A Daydreamer’s Dreams

dream

“Bermimpilah, Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu” – Edensor, A Novel by Andrea Hirata

It’s always been England. Negeri dengan warisan kebudayaan dan sejarah yang melimpah. Negeri yang terkenal mahir dalam mengelola industri sepak bola modern. Negeri yang bagi sekumpulan orang seperti gue hanya sebagian kecil dari mimpi-mimpi besar kami yang terlalu sulit untuk dijangkau. Tidak ada yang salah dengan bermimpi untuk mengunjungi Negeri Sang Ratu Elizabeth karena mimpi adalah gambaran dari apa yang gue usahakan sekarang untuk masa depan gue. Saat sahabat gue telah sampai ke negeri impiannya, Turki, dengan hasil jerih payahnya sendiri selama bekerja kurang lebih dua tahun, maka gue, anak kemarin sore yang baru lulus kuliah hanya punya sepuluh jari untuk setidaknya berusaha mewujudkan mimpi gue mengunjungi Inggris. Bukannya tanpa alasan gue begitu ngotot ingin mengunjungi Inggris, I mean I have a lot of reasons why I need a ticket to England right away.

IMG00442-20140531-1730

Fancy a snack?

Alasan pertama yang paling mendasar bagi gue adalah gue butuh tantangan yang nyata terhadap kemampuan berbahasa Inggris gue dalam percakapan. Nyaris seumur hidup gue mempelajari bahasa yang bagi sebagian orang terlalu membosankan untuk dipelajari ini, namun gue belum pernah terlibat dalam percakapan atau lingkungan yang semuanya native speaker. Gue sering bercakap-cakap dengan sesama pengajar di kampus dalam Bahasa Inggris dan sesekali berusaha memanfaatkan kesempatan ketika ada native speaker berkunjung ke kampus, tetapi semuanya masih terasa belum cukup karena suasananya tidak sama dengan apa yang akan gue hadapi saat berada di lingkungan yang benar-benar dipenuhi oleh para native speaker. Gue harap kesempatan itu bisa datang dalam waktu dekat selagi semangat dalam mencoba hal baru gue masih menggebu.

Hal berikutnya yang menjadi alasan gue harus segera ke Inggris mungkin menjadi alasan nyaris semua orang yang ingin berkunjung ke Inggris yakni klub sepak bola kesayangan. Gue sudah menjadi pendukung Manchester United semenjak tahun 2006 dimana Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney adalah pemain-pemain yang berhasil memperbesar ketertarikan gue terhadap dunia sepak bola. Selama itu gue menjadi suporter, sudah barang tentu berkunjung ke Old Trafford masuk kedalam daftar teratas “What I am Gonna Do When I Grow Up.” Demi merasakan euforia stadion ketika orang-orang dengan tujuan serupa dengan gue bernyanyi dengan lantang menyemangati para pahlawan kami di lapangan. Ibarat Mekkah adalah tempat suci untuk umat Islam yang wajib dikunjungi bagi mereka yang mampu, maka Old Trafford adalah tempat suci untuk dikunjungi bagi mereka yang mengaku sebagai suporter Manchester United. Tentu saja masih dengan embel-embel “bagi mereka yang mampu.” Sayangnya, keberuntungan tidak pernah menghinggapi gue ketika gue mengusahakan jalan pintas untuk menuju Old Trafford tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Mau tidak mau penantian panjang sembari bekerja keras adalah jalan yang paling realistis bagi gue untuk menuju ‘tanah merah’ tersebut.

Hoping one day I could lift that scarf inside Old Trafford.

Hoping one day I could lift that scarf inside Old Trafford.

