Dani Pedrosa adalah Mark Webber versi MotoGP (Part 2)

Image

Mark Webber dan Dani Pedrosa. Beda personal, beda karir, nasib nyaris serupa.

Clearly kejadian-kejadian di musim 2013 bukan bagian dari skenario yang sudah di rencanakannya sebelum musim bergulir. Kalah dari sang rookie sensasional yang juga rekan satu tim, cidera berkepanjangan, masalah motor yang kerap melanda dan sebagainya membuat tahun tersebut baginya hanya ‘just another year without the world title’. Kesialan yang nyaris serupa dengan yang dialami Mark Webber musim lalu. Belum lagi isu team order yang kerap semakin memanaskan keadaan. Persaingan terselubung antara Marquez dengan Pedrosa memang tidak sekentara Sebastian Vettel dan Webber karena di MotoGP tidak ada pit-to-car communication di mana penonton bisa menguping segala strategi yang diterapkan yang kerap menguntungkan satu pihak. Bayangkan jika MotoGP ‘seterbuka’ F1. Akan sangat menyenangkan bagaimana persaingan tidak hanya pada pembalap di trek saja tetapi juga pada sang maha pengatur strategi untuk kedua pembalap dari pitwall.

Nasib Pedrosa di musim depan makin mengkhawatirkan ketika kabar Alberto Puig, sang mentor yang konon merupakan orang paling berpengaruh kedua di tim Repsol Honda setelah Suhei Nakamoto, di berikan peran baru oleh HRC untuk mengurusi pembalap-pembalap muda di wilayah Asia benar adanya. Pedrosa kehilangan sosok penting dalam karirnya di dalam maupun di luar balapan. Pedrosa juga mungkin saja kehilangan satu-satunya orang yang akan tetap ngotot mempertahankannya di Repsol Honda untuk musim-musim selanjutnya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasib Pedrosa setelah musim 2014 berakhir.

Terlalu dini memang jika menganggap nasib Pedrosa akan berakhir seperti Mark Webber yang pensiun pada tahun di mana dirinya kerap mendapat masalah pada mobilnya sepanjang musim. Webber sudah berumur 37 tahun, sedangkan Pedrosa masih 28 tahun. Kubu HRC masih percaya bahwa gelar juara dunia masih akan bisa diraihnya kelak. Pun begitu dengan para penggemarnya yang setia. Karir yang panjang masih membentang di jalannya yang dianugrahi bakat textbook racing style oleh Tuhan. Tentu saja kita tidak tahu apa yang ada di isi kepala seorang Dani Pedrosa. Bisa saja dia mengambil keputusan pensiun muda seperti Casey Stoner, atau tetap memilih melanjutkan karirnya dengan lapang dada layaknya Max Biagi dan Sete Gibernau saat Valentino Rossi berjaya. Either way, jika Pedrosa tetap ingin melanjutkan kiprahnya di MotoGP, dirinya harus bisa meng-upgrade diri dan caranya membalap karena one way or another dominasi Marc Marquez tidak akan berhenti pada musim ini saja layaknya Sebastian Vettel yang terus mendominasi Mark Webber dan rekan-rekan sesama pembalap di Formula1 selama empat musim berturut-turut. Scary, huh?

Catatan: Perbandingan karir Mark Webber yang di gunakan di tulisan ini diambil pada periode setelah Sebastian Vettel bergabung ke Red Bull Racing Team

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s