I, Sherlock Holmes, and The Red Treasure Adventure

Mr. Potato3

Behind me is the logo of my Red Treasure

Aku baru saja menyelesaikan sarapanku di salah satu kedai kopi di suatu sudut kota London. Dengan mata yang masih merah akibat jam tidur yang berantakan, aku menatap The Eye sebagai pemandangan megah yang membuat kedai kopi sederhana ini banyak diminati para warga lokal maupun wisatawan. Aku menyeruput setengah cangkir capuccino yang aku pesan untuk melengkapi sarapanku dan menghangatkan tubuhku yang tidak terbiasa dengan udara dingin kota yang baru kali ini aku sambangi.

Musim sudah nyaris berganti ketika hangatnya cahaya matahari tidak bisa mengalahkan gigitan angin yang kerap membelai daun-daun tua dipohon sepanjang taman yang aku lalui saat beranjak dari hotel sederhanaku ke kedai kopi sederhana ini. Sejenak aku merenung mempertanyakan tujuanku yang semu dengan berada di salah satu belahan dunia asing ini. Ayah sempat menentangku ketika aku hendak mengikuti naluriku untuk mengejar apa yang menurutnya absurd. Ibu bahkan sempat menangis pada malam sebelum aku berangkat sembari memegangi koperku yang sudah penuh sesak oleh pakaian. Aku mengerti sebagai satu-satunya harapan mereka, berkeras kepala untuk mengikuti naluri ke tempat di mana tanahnya belum pernah sama sekali aku pijak adalah hal yang membahayakan. Terlebih untuk seorang perempuan sepertiku. Namun aku tetap bersikukuh akan apa yang aku yakini. Demi secarik kertas yang membutuhkan jawaban.

Aku merogoh kertas yang membuatku datang jauh-jauh ke London itu. Ku perhatikan lagi pola-pola rumit yang mengisi ruang persegi berwarna semu coklat tersebut. Tidak diragukan lagi, itu memang pola-pola yang membentuk sebuah jalan yang berakhir disuatu titik yang disebut dengan “Ruby”. Ruby dalam bahasa Indonesia artinya batu rubi merah. Aku pikir tadinya ini hanya sebuah lelucon, tapi ketika aku lacak tentang kebenaran peta tersebut di internet dari hubungan tempat ditemukannya peta itu sampai ke harta karun yang terkubur disalah satu sudut negeri sang Ratu Elizabeth, semuanya masuk akal. Sejarah itu terhubung satu sama lain. Aku tidak akan berada di sini seandainya aku tidak meyakini akan hal itu. Hanya saja aku tidak pandai membaca peta dan misteri-misteri yang terkandung didalamnya, terlebih peta kuno seperti ini. Aku sudah mati-matian memecahkannya seorang diri ketika di Indonesia, tetapi sia-sia. Dan aku pikir hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa memecahkan misteri paling kelam sekalipun.

Setelah puas memandangi jalan yang ramai dilalui oleh mobil dengan tatapan menerawang, aku memutuskan untuk bangkit dan berjalan ketujuanku. Ku pikir tempatnya tidak terlalu jauh. Tinggal melalui beberapa tingkungan, akupun sampai di sebuah tempat yang begitu ikonik di London. Di ujung lain bangunan yang ada di depanku, tampak sebuah papan petunjuk bahwa aku telah sampai di tujuan. Baker Street W1, City of Westminster.

Saat aku tiba di depan sebuah pintu hitam dengan grendel emas di depannya lengkap dengan nomor rumah, 221B Baker Street, mendadak keraguanku menyeruak. Entahlah, selama ini aku menganggap sosoknya dan teman sekamarnya hanyalah tokoh fiksi seberapa nyatanya pun mereka dipikiranku. What if I have been delusional? What happens when I finally know behind that door there is no such thing as Sherlock Holmes and Dr. Watson? What if my dad was right? Aku nyaris berbalik dan berjalan kembali ke hotelku lagi karena aku pikir tidak mungkin sosok mereka nyata. Namun kemudian seseorang membukakan pintu dan menyapaku.

“Halo, dear, apa kau mencari seseorang?” tanyanya dengan logat British yang sangat medok semedok orang Tegal berbicara bahasa Jawa ngapak mereka.

“Mrs. Hudson,” aku berbalik dan nyaris terjatuh karena lututku mendadak lemas. Aku hampir tidak percaya dengan sosok yang aku lihat di depanku.

Dia hanya tersenyum sambil kembali menanyakan apakah ada seseorang yang aku cari di tempatnya.

