Catatan Mahasiswa Tingkat Akhir

https://win9winchester.files.wordpress.com/2013/11/fb847-673914_j0341499.jpg

Why are you so hard to get?

Tak ada hidup yang tak mudah. Begitu yang biasa ayah katakan ketika aku kerap terjatuh saat belajar bersepeda untuk pertama kalinya. Ketegasannya dalam mengucapkan kalimat itu begitu melekat di hatiku bagaikan kertas yang ditempelkan dengan lem yang rekatannya paling kuat di segala jenis medium. Maka saat cobaan hidup menghantamku bertubi-tubi, aku berusaha untuk bangkit seperti apa yang ayah ajarkan sewaktu kecil dulu.

Lain halnya dengan Ibu. Tanpa ucapan, tanpa himbauan, Ibuku mengajarkan kesabaran tanpa batas melalui perbuatan disepanjang hidupnya mengurus keluarga. Kesabarannya menunggu ayah sampai ketitik kesuksesannya sampai tahap menunggu anak yang diurusnya sedari kecil untuk menunju tangga kesuksesan yang melebihi ayahnya adalah contoh kesabaran sejati. Aku tahu dia lelah, tetapi suaranya di ujung telepon ketika berbicara dan menenangkanku tidak pernah menunjukannya. Maka ketika hidup memberikan serangkaian peristiwa yang menuntut kesabaranku, aku selalu menatap wajah ibu melalui selembar foto yang aku simpan untuk mengingatkanku bahwa ini bukan apa-apa dibanding dengan yang sudah ibu alami.

Entah sudah berapa lama aku duduk di kursi berlengan besi di depan ruangan yang ramai pengunjung ini ketika aku mengingat ayah dan ibu dan nyaris menangis karena kerinduan yang tak tertahankan ini. Kerinduan yang nyaris pudar karena bercampur dengan dendam pada seseorang yang semenjak tadi aku tunggu kehadirannya. Ku lihat lagi layar ponselku, masih tidak ada balasan atau kabar apapun dari orang tersebut.

Aku tidak mengerti tujuan Tuhan menciptakan orang seperti dirinya sebenarnya untuk apa selain membuat orang-orang sepertiku menunggu berjam-jam dengan kegelisahan dan tanpa kepastian. Belum lagi jika bertemu kadang tekanan mental selalu ditunjukannya karena pekerjaan yang aku selesaikan tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Oh, Tuhan, kapan penderitaan ini akan berakhir?

Kursi bergoyang sejenak ketika segerombolan remaja perempuan duduk di sampingku sambil membagi tawa. Candaan yang saling mereka lontarkan nyaris membuat senyumku berkembang ketika pikiranku diliputi kegelisahan. Tingkah mereka mengingatkanku pada beberapa perempuan-perempuan yang dulu sering bersamaku melakukan berbagai hal-hal gila diantara jeda kelas. Di tahun-tahun krusial masa belajar, kami biasanya saling menyemangati diri dan berjanji bahwa kami harus melewati penderitaan ini bersama-sama. Namun seiring waktu, satu-persatu dari mereka mulai mengkhianati janji yang pernah diikrarkan ketika kami masih berada pada tahap yang sama. Aku menyaksikan pengkhianatan mereka dengan sebongkah senyum palsu yang tersungging di hari paling membahagiakan untuk mereka saat mereka memakai topi dengan bentuk aneh bertali kuning itu.

Kurasa memang tidak adil menuduh mereka sebagai pengkhianat karena langkah mereka lebih cepat daripada langkahku. Seharusnya aku tahu kalau janji yang tempo hari diikrarkan bersama-sama itu adalah palsu. Kami semua pada akhirnya harus berjalan dan berjuang sendiri-sendiri karena pada dasarnya itulah hakikat kami masing-masing semenjak kami pertama kali menginjakkan kaki di tanah ibukota yang keras ini. Aku menyalahkan diriku sendiri atas keadaanku sekarang ketika otakku sedang waras.

Aku memutarkan pandanganku saat sayup-sayup terdengar seseorang yang memanggil namaku. Ketika aku sadar bahwa itu hanyalah kebetulan karena kesamaan nama, aku tersenyum penuh getir menghadapi kenyataan ini. Aku sadar saat ini aku sangat berharap bertemu dengan orang-orang yang aku kenal sementara di sisi lain aku lebih sadar lagi bahwa mereka yang aku harapkan untuk ditemui sudah melanglang buana di luar sana sedang mewujudkan deretan mimpi mereka. Siapa yang coba aku bodohi? Aku hanya seorang penumpang yang ketinggalan kereta.

