Cinta Satu Malam

Arini menatap layar komputer kantornya dengan serius seraya menyalin tulisan yang ada dikertas disampingnya kedalam bentuk digital. Matanya begitu bergairah untuk menyelesaikan laporan bulanan yang setiap akhir bulan biasanya dikerjakan dengan malas dan terburu-buru. Mulutnya mengeluarkan nyanyian yang ditirukan dari apa yang sedang didengarnya. Pekerjaan yang begitu dibenci dan selalu dikerjakannya dengan setengah hati kali ini begitu serius ditekuninya. Bahkan dia rela lembur sampai nyaris jam sepuluh malam dikantornya yang sudah lumayan sepi.

Sedikit lagi selesai, dan gue bisa bebas bersenang-senang diakhir pekan ini, pekiknya dalam hati dengan senyuman yang menggebu sambil sesekali mengalihkan pandangan dari layar komputernya ke sebuah brosur yang sengaja dia cetak dan tempel di meja kerjanya. Lagu yang sedari tadi ditirukannya semakin kencang dia nyanyikan. Lagu itu merupakan salah satu dari lagu-lagu yang sedang dihafalkan untuk kesenangan pribadinya Sabtu ini.

Brosur yang dia tatap merupakan brosur dari perayaan tahunan Guinness Arthur’s Day yang biasanya diisi oleh konser musik. Tahun ini mereka membawa grup band Club 8 dari Swedia, Mew dari Denmark, dan OneRepublic dari Amerika. Grup band terakhir yang disebutkan merupakan grup band yang lagu-lagunya sering Arini dengarkan dikesehariannya. Arini sudah lama menantikan kehadiran mereka di Jakarta sejak dirinya melewatkan konser terakhir mereka tahun 2007 silam karena masih belum cukup umur untuk diijikan berpergian dimalam hari oleh orang tuanya. Pada tahun itu juga Arini meratapi diri sendiri saat mereka melakukan konser dan berjanji pada dirinya sendiri jika OneRepublic mengadakan konser lagi di Jakarta, dirinya akan jadi yang pertama memesan tiketnya.

Setelah penantian selama enam tahun, akhirnya mereka berkunjung kembali ke Jakarta dan Arini tidak menyianyiakan kesempatan kali ini. Dia sudah memegang voucher tiketnya dari tiga bulan yang lalu sampai datangnya hari ini, H-1 menjelang konser mereka.

Hembusan napas lega dari mulutnya keluar ketika baris terakhir dari laporan bulanannya selesai diketik. Senyuman lebar lagi-lagi terlukis diwajahnya saat dia mengingat akan jadi seperti apa harinya besok. Tanpa pikir panjang, dia langsung merapikan apa yang telah dikerjakannya dan bersiap untuk pulang. Misi menyelesaikan laporan bulanan sudah selesai dalam dua hari, kini dirinya tak sabar menanti mentari terbit dihari Sabtu esok.

*****

Telepon genggamnya berdering ketika Arini sedang rebahan di sofa sambil menatap layar ponselnya dan bermain Twitter. Karena kondisinya yang sedang menunggu kabar dari seseorang, Arini langsung keluar dari tab Twitter-nya dan menyambar tab pesan masuk.

Bara: “Arin, nanti kita ketemuan dimana?”

Rupanya itu Whatsapp dari teman yang baru dikenalnya dua hari yang lalu ketika Arini mengumumkan kepublik lewat akun Twitter-nya bahwa dirinya sedang mencari teman yang searah untuk sekedar pulang-pergi bersama ke venue konser di JIExpo Kemayoran.

Arin: “Lo bisa jemput gue di depan halte Busway Pondok Pinang? Nanti gue tunggu lo disana.”

Bara: “Oke. Gue jemput lo jam dua siang ya.”

Arin: “Sip. See ya!”

Tidak ada balasan.

