Biarkan Hujan Turun

(Photo was taken from Google)

Senja di bulan Desember tidak pernah dirasa bersahabat bagi sebagian penduduk Jakarta. Hujan yang tiada henti dan hampir terjadi setiap hari membuat setiap individu yang beraktifitas di kota metropolitan ini kerap kali resah jika mendung telah menyelimuti langitnya. Belum lagi kemacetan yang bisa menahan para pejuang keluarga berjam-jam di jalanan.

Hal yang berbeda dirasakan oleh David. Perasaan dirinya ketika hujan tidak sejalan dengan apa yang dirasakan oleh kebanyakan penduduk Jakarta. David menemukan apa yang tidak akan pernah menjadi miliknya didalam setiap butiran rintik hujan.

Saat itu seperti biasa David sedang menunggu di halte bus sepulang kerja di kawasan Setiabudi. Langit yang mendung menahannya untuk tetap duduk di halte itu meski berkali-kali bus yang menuju kawasan tempat tinggalnya sudah melintas. Ada sesuatu yang ditunggunya dengan duduk tenang di sana. Rintikan air hujan yang akan membawanya pada kenangan-kenangan bersama kekasihnya, Ratih.

Ketika tetesan lembut air hujan mulai turun, David tersenyum lega seolah hanya hujan yang bisa membawanya pada kebahagiaan yang sudah jarang dia rasakan. Masih dengan setelan kantornya, David perlahan bangkit dan melangkah mendekati tepian halte. Dia menjulurkan kedua tangannya agar bisa merasakan langsung setiap butiran air hujan yang jatuh dari langit. Ada denyutan nadi seseorang setiap kali titik-titik air menyentuh telapak tangan David. Ketika orang-orang yang berdiri di dekatnya mulai menatapnya aneh dan penuh cemooh, maka dirinya mulai memejamkan kedua matanya seraya masih tersenyum tanda tak peduli dengan keadaan sekitar.

Hiruk pikuk jalanan Jakarta dan orang-orang yang berbisik di sekitar David perlahan hilang ditelan derasnya suara air hujan yang beradu dengan apapun yang menimpanya. Saat-saat yang ditunggunya pun telah tiba. Kelembutan dari tangan mungil seorang perempuan mulai dirasakannya ketika mendadak hujan tak lagi menimpa dirinya. Saat David membuka mata, sesosok perempuan cantik bergaun putih selutut lengkap dengan sepatu kaca putih membalut kakinya sedang berdiri di hadapannya sambil memayunginya agar tidak lagi dihujani air yang jatuh dari langit. Wajahnya yang bercahaya serta dibalut senyuman manis  tampak tak asing baginya. Geraian rambut hitam panjang menambah sisi feminin perempuan tersebut. Dia adalah Ratih, kekasih David.

“Aku merindukanmu, Ratih,” ungkap David sambil balas tersenyum dan mempererat genggaman tangannya terhadap perempuan yang ada di hadapannya tersebut.

“Aku tahu. Apa lagi yang kamu harapkan ketika hujan turun selain bertemu denganku?” Ratih mencoba menggoda David masih dengan senyumnya yang lugu.

David hanya terdiam dalam senyumnya yang bahagia sekaligus menyakitkan. Tangan kirinya yang tidak digenggam Ratih menjangkau pipi putih Ratih. Entah sudah berapa lama dirinya merindukan sosok penting yang pernah hadir di kehidupannya.

“Siap untuk tur kali ini?” tanya Ratih antusias.

“Tentu,” jawab David dengan pasti seraya kembali memejamkan matanya ketika Ratih berdiri di sampingnya.

Saat David membuka kembali matanya, dia sudah tiba di sudut sebuah kafe sambil duduk didampingi oleh Ratih. Payung yang menaungi mereka kini sudah hilang berganti dengan atap kafe tersebut. David menyaksikan dirinya sendiri di meja seberang sedang duduk menatap sesosok perempuan  manis yang serupa dengan perempuan yang sekarang sedang duduk bersandar di pundaknya. Terlihat mereka sedang mengobrol akrab. David ingat saat-saat itu merupakan saat pertama dirinya berkenalan dengan Ratih setelah sebelumnya akrab di media sosial. Pertemuan mereka berjalan dengan lancar karena mereka memiliki banyak kesamaan. Kedua sosok dari masalalu mereka terlihat akrab berbagi canda.

“Kamu ingat Dave, kamu sudah bisa menebak apa yang akan aku pesan bahkan sebelum aku memanggil waiter-nya,” ucap Ratih pada David yang sedang sendu.

“Itu karena aku bertanya terlebih dahulu pada salah satu temanmu melalui Twitter.”

Keduanya tertawa mendengar pengkuan David yang entah sudah keberapa kalinya. Selama kurang lebih sepuluh menit mereka menikmati kepingan kenangan yang membawa mereka bisa sedekat ini.

