Akhir Perjalanan Mimpi Manchester United di Pentas Eropa

Embedded image permalink

Selebrasi Mario Mandzukic setelah menyamakan kedudukan. (Pic by @ChampionsLeague)

Banyak orang bilang Bayern Munchen, sang juara bertahan Liga Champions Eropa, akan mendominasi permainan ketika mereka dijamu Manchester United di Old Trafford tengah pekan yang lalu untuk menjalani leg pertama babak perempat final. Kenyataannya United berhasil mengecewakan orang-orang yang sudah siap tertawa atas pembantaian Bayern terhadap United yang nyatanya tidak terjadi. United secara meyakinkan berhasil menahan gempuran-gempuran sakti dari punggawa Bayern dengan kedudukan akhir 1-1. Atas dasar itulah maka para penggemar United berhak untuk menyatakan optimismenya bahwa United akan mampu mengatasi permainan Bayern sekali lagi di Allianz Arena.

Babak pertama leg kedua antara Bayern vs United berjalan mulus bagi sang tamu. Ultra defensive United bekerja dengan baik sekali lagi. Mereka berhasil menahan Bayern pada 45 menit pertama. Babak kedua nyaris berjalan serupa sampai akhirnya Patrice Evra memecah kebuntuan dengan sepakan kerasnya yang mengalir deras ke pojok kiri gawang Manuel Neuer. Selebrasinya emosional, namun emosional itu ternyata berdampak pada kelanjutan pertandingan. Tidak sampai satu menit, Mario Mandzukic menyamakan kedudukan. Uniknya, kesalahan marking dilakukan oleh sang pencetak gol United yang mungkin masih emosional gara-gara gol itu.

Gue tadinya memprediksi bahwa pertandingan akan berjalan seperti apa yang terjadi pada babak pertama. Namun United yang membutuhkan satu gol untuk membuat mereka lolos ke babak selanjutnya membuat pertahanan United sedikit lengah. Alih-alih menambah gol, mereka malah kebobolan satu gol lagi yang kali ini dicetak oleh Thomas Muller menyambut umpan datar Arjen Robben yang gagal dihalau oleh para pemain belakang United. United tertinggal 2-1.

Ketinggalan satu gol dari Bayern merupakan mimpi buruk terbesar bagi United. Mereka harus mengejar defisit gol untuk lolos dan itu artinya skema permainan berubah dari bertahan total dengan mengandalkan serangan balik menjadi menyerang seperti ketika lawan mereka bukan tim yang disebut-sebut terbaik di dunia. Open play adalah hal pertama yang bisa dilakukan. Disamping usaha untuk menyamakan kedudukan bagi United, open play juga memberikan kesempatan pada Bayern untuk lebih banyak mencetak gol ke gawang David De Gea dikarenakan pertahanan mudah lengah dan rapuh. Lalu Robben memanfaatkan peluang tersebut untuk meliuk-liuk di daerah pertahanan United dengan melewati beberapa pemain dan melepaskan tendangan yang tidak bisa dihalau oleh De Gea. Kedudukan menjadi 3-1 dan hasil tersebut bertahan sampai pertandingan berakhir. United gagal mempertahankan The Impossible Dream mereka untuk musim ini dan harus merelakan Bayern yang bermain nyaris tanpa cela satu tempat di semifinal.

Well, United sudah mencoba segalanya untuk meraih hasil terbaik. Mereka bertahan dengan rapi, melakukan beberapa serangan balik yang tajam, berusaha memanfaatkan bola-bola mati, dan sebagainya. Perjuangan para pemain United patut diapresiasi. Mereka sudah memberikan yang terbaik untuk lolos ke semifinal dan memperbaiki musim buruk masa transisi mereka. Hanya saja United mempunyai banyak kelemahan dimusim ini ketimbang Bayern yang nyaris memainkan sepak bola dengan sempurna dan telah menjadi tim superior hampir disemua kompetisi yang mereka ikuti.

Pada akhirnya kalah agregat 4-2 dari Bayern bukanlah sebuah hasil yang patut dibanggakan jika mengingat lawan-lawan terdahulu mereka yang pernah mengalami nasib lebih buruk (I know what you’re thinking, United fans). Kekalahan ini patut disesali dan dijadikan refleksi oleh United baik para pemain, manajer, maupun para fans. Tidak ada salahnya memuji dalam kondisi kekalahan ketika para pahlawan kalian di lapangan melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Semangat mereka dalam bertarung tidak diragukan lagi ketika mereka dalam keadaan tertinggal dan memutuskan bermain menyerang untuk mencari gol penyeimbang walau sadar akan resiko yang mereka hadapi jika meninggalkan pertahanan hanya dengan empat pemain belakang. Semangat pantang menyerah yang sama seperti United yang dulu pernah dikenal oleh para penikmat sepak bola.

Melupakan hasil buruk dan menatap optimis ke masa depan serta kembali menggantungkan harapan-harapan baru adalah hal terbaik yang bisa dilakukan oleh United. Walaupun United sudah dipastikan tidak akan berlaga di Liga Champions musim depan karena ketidak pastian posisi mereka di Liga bahkan untuk sekedar mendapatkan tiket play off, fans tetap percaya bahwa akan ada hikmah dibalik kesulitan yang sedang mereka dan tim kesayangannya jalani saat ini. Mendominasi selama 26 tahun adalah hal yang sangat luat biasa dan sekarang waktunya memberikan kesempatan pada tim lain untuk berada di atas dengan catatan United wajib kembali ke performa terbaiknya dan mulai mencatatkan sejarah-sejarah penting baik bagi klub, manajer, maupun pemain pada tahun-tahun berikutnya.

We’ll never die, we’ll never die

We’ll never die, we’ll never die

We’ll keep the red flag flying high

Cos Man United will never die

 

Note: Gue belum tidur sama sekali ketika menerbitkan artikel ini jam 5.30 pagi *curhat* ( ._______.)>

 

Advertisements

3 thoughts on “Akhir Perjalanan Mimpi Manchester United di Pentas Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s