Sesaat pikiran Arini yang sedari tadi memikirkan akan seperti apa konser OneRepublic nanti tersesat kedalam pikiran akan seperti apa pertemuannya dengan Bara nanti? Dirinya baru mengenal Bara dan penilaiannya terhadap pribadi Bara cukup baik mengingat Arini biasanya tidak mudah percaya pada lelaki, apalagi yang baru dikenalnya. Dibenaknya sosok Bara merupakan pemuda yang nggak ganteng-ganteng amat untuk ukuran standar seleranya terhadap pria. Karena avatar akun Twitter dan Whatsapp-nya pun tidak terlalu jelas, jadi ya Arini hanya bisa berspekulasi tentang penampilan fisik Bara. Meskipun bukan itu yang paling penting dari kehadiran Bara dikehidupannya sekarang.

*****

Jam dua kurang lima menit, Arini sudah bertengger anggun di trotoar depan halte Busway menunggu Bara menjemputnya. Dirinya mengenakan kaos hitam pendek yang bagian bawahnya dimasukan ke dalam jeans abu-abu belel kesayangannya yang sedikit ketat. Hal itu mempertegas perut rata dan pinggang kurusnya yang selalu diidamkan teman-teman perempuan di kantornya. Dia mengenakan alas kaki sepatu kets putih untuk menambah kesan tomboy yang sedari dulu sudah melekat didirinya. Rambut hitam panjangnya dia susun menjadi rangkaian kepang indah menirukan kepangan Katniss Everdeen di film Hunger Games. Arini sendiri tidak habis pikir kenapa adik bungsunya memaksa untuk mengepang rambutnya menjadi aneh seperti itu. Dia bilang Arini terlihat lebih feminin dengan kepangan itu walaupun cara berpakaiannya jauh dari kesan tersebut. Bedak tipis dikenakannya agar wajahnya tidak terlihat terlalu kusam. Dirinya juga membubuhkan sedikit eyeliner disekitar matanya untuk mempertegas tatapannya. Kacamata yang biasa menggantung didepan matanya juga digantikan dengan kontak lensa berwarna abu-abu yang membalut pupilnya. Tangannya menggenggam sweater biru yang akan digunakannya ketika berkendara dimotor bersama Bara nanti.

Lima belas menit menanti, Arini mulai bertanya-tanya dimana sosok yang akan menemuinya tepat jam dua siang disini. Dia sudah menghubungi ponsel Bara beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Dirinya nyaris putus asa dan menangis ketika tigapuluh menit penantiannya belum membuahkan hasil.

Dimana lo, Bara? Kesal, jengkel, marah, perasaan itu kini bercampur aduk dipikirannya karena tidak ada satupun pengendara motor yang berlalu-lalang disitu yang mengaku dirinya Bara.

Empat puluh lima menit sudah Arini menunggu Bara. Ada niatan dirinya akan berangkat sendiri karena merasa telah dibohongi Bara. Dia mengutuk dirinya sendiri karena telah mempercayai lelaki, terlebih yang baru dikenalnya.

Keputusannya sudah bulat. Arini sudah hendak melangkahkan kakinya untuk memberhentikan Kopaja AC P20 jurusan Lebak Bulus – Pasar Senen ketika pandangannya beralih pada datangnya suara ponselnya yang berdering. Rupanya itu telepon dari Bara, orang yang ditunggunya sedari tadi. Sebelum menerimanya, Arini membuang nafas terlebih dahulu untuk menghindari amarahnya meledak ditelepon.

“Iya, Bar?”

“Arin, sorry gue tadi lagi dijalan jadi nggak bisa ngangkat telepon lo. Gue baru nyampe Pasar Jum’at nih. Gue berhenti dulu buat ngasil tau lo,” ucap Bara dari ujung telepon.

“Ya udah lo buruan sini. Gue udah nunggu dari jam dua,” Arini berusaha tenang. Padahal dalam hatinya dia sudah ingin berteriak marah-marah.

“Oke. Tunggu bentar ya.”

Arini segera menutup teleponnya tanpa menjawab pernyataan Bara. Wajahnya benar-benar terlihat sangar sekarang. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan amarah yang bergejolak didalam dirinya. Belum pernah dia merasa semarah ini pada seseorang semenjak pacarnya ketahuan berselingkuh dibelakangnya dengan teman kantornya sendiri satu tahun silam. Saat itu juga dia berhenti untuk mempercayai kata apapun yang diucapkan seorang pria terhadapnya. Hatinya sudah kaku oleh kesakit hatian.

