Bloodlines

            Mereka bilang ini takdirku. Takdir yang sudah sedari kecil mengalir di dalam aliran darah yang terus memompa jantungku selama nyaris 28 tahun. Tidak ada jalan keluar untuk menghindari apa yang akan segera terjadi, begitu orang-orang biasanya mengingatkanku. Sekuat apapun aku berlari menjauhi takdirku, aku selalu mendapati diri sedang menjalani jalan berbeda dengan tujuan yang sama. Hidupku seperti labirin besar yang hanya mempunyai satu jalan keluar. Satu-satunya jalan yang membuatku sekarang berdiri diantara pilihan yang cukup sulit untuk dibuat.

Di depan sana ada seseorang yang sangat akrab wujudnya dimataku, namun terasa begitu asing saat aku menatap langsung matanya dan hanya pancaran kebengisan yang aku dapatkan. Dia adalah bagian dari darah dagingku, separuh jiwaku yang nyaris tidak terpisahkan kala dirinya masih bertahan dengan apa yang dia yakini. Sama seperti apa yang aku lakukan, dirinya berusaha mati-matian untuk menghindari takdir yang seolah sudah digariskan untuknya bahkan sebelum dirinya menjadi makhluk fana yang dilahirkan ke dunia. Namun sekeras apapun usahanya untuk lari dan bersembunyi dari takdir, jalan hidupnya akan selalu mengarah kepada satu tujuan besar.

Sosok di depanku tiba-tiba menggeram dengan seringai gigi tajam yang bahkan orang dengan penglihatan tidak normal pun akan mengetahui bahwa dia bukan lagi manusia. Wajahnya yang dipenuhi beberapa luka sayatan dan benturan menunjukan raut kebencian yang amat sangat dalam terhadap diriku yang keadaan fisiknya tidak jauh lebih baik dari dirinya. Apa yang ada di depanku katanya tidak bisa dimusnahkan hanya dengan senjata yang biasa digunakan untuk membunuh manusia. Awalnya aku tidak percaya dengan rumor yang mengatakan bahwa setiap hari orang-orang menghilang secara misterius lantas kembali muncul dengan membawa lebih banyak orang untuk dihilangkan. Sampai aku melihat bukti nyata yang ada dihadapanku, akhirnya aku percaya bahwa makhluk seperti itu benar adanya dan bahwa omongan orang-orang tentang takdirku dan takdirnya bukanlah lelucon belaka.

Aku mengambil nafas panjang sembari mengambil ancang-ancang untuk bersiap menerima serangan jika makhluk di depanku mulai berlaku agresif. Tongkat runcing berbentuk pancang yang terbuat dari perak padat aku genggam erat-erat ditangan kananku sementara belati yang terbuat dari unsur yang sama ditangan kiriku. Benda-benda yang sengaja diciptakan untuk bisa membunuh ‘mereka’.

Ayo, dik, mari kita selesaikan urusan kita dengan sang takdir. Aku bergumam dalam hati ketika makhluk itu mulai berlari kearahku sembari menggeram dan memperlihatkan taring serta kuku-kuku jarinya yang setajam pedang. Aku ikut berlari kearahnya untuk menyambut serangan yang dilancarkannya. Ketika tubuh kami saling beradu, dan masing-masing dari senjata kami mulai saling menorehkan luka, saat itulah kami larut dalam pertarungan kami yang bagaikan boneka permainan dalam pertunjukan akhir sebuah drama.

*****

“Kak, kenapa kita nggak punya mama?” suara polos adik kecilku menyeruak ditengah keceriaan kami yang sedang menikmati suasana taman bermain yang ramai.

Wajah polosnya tidak kuasa menyembunyikan rasa penasaran saat melihat anak-anak lain digandeng oleh orang dewasa wanita yang mereka panggil ibu, sementara dirinya hanya kerap didampingi oleh seorang laki-laki remaja dan sesekali oleh laki-laki dewasa yang biasa dipanggilnya ayah.