“Err, aku sebenarnya ingin bertemu dengan Sherlock Holmes. Apa dia ada?”

“Tentu, kau hanya perlu menekan tombol yang tersambung ke kamarnya. Nanti kau akan dipersilakan masuk,” jawabnya ramah.

Mrs.Hudson… Persis seperti sosok Una Stubbs ketika dirinya memerankan peran itu di serial Tv BBC. Kau yakin ini nyata, Win? Seolah ingin meyakinkan kembali bahwa ini nyata lantas aku mendekati bel yang terpasang disamping pintu masuk.

Setelah Mrs.Hudson kembali masuk ke kedai kopinya, aku mempersiapkan diri untuk kejutan tokoh-fiksi-ternyata-tidak yang lainnya. Aku menekan bel satu kali diiringi suara decitan pintu yang sedari tadi hanya bisa aku tatap yang membuka lebar. Perlahan aku memasuki ruangan. Tangga yang menjulur di depanku akan membawaku kepada seseorang yang sangat aku butuhkan bantuannya. Satu persatu anak tangga aku naiki. Sayup-sayup terdengar obrolan (atau mungkin perdebatan) dua pria penghuni kamar yang pintunya sudah terlihat olehku.
Aku sudah di depan pintu yang akan langsung membawaku memasuki ruangan tempat perdebatan itu berlangsung ketika tiba-tiba salah satu dari mereka membukakan pintu. Aku yang tadinya hendak mengetuk menjadi terpaku saat pria dengan perawakan kurus dan jangkung memakai setelan jas rapi berdiri di hadapanku.

Benedict-Cumberbat_2095646b

Sherlock Holmes and his companion, Dr. John Watson. I wished they were real so I could meet them in person when I got to England.

Holy shit. It’s him, it’s really HIM.

“Anda siapa?” tanyanya penuh dengan tatapan menginvestigasi.

“Hai, Ben~ err maksudku, Mr.Sherlock Holmes,” kataku sambil merangsek masuk ke flat yang lebih sering aku lihat dari layar laptop, “Aku datang jauh-jauh dari~” sebelum aku menyelesaikan kalimatku, dirinya memotong dengan sigap melalui kesimpulan yang tepat sasaran.

“Aku tahu kau berasal dari mana,” dia menjawab sambil menutup pintu.

“Sherlock? Kau berbicara dengan siapa?” kata suara yang semakin mendekat diiringi kemunculan Dr.Watson dari kamarnya.

“Hai, Dr. Watson, aku Wiwin,” aku bersumpah aku hampir meloncat karena kegirangan, “Selama ini aku berfikir kalau kalian hanya tokoh fiksi.”

Dia hanya tersenyum sambil menyalamiku dan berbagi tatapan aneh dengan teman sekamarnya itu.

“Kata Sherlock, kau bukan berasal dari sini.”

Sebelum aku berbicara untuk menjawab pernyataan John, Sherlock sudah menyerocos panjang lebar.

“Kantung matanya mensugestikan kalau Miss Wiwin di sini tidak tidur nyenyak semalam karena dia mengalami jetlag. Logat bahasa Inggrisnya juga menandakan kalau dia berasal dari negara dengan rumpun melayu. Serta kulit berwarna cokelatnya yang berarti di tempatnya tinggal, dia sering ditempa sinar matahari. Melihat apa yang tergantung di tasnya mempertegas kalau Miss Wiwin adalah seseorang tidak pantas disebut berasal dari Eropa.”

Aku melihat gantungan kunci tasku yang memiliki motif batik Yogyakarta dan tulisan Malioboro di bawah ukiran motifnya.

“Ditambah namanya sangat aneh untuk bisa dibilang berasal dari Eropa atau benua lain selain Asia bagian Tenggara, atau dalam hal ini Indonesia,” Sherlock melanjutkan.

Suasana tiba-tiba hening setelah Sherlock ‘pamer’ kemampuannya dihadapan klien yang mana selalu dia lakukan. Biasanya kalau suasana sudah canggung begitu, John akan segera mencairkannya dengan segelintir pertanyaan untuk sekedar basa-basi. Dia mempersilakanku untuk duduk di kursi yang biasa diduduki oleh klien jika mereka datang ke Baker Street.