Lamunannya buyar saat seseorang dengan motor matik warna merah-hitam menghampiri dirinya yang sedari tadi berdiri ditrotoar jalan raya. Dirinya tahu itu Bara karena Bara sendiri menyebutkan ciri-ciri motor dengan nomor polisinya di SMS sebelum dia berangkat. Wajahnya masih dibalut helm full-face ketika Arini melancarkan pandangan ketubuh tinggi kurus yang dibalut jaket Nike Runner warna perak dan biru serta celana jeans hitam. Sementara Bara yang tidak sadar sedang diperhatikan secara mendetail oleh Arini tetap tidak beranjak dari motornya.

Ketika Bara membuka helmnya, penilaian Arini tentang Bara memang tidak meleset. Wajah Bara dibalik helm menyimpan sepasang mata coklat, hidung mancung dan bibir tipis dengan sepasang pipinya yang tirus. Rambut hitam pendeknya terlihat berantakan karena dirinya melepas helm dengan sembarangan.

“Arin, kan?” tanyanya pada sosok yang nyaris kusut karena menunggunya selama hampir satu jam.

Arin hanya mengangguk tanpa banyak bicara karena takut kalau yang keluar adalah nada bicaranya yang sinis dan bisa menyebabkan Bara tersinggung dan tidak jadi mengangkutnya ke venue konser.

“Sorry lama. Macet banget dari Pondok Cabe kesini. Gue kira kalo Sabtu sore begini belum akan terlalu macet. Ternyata sama aja sama malam minggu.”

Arin tersenyum kecut mendengar penjelasan klise Bara.

Menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, Bara langsung mengajak Arin untuk naik motor bersamanya seperti apa yang sudah dia janjikan dua hari yang lalu.

Separuh perjalanan mereka lalui dengan berdiam diri karena tidak ada yang memulai pembicaraan. Arin yang kelewat kesal dengan Bara lebih memilih diam daripada mengobrol di motor yang kadang pembicaraannya tidak jelas. Sedangkan Bara juga tidak berani memulai percakapan karena dirinya masih menebak-nebak apakah kekesalan Arin sudah berakhir untuknya.

Ketika Bara mulai berani membuka pembicaraan dan Arini menjawabnya dengan antusias, Bara sadar bahwa Arini tidak semarah yang dipikirkannya. Sementara untuk Arini, tidak ada gunanya berlama-lama marah pada Bara. Toh dia datang juga dan sekarang mereka sedang menuju perjalanan malam minggu yang akan menjadi spektakuler bagi mereka.

Kemudian sesuatu yang tidak diduga terjadi pada motor Bara ketika mereka berdua sudah masuk pada berbagi canda dan tawa akrab diatas motor. Ban belakang motor Bara pecah dengan menimbulkan suara yang cukup keras untuk merubah pembicaraan menyenangkan mereka ke situasi yang sangat tidak mengenakan baik bagi Bara maupun Arini.

“Duh, ada-ada aja deh nih motor. Giliran lagi dibutuhin aja begini,” Bara mengumpat pada motornya sendiri seolah motor tersebut bisa mendengarkan umpatannya dan secara ajaib langsung memperbaiki diri sendiri.

Arini bahkan tidak sanggup untuk berkata apa-apa lagi. Kali ini dirinya benar-benar marah akan keadaan. Dia tidak menyalahkan Bara atas kejadian ini melainkan dirinya sendiri karena telah menerima ajakan Bara dimana ada empat kawan perempuan lain yang harusnya didekatinya untuk berangkat bersama dan berbagi keceriaan.

“Sorry banget, Rin. Kayaknya kita harus jalan kaki dulu buat cari tukang tambal ban,” kata Bara. Sebenarnya Bara tidak enak untuk meminta ini-itu pada Arin. Harusnya ini tidak terjadi disaat pertama kali dirinya berani jalan bareng perempuan lagi semenjak ditinggal ‘miskin’ oleh gebetan terakhirnya yang matre.

“Nggak apa-apa, Bar. Udah begini mau diapain lagi,” jawab Arin.

Ada sedikit kelegaan diwajah Bara ketika dirinya mendengar jawaban Arini. Setidaknya Arini tidak memaki-makinya saat dia membawa Arini kedalam kesusahan yang ditimbulkannya.

