[REVIEW] The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro

Image

The Amazing Spider-Man is up against three enemies at once.

Another superhero sequel has landed in the cinema. Setelah dibuat terkejut oleh Captain America: The Winter Soldier yang cenderung gelap dan serius, kali ini Sony Pictures menyusul dengan merilis squel dari The Amazing Spider-Man tahun 2012 dengan The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (TASM2). Kemunculan sang Manusia Laba-laba ini sudah ditunggu-tunggu oleh banyak penggemar film semenjak teaser dan musuh-musuhnya dirilis. Akan seperti apa tindakan Spider-Man yang melawan tiga musuh sekaligus dalam satu film? Akankah porsi dari masing-masing vilain seimbang? Kurang lebih kekhawatiran-khawatiran itulah yang muncul dari khayalak ramai. Namun sang sutradara, Marc Webb, dan kerjasama apik para penulis skenario yang terdiri dari Alex Kurtzman, Roberto Orci, dan Jeff Pinkner berhasil menjawab keraguan dari para penikmat film dengan membawa warna baru yang suram namun tetap menyegarkan pada benang merah cerita dari Spider-Man. TASM2 menjelma menjadi film superhero yang mewah ditinjau dari sudut manapun.

TASM2 sendiri menceritakan Peter Parker yang berusaha menikmati hidupnya pasca kejadian yang membuat takdirnya berputar 180 derajat di film pertama. Meski kerap dihantui oleh bayangan mendiang ayah Gwen Stacy yang mewanti-wanti Peter untuk menjauhi putrinya sebagai pesan kematiannya, Peter tetap bertahan untuk menjalin hubungan dengan Gwen atas nama cinta. Kemudian satu persatu musuh mulai bermunculan. Dari mulai Electro, Si Manusia Listrik yang tadinya hanya seorang pegawai biasa yang super culun di Oscorp bernama Max Dillon sampai dia mengalami kejadian mengerikan. Kemudian Peter juga dikejutkan dengan kembalinya sang sahabat lama, Harry Osborn, ke New York untuk menjenguk ayahnya yang sekarat. Peter masih menganggap Harry sebagai sahabatnya sampai Harry mulai bertingkah aneh dan misterius hingga akhirnya keputus asaan merubahnya menjadi The Green Goblin. Terakhir, Spider-Man juga harus berurusan dengan The Rhino, Badak Besi yang pengendalinya mempunyai dendam pribadi dengannya. Tidak hanya itu, misteri tentang mengapa ayah dan ibunya meninggalkan Peter untuk diasuh oleh paman dan bibinya juga mulai terungkap.

Kembalinya Andrew Garfield sebagai Peter Parker sekali lagi membuktikan bahwa dirinya berhasil keluar dari bayang-bayang Tobey McGuire dan menjadi Spider-Man baru dengan karakter menyegarkan yang diciptakannya sendiri. Tubuh yang lebih berisi dari film yang pertama, model rambut yang kece, dan wajah yang tampan dengan kualitas akting yang superb makin melengkapi transformasi Spider-Man versinya. Emma Stone masih mempesona dengan peran Gwen Stacy yang cantik, enerjik, cerdas, dan sedikit keras kepala. Chemistry keduanya saat bersama terbangun sangat sempurna sehingga bisa membuat cewek manapun akan iri kepada Gwen saat Peter menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jamie Fox juga berhasil membawa karakter Max Dillon yang tadinya super culun menjadi Electro yang kepalanya dipenuhi dendam kesumat akan orang-orang yang kerap melecehkannya.

Diantara semua pemain yang berperan menghidupkan tokoh fiksi dalam komik Spider-Man, ada satu nama yang membuat gue kepincut dengan kualitas akting-nya yang luar biasa, Dane DeHaan. DeHaan yang kebagian peran sebagai Harry Osborn yang kemudian menjadi The Green Goblin berhasil membawa salah satu musuh besar Spider-Man ke level baru yang lebih ganas, sinis, dan gila. Walaupun tanpa tawa jahat khas Green Goblin, he still makes the goblin looks amazingly evil. Bahkan saat masih menjadi Harry, pendangan matanya yang dalam dan tajam itu sangat mengintimidasi. Banyak orang yang bilang kalau poni lempar DeHaan menghalanginya untuk terlihat total, namun bagi gue poni itu malah menambah kesan misterius yang sudah terpancar alami dari wajahnya. Tanpa topeng saat menjadi Green Goblin, tim makeup bahkan berhasil merubahnya semakin terlihat vicious.