Investigasi dimulai dengan Sherlock yang menanyakan apa urusanku jauh-jauh datang dari benua seberang untuk mengunjungi flatnya. Dia pasti sekarang sedang bergumam bahwa orang dari negaraku tidak ada yang sepintar dirinya karena aku harus ke London untuk menyelesaikan kegelisahanku. Raut wajahnya yang sarkastik terlalu bisa dibaca oleh orang yang sering membaca buku dan menonton film tentangnya. Namun kemudian ekspresinya langsung berubah antusias ketika aku menceritakan bahwa sebulan yang lalu aku menemukan peta tentang keberadaan batu ruby merah peninggalan salah satu raja termahsyur sepanjang pemerintahan Inggris. Aku bilang pada mereka bahwa aku tidak bisa memecahkan misteri peta ini karena aku tidak tahu persis tempat-tempat yang tertulis di peta tersebut.

“Petunjuknya tersebar di seluruh wilayah Inggris dengan nama yang digunakan oleh orang-orang pada masa peta ini dibuat,” ujar Sherlock.

“Apa kau mengenal nama-nama tempat ini?” tanya John.

Sherlock yang tadinya duduk di kursi berfikirnya bangkit dan menatap rak yang dipenuhi buku. Dia menarik salah satu dari buku-bukunya yang dipenuhi debu. Sherlock sampe terbatuk-batuk karena menghirup terbaran debu tersebut. Sembari duduk kembali, Sherlock membuka buku yang aku lihat judul disampulnya adalah History of English, persis seperti buku yang pernah aku pelajari di perkuliahan dulu bersama dosen yang sangat aku ingat namanya.

“Ini dia. Peta tersebut masih menggunakan Anglo-Saxon, cikal-bakal dari Bahasa Inggris yang kita gunakan sekarang.”

Sekarang aku menyalahkan diriku sendiri karena dulu tidak pernah mendengarkan penjelasan rinci dosenku tentang bahasa yang digunakan pada masa Alfred The Great itu.

Sherlock mengambil peta yang sedari tadi dipegang oleh John dan berjalan ke meja di hadapan sofa tempatnya biasa berbaring jika sedang bosan. Dia membentangkan kertas mungil itu sambil sesekali matanya beralih dari peta ke buku dan sebaliknya. Kemudian tiba-tiba dia meminta John untuk membawakannya sebuah pulpen. Aku dan John otomatis mendekatinya karena sepertinya dia menemukan sesuatu.
Saat aku dan John menyeruak kehadapannya dengan berduduk santai di sofa yang berhadapan dengan meja di mana Sherlock bekerja, Sherlock mulai menjelaskan apa yang dia temukan.

“Lihat, petanya serupa dengan yang ada pada buku itu,” kemudian dia mengambil peta modern yang dipunyainya sembari menunjuk wilayah London lantas menggeser jarinya ke bagian peta yang bertuliskan Manchester, “dan ini adalah bentuk petanya setelah Bahasa Inggris diciptakan.”

Sherlock yang sedari tadi menunduk serius ke peta yang sedang ditekuninya berdiri untuk memberi ruang kepadaku dan juga John yang serempak mendekatkan kepala kami untuk melihat kesamaan kedua peta tersebut.

Titik pertama di peta menunjukan lokasi yang sedang aku tempati sekarang, 221B Baker Street yang berlanjut ke gedung parlemen Inggris, Buckingham Palace lengkap dengan Big Ben-nya. Lokasi ketiga menunjukan titik di mana tempat tersebut lebih dikenal dengan nama Trafalgar Square karena tempat tersebut merupakan lokasi dimana Perang Trafalgar terjadi. Sisanya sudah menjadi sejarah yang begitu tersohor. Tempat selanjutnya merupakan tempat terbaik jika orang-orang hendak menikmati pemandangan seluruh kota London dari pinggir sungai Thames melalui kapsul di salah satu roda raksasa berwana putih yang dikenal oleh khalayak ramai sebagai The Eye of London. Selanjutnya garis-garis tak beraturan itu membawa ke titik kelima yang menunjukan bahwa tempat tersebut mulai menjauh dari London menuju kota sejauh kurang lebih 200 miles dan berakhir di Sir Matt Busby Way, Manchester. Aku terbelalak dibuatnya.

“Aku tidak mengerti, buku sejarah tidak pernah mencatat jika King Alfred pernah punya peninggalan di kota yang sekarang dikenal dengan nama Manchester tersebut,” ujar Sherlock dengan tampang deep thought-nya.

“Apa tempat-tempat ini berarti sesuatu untukmu, Win?” tanya John ketika dia tahu Sherlock mengalami kebuntuan.

Aku yang masih shock dengan tujuan akhirnya sempat bengong mendengar pertanyaan John. Dirinya sampai harus mengulang pertanyaannya dua kali agar aku mengerti.

“Ya, tempat-tempat ini memang sangat berarti untukku,” aku berbicara masih dengan nada tidak percaya.

