Grandstand yang hanya berupa lintasan lurus. Tapi sekali lagi gue meyakinkan diri. Tahu apa mereka? Sekalipun mereka belum pernah menonton balap secara langsung. Maka saat gue berdiri di sana  dan mendengar sendiri raungan mesin motor dari yang berkapasitas 250cc sampai yang 1000cc, gue akhirnya mengerti mengapa orang-orang terus berdatangan ke sirkuit. Seperti sepak bola  yang auranya tercipta dari nyanyian para supprter di tribun, euforia yg ditimbulkan oleh balapan MotoGP tercipta saat para pembalap menggeber motor mereka. Suaranya sangat terdengar berbeda dengan keluar dari speaker tv.

OOT, jika gue diberi motor dengan suara knalpot yang garang seperti pada motor-motor Moto3, Moto2, dan yang paling badass, MotoGP, gue juga tidak akan ragu untuk menggebernya diatas kecepatan rata-rata pengguna jalan. Maann, suara renyahnya bahkan mengalahkan suara barito dan logat inggris-nya Benedict Cumberbatch. Apalagi dengan ledakan yang kadang muncul bersamaan dengan mereka menarik atau melepaskan kekuatan pada gas. Sayang telinga kiri gue tidak sanggup menahan gempuran bising yang keluar dari knalpot motor mereka secara bersamaan.

Right, saat babak kualifikasi tiga kelas berbeda telah rampung, gue dan Anis tak lantas beranjak dari tempat kami. Anis yang sudah terlebih dahulu ke Sepang tahun 2010 silam tahu betul agenda pembalap terutama mereka yang mendapat posisi tiga teratas setelah rangkaian acara resmi telah rampung. Kami menunggu Lorenzo, Pedrosa, dan Marquez berjalan menuju garasi mereka masing-masing dari tempat press conference. Benar saja. Setelah 30 menit, satu persatu dari mereka mulai muncul dan berjalan menuju garasi masing-masing.

Pembalap pertama yang keluar adalah Pedrosa yang entah ditemani oleh siapa. Anis meyakini perempuan yang bersama Pedrosa adalah reporter MotoGP dari BBC, Azi Farni. Namun gue tidak yakin karena setahu gue BBC sudah tidak menayangkan MotoGP lagi di Inggris, dan Azi sudah tidak lagi jadi reporter MotoGP untuk mereka. Siapapun dia, nyatanya dia berhasil mengalihkan perhatian Pedrosa dari para fans yang terus memanggilnya termasuk gue dan Anis. Tercatat Pedrosa hanya menoleh dan melambaikan tangannya sekali ke arah penonton sebelum kembali sibuk dengan sang reporter. Sampai di depan garasinya, Dani yang kebingungan mencari celah untuk masuk ke dalam garasi yang sudah separuh ditutup tetap tak bergeming ketika fans masih meneriakan namanya. Yeah, he’s just being Dani Pedrosa.

Lain cerita dengan Jorge Lorenzo. Dia sudah melambaikan tangan dan tersenyum ke arah penonton tak lama setelah dia keluar dari ruang press conference. Walau dirinya juga sedang diajak bicara oleh seseorang, dia tetap tersenyum dan beberapa kali melambaikan tangan kearah penonton sebelum akhirnya menghilang di balik garasinya. Marc Marquez lebih sensasional lagi. Nyaris sepanjang jalannya ke pit selalu melempar senyum dan melambaikan tangan ke arah penonton yang saling bersahutan meneriakkan namanya. That kid! I admire his guts so much.

DSC00302

Usainya babak kualifikasi dan urusan foto-memfoto pembalap dari kejauhan, gue dan Anis beranjak dan mencoba menjelajahi Main Grandstand North dan Others. Kegiatan di hari Sabtu memang tidak seketat kegiatan di hari Minggu. Begitu pula dengan penjagaannya. Gue dan Anis bebas berkeliaran bolak-balik ke tempat-tempat tersebut. Dari berfoto tepat di depan panggung yang hari Minggu nanti akan digunakan untuk podium, sampai befoto di tribun atas tingkungan menjelang start dengan latar belakang Grandstand F yang bertuliskan Sepang F1 Circuit. Kami juga berfoto di jalan yang diapit oleh Main Grandstand tersebut.

DSC00317

DSC00328

DSC00306

Setelah puas berfoto, kami kembali menjelajahi booth-booth yang ada di sana. Kami mengincar booth Honda di mana orang-orang mendapatkan goodie bag gratis dengan kartu pos bergambar Marquez dan Pedrosa serta beberapa stiker di dalamnya. Selama masih gratis, apapun akan gue sama Anis samperin. Muahahahaha. Booth Honda sudah ketemu, kami mengambil goodie bag-nya dan numpang berfoto di photobooth mereka. Hasilnya lumayan untuk kenang-kenangan perjalanan.

Karena kami tidak punya banyak waktu di Malaysia, kami hendak memaksimalkan waktu yang terbatas tersebut agar kelak tidak menyesal. Maka kami berniat untuk langsung pulang saat waktu sudah menunjukan pukul 3.30 sore. Namun sesuatu menahan kami, Stevan Bradl terlihat sedang menjeng sambil memberikan tanda tangan di booth GIVI, salah satu sponsor timnya. Damn! We wouldn’t missed that for the world of course! Lantas mengekorlah kami di belakang antrian dengan harapan besar bahwa kali ini antrian tidak akan dipotong setelah tersisa hanya beberapa orang di depan kami. Kami sudah senang saat tinggal sepuluhan orang di depan kami. Kali ini tidak akan sia-sia mengantri, kata gue dalam hati. Namun Stevan Bradl berpikiran lain, dirinya memutuskan untuk menyelesaikan sesi tanda tangan dan beranjak dari kursinya untuk segera pergi dari kerumunan penggemar. You know what? A bad luck for a day is already bad. That day, we got two bad lucks. Sakitnya tuh di sini… *nunjuk dada*

DSC00339

Yeah, we were this close with Stevan Bradl.

Pulang dengan tangan kosonglah kami jika target hari itu hanya untuk mendapat tanda tangan pembalap. Luckily, that wasn’t the only thing we came for. Gue tetap merasa puas hari itu. Gue dan Anis tetap pulang dengan semangat yang masih membara dan senyum yang selalu tersungging. Meski kadang miris tiap kali kami mengingat dua antrian yang diputus di tengah jalan tersebut, tapi tetap saja, we felt amazing!

PS: Day 2 is this way Ladies and Gents! Sepang Trip 2014 – Day 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s