Aku yang saat itu baru berusia 15 tahun hanya bisa menghiburnya dengan cerita bahwa mama adalah malaikat penjaga yang kehadirannya dibutuhkan di surga. Biasanya adikku langsung tersenyum bahagia karena percaya akan kebohongan kakaknya. Memang pahit rasanya ketika aku harus mengarang cerita begitu indah tentang mama demi adikku sendiri ketimbang mengatakan kepahitan yang sesungguhnya terjadi. Lagipula, dia masih berada dalam usia yang seharusnya memang menelan kebohongan indah bulat-bulat agar kenangan akan masa kecilnya tidak terlalu kelam.

“Jamie, ayo kita pulang. Kakak yakin ayah sudah tiba di rumah.”

Tanpa berkata apapun, Jamie merespon ajakanku dengan berdiri dan saling menepukkan telapak tangannya untuk membersihkan diri dari pasir yang memenuhi tangan mungilnya.

Adik kecilku itu tidak pernah membantah apa yang aku katakan. Dirinya selalu menurut dan percaya terhadap segala ucapanku. Bahkan dirinya lebih menurut denganku ketimbang dengan ucapan ayah yang kadang nada bicaranya bahkan lebih kasar dari pemabuk yang diusir dari bar.

Aku mendapati senyum diwajah Jamie ketika kami saling bergandengan tangan meninggalkan taman bermain. Senyum tanpa beban yang entah sampai kapan akan tetap dimilikinya. Senyum ikhlas persis seperti yang dulu pernah aku sunggingkan ketika masa-masa dimana Ayah dan Ibu masih bersama tanpa tahu hal buruk apa yang akan menimpa keluarga kami segera setelah janin yang ada di kandungan ibu dilahirkan.

*****

            Aku sedang mengikuti kelas Bahasa Spanyol di sekolah ketika tiba-tiba salah satu dari guru Bimbingan Konseling memanggilku ditengah penjelasan guru mengenai percakapan sederhana. Aku diminta untuk mengemasi barang-barangku sebelum akhirnya aku melihat Ayah dengan mata sembabnya sedang berdiri menatapku dari dalam ruangan BK.

            “Ayah? Apa yang terjadi? Apa ibu baik-baik saja?” pertanyaan-pertanyaan keingin tahuanku terhadap sejuta jawaban yang seperti disembunyikan oleh Ayah menyeruak begitu saja.

            Tanpa menjawab pertanyaanku, Ayah langsung menangis dan memelukku dengan erat. Pelukannya menyiratkan rasa kehilangan yang amat mendalam. Aku yang tidak peka terhadap apa yang sedang Ayah alami tidak sampai hati bertanya mengapa sikapnya seperti itu.

            “Kita harus pulang sekarang,” hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya saat dia melepaskan pelukannya.

            Yang aku ingat selanjutnya hanyalah kenyataan bahwa Ibu sudah tidak ada di sampingku lagi. Ibu meninggal saat melahirkan Jamie. Well, setidaknya itu yang aku tahu selama beberapa tahun sebelum akhirnya Ayah membuka rahasia bahwa yang menghilangkan nyawa ibuku adalah bukan kelahiran Jamie, melainkan sesuatu yang lain. Kemudian Ayah menceritakan padaku bahwa jika aku tidak merawat baik-baik Jamie sementara Ayah mencari tahu keberadaan sesuatu yang membunuh ibuku itu, hal yang sama juga akan terjadi pada Jamie. Semuanya hanya masalah waktu.

            Aku menuruti semua perkataan Ayah untuk selalu menjaga Jamie setiap saat. Kami selalu bersekolah di tempat yang sama, bekerja paruh waktu di tempat yang sama, bahkan nyaris berkuliah di tempat yang sama jika saja takdir memilih untuk lebih lambat melimpahkan suratannya terhadap kami.