“Bagaimana bisa? Bukankah kau bilang kau belum pernah ke Inggris sebelumnya?”

“Itu benar, tetapi tempat-tempat ini sangat berarti untukku bukan karena aku punya kenangan di sana melainkan karena tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat yang sangat ingin aku kunjungi suatu hari ketika aku sudah punya cukup peluang untuk terbang ke Inggris,” aku berdiri saat apa yang peta itu tunjukan selama ini ternyata bukan tentang harta karun batu ruby milik King Alfred, tetapi tentangku.

Aku menceritakan pada Sherlock dan John yang kini sedang duduk menyimak dengan seksama di sofa di hadapan meja tadi tentang bagaimana bisa semua petunjuk ini mengarah padaku. Dimulai dengan kecintaanku pada tontonan sepak bola dan Manchester United yang membuatku sangat ingin berkunjung ke Inggris, terutama Manchester dan Old Trafford-nya. Kemudian kisah-kisah Sherlock Holmes yang makin membuat keinginanku akan memijakkan kaki di Inggris semakin besar. Saat aku tahu bahwa pembalap MotoGP kesayanganku, Dani Pedrosa, juga mempunyai tempat tinggal di London, aku makin berambisi mengunjungi negeri yang punya istana sungguhan itu. Saat hobi menulisku mulai tumbuh, aku selalu memilih Inggris sebagai latar belakang ceritanya walau aku sama sekali belum pernah berpijak di tanah di mana Chris Martin, Matthew Belamy, Sir Alex Ferguson, dan figur-figur terkenal lain juga berpijak. England is everything for me.

“Wow! Kau sebegitu inginnya berkunjung ke Inggris ya?” tanya John sembari masih menatapku kagum.

Aku hanya mengangguk sambil menghapus air mata yang tanpa sadar meleleh ditengah penceritaan impian berkunjung ke Inggrisku.

“Kalau begitu tunggu apalagi? Sherlock dan aku akan mengantarmu mengunjungi tempat-tempat yang kau inginkan di London, dan kami akan mengantarmu sampai Manchester,” John bangkit dengan penuh semangat sembari tersenyum padaku.

“Benarkah?” tanyaku lagi untuk memastikan bahwa John tidak sedang bercanda.

“Wow, tunggu, kau dan aku?” Sherlock dengan tampang sarkastiknya bangkit dan menunjuk hidung John untuk mengklarifikasi bahwa dirinya tidak berminat dengan perjalanan keliling London dan berakhir di Manchester.

“Sherlock, gadis ini jauh-jauh datang dari Indonesia untuk mengunjungimu, mengapa tidak kita temani dia untuk berjalan-jalan sekalian? Mana tahu ini hanya satu-satunya kesempatan yang dia punya untuk akhirnya berkeliling kota London dan Manchester.”

Setelah dibujuk dengan segala alasan kemanusiaan yang diucapkan oleh John ke Sherlock, akhirnya Sherlock mau menemaniku dan John untuk berjalan-jalan berkeliling London. Kami menumpang taksi untuk mengunjungi satu tempat ke tempat lainnya yang terdapat pada peta tersebut sambil tidak lupa untuk selfie bersama John yang selalu tersenyum dan Sherlock yang cenderung acuh. Jika aku bukan seseorang yang tidak mengetahui tindak-tanduknya melalui buku dan film, mungkin aku sudah tersinggung dengan apa yang Sherlock lakukan setiap kali aku melakukan hal yang memang manusiawi untuk seseorang yang mengunjungi tempat baru yang aku sendiri bahkan tidak tahu bahwa aku kelak bisa kembali lagi ke tempat-tempat tersebut atau tidak. Keramahan John yang sudah tersohor pada orang baru ditunjukan olehnya dengan membawaku ke tempat-tempat ikonik lain di kota London seperti London Bridge dan beberapa stadion klub sepak bola terkenal yang biasanya hanya bisa aku saksikan lewat layar televisi. Hingga akhirnya kami meneruskan perjalanan menggunakan kereta menuju Manchester.

“Bagaimana perjalanan berkeliling London hari ini?” tanya John memulai obrolan setelah kereta kami berangkat ke tujuannya.

“Sangat menyenangkan! Terlebih ditemani kalian berdua,” aku menatap John yang tersenyum senang dan Sherlock yang sedikit jutek secara bergantian.

“Kau sadar bukan bahwa perjalanan ini tidak mengantarkan kita kepada batu ruby merah milik King Alfred?”