Arini sendiri sebenarnya berbicara seperti itu bukannya dia tidak menyimpan amarah. Dia ingin sekali berteriak dan memaki Bara atas kejadian ini, tapi ini resiko yang harus ditanggungnya karena sudah berani mengambil keputusan untuk menerima tawaran Bara agar bisa mengurangi biaya akomodasi.

Setelah berjalan kurang lebih satu kilometer, akhirnya Arin dan Bara menemukan tukang tambal ban disekitaran Tugu Tani. Arini langsung duduk cemberut di kursi yang disediakan oleh tukang tambal ban. Matanya melirik ke jam yang melingkar ditangannya dan mengetahui bahwa waktu sudah menunjukan pukul 3.45 sore. Dirinya menghela nafas berusaha menguatkan diri dari cobaan ini, namun yang keluar malah nada keluhan. Arini sudah tidak memperdulikan lagi apa yang Bara lakukan sekarang dengan motornya. Yang dia pikirkan adalah antrian yang sudah mengular didepan gerbang venue konser. Impiannya untuk menonton paling depanpun nyaris sirna.

Lamunannya buyar ketika Bara menawarinya sebotol air mineral dingin diiringi senyum pahit yang coba disembunyikannya. Arini tahu bukan dirinya saja yang merasakan apa yang baru saja mampir dipikirannya, Bara juga pasti memiliki kekhawatiran yang sama. Arini mengambil botol air mineral dari genggaman Bara tanpa mengucapkan terimakasih. Sedikit kasar memang, tapi Arini tidak perduli. Hatinya sudah dongkol.

“Ngomong-ngomong, suka OneRepublic sejak kapan?” tanya Bara ramah membuka pembicaraan.

Sebenarnya Arini sedang tidak ingin diajak bicara, tetapi dirinya tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa cuek pada satu-satunya orang yang dia kenal disitu sepanjang abang tukang tambal ban memperbaiki ban motor Bara.

“Semenjak album pertama mereka keluar,” jawab Arini dengan nada tabah yang terdengar dibuat-buat.

Awalnya Bara ragu hendak menjawab apa, tapi kemudian Arini menyambung lagi kalimatnya sebelum Bara sempat menjawab.

“Lagu Apologize itu super banget! Gue nggak pernah berhenti ngedengerinnya semenjak pertama kali gue punya lagu itu.”

“Oh, kayaknya emang semua orang yang suka lagu-lagu OneRepublic dimulai dititik yang sama ya. Gue sendiri termasuk salah satu fans yang telat banget tau karya-karya ajaib mereka.”

“Emang lo suka mereka sejak kapan?” tanya Arini yang tiba-tiba penasaran dan tertarik akan pembicaraan mereka.

“Gue tau lagu Apologize dari HP temen gue ketika gue nggak sengaja ngotak-ngatik playlist-nya nyari lagi-lagu galau.”

“Hahaha, dan lo menemukan jiwa kegalauan lo di lagu Apologize itu,” ucap Arini seraya tertawa kecil. Wajah kusamnya perlahan tercerahkan oleh keceriaan yang ditimbulkan dari percakapan antara dua orang yang sedari tadi saling cuek.

Selama satu jam abang tukang tambal ban memperbaiki ban motor Bara, selama itu juga mereka saling bertukar pengalaman hidup masing-masing. Dari yang tadinya hanya obrolan tentang lagu-lagu OneRepublic, pembicaraan beranjak kemasalah yang lebih pribadi. Arini menceritakan bagaimana pahitnya hidup karena pernah dikhianati orang yang paling disayanginya dan orang terdekatnya sampai menyebabkan dirinya pindah kantor. Sementara Bara menceritakan kisah hidupnya yang pilu ketika dia begitu mencintai seorang perempuan yang ternyata hanya menginginkan hartanya saja. Dirinya berkelakar bahwa pipi tirusnya itu diakibatkan oleh batin yang selalu memikirkan kepentingan gebetannya daripada dirinya sendiri.

Keduanya terlihat tidak sungkan sama sekali menceritakan masalah pribadi mereka kepada orang asing yang sedang duduk didepan mereka. Padahal keduanya sama-sama mempunyai kepribadian yang tertutup.