            Jamie berubah sepenuhnya menjadi makhluk yang dulu membunuh ibu saat dirinya tidak sengaja menusuk leher pacarnya dengan dua pasang gigi taring yang tiba-tiba saja tumbuh di kedua sisi gusinya dan meminum cairan merah darah yang mengalir dari luka tusukan tersebut dengan brutal.

            Hatiku hancur tatkala mendapat kabar bahwa akhirnya sang takdir menemuinya disaat aku percaya bahwa cerita Ayah tentang virus yang membunuh ibu ternyata juga menginfeksi Jamie kecil di dalam kandungan hanyalah kebohongan belaka. Apa yang ditakutkan oleh Ayah akhirnya benar-benar terjadi. Jamie yang tadinya sangat dekat dan nyaris tidak terpisahkan denganku tiba-tiba menjadi makhluk asing hanya dalam hitungan detik.

            “Kau harus memburunya, Jack,” ucap ayah beberpa hari kami menyadari bahwa Jamie telah berubah. “Hanya itu satu-satunya cara agar dia tidak semakin menyebarluaskan apa yang dia bawa. Hanya kau yang berhak membunuhnya seperti aku dulu membunuh kakakku.”

            Ayah benar. Kutukan yang sudah turun-temurun terjadi pada keluarga kami ini memang tidak bisa dihindari. Dia selalu bilang padaku bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah dengan membunuh vampir yang masih mempunyai hubungan darah dengan sang pemburu. Selama ini ayah dan leluhurnya belum sanggup melakukan hal tersebut. Saat aku sadar bahwa kini giliranku untuk mengalaminya, aku tidak punya pilihan lain selain memburu dan membinasakan Jamie dan kaumnya yang nyaris tidak terdeteksi seperti apa yang selama ini Ayah lakukan.

Sepeninggalan Ayah yang terbunuh dalam salah satu peperangan terbesar yang mempertemukan vampir dan pemburunya, aku nyaris tidak pernah berhenti untuk mencari Jamie. Kadang aku sering merenung sampai menitikan airmata jika mengingat takdir yang menimpa kami. Jika sudah begitu, aku selalu berfikir apa salah yang diperbuat leluhurku dimasa lalu sehingga takdirku kini jauh dari gambaran kata kebahagiaan. Saat aku menyadari renungan itu adalah sebuah hal bodoh dan hanya membuang waktu, aku segera kembali ke jalanku untuk menemukan Jamie, atau apa yang tersisa dari tubuhnya yang kini dihuni oleh iblis bertaring peminum darah manusia.

*****

Pertarungan tidak seimbang antara aku dan Jamie membawaku tersungkur lemah menghantam dinding jurang bebatuan yang berada di sekeliling tempat kami berduel. Tidak ada perasaan lain yang tersisa dariku selain rasa sakit yang luar biasa disekujur tubuh sembari diiringi muntahan darah. Aku berusaha bangkit dengan mengais-ngais batu yang tertanam disekitar tempatku tertelungkup. Pancang dan belati yang sepanjang pertarungan tadi ku pegang sudah tidak diketahui lagi keberadannya. Aku mengasihani diri sendiri dalam hati karena tidak mampu menyelesaikan apa yang seharusnya aku lakukan untuk Jamie.

            “Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk berhenti mengikuti dan berusaha membunuhku?” Jamie berlari dengan kecepatan supernya dari tempatnya berdiri ke tempat di mana aku masih tertelungkup menahan sakit. “Semua usahamu itu hanya akan berakhir dengan kesia-siaan, Jack. Kau tidak akan pernah menang melawan kami,” tendangan Jamie mendarat tepat di perutku saat aku hendak bangkit.

            Tubuhku terpental dan kembali menghantam batu.

            “Semua usahamu membinasakanku hanya akan berakhir dengan kematianmu,” katanya menyambung sembari mengangkaki tubuhku yang tertelungkup. Tangan kirinya sudah berada dileherku dengan kuku-kuku tajam yang nyaris menembus kulitku.