Selanjutnya apa yang membuat gue sangat ingin mengunjungi Inggris berkaitan dengan apa yang selalu menjadi obsesi gue untuk menjadi seorang penulis dan jurnalis. Semenjak gue getol menulis apapun yang ingin gue tulis, gue selalu tertarik untuk menjadikan kota London sebagai latar belakang cerita yang gue tulis. Rasanya apa yang gue tulis selalu cocok dengan kultur kota London yang dinamis dan modern walaupun gue belum pernah sekalipun mengunjungi kota dengan banyak tempat ikonik tersebut. Gue bukan penulis seperti Dee Lestari, Kei Larasati atau siapapun yang pandai membangun latar tanpa harus mengunjungi tempat sebenarnya. Namun gue juga bukan seseorang yang betah berlama-lama menunda untuk menuangkan apa yang ada di kepala gue hanya karena terkendala minimnya pengetahuan gue tentang suatu tempat. Selalu ada sesuatu yang kosong ketika gue mencoba menulis suasana dalam sebuah cerita tanpa mengetahui nyawa sesungguhnya dari suasana tempat tersebut. I guess I’m not that good. Selain itu menjadi penulis, jurnalis selalu menjadi pilihan aternatif untuk berkunjung ke Inggris. Meski cita-cita itu telah menjadi prematur karena gue tidak diperbolehkan oleh orang tua untuk berkuliah di jurusan Jurnalistik, sampai saat ini gue masih menyimpan obsesi tersebut dengan berusaha dan terus belajar untuk menciptakan tulisan-tulisan dengan konten olah raga di blog gue gue agar kelak gue bisa menjadi jurnalis sungguhan dan mengunjungi Inggris atau negara manapun untuk meliput berita olah raga.

My article on Inside United Magazine November 2013

My article on Inside United Magazine November 2013

Alasan penting lain mengapa gue harus segera ke Inggris adalah karena Sherlock Holmes. Nope, this isn’t just about Benedict Cumberbatch or Martin Freeman (although I’d love to meet them if I had a chance to go to England in recent time), this is about Sir Arthur Conan Doyle and his greatest fictional characters. Kecintaan gue terhadap Sherlock Holmes sudah dimulai jauh sebelum Cumberbatch dan Freeman memesona gue dengan peran Sherlock dan John dimasa modern. Gue menikmati setiap detail petualangan Sherlock Holmes dan Dr. John Watson dari mulai membaca beberapa kumpulan cerita terpisah yang dijual di salah satu toko waralaba terkenal (maklum, SMA gue di pedesaan dan tidak ada toko buku satupun). Selama kurang lebih tiga tahun gue membaca cerita Sherlock Holmes secara acak sampai gue bertemu dengan salah satu Sherlockian yang mau berbaik hari mengirimkan gue Study in Scarlet (buku pertama Sherlock Holmes) jauh-jauh dari Semarang. Dia membuat gue semakin yakin untuk menasbihkan diri gue sebagai seorang Sherlockian. Maka saat mengetahui 221B Baker Street sungguhan ada di London dalam bentuk museum, tentu saja gue sangat ingin berkunjung dan mengetahui hal apa saja yang belum gue ketahui tentang sang detektif konsultan dan pendampingnya, serta tentu saja sang penciptanya tersebut. Bertambah lagi satu tempat untuk gue kunjungi di daftar “What I am Gonna Do When I Grow Up” milik gue.

The wrist band says it all.

The wrist band says it all.

Masih banyak alasan-alasan lain yang sebenarnya membuat gue layak untuk diberangkatkan ke Inggris dalam waktu dekat jika saja tidak terkendala masalah keuangan yang klasik. Dari mulai ingin mengikuti kiprah sahabat gue yang telah menjejakan kaki di negeri impiannya sampai ingin membuktikan pada ayah bahwa gue bisa mewujudkan impian-impian gue hanya dengan berbekal sepululuh jari yang menari di atas keyboard laptop. Gue sangat percaya akan pernyataan yang gue kutip dari buku Edensor karya Andrea Hirata bahwa Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita jika kita berani bermimpi setinggi mungkin. Jika Tuhan sedang memeluk mimpi-mimpi gue sekarang, bukan hal mustahil jika mukjizat-Nya akan ditunjukan pada gue di pertengahan Juni nanti melalui akun @MisterPotato_ID dan @aMrazing. Maka dari itu gue tidak akan pernah berhenti merangkai mimpi-mimpi lain bahwa suatu hari kaki gue akan berpijak di daratan Benua Biru yang sama yang pernah di pijak para pemimpi yang sudah mendahului gue. Gue tidak akan pernah lelah menanti kesempatan itu datang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s