Ketika sebuah pembicaraan berhasil memancing tawa mereka kemudian menghentikannya dalam keadaan dimana mata mereka saling bertemu, abang tukang tambal ban berhasil menciptakan suasana canggung diantara mereka.

“Udah selesai ya, bang?” tanya Bara salah tingkah.

Si abang tukang tambal ban hanya mengangguk sambil menoleh ke motor Bara yang sudah kembali terlihat prima.

Bara dan Arini dengan segera memacu motor setelah membayar biaya servis karena waktu mereka tidak banyak. Saat mereka sudah sampai di venue, Arini tidak terlalu berharap banyak saat melihat antrian yang sudah begitu panjang didepan gerbang utama. Setelah menukarkan voucher tiket dengan tiket aslinya, Bara dan Arini segera mengekor dibelakang antrian yang sudah terbentuk lama.

“Sorry nggak bisa ngasih lo tempat paling depan,” ucap Bara penuh penyesalan. Bara tau kalau Arini pasti sudah bete dengannya. Dari mulai telat jemput, ban motor bocor, sekarang dapat antrian yang tidak terlalu menguntungkan. Dirinya sudah siap dengan tanggapan jutek Arini.

“Nggak apa-apa koq. Setelah apa yang kita laluin, gue udah nyampe sini aja udah bersyukur,” jawab Arini dengan senyum manis yang tersungging dibibir tipisnya.

Bara sumringah melihat tanggapan Arini. Dirinya kemudian memulai pembicaraan lagi dengan Arini untuk membunuh waktu sampai gerbang dibuka.

Tidak disangka ternyata mereka bisa akrab seperti ini setelah apa yang mereka lalui. Tak henti-hentinya mereka bertukar tawa karena mendengar cerita yang dilontarkan satu sama lain. Arini sedikit terkejut mendengar pengakuan Bara yang baru pertama kali ini menonton konser musik.

“Kemana aja lo?” ledeknya pada Bara sambil tertawa.

Bara hanya menjawabnya dengan tawa yang tiada henti-hentinya.

Obrolan mereka terhenti ketika pengeras suara di gerbang utama menyuruh mereka untuk masuk dan mempersiapkan tiket serta kartu identitas mereka. Bara dan Arini memasuki venue ketika seratusan orang sudah mendahului mereka. Saat mereka harus kembali mengantri digerbang kedua, mereka mengganti aktifitas berbagi cerita mereka pada kegiatan menyanyi bersama sambil menghafal lagu-lagu baru OneRepublic. Mereka sungguh akrab berdua. Tidak akan ada yang mengetahui bahwa mereka hanyalah dua orang asing yang dipertemukan oleh kepentingan masing-masing ketika tatapan mata mereka terhadap satu sama lain menunjukan sesuatu yang lain.

Saat gerbang kedua dibuka dan kegilaan penonton semakin meningkat, Bara dan Arini langsung berlari untuk mendapatkan tempat sedepan mungkin. Namun nasib memang berkata lain. Ketika mereka memasuki venue, orang-orang sudah berdesak-desakan didalamnya. Akhirnya Bara dan Arini mendapat tempat sekitar dua meter dari pagar pembatas panggung. Untung keduanya memiliki postur tubuh yang tinggi sehingga pandangan mereka tidak terlalu terhalang oleh penonton lain yang ada didepan mereka.

Keduanya berusaha tidak terlihat menyesal dan mencoba menghibur satu sama lain. Saat Club 8 tampil, mereka yang sama sekali tidak tahu lagu-lagunya berusaha menikmati lagu yang ritmenya lumayan enak didengar. Keadaan semakin membosankan saat Club 8 tidak kunjung menyelesaikan penampilan mereka. Sungguh satu setengah jam paling lama dan membosankan yang pernah mereka lewati sambil mendengarkan musik.

Ketika panggung ditutupi tirai putih, mereka dan semua penonton lain harap-harap cemas menanti siapa yang akan tampil selanjutnya. Promotor memang telah mengabarkan bahwa OneRepublic akan tampil setelah Club 8, tetapi tirai yang menutupi panggung membuat ketakutan penonton akan perubahan lineup makin menjadi.

“Cek sound-nya lumayan lama ya? Gue laper banget,” kata Arini mencoba basa-basi dengan mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya sekarang.

