Drama 30 Menit di Phillip Island

https://i1.wp.com/photos.motogp.com/2013/10/20/01_93marquez,pit,rac_s1d5367_original.jpg

Marc Marquez saat melakukan pergantian motor dilap 11 yang dianggap pelanggaran oleh Race Direction (GP Australia – 20/10) (pic via motogp.com)

Phillip island menjadi saksi bagaimana hal-hal kecil di balapan bisa menggagalkan sebuah skenario besar yang sudah diprediksi oleh khayalak ramai. Marc Marquez haruSnya bisa meraih kemenangan dan mengunci gelar juara saat Dani Pedrosa berhasil mengalahkan Jorge Lorenzo untuk tempat kedua. Harusnya balapan di Jepang dan Valencia nanti hanya untuk hiburan pelengkap musim 2013 saja. Nyatanya hal itu tidak akan terjadi. Para pimpinan tiga besar klasemen tetap berpeluang besar untuk meraih gelar juara dunia setelah 19 lap drama menegangkan di Phillip Island.

Balapan di Phillip Island memang sudah di prediksi akan sulit di prediksi setelah Race Direction mengumumkan pemangkasan lap dari 27 menjadi 19 lap dengan format flag to flag dengan satu kali pitstop untuk pergantian motor di lap ke-9 atau ke-10. Hal ini dilakukan karena isu ketahanan ban Bridgestone diatas aspal baru sirkuit sangat mengkhawatirkan sehingga mereka tidak bisa menjamin bahwa ban dengan komponen paling keraspun bisa bertahan lebih dari 10 lap. Terlebih keselamatan pembalap juga menjadi prioritas saat Race Direction memutuskan untuk memangkas lap balapan dengan format baru.

Sebenarnya balapan sendiri berjalan cukup normal di lap-lap awal dimana trio Spanyol Jorge, Marc, dan Dani memimpin rekan-rekan pembalap yang lain. Tidak ada aksi saling salip berarti dari mereka. Drama yang mengubah balapan itu sendiri terjadi pada lap 10 dimana hampir semua pembalap sudah mengganti motor mereka kecuali Marc dan Jorge yang asyik bertarung dibarisan depan. Entah terlalu berkonsentrasi untuk mengejar Jorge atau bagaimana, Marc melewatkan kesempatan untuk mengikuti Jorge ke pit untuk berganti motor. Dirinya harus bertahan dan meninggu satu lap lagi untuk melakukan hal yang pembalap lain sudah lakukan.

Keriuhan terjadi di pitlane setelah Marc mengganti motor dan berhasil lolos dari terjangan Jorge menjeland exit lane. Di tv terlihat beberapa member Race Direction berdiskusi dengan para kru Repsol Honda. Sudah bisa diprediksi kalau mereka pasti membicarakan Marc yang melanggar ketetapan window pit tadi. Namun keputusan yang dikeluarkan setelahnya membuat jantung semua penonton khususnya pendukung Marc melonjak. Black Flag dikibarkan berikut dengan nomor 93 disampingnya. Marc Marquez didiskualifikasi dari balapan akibat pelanggaran itu. Dirinya kehilangan poin dimasa-masa krusial dimana harusnya dia dan timnya menganggap satu poin seharga seribu keping emas. Jorge Lorenzo yang merupakan pesaing terdekat Marc di klasemen akhirnya melenggang dengan santai melewati finish line karena saingan terdekatnya Dani berada jauh dibelakangnya setelah dirinya juga menerima hukuman untuk turun satu posisi karena membawa motor melewati garis putih lurus sebelum garis putus-putus berakhir.

Durian runtuh otomatis didapat Jorge setelah kemenangannya berhasil memangkas selisih poin dari yang tadinya selebar 43 poin menjadi hanya 18 poin. Kejadian yang menimpa Marc memperbesar peluangnya untuk mempertahankan juara dunia yang nyaris pupus sebelum balapan GP Australia ini. Semangat pantang menyerahnya terbayar setengah lunas di Phillip Island. Sementara untuk Marc, nasib baiknya tidak sebesar nyali dan keberaniannya untuk memenangi balapan. Dirinya memang masih berpeluang untuk menyabet gelar juara dunia, tapi tekanan yang akan datang padanya didua race terakhir bisa menghancurkan segalanya. He is a rookie, for God’s sake!

Banyak yang menganggap (termasuk gue) Black Flag untuk Marc tidak adil karena cenderung merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya. Bagi mereka para penggemar teori konspirasi mungkin sudah menganggap bahwa aksi ini diprakarsai oleh Dorna sendiri agar balapan didua seri selanjutnya bisa lebih seru dan menegangkan. Kecurigaan akan ketiadaannya pemberitahuan konsekuensi Black Flag jika pembalap mengabaikan rentang di lap 9-10 untuk mengganti ban sempat timbul karena hal ini. Namun rupanya hal itu telah disosialisasikan kepada pembalap sebelum balapan dimulai. Tidak ada teori konspirasi seperti anggapan beberapa penonton yang kesal karena Marc tidak mendapat poin dan Jorge berpeluang kembali mempertahankan gelar juara dunianya.

Sementara lampu panggung kembari disorotkan kearah kubu Repsol Honda setelah Livio Suppo mengakui bahwa terlambatnya Marc masuk pit merupakan murni team error. Hal ini diperkuat oleh Shuhei Nakamoto yang memberikan pernyataan yang sama. Dia menyebutkan bahwa instruksi kepada Marc untuk masuk pitlane tidak jelas. Sangat disayangkan bagaimana tim sebesar Repsol Honda bisa melakukan kesalahan yang teramat sangat fatal dimasa-masa krusial dimana salah satu pembalap mereka diambang raihan gelar juara dunia perdana dan sebuah rekor. Kesalahan demi kesalahan kian sering dilakukan digarasi Dani maupun Marc. Rentetan kejadian kabel kontrol traksi Dani yang terbuka di Aragon, faulty pada motor Dani di latihan bebas 2 Phillip Island, dan yang terakhir kasus team error Marc Marquez yang membuat mereka dan pembalapnya melonggarkan genggaman terhadap gelar juara yang sudah didepan mata. Repsol Honda is killing themselves slowly if they easily ignore small mistakes which will derive them to the huge amount of loss. Kini mereka harus bertarung lebih keras lagi disisa dua balapan jika mereka tetap ingin pembalapnya meraih gelar juara dunia. Tak ada yang bisa mereka lakukan lagi selain pusing hard dan making zero mistake.

PS: I’ve made up my mind about Marquez’ Black Flag, now it’s time for you to make up yours. Tulis dikolom komen pendapat kalian tentang keputusan Race Direction untuk mem-Black Flag Marquez. Was it fair or not?

Advertisements

3 thoughts on “Drama 30 Menit di Phillip Island

  1. keputusan Race Direction untuk mem-Black Flag Marquez not fair, karena kesalahan yang dibuat marc tidak sebesar itu sehingga harus di black flag, seharusnya race direction memberi hukuman pengurangan waktu lebih tepat dan lebih adil, black flag membuat kemenangan jorge menjadi kurang sportif dan pedrosa juga harus kena finalty untuk kesalahan yang konyol… sehingga dia tidak sempat mengejar jorge…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s