“Tentu saja. Lagipula bagiku ‘merah’ yang lain lebih berharga dari sekedar batu rubi merah tersebut.”

Aku dan John mengobrol tentang banyak hal diperjalanan London-Manchester yang ditempuh dengan perjalanan kurang lebih dua jam tigapuluh menit tersebut dan mengabaikan Sherlock yang akhirnya berpura-pura tidur. Kebanyakan aku bertanya padanya tentang kasus-kasus yang ditangani oleh mereka yang tentu saja sungguhan. Kemudian aku mengungkapkan bahwa banyak orang di luar sana mengagumi apa yang Sherlock dan John lakukan. Saat kereta berhenti di stasiun bawah tanah yang tepat berada di depan away end stadion Old Trafford, kami bergegas keluar dari kereta dan berjalan menuju stadion yang kemegahannya sudah terlihat dari kejauhan. Semakin mendekat, aku semakin ingin berlari dan mendekati harta karunku yang paling berharga dari hari pertama aku menasbihkan diri sebagai pendukung Manchester United. Aku nyaris menangis saat aku sampai di hadapan patung Trinity yang tersohor itu. John sampai memegangi pundakku agar aku menahan rasa haru karena patung tersebut hanya salah satu dari harta karun yang akan aku lihat.

Old Trafford

This is where my red treasure belongs. I wanna go there so badly!

Kemudian kami berkeliling stadion untuk mengelilingi tempat-tempat ikonik seperti patung Sir Alex Ferguson, patung Sir Matt Busby, Munich memorial, sebelum masuk untuk membeli tiket tur. Turnya sendiri dimulai dari menggunjungi Museum, ruang ganti, lapangan, dan berakhir di Mega Store. Aku mendengarkan setiap ucapan tour guide-nya dengan seksama agar tidak melewatkan sedikitpun keterangan tentang semua hal yang sedang aku lihat. Kemudian tiba saatnya mengunjungi lapangan yang sakral dengan melewati tunnel layaknya Wayne Rooney, Rafael, David De Gea dan pemain sepak bola profesional lain yang hendak melakoni sebuah pertandingan.

“Wiwin, Welcome to Old Trafford, your precious Red Treasure,” ucap John menjelang keluar tunnel, “Aku rasa peta tersebut memang dibuat agar kau bisa sampai sini,” sambungnya.

Aku yang sangat antusias sengaja memejamkan mata agar aku bisa menikmati gemuruh penonton imajiner di sekelilingku. Namun gemuruh penonton yang aku dengan ditelingaku seperti gemuruh penonton stadion yang keluar dari speaker laptop. Aku mencoba untuk membuka mata atas sesuatu yang salah tersebut. Yang aku dapati selanjutnya sangat mengejutkan. Mataku yang perlahan membuka hanya mendapati tembok kost-kostanku yang menjulang dan dipenuhi oleh berbagai kertas jadwal mengajar. Perlahan aku mendonggak dan mendapati suara yang aku dengar tersebut berasal dari laptop yang memutar DVD review of the season Manchester United. Aku menunduk karena merasa ada sesuatu yang mengganjal dibawah tempatku tertelungkup. Ternyata buku The Adventure of Sherlock Holmes yang sedang aku baca ulang.

Apa-apaan ini? Sekejap yang lalu aku berada di Old Trafford dan sekarang aku sudah diatas kasurku yang terbungkus sprei bermotif Manchester United? Aku yakin betul apa yang tadi aku rasakan itu seolah nyata. Maksudku, aku sadar bahwa tidak mungkin Sherlock Holmes dan Dr. John Watson nyata, tapi aku menolak untuk percaya hanya karena aku sedang bersama mereka~ DI DALAM MIMPI.

Aku mematikan tontonan DVD sekaligus menutup buku tentang petualangan sang detektif tersebut untuk kemudian mengubah posisi tidur dengan muka menghadap langit-langit. Aku tertegun sembari mengingat kembali kilasan mimpi indah yang meski hanya mimpi tapi terasa nyata bagiku. Mengingat keadaanku yang baru saja lulus kuliah dan masih mencari pekerjaan, rasanya tidak mungkin untukku mewujudkan mimpi indah tersebut dalam waktu dekat. Kecuali tentu saja ada seseorang (atau perusahaan) yang berbaik hati mau membiayai seluruh akomodasiku selama di Inggris sana. Aku bangkit untuk meraih catatan wish list-ku untuk kemudian menulis Trafalgar Square di deretan tempat-tempat yang rencananya akan aku kunjungi jika suatu hari nanti aku mendapat kesempatan untuk terbang ke Inggris.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s