“Iya. Gue deg-degan pula,” jawab Bara sambil mengepal kedua lengannya erat-erat. Kombinasi perut lapar, AC yang dingin, dan rasa nervous yang dirasakan Bara membuat seluruh badannya menggigil. Dirinya mencoba menenangkan diri dengan membuang nafas panjang berkali-kali.

Arini hanya tersenyum melihat tingkah Bara. Dirinya mengerti pasti itu efek yang ditimbulkan dari rasa nervous karena seperti yang dibilang Bara sebelumnya, ini merupakan konser band luar pertama yang dihadiri olehnya.

Penantian yang cukup lama akhirnya terbayar ketika lagu Don’t Look Down berkumandang  dibalik tirai putih yang sejak tadi menutupi panggung. Semua penonton tanpa terkecuali berteriak histeris mendengarnya. Arini mulai mengeluarkan teriakan mautnya sampai-sampai Bara menutupi sebelah telinganya karena terdengar memekik. Saat Light It Up sebagai lagu kedua dimainkan, terlihat bayangan para personil OneRepublic dibalik tirai yang bergelimangan cahaya. Tidak ada yang bisa menggambarkan kegembiraan Arini, Bara, dan seluruh penggemar OneRepublic yang hadir disana ketika tirai dibuka dipertengahan lagu dan terlihat Ryan Tedder dan kawan-kawan sedang berjingkrak-jingkrak atraktif.

Untuk selanjutnya selama seratus seratus menit, Arini dan Bara larut dalam dentuman musik dan alunan lirik disetiap lagu-lagu yang dibawakan oleh OneRepublic. Dari mulai Secret, All The Right Moves, dan lagu-lagu dari album terbaru mereka, Arin dan Bara tidak pernah berhenti sedetikpun untuk ikut bernyanyi bersama ribuan penonton yang hadir disana. Arini juga sesekali meneriakan ‘Ryan, I Love You’ dengan kencang hingga memancing tawa geli Bara. Pancaran kebahagiaan sejati tidak pernah menghilang dari wajah Bara ketika Arini tanpa disadari mencuri-curi pandang selama konser. Pun begitu adanya dengan Bara. Dirinya bahagia hanya dengan menyanyi bersama salah satu band favoritnya disamping perempuan manis yang baru dikenalnya selama dua hari. Keduanya memiliki perasaan yang sama ketika tidak sengaja saat curi-curi pandang, kedua mata mereka bertemu tepat dipusatnya.

Ada sesuatu yang beda dengan seseorang yang sedang berdiri dan bersenandung di samping gue, pikiran keduanya kompak.

“Bara jangan galau ya,” canda Arini ketika Ryan bersolo piano dan menyanyikan lagu Apologize.

Bara yang setengah tertegun kemudian sadar bahwa tak ada gunanya mengenang masalalu disaat-saat membahagiakan seperti ini. Terlebih orang disampingnya juga bisa tersenyum sambil bersenandung menikuti lagu yang dimainkan. Meskipun senyumnya kali ini terlihat getir. Bara mengerti Arini juga sedang membongkar memori kesakit hatiannya lewat lagu itu.

Kegalauan keduanya hanya berlangsung pada lagu Apologize. Sisanya mereka kembali larut dalam kegembiraan dan perasaan yang sama semenjak dimulainya konser. Walaupun begitu, keduanya tidak berhasil saling mengungkapkan perasaan sampai lagu Good Life sebagai penutup konser tahap pertama selesai dibawakan. Mereka masih belum yakin atas perasaan masing-masing terhadap satu sama lain. Ketika encore dan OneRepublic membawakan lagu Feel Again, penonton semakin bersemangat menyambut lagu yang menjadi hits pertama dari album terbaru OneRepublic. Orang-orang semakin berdesakan untuk mendekati panggung. Arini dan Bara terdesak kebarisan tengah. Karena khawatir terpisah satu sama lain, keduanya otomatis saling berpegangan tangan. Saat itulah koneksi ‘aneh’ mulai dirasakan oleh keduanya.