Kemudian David memejamkan matanya lagi. Kali ini pejaman matanya berhasil membawa dirinya dan Ratih kesebuah pantai di kawasan Pangandaran. Saat ombak menerpa kakinya, David menatap jauh di mana bagian dari masalalunya sedang berdiri di tepi pantai lain sembari menatap dan menggenggam kedua tangan perempuan yang sama dengan yang terlihat bersama bagian dari masalalunya yang lain di kafe tadi. Momen tersebut adalah momen disaat David menyatakan bahwa dirinya menyimpan perasaan pada Ratih, dan Ratih pun memiliki hal yang sama. Di bawah guyuran cahaya matahari terbenam, mereka saling mengikat janji untuk terus bersama.

“Kamu memilih tempat yang sempurna untuk menyatakan cinta,” ungkap Ratih dengan wajah sumringah seolah dirinya merasakan kembali saat-saat itu.

David menoleh pada Ratih yang saat itu masih menyandarkan kepala di pundaknya. David mengecup kepala Ratih lembut.

“I love you, Ratih.”

Tidak perlu balasan verbal dari Ratih. Dekapan tangan Ratih terhadapnya yang semakin erat sudah menandakan bahwa Ratih juga masih menyimpan perasaan itu.

“Siap untuk tujuan selanjutnya?” tanya Ratih sambil menatap David yang masih tertegun pada bagian dari masalalunya yang paling indah.

“Tunggu lima menit lagi.”

“Baiklah. Pejamkan matamu jika kau sudah siap, sayang,” kata Ratih sembari kembali menyandarkan kepalanya di pundak David.

David sebenarnya enggan meninggalkan kenangan yang satu ini. Bukan karena dirinya terlalu larut kedalam momen ini, melainkan dirinya tidak sanggup jika harus kembali menemui kenangan pahit yang akan hadir segera setelah dirinya memejamkan mata dari sini.

“Apa kita harus tetap pada kenangan yang satu itu? Kamu tahu kan jika itu salah satu kenangan terburuk kita?” tanya David datar.

“Sayang,” kata Ratih yang kini berdiri di depan David sambil mengenggam kedua tangannya. Tatapannya memohon David untuk mengerti. “Seburuk apapun saat-saat yang telah kita lewati, semuanya adalah bagian yang membuat aku tetap di sini menjadi bagian dari diri kamu sampai sekarang,” tangan kiri Ratih menyentuh dada David tepat di jantungnya.

Tatapan mata Ratih ibarat ombak yang saling bergulung di pantai, tegas tapi juga indah sekaligus bisa menenangkan David dari ke khawatirannya. Kemudian tangan David kembali mengenggam tangan Ratih yang ditempatkan di dadanya. David menghela nafas panjang sebelum kembali memejamkan mata.

David sampai pada saat dimana dirinya dan Ratih menghadapi cobaan yang teramat besar. Di hadapannya, David menyaksikan dirinya sendiri sedang bertengkar dengan Ratih. David miris dan sedih menyaksikannya karena saat itu adu argumen yang alot dan tidak terselesaikan sedang berjalan.

Ratih mendadak minta putus tanpa sebab yang jelas setelah satu tahun mereka menjadi sepasang kekasih. Ratih beralasan bahwa dirinya sudah tidak lagi mencintai David karena sudah mempunyai pilihan lain. Di sisi lain David tahu Ratih berbohong karena dirinya masih merasakan cinta yang kuat pada tatapan mata Ratih walaupun dia terlihat sangat ingin putus dari David. Akhirnya David berhasil menenangkan Ratih yang sedari tadi meledak-ledak walaupun akhirnya mereka tetap putus.

“Dunia terasa terhenti saat kamu mengucapkan kata itu untuk pertama kalinya di hadapanku,” ucap David saat mereka selesai menyaksikan pertengkaran mereka sendiri.

“Maafkan aku, Dave. Pikiranku sedang kalut. Aku hanya bisa berfikir bahwa inilah caraku menghindarimu.”

“Kamu bisa saja jujur padaku.”

“Bagaimana aku bisa jujur pada orang yang paling aku cintai saat aku sendiri belum bisa menerima takdir yang Tuhan tuliskan untukku?” nada bicara Ratih datar, tapi berhasil menusuk David tepat di jantung.

David tak sanggup menjawab karena dirinya tahu Ratih benar. Namun tindakan Ratih yang panik dan tiba-tiba memutuskannya juga tidak bisa diterimanya begitu saja. Maka saat David memejamkan mata untuk kesekian kalinya, dirinya sampai pada momen di mana dia sedang mengobrol serius dengan ibu Ratih.

David menemukan dirinya sendiri pada kenangan saat dia sudah putus asa karena tidak bisa menemukan alasan logis dari tindakan Ratih yang memutuskannya secara tiba-tiba. Disitulah kenyataan terkuak. Ibu Ratih memberitahukan sesuatu yang tidak pernah dia sangka jika kisah ini akan menimpa dirinya. Ratih mengidap Leukimia stadium akhir.