Aku yang tidak mampu lagi untuk berontak hanya menatapnya tak berdaya. Rasa bersalah kini menyeruak hebat direlung hatiku. Teringat akan apa yang pernah kami alami semasa kecil, pesan-pesan ayah yang selalu memerintahkanku untuk menjaga Jamie, kenangan-kenangan itu membuat tatapanku terhadapnya mendadak kabur karena mataku dipenuhi oleh genangan air mata kesakitan yang luar biasa terhadap raga dan batinku.

            Hingga saat itu, aku percaya bahwa kematianku sudah dekat dan takdir memang memilihku sebagai pihak yang kalah. Aku telah siap jika jiwaku dicabik-cabik oleh makhluk apapun itu yang berwujud adikku. Ku pejamkan mata ketika tangan Jamie mengayun kearah wajahku. Bisa kurasakan airmata yang sedari tadi terjebak di kelopak mataku mengalir deras ke arah dimana gravitasi menjebak mereka.

            Setelah beberapa detik aku memejamkan mata, tidak ada rasa sakit yang kurasakan akibat luka baru yang tercipta. Cengkraman tangan Jamie di leherku yang tadinya sangat kuat pun tiba-tiba mengendur.

Apa yang terjadi?

Aku memejamkan mata dan mendapati Jamie sedang terpaku menatapku dan tangan kirinya yang sudah dilepas dari leherku secara bergantian. Ku lihat ada cairan asing ditangannya. Ku tebak itu adalah air mataku yang jatuh ketika aku memejamkan mata.

Pandangan Jamie berubah 180 derajat dari yang tadinya bengis menjadi Jamie yang dulu pernah aku kenal.

“Jack,” katanya dengan wajah sedih melihatku babak belur, “Apa aku melakukan semua ini padamu?”

“Jamie,” ucapku lirih. Ingin sekali aku bangkit dan memeluknya karena akal sehat manusianya tiba-tiba saja kembali.

“Jadi apa yang dibicarakan orang-orang tentang takdirku memang benar adanya. Aku adalah petaka yang kehadirannya tidak diinginkan di dunia,” Jamie langsung syok saat sebagian dari sisi baiknya tiba-tiba hadir kembali di jiwa yang sudah dipenuhi oleh kejahatan. Dirinya kemudian mendapati pancang dan belati yang berserakan di sekitar tempatku terbaring. Dia memungutinya satu persatu dan meletakannya didekatku.

“Jamie, apa yang sedang kau lakukan?” kataku saat dia kembali mendekatiku dan menyerahkan pancang perak untuk digenggam tangan kananku yang sudah tidak berdaya.

“Maafkan aku, Jack, tapi kau harus membuhuhku.”

“Tidak, Jamie, kau sudah sadar. Kau sudah kembali normal.”

Sesaat setelah kalimatku selesai, Jamie mengerang. Erangannya terdengar memilukan. Saat aku perhatikan wajahnya yang kerap berubah-ubah dari biasa menjadi bengis, kemudian menjadi biasa lagi dan begitu seterusnya.

“Tolong, Jack, akhiri penderitaanku,” dirinya mengerang lagi. Kali ini tidak ada perubahan wajah. Kebengisan yang tadi sempat menghilang kini terpatri kembali di wajahnya.

Tawa panjang menakutkan diiringi tatapan tajam mata birunya. Taring digiginya terlihat semakin lancip dan menakutkan tatkala dia memalingkan wajahnya kembali padaku.

“Kau benar-benar berfikir bahwa Jamie kesayanganmu bisa kembali? Menyedihkan sekali.”

Jamie yang sudah kembali menjadi vampir menendang perutku sekali lagi. Kali ini tidak ada ampun bagiku sampai-sampai dia menginjak betis kiriku.

Aku menjerit kesakitan saat merasakan tulang keringku patah dan menancap pada daging yang membungkusnya.

Jamie mengangkat kerah kausku sampai kepala dan badanku terangkat. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bau amis darah yang menyengat keluar disetiap hembusan nafasnya. Aku selalu membayangkan bagaimana dirinya menikmati setiap liter darah yang dia minum saat menatap taring-taring tajamnya.