But with you, I feel again…

Refrain dari lagu Feel Again pun mereka resapi dengan mendalam sambil tetap berpegangan tangan. Siapa yang menyangka jika Arini yang menganggap Bara biasa saja dan bukan termasuk ke tipe pria yang disukainya saat pertama kali bertemu bisa membuat perasaannya bahagia hanya dengan berpegangan tangan dengannya dan menyanyi bersama. Siapa yang menyangka Bara bisa menikmati malam Oktober paling membahagiakan seumur hidupnya hanya dengan berdekatan dan bersenandung dengan seseorang yang baru saja dikenalnya.

Perasaan apa ini? Keduanya serempak bertanya seolah hati kecil mereka bisa memberi petunjuk tentang perasaan aneh yang sedang mereka rasakan sekarang.

Saat lagu Feel Again selesai dinyanyikan dan Ryan sebagai sang vokalis berbincang singkat dengan penonton, Arini dan Bara tetap mencoba untuk terhubung satu sama lain melalui pegangan tangan mereka. Pandangan keduanya terfokus pada sang performer, tapi perasaan mereka tetap tidak terbantahkan.

Kemudian Arini menjerit histeris ketika lagu favorit-nya, If I Lose Myself, akhirnya dimainkan sebagai penutup konser. Histerisnya Arini berhasil memutuskan pegangan tangan mereka karena dirinya menutupi wajah karena tak percaya akhirnya lagu yang ditunggu-tunggu dimainkan juga. Bara hanya bisa tersenyum melihat Arini sehisteris itu. Lalu dirinya melihat ada tetesan air mata dan tangis bahagia yang tepancar diwajah Arini sesaat setelah Arini melepas kedua tangan dari wajahnya. Entah apa yang ada dipikiran Bara saat itu ketika tangannya otomatis merangkul Arini yang sedang bahagia setengah mati sembari ikut menyanyikan lagu walaupun dengan suara yang bercampur dengan tangisan. Bara pun ikut menikmati lagu tersebut dengan bernyanyi bersama Arini dan penonton lain.

If I lose myself tonight, it’ll be by your side…

If I lose myself tonight…

If I lose myself tonight, it’ll be you and I…

If I lose myself tonight…

Lirik refrain yang lagi-lagi diresapi dalam-dalam oleh hati dan pikiran Arini dan Bara bagaikan air hujan yang diresap oleh tanah yang telah diterpa kemarau berkepanjangan. Ketika Ryan Tedder turun panggung untuk menyapa penonton yang berada dibarisan paling depan, reaksi berlebihan tidak terdengar dari Arini. Padahal dirinya mengaku sangat ingin dinikahi oleh Ryan Tedder kalau saja orang yang digilainya itu masih lajang. Arini malah larut dalam pelukan Bara yang terlihat semakin erat seolah tidak memperdulikan orang-orang yang menjerit histeris silih berganti disekeliling mereka. Keduanya tampak tenang seolah konser tersebut memang didisain hanya untuk mereka. Kekosongan yang begitu lama dilupakan oleh keduanya kini terbuka begitu saja dan terisi oleh orang asing yang terasa begitu akrab.

Saat OneRepublic merampungkan lagu terakhirnya dengan taburan ribuan confetti, Arini tersenyum sambil melepas pelukan eratnya dari Bara. Keduanya saling tatap dan tersenyum canggung. Sesekali mereka tertawa ketika Arini mengusap bekas air mata yang dia keluarkan sepanjang lagu tadi. Kemudian Bara kembali merangkul Arini dan Arini membalasnya. Keduanya sekali lagi larut dalam keriuhan penonton dan taburan confetti yang menambah suasana menjadi semakin romantis bagi mereka berdua.

Dalam hati, keduanya berterima kasih pada OneRepublic dan takdir Tuhan yang telah mempertemukan mereka diwaktu dan tempat yang tepat. Entah akan berapa lama perasaan seperti ini akan bertahan dalam hati masing-masing. Bisa jadi hanya untuk malam ini, bisa juga terbawa sampai besok atau dua minggu kemudian, atau bahkan bisa untuk selamanya. Namun mereka belum mau peduli akan hal itu. Mereka hanya ingin menikmati luapan kebahagiaan seperti ini yang baru mereka rasakan lagi entah semenjak kapan.

Advertisements

2 thoughts on “Cinta Satu Malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s