David yang sedang berdiri menyaksikan dirinya sendiri menangis di hadapan ibu Ratih tak kuasa melihat kesedihan mendalam yang terpancar itu. Wajahnya berpaling sambil menahan tangis. Sementara pelukan Ratih semakin erat pada David seolah Ratih menguatkan David untuk tetap tegar.

Selanjutnya ketika David memejamkan mata, berbagai kenangan bahagia yang berhasil di lewati David dan Ratih setelah Ratih bersedia kembali padanya berkelebat di dalam pikirannya walau David sudah mengetahui kebenaran tentang Ratih. Sampai akhinya David tiba pada tujuan akhir. Dirinya tiba pada sisa-sisa kenyataan paling pahit yang pernah dihadapi sepanjang hidupnya.

Di hadapannya, dia melihat bagian dari dirinya yang sedang berusaha menguatkan orang yang paling dicintainya yang terbaring di salah satu ruangan rumahsakit. Ratih yang saat itu bahkan sedang koma dibisiki kata-kata romantis yang diharapkan David bisa didengar Ratih dan dengan keajaiban Tuhan Ratih bisa terbagun mendengarnya.

“Kau tahu, Dave. Aku mendengar semua bisikanmu ketika kau melakukan itu. Aku bisa mendengar semua percakapan semua orang yang ada di ruangan itu,” kata Ratih saat menyaksikan dirinya sendiri yang sedang terbaring dan di peluk oleh David.

“Lalu mengapa kamu tidak membuka matamu?” tanya David. Pertanyaan yang bodoh sebenarnya, tetapi David tidak bisa menahannya setiap kali Ratih mengungkapkan hal itu.

Keadaan Ratih semakin memburuk membuat tim dokter harus menanganinya dan para kerabat dan keluarga pun di persilakan untuk menunggu diluar.

“Kamu sudah tahu jawabannya, sayang,” jawab Ratih dengan senyumannya ketika hendak menyaksikan momen di mana dirinya kehilangan hidupnya.

Tidak lama kemudian, kecemasan di luar ruangan tersebut berganti dengan riuh tangisan dan jeritan dari kerabat dan keluarga Ratih. Dokter sudah tidak bisa menangani Ratih, dirinya meninggal dalam damai. Ayah, ibu, adik, serta beberapa kerabat Ratih segera menghambur keruangan di mana Ratih menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara David melihat dirinya yang bahkan tidak sanggup berdiri. David yang dilihat dalam kenangannya sedang terduduk bersandar di pintu ruangan tersebut sembari menangis pedih. Tangis kehilangan tersebut terdengar dan terlihat menyesakan bahkan bagi David sendiri yang kini menyaksikannya. David nyaris menitikan air mata ketika kenangan tentang tangisannya terhadap kematian Ratih menyeruak kembali.

“Kamu bisa memejamkan matamu kembali jika sudah tidak sanggup berada di sini,” bisik Ratih lembut.

Namun David enggan memejamkan matanya karena dirinya tahu kalau ini akhir dari perjalanannya dengan Ratih. Meskipun terasa perih dan menyesakan dada, setidaknya dia menghadapinya bersama Ratih sekarang. Sampai akhirnya airmata yang jatuh memaksanya untuk menutup mata.

“Jangan menangis, sayang. Jika aku harus pergi lagi kali ini, kau bisa selalu menemukanku dalam tetesan air hujan yang turun dari langit. Jangan menangis,” tangan lembut Ratih mengusap airmata David yang terus menggenangi pipinya.

Ketika tangan-tangan mungil Ratih mulai melepaskan genggamannya terhadap tangan David, titik-titik gerimis masih dirasakannya sebelum dirinya membuka mata. Suasana di sekitanya mulai kembali normal dengan orang-orang yang sedang mengobrol di belakangnya sampai suara klakson kendaraan bermotor mulai terdengar. Saat itu dirinya sadar bahwa Ratih telah hilang dari hadapannya. David membuka matanya dan kembali berada di dunia nyata. Kenyataan yang selama dua bulan terakhir ini dianggapnya pahit karena telah merenggut orang yang paling dia sayangi dari kehidupannya.

Hanya hal ini yang bisa dilakukan David untuk mengenang Ratih. Meski hanya dalam bentuk potongan-potongan kecil kenangan yang turun melalui hujan, dirinya bahagia menjalani perjalanan singkatnya itu. Maka ketika kenangan-kenangan itu telah selesai dinikmatinya bersama sosok ratih yang masih hidup dalam hati dan pikirannya, dirinya hanya bisa memohon agar hujan tetap turun sampai dirinya perlahan bisa menerima kepergian Ratih dari dunia ini.

Sampai bertemu di hujan selanjutnya, Ratih…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s