Sejenak aku bangkit untuk meredakan rasa pegal akibat menunggu orang penting yang sedari tadi tidak kunjung menunjukan batang hidungnya. Aku mencoba untuk mengintip ke ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang cerdas yang berpikiran idealis sembari berharap orang yang aku tunggu sedang di sana berbagi idealisme dengan rekan kerjanya. Namun aku tidak melihat tanda-tanda kemunculannya. Aku menghela nafas saat menyadari jika itu artinya aku harus menunggunya lebih lama lagi. Akupun kembali menuju tempat dudukku semula yang sekarang sudah ditinggalkan segerombolan perempuan yang tadi mengobrol di sampingku.

Kata orang memang masa-masa seperti ini adalah masa ujian yang paling berat dalam perjalanan menuntut ilmu di bangku perkuliahan. Namun aku tidak menyangka akan seberat ini. Aku pikir ujian terberat datang dari berbagai ujian akademik yang diberikan oleh pengajar alih-alih datang dari seseorang yang bertugas untuk membimbingku menuju pintu gerbang keluar dari tingkatan belajar ini.

Aku sadar kesulitan ini juga bukan hanya ditimbulkan oleh orang cerdas tapi kadang keras kepala tersebut, tetapi juga diriku. Ini adalah buah dari sebuah keserakahan akan uang yang ternyata tidak bisa membeli segalanya. Ini juga buah keterbuaianku atas reputasi yang susah payah aku bangun selama masa belajar. Nyatanya uang dan reputasi itu tidak bisa menyelamatkanku dari keadaanku sekarang.

Aku teringat ayah dan ibu yang menantiku pulang ke tanah kelahiranku dan mengharapkanku untuk mengabdi sepenuhnya pada lingkungan di sana segera setelah aku di tasbihkan sebagai sarjana. Rasa berdosa kadang menyelubungiku sesaat setelah mereka berbicara melalui telepon dan mengatakan bahwa mereka akan selalu mendukung anak kesayangannya untuk menyelesaikan studinya  dengan segera. Aku yakin dibalik ucapan itu ayah dan ibu sesungguhnya menyimpan berjuta kekecewaan karena anaknya belum bisa memenuhi apa yang sudah mereka perjuangkan. Air mataku kadang keluar dengan sendirinya sesaat setelah ibu mengucap bahwa dirinya tidak akan berhenti mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada yang bisa menahan kesedihan dan air mataku jika aku diingatkan seberapa banyaknya mereka berkorban untuk anak mereka yang tidak tahu diri ini.

Belum lagi tekanan sosial yang mendera diriku dan kedua orang tuaku. Tentang kapan pastinya aku bisa memiliki ijasah resmi, tentang kapan pastinya aku mempunyai pekerjaan tetap, dan tentang kapan pastinya aku akan dipersunting laki-laki pujaanku. Percayalah, kadang orang-orang di sekitarmu lebih menyebalkan dari seseorang yang setengah hati menuntunmu keluar dari masa-masa perkuliahan ini.

Jika saja aku tidak tergiur dengan popularitas berkepanjangan itu. Jika saja aku tidak tergiur dengan limpahan rupiah itu. Jika saja aku tidak mengenal kata malas sepanjang hidupku. Jika, jika, jika, dan jika yang lain sebagainya. Hanya penyesalan yang tertinggal dari hal-hal yang seharusnya tidak aku seriusi sejak awal.

Saat seseorang yang sedari tadi aku sebut cerdas, bijak, dan keras kepala yang juga merupakan dosen pembimbing skripsiku menampakkan raganya di ruangan yang semenjak tadi aku amati pintunya, segera aku meluncur untuk meminta waktunya membimbingku untuk satu langkah lebih dekat ke pintu gerbang keluar. Dengan penuh senyum kesabarannya yang kadang mematikan itu, dirinya menggiringku masuk ke kantornya sambil menenteng pekerjaanku. Rasa lega kini melingkupi hatiku melihat sosoknya. Dendam yang sudah lama aku pendam lenyap begitu saja setiap kali aku menemuinya dan mendengarkan wejangannya, begitupun kali ini. Saat dia berbicara padaku dengan nada puas sambil memeriksa bab demi bab dari kertas tebal di hadapannya itu, aku sungguh hanya berharap satu hal. Bahwa ini adalah terakhir kalinya aku harus menunggu dan menemuinya untuk perkara konsultasi tulisan yang akan membawaku ke jalan kebahagiaan untuku dan kedua orang tuaku.

Advertisements