MotoGP 2014 Mid-Season Review: The Inevitable Domination of Marc Marquez

image

Marc Marquez lifting his 9th winning trophy of the season with a big smile in his face.

Pagelaran MotoGP sudah melewati paruh musim pertama yang berakhir tiga pekan yang lalu di Sachsenring, Jerman. Sepanjang sembilan seri yang dijalani oleh para pembalap mulai dari Qatar pada Maret lalu sampai yang terakhir di Jerman, tidak ada yang patut diketahui selain kemampuan Marc Marquez yang tidak pernah kehilangan keberanian dan niat untuk memenangkan balapan dari manapun dia memulainya.

Sang Juara Dunia Baru sudah menebar ancaman semenjak latihan bebas di Losail hingga dirinya mendapatkan pole position di seri pembuka tersebut. Tidak ada kejutan atas kemenangannya kecuali sosok Jorge Lorenzo, kompetitor terkuatnya musim lalu, bahkan tidak bisa menyelesaikan balapan. Pada tahap ini para penggemar MotoGP masih bisa kalem menghadapi apa yang ditunjukan Marquez karena hal itu terjadi pada balapan seri pertama. Namun apa yang terjadi selanjutnya mulai menyingkap keraguan akan adanya perlawanan dari pembalap lain mengingat Marquez yang begitu dominan dengan meraih lima kali pole position diikuti dengan kemenangan beruntun pada lima seri pertama saat balapan akhirnya menginjak tanah Mugello. Dirinya berhasil menyamai rekor Mick Dohaan yang meraih hasil sama di musim balap 1997. Marquez meninggalkan para kompetitornya di bagian paling bawah rantai makanan.

Barulah di Mugello muncul perlawanan dari musuh bebuyutan yang telat bereaksi akan apa yang telah dilakukan Marquez selama lima seri terakhir. Lorenzo menjadi ‘kaum marjinal’ pertama yang menantang Sang Juara Bertahan. Pertarungan Mugello 2014 tidak akan pernah mungkin bisa dilupakan oleh keduanya, para penggemar, bahkan Valentino Rossi yang hanya bisa menjadi penguntit di belakang keduanya.

Setelah apa yang terjadi di Mugello dengan Marquez dan Lorenzo, para pembalap seperti tersadar bahwa Marquez bukanlah sosok Anak Ajaib yang tidak bisa dilawan di atas sirkuit. Maka secara bergantian Dani Pedrosa dan Andrea Dovizioso melakukan apa yang pernah Lorenzo lakukan di dua seri berikutnya. Nasib keduanya masih serupa dengan Lorenzo, tidak ada yang benar-benar sukses mengalahkan Marquez. Bahkan Pedrosa dengan kemampuan motor yang nyaris serupa dengan Marquez saja tidak mampu.

Dominasi yang ditunjukan Marquez di kelas MotoGP begitu kentara sehingga diberi hukuman untuk memulai balapan dari pitlane dengan beberapa pembalap lain yang juga dikenai hukuman akibat mengganti ban tanpa seizin Race Direction di balapan Sachsenring yang sedang dilanda cuaca tidak menentu pun tidak mampu menghentikannya. Dia tetap bisa merangsek ke depan untuk kemudian memenangkan balapan! Kemenangan tersebut adalah kemenangan kesembilan beruntun dari sembilan seri MotoGP yang telah berjalan musim ini. Atas raihan ini, Marquez melewati pencapaian pembalap legendaris asal Italia, Giacomo Agostini, yang meraih delapan kemenangan beruntun dalam satu musim balap kelas utama tahun 1971. Rekor fantastis lain yang berhasil dipecahkannya musim ini.

Apa yang Marquez alami sepanjang paruh pertama musim balap 2014 menggambarkan betapa keberuntungan hanya berpihak pada Marquez di setiap seri. Ah, tidak, tidak, Marquez tidak pernah beruntung. Dia memenangkan segalanya dengan apa yang dia punya dalam tubuh dan pikirannya. Jika ada pembalap lain yang memenangi balapan selain dirinya musim ini, maka bisa dikatakan keberuntungan baru muncul setelah sekian lama bersembunyi di bawah ketiak bakat dan talenta Marquez.

Marquez is like Lorenzo in his second year in MotoGP with a better bike. Sangat tenang, jarang membuat kesalahan dan konsisten. Dirinya terlihat tidak pernah puas dengan kemenangan yang nyaris setiap seri didapatkannya. Marq Marquez adalah jenis pembalap yang mempunyai kecepatan, keberanian, ketepatan yang secara sempurna menyatu dengan perangkat elektronik pada motor yang membuatnya sangat kencang di lintasan balap.

Satu hal lagi yang membuat dirinya secara alami memisahkan diri dari pembalap lain adalah caranya menikmati balapan. Di setiap konferensi pers yang dijalaninya seusai balapan, dirinya selalu mengatakan jika dia ‘having a lot of fun’ selama balapan berjalan. Terlebih jika kemenangan tersebut diraihnya dengan susah payah seperti saat melawan Lorenzo di Mugello dan Pedrosa di Catalunya, senyum polos yang disunggingkannya semakin lebar dan penuh akan kepuasan. Layaknya bocah yang baru selesai menjelajahi semua wahana di Taman Bermain, binar matanya selalu bisa diartikan ‘Let’s do it again!‘ terhadap balapan yang baru saja diselesaikannya.

image

Can you see the excitement in his eyes?

Tidak ada yang menyalahkan Marquez atas dominasi tidak terhindarkannya di MotoGP. Bahkan dominasi adalah sebuah hal yang positif selama perlawanan tetap dilakukan oleh pembalap-pembalap kompetitornya. Hanya saja kadang balapan terasa sedikit membosankan dan menjadi kurang menghibur jika hanya satu pembalap yang dominan. Ingat ketika Valentino Rossi mendominasi di awal tahun 2000-an? Seperti itu yang akan terjadi pada MotoGP jika Marquez tidak kunjung menemukan lawan yang sepadan.

Lantas apa yang bisa diharapkan dari paruh musim kedua MotoGP 2014 yang akan kembali dimulai pekan depan di Indianapolis? Para penggemar tentunya sangat menginginkan adanya pertarungan-pertarungan serupa pertarungan Marquez vs Lorenzo di Mugello. Mereka masih menunggu siapa lagi yang akan mengantri untuk bertarung sengit dengan The Baby Alien. Publik butuh bukti bahwa pembalap lain masih serius menjegal Marquez untuk mencetak rekor luar biasa untuk memenangi semua balapan musim ini dan meraih gelar juara dunia MotoGP keduanya dengan masih menyisakan banyak seri balapan untuk dijalani. Namun jika memang hal itu tidak akan pernah terjadi, maka para penikmat balapan MotoGP sudah seharusnya legowo terhadap performa Marquez yang luar biasa. Jika apa yang di twit Matthew Birt (wartawan MotoGP untuk MCN) yang mengatakan bahwa Marquez tidak akan memenangkan semua balapan di hari Minggu hanya karena balapan seri Assen digelar hari Sabtu akan benar-benar menjadi nyata, apa yang harus dilakukan penggemar adalah menatap optimis kedepan bahwa yang bisa menghentikan Marquez dan Honda-nya kelak adalah kompetitor balap lain, bukan Dorna.

Advertisements

One thought on “MotoGP 2014 Mid-Season Review: The Inevitable Domination of Marc Marquez

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s