Image

This is the cute yet evil looking Harry Osborn.

Image

And this is Harry when he is accidentally transformed into The Green Goblin. Scary, huh?

Secara keseluruhan TASM2 menampilkan drama, aksi, komedi yang dicampur dan masih berimbang. Gue sangat suka konsep remaja dari superhero karena dia cenderung memasukan unsur kepolosan ketika beraksi. Belum lagi ketika dihadapkan pada pilihan sulit, galau khas remaja masa kini terpancar jelas dari tingkah dan wajah cute Garfield. Maksud gue, remaja seperti gue (dilarang protes :p) juga bakal merasakan seperti apa penderitaannya hanya dengan menyaksikannya berguling-guling di ranjang dengan musik terpasang melalui headset ditelinga dan berwajah masam. Spider-Man versi Garfield juga berhasil menciptakan ketegangan intens yang diselipi lelucon dan masih disadari dan ditertawakan oleh penonton. Beberapa kali wajah gue berubah dari tegang menjadi serius kemudian tegang lagi dalam satu scene karena perpaduan unsur komedi dan aksi yang begitu mencair. Belum lagi romantisme Peter dan Gwen yang membuat gue ber-ā€˜Aw…ā€™ ria dengan wajah mupeng. Dilema yang dibebankan kepada Peter remaja tidak terlihat dibuat-buat dan maksa. Ditambah Andrew Garfield yang selalu berkaca-kaca disetiap adegan dramatis membuat penonton semakin menaruh simpatik pada peran Peter yang dibawanya. Selain itu, gue juga suka dengan kemunculan tiga villains berbeda yang sangat beraturan sehingga tidak bentrok satu sama lain dan tidak saling menutupi apalagi terlalu menonjolkan penjahat tertentu. Meskipun begitu, kemunculan Rhino bagi gue dirasa antiklimaks dan sangat kurang.

Image

They looked soooooo adorable together. Peter loves Gwen so much, and so did she. :’)

Sementara dari segi cinematography, it looks amazing as it should be with a high-budgeted superhero movie. Adegan Spider-Man berayun diantara gedung-gedung pencakar langit New York sangat ditonjolkan dengan beberapa kali berubahan sudut gambar yang sangat memanjakan mata penonton versi 3D atau IMAX 3D. Penonton seolah diajak terbang dan menikmati sensasi asyiknya menjadi Spidey seiring berayunnya dia dari gedung satu ke gedung yang lain. Cahaya-cahaya berpendar yang diciptakan oleh Electro dalam pertarungan dibagian klimaks juga membuat mata terbelalak. Adegan pertarungan Green Goblin dan Spider-Man di atas menara dengan melibatkan Gwen yang dibuat slow motion juga menegangkan dan cukup membuat napas gue tertahan sampai akhirnya bagian itu berakhir dengan duka.

Demi special effect yang megah, gue sarankan kalian yang hendak menonton The Amazing Spider-Man 2 untuk menontonnya dalam versi 3D atau IMAX 3D. You will be overwhelmed by the swinging Spider-Man alone! Hanya saja jika menonton dalam versi IMAX 3D (dan gratis, thanks to komunitas Gudang Film) seperti gue, kalian tidak akan menikmati after credit scene yang konon menjadi petunjuk untuk film X-Men Days of Future Past yang akan rilis dalam waktu dekat. I know, produser sepertinya tidak mau rugi dengan menyuruh pengagung special effect seperti gue untuk menikmati TASM2 sekali lagi dalam versi 2D atau 3D demi membayar rasa penasaran akan hal tersebut. Tidak rugi sebenarnya membayar lebih demi menonton filmnya dua kali, hanya saja hal itu tidak berlaku bagi job seeker seperti gue. Well done, Sony! *peluk dompet* :/

Personal Rate: 8/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s