“Apa pendapatmu jika aku merubahmu menjadi makhluk sepertiku yang selama ini kau buru? Pemburu yang diburu. Pasti akan menjadi headline yang apik diantara para pemburu lain.”

“Lebih baik aku mati,” aku berbicara dengan tenaga yang masih tersisa.

Dia menghantamkan tubuhku ke tanah seperti anak kecil yang melempar mainannya ketika dia sudah bosan.

Aku kembali terbatuk-batuk parah sembari memuntahkan darah.

Satu hal yang bisa aku syukuri saat itu, Jamie tidak menyadari bahwa sedari tadi aku mengenggam pancang perak yang bisa mencabut nyawa yang disangkanya abadi. Maka saat dia berpaling dari tubuhku untuk berbagi kesombongannya, aku dengan sigap menyembunyikan pancang tersebut dibawah tubuh lemahku.

“Jadi Jack, ada pesan terakhir sebelum aku membinasakanmu?” tanyanya sarkastik saat kembali mengangkaki tubuhku dan bersiap untuk melayangkan kuku-kuku tajamnya ke arah wajahku.

“Ya. Pergi kau ke neraka, iblis bertaring!”

Bersamaan dengan ucapan itu, tangan kananku mengambil pancang yg tersembunyi lantas langsung menghujamkan ujung tajamnya tepat ke jantung Jamie tanpa sempat ditangkisnya. Kesombongan akan wujudnya sekarang telah membuat dirinya lengah.

Wajahnya yang bengis kini terlihat dingin tanpa memperlihatkan rasa sakit yang entah dirasakannya atau tidak. Kekagetan akan hujaman benda tajam ke jantungnya membuat dirinya tercengang karena tidak menyangka akan serangan mendadak tersebut. Perlahan dirinya bangkit sembari terhuyung. Tangannya yang pucat memegangi pancang yang menancap di jantungnya dan dengan sedikit bantuan dirinya bisa mencabut pancang tersebut lantas menjatuhkannya. Pandangan matanya melunak saat dia mendapati dirinya ternyata tidak abadi.

“Maaf, Jamie,” ucapku lirih.

Jamie yang sudah tak berdaya ternyata masih bisa membaca gerak bibirku yang meminta maaf atas perbuatan yang memang seharusnya aku lakukan dari dulu. Dirinya tersenyum penuh kelegaan sebelum tubuh kekarnya tumbang dengan suara berdebam yang cukup keras diiringi kepulan debu yang bertebaran disekitarnya.

“Jamie,” aku merangkak untuk mendekati tubuh yang sudah lama tak bernyawa itu. Tangisku tak kuasa ku tahan tatkala aku menyaksikan betapa kosongnya pandangan mata Jamie. “Aku harap aku bisa menyelamatkanmu dari takdir.”

Aku berdelusional. Tentu saja tidak ada yang bisa menyelamatkan siapapun dari kepungan takdir yang tidak terlihat, tapi begitu terasa mencekik. Walau akhirnya kutukan keluarga berhasil aku putus, pengorbanannya tidak sebanding dengan kesakit hatianku yang harus kehilangan keluarga satu-satunya yang ku punya. Aku berbaring di sisi jasad Jamie yang perlahan-lahan melebur menjadi abu. Ditengah tebaran debu tubuh Jamie yang tertiup angin, aku memejamkan mata. Bisikan-bisikan suara Jamie yang berasal dari kenangan masalalu berdengung jelas di kepalaku.

“Berjanjilah kau akan memburu vampir bahkan setelah kita memenuhi takdir masing-masing.”

Satu kalimat perjanjian yang aku dan Jamie ucapkan saat kami berada di depan sebuah api unggun yang kami buat di halaman rumah dua tahun yang lalu adalah bisikan paling kuat yang aku dengar.

“Aku berjanji, Jamie,” balasku lirih pada bisikan itu sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s