Bukan Jodoh Pedrosa

Image

You’ve got something your fans need, Senor Dani Pedrosa

Pernahkan kalian nangis karena sesuatu atau seseorang yang bahkan belum kalian temui di hidup kalian? Well, gue pernah. Beberapa kali malah. Ketika hidup kalian terobsesi dengan seseorang atau sesuatu dan obsesi tersebut melebihi obsesi kalian terhadap pacar kalian sendiri, tentu kalian pernah mengalami tangisan yang pernah gue alami. I was obsessed with someone I barely knew. I used to be obsessed with Dani Pedrosa, and yes, I’ve cried over him.

Jauh sebelum mengenal Manchester United sebagai pelabuhan hati gue atas jiwa tomboy ini, gue terlebih dahulu mengenal jajaran pembalap yang belakangan mengendarai motor 1000cc dalam perlombaan yang bertajuk MotoGP untuk kemudian menggilai salah satu dari mereka. Pilihan gue jatuh kepada Dani Pedrosa. Patut diakui, parasnya yang begitu rupawan memikat gue yang saat itu hanya kenal dengan Valentino Rossi dan Loris Capirossi. Gue yang saat itu belum mengerti apa-apa tentang balapan MotoGP hanya ikut senang ketika dirinya meraih gela Rookie of the Year ditahun pertamanya membalap. Itu artinya dia pembalap yang hebat. Tidak salah gue mengidolakannya. Biasanya seperti itulah pikiran gue terhadap prestasinya.

Ditulisan ini gue tidak akan menceritakan bagaimana gue menganggumi seorang Dani Pedrosa. Gue hanya akan bercerita tentang bagaimana selama ini gue selalu ingin bertemu dengan sosoknya itu dan bagaimana kesempatan itu selalu gagal gue peroleh.

Pertama kali Pedrosa ke Jakarta tahun 2009, gue rela buka akun Twitter yang bahkan saat itu gue tidak terlalu tahu bagaimana cara menggunakannya. Gue bercokol di warnet entah untuk berapa lama karena ingin mengikuti kuis Meet and Greet yang diadakan oleh sponsor lokal (tahun 2009 belum ada smartphone ya). Pil pahit terpaksa gue telan saat itu ketika gue bukan termasuk dari beberapa orang yang beruntung mendapat kesempatan untuk bertemu Pedrosa. Tidak ada tangisan. Hanya kekecewaan layaknya seorang fans yang dilarang bertemu dengan idolanya. Walaupun begitu, di tahun itu gue berhasil mendapat keberuntungan dengan cara lain. Seperangkat kaos dari sponsor lengkap dengan tanda tangan Pedrosa berhasil gue peroleh berkat kreatifitas gue yang berfoto di pantai dekat rumah gue dengan tulisan “Gracias and ❤ U Pedrosa.”

Tidak lebih dari setahun kemudian ketika gue hanya bisa tersenyum getir menyaksikan seorang teman gue yang menggemari Pedrosa juga diberangkatkan ke Sepang oleh sponsor lokal. Di satu sisi gue berbahagia atas apa yang temen gue dapatkan, tapi di sisi lain segala penyakit hati berhasil menguasai gue hingga air mata gue tumpah (oke, terlalu lebay). Walaupun begitu, gantungan kunci berlabel “Sepang International Circuit” yang dihadiahkan oleh teman gue bisa sedikit mengobati sakit itu. Dari situ juga awal tertanamnya mimpi untuk plesiran ke Sepang hanya untuk sekedar menonton balapan MotoGP.

Selama bertahun-tahun gue menanam mimpi itu dan menyakinkan diri gue sendiri walau tanpa keberuntungan sekalipun, gue bakal pergi ke Sepang dan menemui Pedrosa secara langsung. Hell, mimpi itu tiba-tiba saja diganggu kembali oleh ‘hasrat bertemu Pedrosa dengan modal keberuntungan’ ketika tersiar kabar jika Pedrosa hendak berkunjung ke Jakarta lagi. Sponsor lokal kembali mengadakan beragam kuis setiap hari untuk memilih beberapa orang beruntung yang akan bertemu Pedrosa diacara Meet and Greet. Seakan kesakit hatian tahun 2009 belum berakhir, tahun ini gue merasakan de javu. Berkali-kali gue mengikuti kuisnya, tidak satupun yang berhasil gue menangkan. Agak ironis sebenarnya, tetapi gue yang sekarang bukan orang yang sama dengan orang yang cengeng ketika dia tidak diberi kesempatan bertemu Pedrosa lima tahun silam. Kali ini gue lebih bisa legowo.

Bukannya gue tidak ingin bertemu Pedrosa, gue ingin sekali. Serius. Walau belakangan gue lebih sering mengkritik dia ketimbang memuja dan menyemangatinya di tulisan, dia tetap idola yang selalu ingin gue temui. Teori yang gue dapat ketika gue mendapati gue bukan bagian dari segelintir orang-orang yang beruntung itu, mungkin karena gue seolah ‘ogah-ogahan’ ikut kuis itu. Mungkin juga karena gue tidak terlalu fokus dengan Pedrosa belakangan ini. Ada Manchester United dan Kimi Raikkonen (dan skripsi kayaknya) yang belakangan mendominasi pikiran gue. Serta rencana pergi ke Sepang yang insya Allah bakal terwujud Oktober tahun ini (Amin). Lagipula ada seorang teman gue yang lebih pantas menerima undangan Meet and Greet ketimbang gue yang sudah ‘tidak fokus’ dengan Pedrosa lagi. Dia lebih pantas mendapatkan kesempatan bertemu Pedrosa lebih dari fans Pedrosa manapun yang gue kenal.

Fokus yang gue bicarakan di atas terlebih pada Manchester United berhasil mengikis obsesi gue terhadap Pedrosa. Hidup gue terasa lebih tenang ketika undangan Meet and Greet tidak berhasil gue dapatkan. Manchester United memang telah mengalihkan dunia gue dari hanya sekedar mengagumi paras rupawan seorang Pedrosa dan gaya balapnya yang keren. Gue berterimakasih pada moment-moment yang semakin mendekatkan gue ke Manchester United dan membuat pandangan gue terhadap balapan MotoGP dan Dani Pedrosa menjadi objektif.

In the end, I would simply say I am quite happy with my Manchester United, but then I’d be lying. I stil wanna meet Pedrosa and l still support him no matter how hard I criticize him on my blog posts (I think that’s kind of point why I wanna go to Sepang so bad). Persoalan tentang gue yang belum diberi kesempatan untuk bertemu dengan Pedrosa secara langsung, mungkin gue hanya tidak (belum) berjodoh dengannya. 😉

PS: Selamat buat my fellow Pedrosa fans Anisa Faradiba yang udah dapet kesempatan ketemu langsung sama Pedrosa. You definitely deserve it. Enjoy your moment with him! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Bukan Jodoh Pedrosa

    • I have cried many-many times for Pedrosa, for Linkin Park, dan lain-lain. In fact, mungkin weekend ini juga bakal mewek gara-gara nggak dapet approve dari babeh buat nonton Formula1 di Sepang. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s